Sudah dua hari berlalu sejak malam dimana Anah melempar ponselku karena isi pesan Hanin yang memberi tahu kalau dia sudah mengirimkan kembali cincin yang aku titipkan pada Yani. Aku tak paham kenapa dia masih mengganggu kehidupanku sementara aku tidak pernah sedikit pun mengusik hubungan Hanin dan suaminya.
Kejadian malam itu berimbas pada Anah yang sudah dua hari ini mendiamkan aku. Dia memang berlaku sebagai istri yang sebenarnya, mencuci dan menyetrika pakaian, memasak dan menyiapkan makan buat aku meskipun tidak pernah dia ikut duduk di meja makan menemaniku dan kami sama sekali tidak bertegur sapa.
Entah pernikahan model apa yang kami jalani ini, aku semakin pesimis bisa membawa pernikahan kami menuju pernikahan ideal yang goalsnya itu menjadi pasangan yang sakinah, mawadah dan warahmah.
Sebuah pernikahan yang menyatukan dua insan untuk saling memberikan rasa nyaman, ketentraman, penuh kasih dan mendapatkan limpahan rahmat dari Allah. Tujuan itu kini terasa jauh saat aku tidak berusaha mendekat dan Anah pun mendirikan benteng pemisah antara kami.
Ini hari ketiga kami menempati rumah yang aku beli kontan pada si pemilik dan membayar cicilan uang pinjaman ke koperasi pabrik. Sore ini pun aku mengendarai motor dengan pelan dari pabrik menuju rumah yang seharusnya menjadi tempat istirahat yang damai, tapi tidak buat aku yang merasa malas untuk pulang ke rumah.
Tidak biasanya saat aku tiba pintu rumah tertutup padahal saat sore usai asar seperti ini Anah biasanya midangan di teras rumah Bi Lina atau pun memilih membaca buku di ruang tamu. Dia memang memutuskan berhenti berhenti bekerja setelah menikah denganku. Itu yang membuat Anah berada seharian penuh di rumah, harusnya aku bangga memiliki istri seperti dia meskipun di antara kami belum ada cinta.
“Assalamualaikum.” Aku mengucapkan salam sambil memutar ganggang pintu yang ternyata terkunci. Kemana Anah? Pertanyaan itu begitu saja menyeruak dalam batinku.
Aku merogoh ponsel di tas selempang yang selalu aku bawa pulang pergi ke pabrik. Sebelum menelepon Anah aku pun duduk di kursi rotan yang diletakkan di teras rumah lengkap dengan meja dan sebuah kursi lagi yang bisa digunakan duduk tamu yang memang enggan masuk ke dalam dengan alasan satu dan lain hal.
[Kunci di bawah telapak meja.]
Satu pesan dari Anah membuatku urung meneleponnya. Aku mencari kunci di tempat yang Anah katakan melalui pesan dan benar saja anak kunci yang aku cari ada di sana. Dengan cepat aku mengambilnya untuk membuka pintu rumah dan segera masuk.
Tujuanku satu, kamar mandi. Hari ini terasa lebih panas dari biasanya hingga rasa gerah membuat aku terus berkeringat. Saat masuk langkahku lurus saja menuju kamar mandi, tanpa Anah rumah ini semakin sepi saja. Biarlah aku mandi terlebih dulu sebelum menelepon dan menanyakan keberadaannya.
Usai mandi aku mengambil ponsel dari dalam tas dan membawanya masuk ke dalam kamar. Niat awal sambil berbaring aku menelepon dan menanyakan keberadaan Anah. Namun, surat dan kotak cincin yang tergeletak di atas kasur mengurungkan niatku.
Kotak cincin beludru merah yang aku titipkan pada Yani itu jelaslah dikirimkan Hanin sesuai dengan isi pesan yang dia kirim tengah malam dan membuat Anah marah dan meradang. Ada dua surat yang tergeletak di samping kotak cincin itu, surat pertama dari Hanin dan yang kedua kalian sudah tentu bisa menebak kalau itu surat dari Anah.
