Penantian Empat Tahun

1731 Kata
Kami duduk bertiga, Yani, pacarnya dan aku. Lagi-lagi di kedai bakso, rupanya di daerah Hanin ini banyak sekali pedagang bakso. Kami memilih sebuah kedai bakso di pertigaan jalan desa Kedokan Gabus di depan masjid Nurul Hidayah. Aku masih belum buka suara, sedangkan Yani terlihat bingung hendak berkata apa. “Kamu tahu darimana Hanin nikah hari ini?” sebuah pertanyaan yang menurutku konyol terlontar dari mulut sahabat dari kekasihku, sorry … maksudku mantan kekasihku karena sekarang dia sudah sah menjadi istri dari pria lain. Jadi, tidak seenak jidat aku mengakui kalau dia masih kekasihku. “Mana aku tahu Hanin menikah hari ini … aku ke sini buat menepati janji. Melamarnya di dua puluh delapan Oktober, seperti janji yang kami ucapkan empat tahun silam.” “Hah?” Yani melongo, begitupun pria yang duduk di sampingnya. Sesaat mereka terdiam sebelum pacar si Yani yang buka suara diawali dengan dehemannya. “Maaf Saya, Mustofa-pacarnya Yani,” kata si pria memperkenalkan diri. “Panggil saja Angga, teman semasa SMK Yani,” sahutku malas. Jujur, rasanya ingin aku berkata dan memperkenalkan diri sebagai kekasih Hanin yang tersakiti karena dia begitu mudah ingkar janji. Susah … susah, baik pria maupaun wanita susah move on dalam keadaan sebenar-benarnya cinta. Apalagi aku merasa tidak pernah berbuat salah sama sekali pada Hanin. Aku tidak pernah menduakannya. Dia yang selalu aku sebut dalam setiap doa dan aku menepati janji dengan setia menunggunya selesai kuliah sebelum datang untuk melamarnya. ‘Kampret!’ entah pada siapa makian itu harus aku alamatkan. Pada aku yang begitu bodoh menganggap dia tidak akan pernah ingkar. Atau pada dia yang tanpa kata meninggalkanku untuk bersanding dengan pria lainnya. “Maaf Angga, saya, Yani dan Hanin satu kampus. Selama ini saya tidak pernah tahu ada usaha dari kamu untuk memunculkan diri di depan Hanin. Okay … finally, aku tahu juga ini yang namanya Angga. Pria yang sering di sebut Hanin di awal-awal kami masih Maba.” Mustofa menarik napas sejenak sembari melirik ke arah Yani. “Hanya saja menurut aku … sorry kita sama-sama pria ya Bro,” katanya berusaha menghilangkan ketegangan yang ada. “Menurut aku ini bukan murni salah Hanin. Dia mana tahu kalau kamu menunggunya, gila … empat tahun loh, Bro. That’s too long, akan banyak yang terjadi selama empat tahun. Bagaimana kalau dia tetap setia, sedangkan kamu tidak tahu menjalin hubungan dengan siapa.” Brrrraaaak. Aku menggebrak meja memaksa Mustofa menghentikan ucapannya. enak saja dia bilang aku tidak setia dengan membuat perumpamaan seperti itu. “Aku bukan pria pecundang yang mudah ingkar janji, Bro! Buktinya aku setia dan dia malah meninggalkan aku tanpa kata perpisahan,” tegasku ingin mengatakna kalau Hanin lah yang tidak setia, bukan aku. “Santai Bro … santai. Maksud aku begini. Tidak ada kepastian dan kabar dari kamu kalau kamu itu masih menunggu Hanin. Jadi, wajar kalau dia mengira kamu melupakannya.” Apa? Rasanya ingin melempar air es jeruk di hadapanku ke wajah Mustofa. Dia mewajarkan sebuah ketidaksetiaan. Bagaimana kalau posisinya dibalik, dia yang ditinggal nikah oleh Yani. Apa masih bisa Mustofa berkata sesantai itu. “Terserah, kalian teman Hanin dan aku tidak berharap kalian membelaku. Perlu kamu tahu Yan, empat tahun aku setia menunggunya, empat tahun aku menantikan waktu dimana aku bisa melamarnya … dan penantianku selama empat tahun dibalas penghianatan seperti ini. Jangan lupa katakan pada Hanin kalau ini cincin untuknya.” Aku mengambil kotak cincin beludru merah dari saku dan menyerahkannya pada Yani. “Aku pulang, tidak usah membela dia yang berkhianat,” pungkasku sebelum meninggalkan mereka. Terserah apa lagi yang mereka berdua bicarakan. Aku hanya ingin cepat pulang dan melupakan kalau pernah ke tempat ini hanya untuk mendapatkan sebuah kekecewaan. Seandainya bisa, ingin aku ganti secepatnya rasa cinta untuk Hanin menjadi sebuah kebencian. Namun, tidak bisa begitu saja aku melupakan cinta pertamaku, gadis yang berhasil meluluhkan aku yang katanya kaku dan sedingin es batu bersalju. Mataku mulai berembun, sejenak aku belokan motor untuk beristirahat. Tidak baik berkendara dengan mata berkaca-kaca. Andai aku bisa menangis kencang dan berteriak memaki Hanin, mungkin itu lebih baik dari pada sekedar memendam lara sendiri saja. Ponselku berdering, nama Hamdan yang muncul di layar. Dia adik laki-lakiku, dia yang tahu kalau aku ke Indramayu untuk bertemu Hanin. Aku meminta dia untuk merahasiakannya meskipun aku tahu Hamdan tidak mungkin benar-benar menutup mulutnya. “Assalamualaikum, A. Sudah sampai Indramayu, ini Umi nanyain mulu.” Ah … aku mendesah sembari mengacak rambutku. Apa aku bilang, si Hamdan pasti membeberkannya pada seisi rumah. Bukan saja Umi yang tahu, Abah serta Bunga-adik bungsuku pun akan tahu kepergianku yang menjemput lara. “Sudah, bilang saja Aa sudah di jalan mau pulang.” Klik. Aku memutus sambungan tanpa mengucapkan salam dan penjelasan lainnya. Buat apa aku membagi lara, biar aku saja yang kecewa kalau perjalananku ini hanya untuk menjemput kabar duka. ‘Ya Allah, Kau yang membolak-balik hati hamba, tetapkan hati hamba pada agama Mu. Bantu hamba melupakan wanita yang begitu seringnya hamba sebut dalam setiap barisan doa.’ Mataku kembali berembun, perih ini baru aku rasakan … tolong jangan nilai kalau sebagai pria aku ini cengeng. Tidak … aku bukan pria yang mudah menangis atau bersedih. Hanya saja mendapati kekecewaan setelah penantian panjang membuat aku terpaksa jadi pria melow. Setelah merasa kuat untuk kembali melanjutkan perjalanan, aku memacu kuda besi merah putih milikku melewati jalan raya pantura menuju ke Palimanan. Selamat tinggal Indramayu … aku kecewa dengan wanitamu. Mungkin setelah hari ini akan lama lagi aku mengunjungimu. Dulu, kau buat aku bahagia setiap mengantarkannya melewati pesawahan indah yang menyejukan mata. Kini aku yang membawa lara merasa jalananmu semakin membuatku terpanggang panas yang membara. Jangan tertawakan aku yang baru sekali ini patah hati karena jatuh cinta. Nyatanya Hanin memang cinta pertamaku dan aku dibutakan oleh semua kata manisnya sehingga begitu percaya kalau dia akan tetap setia menungguku datang. Satu jam sudah roda ini berputar beradu dengan aspal, aku membelokan motor ke deretan rumah yang menyatu dengan pondok pesantren Gempol. Di teras rumah Umi sedang duduk sembari menjahit baju-baju keluarga yang sobek. Begitu melihatku datang Umi langsung menggulung benang dan menusuk jarum ke gulungan, kemudian memasukannya ke toples tempat menyimpan alat jahit manual. “Assalamualikum, Umi.” Aku meraih tangannya untuk dicium penuh hormat. “Waalaikum salam, kamu makan dulu. Umi masak sayur sup dan ayam kecap kesukaanmu,” kata umi membuat aku merasa sedikit lega karena dia tidak bertanya perihal kepergianku ke Indramayu. Aku segera masuk ke dalam rumah, bukan untuk makan seperti kata Umi tadi, tapi aku memilih langsung masuk ke kamar setelah menyimpan helm di rak khusus. “A, gimana?” tanya Hamdan saat berpapasan denganku. “Aa mau tidur, capek,” balasku mengacuhkannya. Aku tidak ingin membasah masalah ini terlebih dulu. Aku mengunci pintu agar tidak ada yang menggangguku. Namun, saat netraku menatap foto aku dan Hanin yang masih terpajang di dinding kamar. Dadaku seketika nyeri, kenapa juga aku menyimpan rasa ini terlalu dalam. Sakitnya sungguh tak mudah aku hilangkan. Aku mengambil semua foto Hanin yang tertempel di dinding kamar ini. Aku menurunkannya dengan bercucur air mata, tak kuasa hati ini menahan sakitnya dikhianati saat menurunkan satu persatu fotonya yang tergantung rapi dengan tali yang aku ikat di kedua sudut dinding di kamar ini. “Aa … kata Umi suruh makan.” Hamdan mengetuk pintu kamarku. “Aa belum lapar, makan saja duluan,” balasku menghentikan sejenak gerak tangan yang menarik paksa semua foto Hanin. Setelah aku pastikan tidak ada yang tersisa aku memasukannya ke sebuah kardus bekas sepatu. Nanti sore aku akan membakarnya, mungkin ini akan membuat aku sedikit bisa melupakan mimpi yang sudah kadung aku bangun tinggi membayangkan bisa menghalalkan dia untuk menjadi pengantinku. Aku menangis dalam diam, membenamkan wajah pada bantal untuk mereda suara isakan yang sesekali terdengar. Aku butuh sendiri hingga kuat menghadapi pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan Umi, Abah, dan kedua adikku. Kalian tahu … selama ini Umi menyuruhku untuk menikah dengan salah satu gadis di desa ini. Namun, aku menolak dengan dalih kalau aku dan Hanin sudah mengingkat janji untuk saling setia hingga menanti waktu yang sudah kami tentukan. Dua puluh delapan Oktober dua ribu dua belas. Sudah aku siapkan nominal rupiah sejumlah dua ratus delapan puluh satu ribu dua belas rupiah, sebagai mas kawin beserta kalung emas yang sudah aku beli untuk di kalungkan di lehernya. Semua yang aku siapkan kini sia-sia belaka, semuanya tidak lagi bermakna karena Hanin sudah sah menikah dengan pria lain. __ Puas mengurung diri di kamar, sorenya aku baru keluar. Beruntung saat Dzuhur dan magrib aku mengambil wudu, tidak ada satu pun yang berpapasan denganku. Kini mau tidak mau aku keluar menuju halaman belakang dengan membawa kotak kardus berisi semua foto Hanin. “A … makan dulu,” kata Umi yang ternyata sedang duduk santai bersama Abah. Di belakang rumah memang ada sebuah ranjang yang sengaja di pasang di bawah pohon rindang yang baisa dijadikan tempat kami midang sore. “Nanti saja, Mi. Sekalian malam,” sahutku sambil berjalan terus ke dekat pagar dimana ada sebuah tong sampah di sana. Aku membuang kardus ke tong sampah dan segera menyalakan korek api dan membungkukan badan untuk membakar sudut kardus agar api mulai menyala. Bersama semua foto Hanin yang terbakar aku harap hilang sudah rasa untuknya. “Kamu bakar apa A?” tanya Abah. Aku menoleh, bingung hendak menjawab apa. Aku tidak terbaisa berbohong, tapi aku pun tidak mau terlalu jujur kalau yang aku bakar itu foto hanin yang selama ini menghiasi dinding kamarku. “Bakar sampah, Bah. Biar kamarku bersih,” jawabku dengan seulas senyum. “Sini duduk, Abah mau tanya.” Abah menepuk ranjang kosong agar aku ikut duduk di sana. Tentu saja sebagai anak baik yang selalu patuh pada perintah Umi dan Abah. Aku langsung duduk di tempat yang Abah tadi tunjukan. “Hamdan bilang tadi pagi Aa ke Indramayu.” Ah … kenapa juga saat aku pergi mesti kepergok Hamdan. Jadinya ribet, semua tahu dan berharap aku memberi kabar baik. Padahal justru sebaliknya. Mereka harus ikut kecewa karena ternyata harapan Abah dan Umi untuk segera memantu belum bisa aku kabulkan. “Terus bagaimana? Hanin nerima Aa?” Kini gilaran umi yang bertanya. Aku menggeleng. Wajah mereka pun seketika berubah, tidak lagi seceria saat bertanya. “Kenapa A?” “Tadi pagi ternyata hari pernikahan Hanin, Aa terlambat Bah,” jawabku disertai senyuman agar kedua orang tuaku tidak mengkhawatirkan keadaan hati anak sulungnya ini. “Ya sudah, sabar saja. Masih ada Anah yang menunggumu, Abah bisa melamar Anah sore ini juga.” “Anah?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN