Pahit bertawali

1707 Kata
Sudah dua jam berlalu dan aku belum juga mendapati suamiku kembali dari Masjid. Waktu asar sudah usai sejak lama, magrib pun akan tiba. Namun, tanda-tanda kepulangannya tak bisa aku pastikan. Satu sudut bibirku tertarik mengingat begitu cepatnya proses dari lamaran menuju pernikahan. Kholid Anggara, teman dari masih sama-sama bocah ingusan, satu sekolah dasar, satu madrasah tsanawiyah juga. Kami memang berbeda sekolah saat aku memilih melanjutkan ke Madrasah Aliyah, tapi Aa memilih melanjutkan ke SMK Negeri satu kota Cirebon. Namun, itu tidak menjadikan alasan persahabatan kami merenggang karena setiap sorenya baik aku maupun Aa menghabiskan waktu di lapangan sepak bola bersama teman-teman satu desa kami. Aku pun tahu siapa gadis yang sudah empat tahun ini ditunggunya. Maka dari itu aku sempat kaget dan tidak percaya saat Ibu bilang keluarga Aa hendak datang melamar. Ini seperti mimpi yang tidak diduga ... aku menikah dengan teman sepermainan yang beranjak dewasa bersama. Bagaimana mungkin aku berpikir kalau pria yang setiap harinya menceritakan gadis yang dicinta pada sahabat-sahabatnya malah menikahiku. Angga, begitulah aku dan teman sepermainan kami memanggilnya, tapi para tetangga dan kerabat Aa memanggil dia Kholid. Aku tidak mengerti kenapa ada perbedaan panggilan seperti itu. Yang aku mengerti cuma satu, dia pendiam pada setiap wanita yang baru dikenal. Namun, terlihat gokil di depan aku dan teman akrab lainnya. Tanggal dua belas Desember kemarin aku sudah resmi menjadi istrinya, tapi kami masih tinggal terpisah karena banyak hal. Hari ini, Minggu sore kami resmi tinggal satu atap hanya berdua untuk memulai membina rumah tangga dengannya. Hanya saja entah apa alasannya, sejak pamit untuk jamaah asar di masjid dia belum juga kembali. Aku menutup pintu rumah saat azan magrib berkumandang dan Aa belum juga datang. Mungkin ada hal penting yang tidak bisa dia tinggalkan di pesantren. Sungguh aku tidak ingin berburuk sangka sedikit pun pada pria yang baru beberapa hari ini menjadi suamiku. Ini baru saja dimulai, perjalanan panjang masih menantiku ke depan. jangan karena prasangka yang tidak-tidak aku malah menyakiti perasaanku sendiri. Toh, selama ini aku tahu kalau Aa tidak memiliki teman wanita, kecuali gadis asal Indramayu yang sering diceritakannya. Magrib terlewat, azan Isya pun sudah berlalu sejak satu jam yang lalu. Namun, tak aku dapati Aa kembali. Ponselnya tergeletak di kamar sehingga aku tidak mungkin meneleponnya. Untuk menyusul ke pesantren atau ke rumah Umi, aku pun merasa sungkan. Aku takut mereka mengira kalau aku ini terlalu posesif yang langsung menyusul suami yang tak kunjung pulang padahal waktu malam masih panjang. Jam setengah sembilan malam aku keluar untuk menantikan adakah tanda-tanda suamiku pulang. Begitu pintu terbuka tetangga sebelah rumah yang sedang duduk-duduk di teras menyapa. “Lah, Bibi kira Anah tidak di rumah. Dari tadi pintunya tertutup. Sini duduk tadi Bibi lihat Kholid masih di pesantren ada rapat.” Bi Linah melambaikan tangan. Di depan teras rumahnya ada beberapa tetangga juga yang belum aku kenali. Jarak rumah ini memang tidak terlalu jauh dari rumah orang tuaku. Namun, banyaknya rumah baru aku tidak mengenal nama mereka satu persatu. “Di pesantren ada rapat Bi?” tanyaku penasaran saat sudah ikut duduk bergabung dengan mereka. “Iya, bapak juga belum pulang nih. Katanya buat acara malam tahun baruan, mau mengadakan tausiyah akbar supaya pemuda desa tidak banyak yang keluyuran dan ikut-ikutan pesta Miras,” jawab Bi Linah. Entah kenapa ada perasaan lega saat mengetahui Aa mengikuti rapat. Jujur, aku sempat berpikir kalau dia sedang menghindariku. Pemikiran yang sama sekali tidak dibenarkan karena lebih condong ke suuzon pada suami. Cukup lama aku ikut Berbincang dengan mereka hingga aku menangkap siluet bayangan Aa berjalan dengan Paman Surya suami Bi Lina. “Bi, itu Aa pulang ... Anah pulang dulu ya,” pamitku. “Oh iya ... iya, pengantin baru masih sore masuk kamar pun tidak ada yang mengganggu,” gurau Bi Yusi yang diikuti tawa cekikikan Bi Lina dan ibu-ibu lainnya. Aku melempar senyum menanggapi gurauan mereka dan langsung berjalan pulang ke rumah untuk menyambut suamiku pulang. Suami ... aku kini bukan lagi wanita bebas yang bisa pergi ke mana pun sendirian. Ada sosok pria yang harus aku jaga perasaannya. Aku harap pun dia akan menjaga perasaanku. “Assalamualaikum, Nah. Maaf aku baru pulang tadi ....” “Ada rapat kan? Bi Lina tadi kasih tahu aku,” potongku cepat. “Syukurlah, aku takut kamu nungguin. Soalnya aku juga tidak tahu kalau bakal diadakan musyawarah malam ini.” Dalam hati aku pun mengiyakan kalau sebenarnya sudah menunggu Aa pulang sejak sore tadi. Hanya untuk menyuarakannya jelas aku asih sungkan. Kami memang sudah sangat lama saling mengenal, tapi tidak pernah sedekat ini. selalu ada jarak yang kami jaga meskipun kerap melempar senda gurau bersama teman lainnya. “Kamu sudah makan?” Aku menggeleng, Ibu berpesan kalau sebagai istri baiknya makan menunggu suami. Maka rasa lapar yang sempat datang pun aku enyahkan demi belajar terbiasa melakukan rutinitas yang seharusnya dilakukan seorang istri. “Yuk, makan,” ajak Aa berjalan terlebih dulu ke arah dapur. Sementara aku memilih mengunci pintu terlebih dulu. Canggung ... itu yang kami rasakan saat berdua menghabiskan makan malam pertama di rumah baru. Usai makan Aa masuk ke kamar, aku pun mengekornya tanpa mengeluarkan suara. Aku memilih duduk di ranjang dan memalingkan wajah saat Aa membuka baju koko yang dia kenakan dan menggantinya dengan kaos pendek tanpa lengan dengan celana pendek sebagai bawahannya. “Anah.” Aa memanggil namaku seraya duduk di kasur, tepat di sebelah aku duduk. “Aku minta maaf ... aku tidak tahu harus dengan cara apa aku meminta maaf padamu.” Aku mendongak dan memberanikan diri membalas tatapan mata Aa. Kenapa dia minta maaf, kesalahan apa yang Aa lakukan di malam pertama kami menempati rumah ini dia malah meminta maaf padaku. “Umi dan Abah memilih kamu untuk menjadi istriku. Jujur, awalnya aku kaget ... hanya saja aku tidak bisa menolak karena memang aku tahu kamu gadis yang baik, aku juga tahu kamu wanita Soleha yang menjaga kehormatanmu, ditambah lagi kamu cantik.” Wajahku memanas dan kembali menunduk saat mendengar dia mengatakan kalau aku ini cantik. aku bahagia mendengarnya, meskipun hanya sementara karena saat mendengar kalimat Aa selanjutnya, kebahagiaan yang aku rasakan langsung sirna seketika. “Aku mohon maaf dari kamu ... aku masih butuh waktu untuk membiasakan kita bersama seperti ini. Jujur ... aku belum mencintaimu dan parahnya aku pun belum bisa mengusir wajah wanita yang sudah empat tahun ini menjadi pemilik hatiku.” Tanganku meremas seprei saat mendengar pengakuan jujur dari suamiku. Menyakitkan, tapi mungkin dia bermaksud baik dengan berterus terang padaku. Hati ini saja yang tidak tahu diri dan langsung merasa kecewa dengan kenyataan yang aku hadapi. Ingin rasanya aku menyalahkan dia ... kenapa dia mau menikahiku kalau masih ada wanita lain dalam hatinya. “Aku minta maaf Anah ... aku belum bisa menjalankan kewajibanku malam ini. Aku tidak ingin wajah wanita lain yang terbayang saat aku bercinta denganmu.” “Cukup!” Aku menghentikan kalimatnya dengan cukup tegas. Hati ini tidak kuasa mendengar kelanjutan kalimat yang mungkin akan dia ucapkan. “Aku mengerti. Silakan Aa benahi diri, aku tidak ingin hadirku dianggap sebagai patung pengganti dari Hanin. Aku bisa tidur di kamar lain.” Aku sudah berdiri dan siap keluar dari kamar kami. Namun, tangan Aa menggapai pergelangan tanganku hingga langkahku terpaksa berhenti. “Tidur lah di sini, biar aku yang tidur di luar,” putusnya yang langsung berlalu pergi dari kamar ini. Sakit ... kenapa rasanya sesakit ini Tuhan. Sudah kucoba tepis semua rasa yang pernah hadir untuk Kholid Anggara. Aku selalu menyimpan rasa kagum dan bangga padanya yang sudah muncul saat kami sama-sama duduk di bangku MTs. Aku berusaha keras menjaga jarak dengannya, aku berusaha keras melupakannya saat aku tahu kalau Angga menjalin hubungan dengan Hanin saat masa SMK mereka. Aku menghapus nama Angga dari daftar pria idaman, semua aku anggap biasa saja. Aku bahkan mulai menaruh rasa suka pada pria lain meskipun tidak pernah menjalin hubungan penjajakan yang kata orang namanya pacaran. Bagi aku kagum, suka, sayang dan cinta sekaligus tidak pantas diteruskan kalau belum ada ikatan yang halal. Selama ini aku mencoba menjaga hati untuk pria yang kelak akan menjadi suamiku. Hingga saat Bapak dan Ibu bilang Umi Soleha berkata Kholid Anggara ingin menjadikan aku istrinya, aku menganggap itu satu keberuntungan. Aku mengira pernikahan ini sebuah hadiah dari Allah karena sudah menahan perasaan pada pria yang tidak halal untukku. Aku mengira ini sebuah keberuntungan karena dulu pernah mengaguminya dan kini malah menjadi istrinya. Namun, semua itu kini sirna setelah mendengar ungkapan kejujuran yang baru Aa katakan. Semudah itukah dia bilang butuh waktu untuk menata perasaan ... tidakkah dia pikirkan juga perasaanku yang kini sudah menjadi istrinya. Kalau memang dia belum siap, kenapa pernikahan ini segera dilaksanakan. Aku tidak terima ... aku kecewa. Itu yang membuatku kembali memanggilnya dengan nama saja, bukan dengan sapaan Aa yang sudah aku biasakan sejak hari pertama dia sah menjadi suamiku. Harusnya ini malam pertama buat pasangan pengantin yang saling mencinta. Harusnya malam ini aku berbahagia kalau seandainya suamiku mencintaiku seperti para suami lain yang mencintai istrinya. Namun, malam ini aku berduka ... malam ini aku merana dan menghabiskan sepanjang malam dengan meluapkan tangis yang entah aku tujukan untuk apa. Tidakkah hati ini belakang sedikit saja untuk menunggu sampai Angga menghapus jejak Hanin dalam ingatannya. Apa karena aku tahu sebesar apa cinta Angga pada Hanin, sampai hati ini merasa tercubit mendapati ungkapan kejujuran bahwa di hati Angga ada Hanin, Tengah malam saat aku termenung menunggu Fahmi datang, ponsel Angga bergetar. Dari layar aku bisa melihat nomor dari sang pengirim. Perlahan jemari ini menekan kunci ponsel dan membukanya. [A, cincin sudah teteh kirimkan kembali. Maaf baru mengabari, teteh dapat alamat rumah Aa dari Hamdan. By. Hanin] Ya Tuhan ... tengah malam begini dia mengirim pesan. Seperti tidak ada hari lain saja. Aku terus menggerutu tanpa sadar membawa ponsel Angga keluar dari kamar. Angga yang sedang berbaring di sofa bed ruang televisi bangun saat mendengar pintu kamarku terbuka. Dengan kesal aku melempar ponsel ke arahnya. “Pacarnya sms tengah malam. Kenapa tidak nikahi saja dia kalau memang di hati kamu masih ada cinta untuknya.” Brakkk Tanpa menunggu Angga membalas kalimatku, aku menutup pintu kamar dengan kasar. Kesal tak tertahan mendapati hal seperti ini. Aku tidak meminta dinikahi Angga. Dia yang datang dan melamar yang aku kira membawa cinta dan kebahagiaan. Namun, ternyata hanya membuatku mencicipi pahitnya bertawali di awal pernikahan kami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN