“Apa ka-bar? Ba-ik, meskipun tidak sebaik feel pengantin baru,” balasku sengaja menyindir statusnya.
“Maaf, aku baru tahu dari Yani kemarin. Dia juga titip cincin dari Aa.” Suaranya terdengar lemah. Bersalah? Tentu ... kalau dia tidak merasa bersalah itu musibah buat dirinya.
Ingkar janji kok malah santuy, kagak baik banget kan, ibarat kata aku kebakaran jenggot sendirian dia malah enak-enakan honeymoonan bareng suaminya. Ya Allah gusti, kenapa aku tidak bisa ikhlas sih membiarkan si Hanin bahagia dengan pilihannya.
Gondok banget rasanya membayangkan dia ena-ena dengan suaminya sementara hatiku di sini nelangsa belum bisa melupakannya. Hallo, Kholid Anggara, please move on dan lupakan dia!
“Besok aku kirim balik ke alamat Aa,” sambungnya saat aku hanya terdiam saja tanpa menanggapi kalimatnya.
“Tidak usah, mending dibuang saja, aku kasih itu sama Yani supaya Teteh tahu kalau selama ini aku nungguin Teteh dan tidak ingkar dengan janji yang sudah kita ucapkan,” kataku menyindirnya.
“Aku minta maaf.”
“Aku tidak butuh kata maaf, tidak usah merasa bersalah. Selamat menempuh hidup baru dan tidak usah mengganggu lagi. Terima kasih.” Aku mematikan panggilan sepihak dan langsung memblokir nomor Hanin.
Tak peduli dia dapat nomor ponselku dari mana, dia memang humble dan mudah bergaul dengan siapapun sehingga tidak aneh kalau bisa dengan mudah mendapatkan nomor kontak.
Yang jadi masalah, kalau dia benar-benar setia dengan janjinya, kenapa saat itu dia tidak pernah mencari tahu nomor ponsel ini. Sudahlah, tidak penting terus menyalahkan dia dan menganggap diri ini benar. Mungkin memang si Yani dan pacarnya benar kalau aku juga salah tidak memberi kabar sama sekali pada Hanin selama empat tahun ini.
Kini aku tinggal tunggu kapan Abah dan Umi melamar Uswatun Khasanah alias Anah untuk menjadi istriku. Ya ... seperti dalam sinetron tidak diduga kalau temanku jodohku. Namun, aku mencoba untuk nerima alur yang mungkin dipilihkan Allah untuk aku lakoni.
Kamis dan Jumat terlewati tanpa ada pembahasan lagi tentang Anah dan rencana lamaran dari Abah. Aku tidak bertanya dan mereka pun tidak mengajak aku bermusyawarah. Sejak telepon Hanin sore itu aku pun berusaha untuk tidak memikirkannya lagi meski kalimat sampah masih tersebar di beranda f*******:.
[Tidak semua pria buaya, terkadang wanita buaya lebih bahaya.]
[Janji setia dibalas dusta, empat tahun sia-sia hanya untuk melihat janur kuning atas nama dia dan pria lain.]
[Patah hati itu sakit, tapi lebih sakit lagi saat membawa hati dan mendapati pelaminan dari wanita pemilik hati.]
Itu hanya beberapa update status aku yang menumpahkan unek-unek dan kekecewaan pada Hanin. Banyak yang berkomentar, bertanya, menebak dan lainya. Namun, aku tidak menanggapi semua komentar mereka karena aku tidak tertarik untuk membahasnya. Niatku hanya memuntahkan semua lewat kata-kata dan direkam oleh media sosial agar suatu saat nanti Hanin bisa membacanya.
Adzan magrib berkumandang, seperti basa aku sudah siap dengan setelan Koko dan sarung serta kopiah hitam. Abah tidak pulang karena dia membawa muatan semen ke Surabaya. Hamdan pun sifat malam sehingga di rumah ini hanya aku makhluk ganteng yang tersisa.
“Aa dipanggil Umi dulu suruh ke kamar,” kata Bunga yang sudah siap ke masjid karena dia ada jadwal gaji usai salat magrib.
“Lah, Aa mau ke masjid. Sekarang?” tanyaku heran karena tidak biasanya Umi meminta bicara denganku di waktu mepet seperti ini.
“Iya lah sekarang. Masa tahun depan,’ sahut Bunga sambil ngacir pergi keluar rumah. Sementara aku harus balik kanan memenuhi panggilan Umi untuk ke kamarnya.
