06. Kamu Perlu Bukti Kan Mawar?

829 Kata
Tubuh Mawar bergetar takut di luar kendali, ia menatap Dimas yang mengikis jarak di antara mereka dengan langkah-langkah penuh kekesalan. Alarm bahaya kontan berdering di kepala Mawar, meski begitu, dia tak mampu untuk sekedar berdiri dan menghindar dari monster yang sudah sampai di hadapannya. "Mas!" Dimas memegang pergelangan tangan Mawar, kobaran merah menyala-nyala di matanya. Tak pernah sebelumnya dia semarah ini atas tuduhan siapapun. Alasan perceraian antara ia dan Lily memang disembunyikan demi menjaga harkat dan martabat wanita yang pernah dicintai dan mencintainya. Meski Dimas terluka kala itu. Terluka sangat amat hebat dengan apa yang telah Lily lakukan. "Kamu perlu bukti kan, Mawar?" "Lepas." Cengkraman Dimas di tangan Mawar semakin mengetat kala Mawar memberontak. "Kamu perlu bukti kan, Mawar?" Tubuh Dimas yang besar mampu menahan perlawanan Mawar yang kini ada di bawahnya. Jauh dari kelembutan, Dimas mendorong raga Mawar untuk berbaring di atas sofa. Kedua tangan wanita itu Dimas kunci dengan tangan tepat di atas kepala. Sedang kedua kaki Dimas menahan paha Mawar dengan ketat. "Ini yang kamu mau dengan memancing saya?" "Enggak! Lepasin, Mas! Aku ... aku mohon—" Belum Mawar menyelesaikan sebaris permohonan kepada Dimas, kata-kata telah buyar di kepalanya kala dengan tega Dimas menarik kemeja yang Mawar kenakan. Kancing-kancing langsung berhamburan di mana-mana. Beberapa jatuh di atas lantai, terdengar dari suaranya yang bergemercik khas. "Mas!" Kesetanan, Dimas tak mendengar panggilan itu kala sudah melihat tubuh atas Mawar yang mulai terbuka. Menemui bagaimana d**a Mayang yang ternyata ranum tertutupi cup bra. Dimas menundukan kepala. Ia menempatkan wajahnya di antara leher Mawar yang beraroma khas. Mengundang. Lelaki itu mencumbu mantan adik ipar yang telah ia nikahi beberapa waktu terakhir. "Mas, lepas!" Mawar masih memberontak, mencoba melepaskan diri dari lelaki di atas sana. Tubuhnya merasakan gelenyar aneh kala kecupan Dimas mendarat di leher, bertubi-tubi, mendamba. Lalu, saat Dimas memberikan hisapan di sana, Mawar mulai kehilangan akal. Tapi ini tak benar, tubuhnya tidak boleh dinikmati oleh mantan kakak iparnya. "Aku enggak mau ... Mas Dimas. Aku mohon, aku mohon! Aku minta ... maaf!" Rengankan permohonan maaf dari Mawar tak Dimas dengar. Lelaki itu masih asik bermain-main dengan leher Mawar. Mawar tak berdaya, rasa takutnya semakin menjadi. Saat Dimas akhirnya mendongakan diri, Mawar bisa bersitatap langsung dengan sang suami. Ia menggelengkan kepala, meminta Dimas untuk tidak berlaku lebih jauh. "Mas bisa menghamili kamu," dengan napasnya yang terengah penuh gairah, Dimas berkata demikian. "Untuk bukti bahwa Mas tidak selemah seperti apa yang kamu katakan." "Berhenti! Aku mohon berhenti! Aku—" Perkataan Mawar tersedot langsung oleh bibir Dimas. Lelaki itu menyecap penuh paksaan, kasar dan tiada henti pada Mawar yang ternyata manis. Di sisi lain, Mawar menyerah, ia yang tak bisa melakukan apapun mulai menangis sebagai bentuk keputusasaan. Dan tangisan itu yang membuat Dimas akhirnya menghentikan aksi. Dilepaskan tangan Mawar yang sejak tadi ia cengkram. Tatapannya masih berkabut kala dia berkata, "Tidak sekarang, tapi saya akan tetap menghamili kamu, Mawar." ^^^^^^^^^^ Dimas pergi dari rumah setelah beberapa waktu masuk ke dalam kamar dan mengambil kunci mobil. Mawar tak sama sekali bertanya, wanita itu bungkam di atas sofa. Tempat dimana ia dilecehkan dengan begitu tega oleh mantan kakak ipar yang telah jadi suaminya. Sungguh, ia tak menyangka jika perkataannya tadi akan menyinggung Dimas dengan begitu hebat. Toh kan itu yang ia dengar dari mulut Mbak Lily. Dimas ini dan itu. Dimas begini dan begitu. Meski selama ini di mata Mawar, Dimas tak lebih dari kulkas seribu pintu yang dingin, yang hidupnya lurus dan hanya tahu bekerja dan bekerja sampai lupa waktu. Lupa kepada istri sendiri. Titik demi titik air mata mengalir kembali di pipi Mawar, menbentuk sungai-sungai kesedihan yang sangat amat mendalam. Mawar ingin pergi dari sini dan meninggalkan semuanya. Tapi sungguh ia tak tahu harus pergi kemana? Pulang ke rumah bukan solusi yang baik. Ia masih marah kepada Ayah dan Ibu yang mengusulkan pernikahan ini. Belum lagi ia belum sanggup menemui Mbak Lily yang nampak marah kepadanya tanpa sebab. Hari pernikahan yang seharusnya memberikan kebahagiaan yang tak bisa dijabarkan malah membuat Mawar sedih setengah mati. Bertubi-tubi masalah yang datang karena menikahi Dimas malah memperburuk keadaanya. Mawar ingin mati saja. Mawar sudah tak sanggup untuk menapakan kembali kaki di dunia ini. Meringkuk memegangi kemejanya yang berantakan, suara tangis Mawar semakin keras memenuhi ruangan yang tadinya sepi. Terdengar pilu dari detik ke detik. Pesan kembali mampir di ponsel Mawar, yang tidak sempat dibacanya karena tiba-tiba Mawar tidak sadarkan diri. Tenaga yang habis, kepala yang sakit dan pusing juga d**a yang sesak adalah perpaduan yang membuat Mawar tak bisa lagi sadar. Ia pingsan sendirian. Dengan sebuah pesan yang berisi, "Mbak enggak mau kamu bertahan dengan Mas Dimas. Apapun itu caranya, pergi dari dia malam ini juga. Mbak sudah siapkan tiket pesawat dan uang untuk kamu. Menghilanglah selama beberapa waktu, Mbak tunggu kamu di bandara, kalau kamu tidak datang dua jam ke depan, Mbak tidak akan menganggapmu sebagai adik lagi, Mawar." Tekanan demi tekanan Mawar terima malam itu. Dan mungkin dikeesokan harinya kala Mawar membaca pesan yang dikirim oleh Lily, Mawar akan benar-benar mengakhiri hidup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN