“Kenapa Anah?” Pertanyaan itu muncul begitu saja sebagai penolakan halus dariku.
Abah dan Umi memang sudah sering menyuruh aku memilih salah satu gadis yang juga tinggal di lingkunganku. Kata mereka sudah dipastikan gadis di sini soleha dan selalu menjaga aurat mereka. Itu karena beberapa foto Hanin yang terpasang di dinding kamarku memang tidak mengenakan kerudung.
Hanya saja bukan berarti dia tidak soleha, bukan berarti juga sampai 2012 ini Hanin masih bangga memamerkan rambut hitam panjangnya. Itu dulu … penampilan dia empat tahun lalu saat kami masih sama-sama siswa SMK, masih di tahun 2007-2008.
“Bagaimana, A. Kalau Aa setuju sore ini juga Abah bisa melamar Anah,” ulang Abah masih dengan kalimat yang aslinya tidak aku harapkan.
“Abah … tidak adakah pilihan lain yang bisa aku nikahi selain Anah, kenapa Anah Abah … Umi?” Aku menatap bergantian kedua orang tuaku yang sepertinya berharap kalau aku menerima permintaannya.
“Karena Anah temanmu. Anah pun sudah mengenal kamu dan kami secara baik. Dia cantik, dia juga soleha dan pastinya dia belum menikah.”
Alasan terakhir yang Abah katakan bagai gadah yang memukul dadaku. Sakit … aku harus bangun dari semua mimpi dan harapan yang sudah sirna dan tidak mungkin aku masih mengharapkan Hanin meskipun aslinya aku berharap masih bisa menunggu dia janda.
‘Ya Allah … Angga, sadar lah, tidak baik mendoakan yang buruk-buruk.’
Aku mengacak rambut tak bisa mengelak alasan yang sudah disebutkan Abah. Beliau benar dan akan selalu benar.
Bukannya Buya-Kiyai di pesantrenku bilang kalau pilihan orang tua tidak pernah salah apalagi kalau dasar dalam memilih diutamakan agama. Anah memang baik, cantik, tapi salahnya cuma satu. Aku tidak mencintainya, titik. Tanpa koma dan itu sudah paten.
Aku tidak bisa membayangkan menikah dengan gadis yang tidak bisa aku cintainya. Bagaimana nanti aku menghabiskan semua waktuku bersama dengan Anah. Pasti berat, seumur hidup tinggal dengan wanita yang tidak menyejukan hatiku.
“Umi … aku tidak mencintainya, aku tidak mau membohongi Anah. Di hatiku masih ada Hanin, Umi. Biarkan aku menyembuhkan luka ini dulu.” Aku sengaja berkata pada Umi karena berharap Umi lebih mengerti dengan perasaanku.
Namun, saat melihat Umi tertawa, rasanya aku salah menebak. Umi sepertinya tidak merasakan patah hati yang membuatku tidak napsu makan.
“Aa …memang kami menikah dengan cinta Umi saja tidak kenal Abahmu, kami kenal saat keluarga Abah mengkhitbah Umi dan seminggu kemudian kami menikah.”
“Itu kan zaman dulu Umi,” elakku mencoba membela diri.
Pokoknya sebisa mungkin aku tidak ingin menikah dengan Anah. Kalau gadis lain yang mereka sodorkan mungkin aku bisa menerimanya. Ini Anah … bahkan dia tahu sebesar apa cintaku pada Hanin, gadis Indramayu yang membuat aku rela menunggunya bertahun-tahun hanya untuk dihempaskan dan dikecewakan.
“Apa bedanya A … kita masih umat nabi. Cara Aa dan kami menikah pun akan sama, tidak ada yang berbeda. kecuali kesalahan Aa yang sudah mencintai wanita yang belum halal.”
Deg.
Salah lagi, salah lagi. kalau berdebat dengan orang tua akan ada pasal satu yang membuat kita sebagai anak tidak mungkin menang. Aturan paten yang sudah baku dan diketahui banyak orang. Yakni pasal dimana orang tua selalu benar dan anak lah yang salah.
Okay … memang kenyataannya seperti itu. Aku yang salah mencintai wanita yang bukan muhrimku. Namun, cinta yang aku miliki justru membuat aku semangat meraih semua mimpi … meskipun lagi-lagi aku mesti sadar kalau mimpi itu harus mulai dikubur dalam-dalam.
“Aa tahu Aa salah Abah, hanya Aa tidak ingin menikah dengan Anah, titik,” putusku mencoba egois dan mempertahankan keputusanku.
“Sekarang Abah yang nanya kenapa?” Abah menatapku dengan sorot mata penuh cinta, bukan sorot mata orang tua yang sedang mengajak anaknya berdebat.
“Kenapa Aa menolak Anah, katakan pada Abah apa jeleknya Anah sehingga Aa begitu menolaknya.”
Aku menghempaskan napas dengan kasar dengan membuang pandanganku jauh tinggi menatap deretan awan putih yang bergerombol. Kenapa? Bukannya jawabannya sudah aku kemukakan kalau aku tidak mencintainya.
“Aa tidak punya alasan Abah, Aa hanya tidak mencintai Anah. Aa juga tidak ingin Anah yang menjadi istri Aa. Boleh kah alasannya seperti itu?”
Umi dan Abah serempak tersenyum saat aku menoleh pada mereka. Sungguh aku tidak mengerti apa sebenarnya yang ada di otak orang tua. Bukankah syarat utama membina rumah tangga itu harus ada cinta. Setahuku akan bahagia kala memandang wajah yang dicinta setiap hari. Namun, kalau wajah yang nanti aku temui tidak membuat senyumku merekah, bagaimana nasib rumah tanggaku.
“Aa … cinta itu akan datang karena terbiasa, cinta dengan sendirinya akan mengubah cara pandang Aa pada Anah. Cinta bukan segalanya A … cinta itu mudah datang kalau Aa membuka hati Aa dan membiarkan pergi gadis yang tidak semestinya disimpan di hati Aa,” kata Umi menasihatku dengan suaranya yang lemah lembut.
“Itu berarti Aa harus melupakan Hanin supaya Aa mudah jatuh cinta?”
“Betul,” koor Abah dan Umi yang mengangguk bersamaan.
“Berikan Aa waktu, Aa tidak bisa memutuskan sekarang.”
“Abah pun tidak bisa menunggu keputusan Aa,” sela Abah membuat aku menatapnya heran.
“Abah sudah menunggu hingga Aa mendapat kepastian dari Hanin, sekarang Aa sendiri yang bilang dia sudah menikah sehingga haram untuk Aa mendekatinya. Kini giliran Aa yang menerima pilihan Abah dan Umi.”
Aku tertegun, kenapa semua jadi seperti ini. Tidak bisakah aku memilih istriku sendiri. Bukannya saat aku lahir aku tidak bisa memilih lahir dari Rahim siapa, aku pun tidak bisa memilih siapa yang jadi Abahku, Umiku dan adik-adikku. Bukannya saat aku menikah lebih baik dengan pilihanku sendiri agar aku merasa bahagia dengan pernikahanku.
“Tidak Abah, aku ingin memilih sendiri calon istriku, aku tidak ingin menikah dengan gadis yang sama sekali tidak aku cintai,” putusku masih sama. Aku menentang Anah yang menjadi pilihan Abah dan Umi.
“Baiklah, Abah dan Umi kembali mengalah … silakan Aa cari gadis mana yang sreg di hati Aa, satu minggu saja waktu yang kami berikan. Setelah itu kalau Aa belum menemukannya. Mau tidak mau, suka tidak suka, Aa harus ikhlas menikah dengan Anah.”
“Baiklah,” tegasku sebelum berlalu masuk ke rumah meninggalkan Abah dan Umi.
Makin hilang sudah selera makanku, aku tak lagi berniat melihat apa yang ada di meja makan. Saat magrib tiba aku langsung keluar untuk mengikuti salat jamaah di masjid pesantren. Buya mungkin sibuk dan tidak bisa diajak ngobrol santai. Namun, aku bisa sedikit berbagi pada ustadz Fajar.
Aku butuh berbagi karena untuk masalah seperti ini tidak bisa dipikirkan sendiri saja. Usai jamaah Magrib aku langsung mendekati ustadz Fajar yang hendak kembali ke biliknya untuk beristirahat.
Jadwalnya memang mengajar madrasah di siang hari sehingga saat Magrib dan Isya ustadz Fajar lebih santai dan bisa diajak berbincang.
“Kang … bisa ngobrol. Galon nih,” ringisku menggaruk tengkuk. Malu juga mengakui kegalauan di depan ustadz, tapi setiap manusia kan memang pernah mengalami fase galau.
“Galon air atau galon apa nih,” godanya membuat aku kembali tersipu.
“Ya sudah, di sini saja ya, di bilik ramai santri,” katanya mengajakku duduk di serambi masjid.
“Kenapa, A?” tanya Kang Fajar yang ikut memanggilku Aa seperti Hamdan dan Bunga.
“Hanin, Kang.” Aku memang sering bercerita tentang Hanin pada ustadz Fajar yang biasa aku panggil Kang Fajar.
“Hanin itu cah wedok asal Dermayu yang bikin Aa selalu galon,” sindir Kang Fajar yang membuat senyumku terkembang.
Galon adalah istilah yang kami pakai jika salah satu dari kami sedang dibuat galau oleh wanita. Kami hidup di kawasan santri, tidak baik blak-blakan membahas tentang cinta. Bukannya tidak boleh, hanya aku dan Kang Fajar tidak ingin mengajarkan junior kami untuk berpacar-pacaran.
“Inggih Kang, aku galon mikirin dia, tapi dia malah nikah sama laki liane.”
“Hah? Hanin nikah?”
Aku mengangguk lemas mengakui hal itu. Hal yang paling menyakitkan yang baru aku rasakan. Patah hati, sungguh lebih sakit dari pada sakit gigi dan gusi.
“Kok bisa?” tanyanya yang tidak bisa aku jawab karena aku pun memiliki pertanyaan yang sama, kok bisa Hanin nikah.
“Entah lah kang … yang lebih berat lagi Abah maksa aku nikah sama Anah.”
“Nikah sama A-”
Aku terpaksa membungkam mulut Kang Fajar yang akan menyebutkan nama Anah dengan keras sungguh dinding masjid pun rasanya bisa mendengar pembicaraan kami. Aku tidak ingin ada yang tahu dengan niatan Abah dan Umi untuk menikahkan aku dengan Anah.
Aku menolaknya, tapi tidak ingin membuat Anah sakit hati dengan penolakanku. Dia temanku, sejak balita, anak-anak, remaja dan kini kami sama-sama dewasa. Aku dan Anah menghabiskan waktu bersama.
Bukan hanya itu, jangan lupa juga kalau Anah tahu apapun tentang diriku, dia tahu aku suka makan apa, dia tahu hobiku apa, dia tahu juga semua tentang Hanin karena memang kami bersahabat. Tidak ada dalam bayanganku kalau kami berjodoh.
Sungguh akan memalukan mengingat setiap kegalonan tentang Hanin yang aku beberkan padanya. Jika nanti dia yang jadi istriku, harus bagaimana aku menyembunyikan rasaku pada Hanin yang tidak mungkin hilang begitu saja.
“Maaf … maaf A, ini kabar heboh soalnya, aku tidak menyangka kalau seandainya kalian berjodoh,” desis Kang fajar mengurangi volume suaranya.
“Aku juga sama, malah kalau bisa jangan sampai Anah yang jadi istriku,” bisikku perlahan.
“Kenapa?”
Lagi-lagi pertanyaan kenapa itu muncul, harus berapa kali aku menyatakan kalau aku tidak mencintai Anah dan bagiku syarat utama untuk memilih seorang istri itu minimal gadis itu bisa menarik perhatianku dan itu jelas bukan Anah, titik. Aku pun menyampaikan hal tersebut pada Kang Fajar.
Awalnya dia manggut-manggut saja, tapi kemudian dia berdehem sebagai tanda kalau si Akang mau mengemukakan pendapatnya.
“A … tidak bisa menolak gadis itu hanya karena cinta. Cinta itu akan datang dengan sendirinya kalau sudah terbiasa bersama.” Kalimat yang sama seperti yang Umi katakan tadi sore.
“Kalau dia soleha, dia juga menjaga kehormatan dan agamanya baik. Itu Aa sudah tidak punya alasan buat nolak A-nu.” Kang Fajar mengganti kata Anah jadi Anu saat melihat mataku membola sebagai larangan agar dia tdiak menyebutkan nama Anah.
“Apalagi Anu cantik, A. Sudah lah, kalau jodoh memang Allah saja yang tahu, Aa maunya Hanin pun kalau yang punya hati memilihkan yang lain … mau tidak mau Aa harus terima,” pungkas Kang Fajar membuat kegalonan ini semakin meningkat.
“Bagaimana kalau Kang Fajar ini suka sama Aisyah nikahnya malah sama Fatihah,” kataku membalik persoalan yang sama karena setahuku si Akang ini suka dengan anak kedua Buya, Aisyah, sedangkan aku dengar selentingan kabar Buya malah ingin menjodohkan Kang Fajar dengan Fatihah anak sulung Buya.
“Itu berarti jodohku Fatihah, bukan Aisyah,” jawabnya santai meskipun suaranya terdengar berat.
Benarkah seperti itu? Aku harus menerima untuk menikahi Anah kalau memang dia jodohku?