*Membaca Al-Qur'an lebih utama* Agil mengusap wajahnya kasar. Masih terbayang benaknya bagaimana raut wajah anggita saat mengusir nya tadi. Wanita itu tampak mengusap matanya pelan lalu tertawa lirih. Tawa yang malah membuat Agil meringis ngilu. "Segampang ini memang hati aku. Dari dulu paling gak bisa dengerin kamu gombal, padahal aku tau gombalan kamu hanya sekedar gombalan. Hehehe.." Agil terdiam. Ia masih menanti wanita-nya selesai meluapkan semua amarah yang terpendam. Namun yang ada hanya anggita yang terdiam sambil menatapnya. "Kita teman kan? Jadi betingkah lah selayaknya teman,.karena tidak ada teman yang sedekat ini antara laki-laki dan perempuan. Bisa?" Agil menggeleng. Jelas saja dirinya tidak bisa, menganggap anggita sebagai teman? Itu adalah hal yang mustahil. "Te