Pintu kamar Umi terbuka, beliau sedang duduk di ranjang dengan mukena yang sudah lengkap. Aku mengetuk pintu tanpa mengucapkan salam.
“A, nanti habis magrib langsung pulang ya. Umi mau ngobrol sama Aa,” katanya tanpa menyuruhku masuk ke dalam kamar.
“Siap, Umi. Aa ke masjid dulu,” pamitku. Setelah melihat senyum dan kedipan mata Umi. Aku kembali putar alun menuju pintu depan dan bergegas menuju masjid pesantren untuk menunaikan salat jamaah.
Kata Buya, untuk seorang pria sepertiku, sangat dianjurkan untuk salat jamaah mengisi rumah Allah. Untuk itu setiap waktu salat selalu aku usahakan untuk berjamaah dan menghindari salat munfarid kecuali memang dalam keadaan darurat. Di keluarga ini para pria memang dibiasakan ikut salat jamaah sejak dini, tapi sayang kesibukan dunia terkadang membuat Abah dan Hamdan mesti salat terpisah. Tik seperti waktu kami Anak-kanak yang selalu digiring Abah ke masjid bersama-sama.
“Wih, cerah banget tuh muka,” seru Anah saat kami berpapasan di pertigaan gang menuju masjid. Dia sudah memakai mukena dengan menggulung bagian bawahnya hingga d**a.
Entah kenapa saat tahu rencana Abah dan Umi untuk menjodohkan aku dengan Anah, aku mulai segan untuk melempar senda guru dengannya. Apalagi aku juga yakin setiap aku mengupdate status baru di beranda f*******:, Anah pati ikut serta membacanya meskipun tanpa meninggalkan tanda Iike maupun komentar.
“Duluan ya Nah, sudah selesai azan,” balasku membuat aura wajah Anah berubah dan aku tidak peduli akan hal itu. Aku meninggalkannya dan melangkah lebar menuju masjid. Padahal saat diledek seperti tadi biasanya aku dengan bangga membalas dengan kalimat narsis.
“Ya ialah, siapa dulu. Raden Ganteng yang punya kawasan Gempol.” Seperti itulah aku basa menjawab ledekan Anah setiap bilang wajahku lagi cerah. Namun, kini aku biarkan saja dia menyimpan tanya kenapa aku menghindarinya.
Aku malu ... aku juga bingung bagaimana nanti mengubah rasaku Aipda Anah dari sekedar teman biasa menjadi teman hidup yang akan menemaniku hingga berkembang biang, beranak cucu. Amin.
Begitu kan orang berumah tangga? Suka atau tidak pada Anah, aku tidak pernah berpikir untuk memulai sebuah pernikahan dengan main-main. Bagiku menikah bukan hanya sebuah ikatan yang menyatukan pria dan wanita menjadi halal untuk saling bersentuhan. Lebih dari itu, menikah adalah ikatan sakral dan janji suci untuk selalu setia dan menerima pasangan apa adanya dari sejak ijab kabul dan dibacanya sighat nikah sampai Allah mencabut nyawa salah satu dari kami.
Usai salat magrib, seperti yang dipesankan Umi. Aku langsung pulang ke rumah, bahkan saat kang Fahmi mengajakku berbincang. Aku menolaknya dengan alasan punya janji dengan Umi.
Belum tiba di rumah aku dibuat terkejut karena pintu terbuka lebar, ada sandal asing di depan pintu yang aku yakini itu bukan milik Abah ataupun Umi. Ragu-ragu aku melangkah mendekati rumah.
“Assalamualaikum,” sapaku yang langsung terpaku begitu melihat di kursi ruang tamu sudah ada kedua orang tua Anah.
Nah loh ... kalau sudah begini ceritanya aku jadi pusing. Aku yang melamar atau mereka yang melamar. Sungguh aku tidak mengerti apa alasan keberadaan Ibu Susi dan Bapak Ramin di rumahku.
“Waalaikumsalam. Masuk, A. Ini ada tamu,” kata Umi. Aku melempar senyum pada kedua orang tua Anah sebelum menyalami keduanya bergantian.
“A, Bapak Ramin ini main ke sini setelah Umi mengungkapkan matan Umi dan Abah meminta Anah jadi menantu Umi buat jadi istri kamu.”
Aku mengangguk mendengar kalimat yang Umi utarakan, hanya saja aku tidak tahu harus menjawabnya dengan apa sehingga aku menunggu saja keduanya buka suara.
“Lid, Bapak hanya mau tahu langsung kamu ini terpaksa atau tidak menjadikan Anah istrimu?” tanya Pak Ramin. Jujur, aku kaget mendengarnya.
Kalau urusan terpaksa atau tidak, aku juga tidak bisa menjawab. Aku hanya mencoba untuk menerima pilihan Abah dan Umi. Bukankah kata orang pilihan orang tua itu selalu tepat karena semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Pasal itulah yang menjadi panduanku untuk menerima jodoh dari Abah. Apalagi Buston bilang urusan cinta itu bagian ratusan, yang terpenting Soleh dan cantik alias enak dipandang.
“A, kok diam. Itu bapak nanya dijawab dulu, jangan malah melamun,” tegur Umi dengan suaranya yang selalu terdengar lembut di telingaku.
“Maaf Umi, Aa grogi,” kataku berpura padahal sedang memikirkan jawaban yang paling tepat.
“Bapak hanya tidak ingin kamu terpaksa menerima Anah karena permintaan kedua orang tuamu. Makanya waktu ibu momong kalau Umi kamu meminta Anah jadi mantunya, Bapak tidak langsung bilang sama Anah,” ujar Pak Ramin membuat aku teringat kembali pertemuan dengan Anah di jalan waktu menuju masjid.
Pantas saja dia masih bersikap biasa padaku. Ternyata si Anah belum tahu rencana Abah dan Umi yang ingin dia menjadi istriku. Aku berdehem sebelum menjawab tanya Bapak, untuk mengurngi rasa grogi aku menggosok-gosokan telapak tanganku.
“Aku tidak tahu bab terpaksa dan nerima itu bedanya apa Pak. Jujur, aku kaget waktu Abah dan Umi memilih Anah untuk jadi istriku. Hanya saja, menurutku Anah memang baik, Soleh dan cantik.” Aku melempar senyum pada Bu Susi dan Pak ramin setelah mengatakan kata cantik.
“Jadi, tidak ada alasan buat aku menolak Anah. Kalau ditanya terpaksa atau tidak jawabannya aku nerima pilihan Abah dan Umi karena yakin pilihan mereka tidak mungkin salah," jawabku tegas sesuai dengan apa yang dalam hatiku. Tidak berpura-pura agar mereka bersimpati padaku.
“Alhamdulillah,” koor Bapak Ramin dan ibu Susi secara bersamaan. Aku tidak mengerti kenapa seru hamdalah terucap dari mulut mereka setelah menjawab pertanyaanku.
Kalau begitu malam ini juga Ibu sampaikan niat dari keluarga Kholid pada Anah, kalau Anah bersedia. Nanti Ibu akan segera memberi tahu Umi Soleha. Maaf Umi, namanya anak zaman sekarang itu kadang tidak suka dijodohkan. Makanya, sebagai orang tua kami tidak ingin memaksakan kehendak pada Anah.” Ibu Susi begitu ramah dan lemah lembut saat mengucapkannya dengan memandang Umi.
Ah, keluarga Anah memang keluarga baik. Harusnya aku tidak perlu ragu menjadikan dia istriku hanya karena belum adanya cinta di hati ini. cepat atau lambat, kalau kami sudah terbiasa bersama ... aku yakin cinta itu akan mudah untuk muncul.
“Kalau begitu kami permisi, kami sudah yakin kalau Kholid ini baik untuk Anah." Bapak Ramin melirikku sebelum berdiri dan berpamitan pada aku dan Umi.
Singkat saja mereka datang, hanya mengajukan satu pertanyaan dan langsung pulang setelah aku memberikan sebuah jawaban yang membuat mereka yakin kalau aku ini pria yang tepat buat Anah. Padahal aku sendiri masih ragu apa bisa membuat Anah bahagia. Sementara dalam hati ini Hanin belum juga terhapuskan.
“Aa, Umi harap ini jadi awal yang baik untuk Aa. Umi tahu melupakan cinta pertama itu susah, tapi Umi yakin Aa tidak akan menyia-nyiakan wanita sebaik Anah,” pesan Umi setelah kepergian kedua orang tua Anah.
“Insyaallah Umi, semoga Aa tidak mengecewakan semuanya.” Kalimat itu saja yang mampu aku ucapkan. Aku tak sanggup berjanji kalau belum ada bayangan mampu menepatinya.
Aku hanya akan berusaha sebaik mungkin memperlakukan Anah kalau seandainya benar kami akan menikah. Aku pun akan mencoba segigih mungkin melupakan Hani agar tidak membuat Anah kecewa.
‘Ya Allah, pemilik hatiku. Aku mohon tuntunanmu untuk menetapkan hatiku agar tidak goyah.’