Suami Anah

1721 Kata
Semua seperti mimpi yang tak pernah aku bayangkan terjadi dalam kehidupan yang nyata. Hari ini tenda terbentang di teras rumahku dan tenda lebih megah sudah dirias cantik di depan halaman rumah Anah. Pelaminan untuk kami berdua pun sudah siap menanti kedua mempelai yang akan ada di sana bak raja dan ratu sehari. Akulah sang raja yang harusnya berbahagia dengan pernikahan ini. Aku tak tahu akan jadi apa keluargaku nantinya, hanya harapan terbesarku cuma satu, yakni bisa menjalani biduk rumah tangga dengan Anah sebaik mungkin. Cinta ... lekaslah datang agar hidupku berwarna. “A ... sudah siap?” tanya Bunga saat membuka pintu kamarku. Aku mengangguk, setelan jas pengantin putih sudah melekat di tubuhku ditambah dengan kopiah warna senada. Di bagian pinggang juga dipasang sarung batik liris warna putih kombinasi cokelat s**u. “Bismillahirrahmanirrahim.” Aku melangkah pasti keluar dari kamar. Bunga menggandengku hingga pintu depan rumah. Di sana aku disambut para keluarga yang sudah siap mengantarku ke rumah Anah. Sebelum keluar dari rumah, Kang Fahmi mengumandangkan azan. Suara lembut, merdu dan mendayu membuat perasaanku berkecamuk. Umi saja sampai meneteskan air mata saat mendengar suara Kang Fahmi. Usai azan dan dilanjut doa yang dibawakan Ustadz Wahid. Hamdan pun membuka payung khusus dari perias dan mengiring aku berjalan ke rumah Anah. Rumah kami hanya berbeda gang saja. Iring-iringan pengantin pun berjalan dengan diiringi suara rebana dan salawat yang dibawakan para santri. Dalam setiap pijakan langkahku aku berdoa agar pilihanku kali ini tidaklah salah. Bismillah niatku untuk menyempurnakan agama, memilih wanita yang juga menjadi pilihan kedua orang tua dan berharap kalau pernikahan kami nantinya akan membawa keberkahan buat aku dan Anah serta buat keluarga besar kami. Tiba di depan halaman rumah Anah aku disambut Bu Susi yang mengalungkan rangkaian melati putih di leher. Setelahnya aku pun dituntun untuk duduk di tempat yang sudah disiapkan untuk mengucapkan akad nikah. Kalung emas seberat sepuluh gram ditambah dengan seperangkat alat salat menjadi mas kawin dariku untuk menghalalkan Uswatun Khasanah binti Bapak Ramin. Jangan tanya bagaimana degup jantungku sekarang ... perasaanku sudah tidak bisa lagi digambarkan. Grogi dan gugup mulai datang menyambangi hingga telapak tanganku terasa basah, keringat dingin mengalir di pelipisku saat duduk di depan Buya Ahmad yang duduk berjajar dengan penghulu dan Bapak Ramin. Sebelum memulai akad nikah terlebih dulu petugas memeriksa kelengkapan berkas aku dan Anah. Kemudian khutbah nikah singkat lima menit dari Buya pun disampaikan sebagai wejangan buat aku menjalani biduk rumah tangga dengan Anah. Ada tiga hal yang aku tangkap dari isi khutbah nikah yang disampaikan Buya, sebagai suami aku haruslah punya kesabaran seluas Samudera untuk memahami perasaan wanita yang sang jauh berbeda dengan perasaan kami kaum pria. Aku pun tak boleh meragukan kalau berlemah lembut dan memanjakan Anah nantinya akan mendapatkan pahala berlimpah dan yang pasti, cintaku harus satu untuk wanita yang sebentar lagi akan resmi menjadi istriku. Tiga hal itu saja yang mampu aku ingat karena selain menasihati aku, Buya pun memberi nasihat juga untuk Anah yang aku sendiri tidak tahu kini dia berada dimana. Yang jelas saat ijab kabul selesai dilaksanakan baru lah aku akan melihatnya keluar. Kini tiba lah saatnya tangan Buya menjabat tanganku untuk melafalkan akad nikah menggunakan bahasa Arab. Ya ... Buya memang menginginkan semua santrinya memilih bahasa Arab saat mengucapkan kalimat kabul. Kini tangan Buya sudah menggenggam tanganku dengan tegas beliau mulai mengucapkan kalimat ijab, setelah kalimat hallan tangan Buya pun bergoyang. “Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq.” “Halal.” Semua keluarga dan undangan yang menyaksikan akad nikah kami mengiakan satu kata yang apa diiringi dengan sorak soray dan tepuk tangan yang terus menggema. Aku mengusap kedua telapak tangan ke wajah. Lega rasanya bisa lancar mengucapkan kalimat keramat yang cukup sekali seumur hidup saya. Aku masih berusaha menetralisir debaran jantungku saat pembawa acara meminta mempelai perempuan untuk dibawa keluar. Aku pun dituntun Kang Fahmi untuk berdiri menyambut Anah yang kini sudah sah menjadi istriku. Inilah yang dinamakan takdir ... dalam doa aku selalu menyebut nama Hanin dengan membayangkan wajahnya. Aku selalu berharap Allah berbaik hati menjodohkan kami. Namun, inginku belum tentu baik untukku dan aku harus yakin ketentuan dari Nya yang terbaik untuk aku lakoni. Maka, hari ini aku pun berjanji untuk sedikit demi sedikit belajar menjadi suami dan imam yang baik untuk Anah. “A, cantik banget tuh.” Kang Fahmi menyenggol bahuku dan itu membuat aku sontak mengangkat wajah dan tatapanku pun lurus mengarah pada Anah yang sedang dituntun Bunga dan Aisyah mendekat padaku. “Yang cantik Anah apa pengiringnya Kang?” tanyaku sengaja menggoda Kang Fahmi. Dia membalas godaanku dengan mencubit lengan disertai gerakan kepala ke kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada yang mendengar kalimatku. “Aman kang ... aman,” sambungku masih ingin meledeknya untuk mengurangi rasa grogi, gugup dan aneka perasaan lain yang berkecamuk di d**a. “Sudahlah A, fokus saja sama pengantin wanita.” Aku tersenyum, harusnya aku memang fokus memandang lurus Anah. Namun, saat menatapnya yang aku lihat bukan lah wajah Anah, melainkan bayang-bayang Hanin yang sedang melempar senyum padaku. ‘Ya Allah, alangkah bahagianya aku seandainya hari ini Hanin lah yang menjadi istriku.’ Aku mengusap wajah dengan segera untuk menghapus pikiran itu. Tidak ... tidak boleh lagi ada wanita lain dalam hidupku. Setelah hari ini Anah lah satu-satunya wanita yang harusnya menghiasi hariku. Aku tersenyum menyambut Anah, aku paksakan hati ini untuk berbahagia di hari yang memang sudah semestinya aku bahagia. Begitu kami berdiri berhadapan, Anah dituntun untuk mencium tanganku. Saat itulah Buya membisikkan sebuah doa dan aku ikuti sembari mengecup lama kening Anah. Buya kembali mundur setelah membimbingku melafalkan doa untuk keberlangsungan pernikahan kami agar diberkahi oleh Allah sang pemilik alam semesta. “Duduk lagi, kita lengkapi dokumen dulu,” bisik Paman Ali di telingaku. Aku pun balik kanan untuk menuju meja akad lagi. Anah belum menanda tangani surat-surat sebelum buku nikah resmi kami miliki. “A, Anahnya digandeng,” bisik Paman Ali yang membuat aku pun seketika mundur. “Maaf,” desisku pada Anah. Aku canggung dan sepertinya Anah pun merasakan hal yang sama. 28 Oktober 2012 aku gagal melamar Hanin, sepuluh November keluargaku melamar Uswatun Khasanah untuk menjadi istriku dan tepat di tanggal dua belas Desember dua ribu dua belas aku resmi menjadi suami Anah. Tidak ada proses pengenalan atau penjajakan karena memang kami sudah saling mengenal sejak kecil. Semua kawan kami tidak ada yang menyangka kalau Anah lah yang menemaniku di pelaminan ini. jangankan mereka, aku saja sama sekali tidak mengira kalau hubungan persahabatan kami dari masih anak-anak berlanjut hingga sejauh ini. Jodoh adalah rahasia Allah, hanya itu yang aku percaya. Hari itu pun seharian kami menerima tamu yang datang untuk turut berbahagia dengan pernikahan aku dan Anah. Setelah akad nikah yang dilanjut dengan resepsi. Malamnya kami masih tidur terpisah, dan besoknya kami sama-sama membantu membereskan sisa-sisa acara. Tidak terasa, empat hari berlalu begitu saja. Setelah Rabu dua belas Desember itu, aku masih tinggal di rumah masing-masing membereskan t***k bengek sebelum aku dan Anah pindah ke rumah kami. Aku memutuskan menerima bantuan pinjaman dari pabrik untuk pasangan pengantin baru, aku membeli rumah saudara yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah kedua orang tua kami. Masih di kawasan pesantren Gempol juga sehingga Anah juga tidak harus berhenti mengajar ngaji santriwati cilik dari desa yang datang ke taman pendidikan Al Quran dari Magrib hingga isya menjelang. Minggu pagi ini keluarga pun mengantarkan aku dan Anah ke rumah sederhana yang akan menjadi istana kami berdua. Semua sudah rapi karena sejak Kamis pagi bumi, Abah, Ibu dan Bapak Anah membantu mencicil sedikit demi sedikit memboyong perabotan untuk mengisi rumah ini. Baru saat azan asar berkumandang semua pun berencana untuk pulang. Bapak dan Ibu Anah mendekatiku, begitu pula Umi dan Abah yang mendekati Anah. “A, kami titip Anah, tolong bimbing Anah dan maklumi kalau dia masih belum bisa jadi istri yang baik untuk Aa.” Aku mengangguk mendengar pesan dari Ibu Susi yang kini juga menjadi ibu untukku. “Kalau masakan Anah kurang pas di lidah Aa, jangan sungkan bicara baik-baik padanya. Ibu dan Bapak titip Anah ya, kami yakin Aa pria yang tepat untuk menggantikan Bapak menjaga Anah,” sambung Bapak dengan menepuk pundakku. Aku mengangguk lagi dan mencium tangan kedua mertuaku. Hal yang sama pun dilakukan Anah pada Umi dan Abah, aku tidak tahu apa yang dikatakan kedua orang tuaku pada Anah, hanya saja mungkin masih pesan bernada sama untuk sangu kami berdua yang baru saja sah menjadi suami istri. “Aa, Umi dan Abah pulang. Baik-baik dengan Anah ya..” “Iya Umi,” jawabku sembari mencium tangan Umi dan Abah bergantian. “Assalamualaikum,” koor orang tua kami sebelum berjalan pulang ke rumah masing-masing. Aku dan Anah pun serempak menjawab salam mereka. “Nah, aku ke masjid dulu buat asaran ya,” pamitku yang masih selalu ber-aku kamu di depan Anah meskipun berulang kali Umi menasihati kami agar segera mengubah panggilan. “Iya.” Anah menjawab dengan singkat, saat aku hendak pergi dia meraih tanganku untuk dicium. Lagi-lagi aku lupa kalau kini Anah bukan lagi teman bermainku, dia istriku dan entah kapan aku bisa mengubah kebiasaan untuk bisa lebih mengistimewakan Anah. “Anah salat di rumah ya A,” katanya yang sudah mulai memanggilku Aa sejak hari pernikahan kami. “Iya.” Aku langsung bergegas ke masjid setelah menjawabnya. Jujur, aku bingung menempatkan diri. Aku bingung membiasakan diri menerima Anah menjadi bagian dari hidupku. Kami terlalu terbiasa bersama, hingga rasa canggung itu sangat susah untuk dilenyapkan. Usai salat jamaah aku tidak segera pulang, membayangkan di rumah hanya ada aku dan Anah malah membuat aku memilih duduk di teras masjid bersama Kang Fahmi. “Manten sudah belah duren belum, A,” ledek si Akang dengan gerak mata naik turun menggodaku. “Aku tidak suka duren Kang, sukanya nangka madu.” Aku meringis dengan menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal. “Halah, kalau nangka madu milik tetangga itu haram A, mending juga belah duren yang sudah pasti halalnya,” sahut Kang Fahmi yang membuat keningku mengerut. Kenapa aku malah merasa guyonan ini menyindir isi hatiku yang belum juga berubah. Kalau Nangka madu itu diibaratkan Hanin, aku masih sangat ingin mencicipi manisnya Hanin dan saat Anah diibaratkan Duren dalam genggaman. Entah kenapa aku justru sama sekali tidak ingin membelah dan mengetahui isinya. Ya Allah yang maha membolak-balikan hati hamba, tetapkan hati hamba pada kebenaran menurut Mu. Jangan biarkan hati ini mengarah pada yang salah dan haram.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN