Ikhlas

1752 Kata
Tiga hari sudah berlalu sejak Minggu tanggal 28 Oktober kemarin yang aku catat sebagai hari pengkhianatan janji Hanin. Kalau orang bilang hari itu sumpah pemuda, maka aku pun bersumpah di hari itu untuk tidak lagi percaya sepenuhnya dengan makhluk yang dinamakan wanita. Katanya laki-laki itu buaya, tapi tidak semua laki-laki buaya dan ingkar dnegan janjinya. Lebih tepatnya dalam kasus percintaanku, Hanin lah si buaya itu. Rabu ini aku berangkat kerja dengan membawa satu pertanyaan dari Abah dan Umi, katanya kapan aku membawa calon istri pilihanku. Kejam memang, aku yang sedang patah hati … aku pula dipaksa mencari pengganti secepat ini. Ya Allah ya Rabb, kenapa tidak Kau kirimkan saja satu bidadari di surga Mu untuk menjadi istriku biar kepalaku tak terlanjur pening memikirkan siapa wanita yang akan aku nikahi. Dalam waktu satu minggu rasanya mustahil sekali aku bisa membawa pengganti Hanin ke hadapan Abah dan Umi. Susah … susah, hidupku dirundung nestapa. Cinta berkhianat, tapi malah aku dipaksa segera mengobati luka dan memenuhi permintaan kedua orang tua. “Woy, ngelamun mulu. Ngopi ngapa ngopi,” tegur Buston teman kerja satu line yang menepuk pundakku hingga batang rokok di tanganku hampir terjatuh. “Wis ngopi, wis rokok, masih tetap mumet iki, Ton.” Aku memijat pelipis karena kepalaku serasa hampir pecah memikirkan siapa wanita yang akan aku bawa ke hadapan Abah. “Mumet kenapa, Lid! Uripmu pancen enak, status karyawan tetap tanpa bojo dan anak. Masih mumet terus, pengen nikah ya tinggal pilih. Santriwati di pondokmu itu kan bening-bening,” seloroh Buston dengan begitu santai. Semudah itu kah pandangan mereka tentang pencarian seorang istri. Tinggal comot tanpa harus memikirkan tentang cinta. Tidak Abah, Umi, Kang Fahmi, bahkan Buston yang nyeleneh sekalipun menggampangkan tentang ini. “Abahku mau jodohkan aku sama teman mainku. Aku jelas tak mau, Ton. Tak cinta aku sama dia.” “Halah, cinta itu tahi kucing. Persetan itu cinta, Lid. Cinta mung tahan sampai hitungan bulan, selebih e tak usah cinta. Yang penting setoran lancar, kita tetap digoyang, Abang tak ada uang jangan harap burung masuk sarang.” Lancar sekali Buston berkata-kata, bahkan dia terkekeh dan tertawa setelah mengucapkan kalimat yang tambah membuat kepalaku senut-senutan. “Jauh banget bang, digoyang, burung masuk sarang. Aku tidak mengerti, aku ini masih lajang,” kataku mengingatkan dia kalau statusku masih lajang dan perjaka ting-ting. Belum paham dan mengerti pasal kegiatan yang barusan dia katakan. “Memang kenyataan seperti itu, Lid. Aku pun sama … menikah dengan istriku penuh cinta. Si Nilam mencintaiku, bah … aku pun mencintainya hingga rela tinggal di sini dan tak kembali ke Medan. Nah, masalahnya setelah setahun nikah cinta Nilam berubah,” beber Buston mulai menceritakan pengalaman pernikahannya yang sudah berjalan empat tahun dan dikaruniai seorang putra yang masih berusia dua tahun. “Berubah seperti apa, Ton?” tanyaku mulai penasaran dengan rahasia dibalik rumah tangga. “Dia itu manis kalau aku bawa uang, aku tak ada uang dia judes. Aku ajak goyang di ranjang pun dia menolak, Lid. Sial bener kan? Kau harus tahu pasal itu, ada uang Abang disayang, abang boleh goyang. Tak ada uang siaplah aku nelangsa,” cerita Buston yang membuat aku ikut terkekeh dan tertawa bersamanya. Di rumah, di pabrik aku memang dipanggil Kholid, hanya teman sekolahku saja yang dulu memanggilku Angga. Makanya aku memperkenalkan diri atas nama Angga di pedagang Bakso yang gokil itu. “Jadi menurut Abang aku terima saja cewek yang Abah sodorkan itu?” “Cantik?” Aku mengangguk, kalau urusan cantik Anah memang tidak diragukan lagi. “Soleha?” Kedua kalinya aku mengangguk karena Anah aktif di kegiatan pesantren. Selain itu dia juga sudah mulai menutup auratnya sejak di bangku SMP. “Nah terus buat apa lagi kau ragu, kalau sudah cantik dan soleha, terima saja lah. Cinta mah nomor ratusan. Yang penting dia masih perawan, dia cantik dan bakal buat kau mabuk kepayang kalau sudah goyang di atasnya.” Ya Gusti, Rabb. Jauh sekali pemikiran si Buston, belum apa-apa otaknya sudah lari ke goyang mulu. Aku sampai ikut-ikutan membayangkan bisa goyang di atas tubuh seorang wanita. Namun, sialnya yang terbayang lagi-lagi wajah Hanin. “Ya sudah, Ton. Ke kantin dulu yuk makan. Sebentar lagi istirahat sudah lewat. Aku tidak kuat kalau bekerja tanpa makan dulu.” Aku menarik tangan Buston menuju kantin, kami pun bergabung bersama pekerja lain. Setidaknya di sini aku bisa melupakan kepeningan yang melanda gara-gara pertanyaan Umi dan Abah yang selalu saja membahas calon istri. Baiklah, sepertinya setelah tiga hari membiarkan diri ini terombang-ambing mencari pengganti Hanin. Akhirnya, dengan berat hati aku putuskan menerima clon yang dipilihkan Abah dan Umi. Sorenya usai pulang dari pabrik aku lekas mandi sebelum menemui Abah dan Umi yang selalu menghabiskan waktu senja mereka di halaman belakang. Setelah rapi dengan baju koko dan sarung yang akan aku kenakan untuk jamaah magrib dan isya di masjid pesantren. Aku pun melangkah pasti menemui kedua orang tuaku. “Eh, Aa tumben masih jam lima sudah rapi,” tegur Bunga yang berpapasan denganku di dapur. “Iya lah, Aa mah keren. Emang Bunga sudah sore wanginya mirip Bunga bangkai,’ ledekku mulai kembali bersemangat membully si bungsu anak kesayangan Abah dan Umi yang satu-satunya perempuan. “Ih, baru juga dipuji, balasnya ngeledek. Sepet banget punya Aa usil begini. Sana lah menyingkir, enek Bunga lihat Abang!” jeritnya mengusirku dengan mengibaskan tangan. Aku terkekeh meninggalkan Bunga dengan wajah ditekuknya. Sampai di halaman belakang Hamdan, Abah dan Umi sedang berbincang santai membahas dengan acara rutin pengajian bulanan yang akan dilakukan di rumah ini. “Bah … Mi … sibuk?” tanyaku melirik Hamdan. Aku tak mau si mulut ember itu ikut mendengarkan pembicaraan kami. Kalau telinga Hamdan sudah mendengar, satu kampung pun ikut mengetahui apa yang nanti aku katakan. “Sok resmi banget pakai nanya sibuk tidak, kalau mau ngomong mah ngomong saja, A,” sahut Hamdan yang ternyata mendapatkan hadiah pukulan pelan di pahanya dari Abah. “Sudah sana, kamu mandi. Abah sama Umi mau ngomong sama Aa.” “Ogah, mau ikut denger juga,” kukuh Hamdan yang malah mengubah posisi duduknya yang semula kakinya menggantung di tanah kini bersila menghadap Abah. “Ya sudah, nanti saja ngomongnya. Kalau si kampret ember bocor ini masih di sini, Aa malas Bah buat ngomong hal-hal penting,” putusku bersiap balik kanan meninggalkan mereka bertiga. “Wuish ngambek … ngambek, pakai ngatain aku kampret segala. Ngomong saja usir aku, kagak suka aku dengerin, pakai pidato panjang lagi.” Hamdan menghentakkan kakinya sebelum berlalu meninggalkan kami. Pintar juga tuh bocah, dia bisa ngaji rasa, dimana aku tidak merasa nyaman tanpa dia, tanpa diusir dua kali Hamdan langsung angkat kaki. “Kenapa A?” tanya Umi dengan suara lembutnya. Aku duduk di tempat kosong yang semula diduduki Hamdan. Pertama-tama aku menatap wajah kedua malaikat tanpa sayap yang begitu berjasa dalam hidupku. Mereka kompak tersenyum seolah mengerti perihal apa yang akan aku sampaikan. “Aa nyerah Bah, Mi,” ucapkan dengan menundukkan pandangan. Rasanya malu, kemarin aku menolak mentah-mentah si Anah. Namun, sore ini aku tidak punya pilihan lain sehingga dengan mudahnya menyerah dengan istri pilihan Abah dan Umi. “Menyerah bagaimana A? bertanding saja belum, masa sudah menyerah,” gurau Abah yang mencoba mencairkan suasana. Aku menatap mata tua Abah. “Aa terima kalau Abah dan Umi mau menikahkan Aa sama Anah,” putusku membuat keduanya saling melempar pandangan heran. Bukannya Abah dan Umi harusnya bahagia mendengar keputusan yang baru aku ucapkan. “Kenapa? Belum satu Minggu kok sudah nyerah?” tanya Abah. Aku tersenyum kecut membalas tatapannya. “Aa tidak bisa memilih, otak Aa masih penuh dengan nama Hanin, wajah Hanin dan semua tentang Hanin, maka kalau menurut Abah dan Umi Anah itu baik untuk Aa. Insyaallah Aa ikhlas menerimanya jadi istri Aa,” tegasku dengan berusaha tegar saat mengucapkannya. Jujur aku tak kuasa mengatakan hal itu, tapi terpaksa aku lakukan karena memang kenyataannya tidak ada pilihan lain selain Anah. Teringat kata Kang Fahmi, kalau bukan jodoh tidak bisa dipaksakan, begitu pun kalau sudah jodoh, tidak bisa dihindarkan. Daripada aku membuang waktu terlalu lama untuk berpikir, lebih baik aku menyerah saja. “Alhamdulillah, berarti Abah bisa melamar Anah kapan nih?” Abah melirik Umi, kemudian dia berganti menatapku. Aku jelas menggeleng tak tahu kapan lamar melamar itu harus dilaksanakan. Pertama, aku memang tidak mengharapkan ini terjadi dengan cepat. Kedua, aku terpaksa membuat keputusan ini demi tidak mengecewakan kedua orang tuaku. Dan terakhir, di hatiku masih ada Hanin sehingga jelas aku tidak semangat mempersiapkan semuanya. “Ini kalung emas dulu buat Hanin, hanya saja aku tidak berjodoh dengannya. Abah bisa pakai untuk melamar Anah,” kataku sembari memberikan kalung emas yang disimpan dengan kotak beludru warna merah. “Kamu ikhlas A?” tanya Umi seolah tahu keraguan yang ada di hatiku. “Entahlah Mi, Aa tidak tahu ikhlas itu seperti apa. Aa hanya berusaha untuk melakukan hal yang paling dianggap benar. Bukannya tidak baik memikirkan wanita yang bukan muhrim, apalagi dia kini sudah berstatus istri orang.” Mata Umi berkedip untuk menyetujui kalimat yang aku ucapkan tadi. Abah pun menepuk pundakku dua kali sembari membisikan kata semangat agar aku tetap sabar menghadapi lakon yang sedang diberikan gusti Allah padaku. “Aa serahkan semuanya pada Abah dan Umi.” Aku mengeluarkan buku rekening dari kantong baju koko. “Tabungan Aa ada segini, Umi, kalau kurang nanti Aa bisa pinjam dulu sama koperasi.” Umi menerimanya dan melihat nominal uang yang tidak seberapa. Selama ini Umi hanya meminta aku memberikan setengah dari uang gajiku untuk membantu biaya sekolah Bunga, sedangkan Hamdan sendiri sudah lulus tahun lalu. Kini dia bekerja pada toko bercat merah putih dengan ikon Albi si Lebah. “Ini cukup A, nanti Umi dan Abah rundingkan dulu dengan keluarga. Kapan tepatnya bisa melamar Anah untuk Aa. Semoga ini jadi pilihan terbaik untuk Aa.” Umi mengembalikan buku rekening padaku. “Amin, Umi. Amin. Aa pamit dulu.” Aku beranjak meninggalkan kedua orang tuaku dengan membawa buku rekening yang Umi berikan lagi setelah melihat nominalnya. Sampai kamar, ponselku bergetar di meja dengan volume dering yang tidak seberapa keras. Nomor asing, sangat malas aku mengangkatnya. Namun, dengan terpaksa aku menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan dari nomor asing tersebut. “Halo, assalamualaikum,” sapaku saat sambungan terhubung. Hitungan menit berjalan, tapi belum ada suara apapun yang terdengar. “Halo, spada … ada yang bisa saya bantu?” tanyaku lagi. Ah parah juga, ini orang rupanya mau main-main, malas juga aku meladeninya. Aku bersiap menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan. “Aa … apa kabar?” Deg. Ya Allah gusti nu agung … sehatkah dia bertanya kabarku setelah nestapa yang aku alami ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN