Akhir-akhir ini Giselle semakin aktif mendekati Iyan. Dan sepertinya pemuda itu sudah mulai terbiasa dengan gangguan-gangguan yang diberikan Giselle. Meskipun begitu, Iyan tidak dapat menyembunyikan ekspresi malasnya dan masih bersikap dingin. Vio menatap nanar ke arah meja yang ditempati Iyan dan Giselle. Gadis itu lagi-lagi menghembuskan napas berat, membuat sahabatnya menoleh. "Udah gue bilang Vi, lo kasih tau aja alasan lo jauhin dia selama ini. Gue nggak tega liat lo kaya gini terus," ucap Hesya dengan tatapan sedih. "Andai semudah itu, pasti udah gue lakuin dari dulu Sya," balasnya. Vio menoleh ke arah Hesya kemudian tersenyum. "Gue nggakpapa, lo tenang aja." Hesya tidak bisa berkata-kata lagi. Memang sepertinya tidak akan semudah itu, semuanya sangat rumit. Sama seperti hari-ha

