*Membaca Al-Qur'an lebih utama* Aji melotot kaget mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, apa tadi? Semut gatel? Heh, dirinya gak gatel. Tapi emang suka nyosor sih. Dita terkekeh pelan, terlebih ketika melihat wajah suami nya yang merenggu tidak suka. "Berarti semutnya gede, Bund? Kok banyak?" Dita lagi lagi mengangguk. Memang benar, suaminya memang seganas itu. Menghisap layaknya vampir sampai meninggal kan bekas yang banyak. "Itu maha karya namanya, nanti Abang sama adek juga bakal begitu." Sahut Agil dengan santainya. "Emang Abang sama adek bakal jadi semutnya? Kenapa harus nunggu gede?" Aji menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Ia sendiri jadinya Yang bingung untuk menjawabnya, malah sang istri hanya tertawa saja tidak mau membantu. "Yang..." Rengek aji meminta bant