Tanpa pikir panjang tentulah surat dari Hanin yang aku baca terlebih dulu. Bukan aku berharap mendengar kalimat penyesalan dan ungkapan cinta darinya. Tidak ... sungguh aku tidak berharap akan hal itu. Aku hanya ingin tahu apa alasan yang dia tuliskan di surat ini, alasan karena dia mengkhianati janji yang kami sepakati berdua.
Assalamualaikum Wr. Wb.
A ....
Tak tahu harus menuliskan apa di surat ini ... rasanya sebuah permintaan maaf tak akan terlalu berguna untuk mengubah yang terjadi di antara kita. Teteh salah A ... hanya itu yang bisa Teteh akui meskipun hal ini tentulah tidak akan mengobati sakit hati yang Aa rasakan karena Teteh.
Jujur, menikah dengan Mas Lutfi tidak pernah terpikir sedikit pun karena dari awal Teteh masuk kuliah hingga di tingkat akhir pun teteh masih mengharapkan Aa. Apalagi selama ini diam-diam Teteh masih sambung komunikasi dengan Hamdan tanpa sepengetahuan Aa.
Aa tahu?
Kata orang cinta pertama itu sulit dilupakan. Hal yang sama pun Teteh rasakan. Namun, apa daya Teteh hanya seorang wanita yang cuma bisa berharap Aa bisa hadir saat orang tua Teteh menginginkan putrinya untuk segera menikah.
Maaf, bukan ingin menyalahkan Aa. Namun, satu Minggu sebelum lamaran Mas Lutfi ... Teteh menanyakan pada Hamdan adakah niat dari Aa untuk benar-benar melamar Teteh secepatnya. Saat itu Hamdan bilang Aa bilang belum siap.
Aku berhenti sejenak mengingat pernah kak Hamdan bertanya tentang kesiapanku melamar Hanin. Akhirnya, setelah cukup lama berpikir aku mengingat saat akhir bulan Agustus Hamdan menanyakan soal itu.
Malam itu sepulang dari pengajian rutin bulanan yang dilaksanakan di pesantren Hamdan mencegat langkahku yang ingin segera masuk ke kamar karena kantuk yang mendera membuat mata ini ingin segera terpejam.
“A, maaf ... bukan Hamdan mau ikut campur urusan pribadi Aa. Memangnya kapan sih rencana Aa buat melamar Teh Hanin direalisasikan. Masa iya Aa mau mandengin foto si Teteh mulu ... kagak ada gitu niatan buat menghalalkan dia secepatnya,” ujar Hamdan saat berhasil menarikku duduk di kursi ruang tamu.
“Masih lama, Aa belum siap,” jawabku asal karena tidak ingin membahas tentang Hanin dengan siapa pun, termasuk Hamdan.
“Bagaimana kalau Teteh keburu dilamar orang lain,” sambung Hamdan setelah mendengar jawabanku.
“Simple ... berarti Aa bukan jodohnya.”
“Semudah itu A ... terus buat apa foto Teteh terpajang di setiap sudut kamar kalau Aa tidak ada niat untuk menghalalkannya. Kagak ada untungnya A,” kata Hamdan dengan nada yang setingkat lebih tinggi dari biasanya.
Sayang malam itu aku justru kabur dan meninggalkannya karena malas meladeni Hamdan. Satu hal lagi ... aku pun tidak menyangka kalau Hamdan menanyakan hal itu atas permintaan Hanin. Aku memang tidak suka ada pihak keluargaku yang menghubungi Hanin, termasuk Hamdan maupun Bunga.
Bagi aku ... masalah Hanin cukup aku saja yang tahu hingga aku marah tiap kali Hamdan atau pun Bunga membahas status-status Hanin di f*******:. Aku pun memaksa kedua adikku memblokir akun Hanin meskipun tetap saja ... Hamdan masih menyambung komunikasi dengannya.
Entah kenapa rasa percaya diri kalau Allah pasti menjodohkan kami membuat aku tinggi hati dan tidak terpikir sedikit pun kalau Hanin akan menikah dengan pria lain. Kembali aku lanjutkan membaca surat Hani yang masih cukup panjang.
Maaf A ... bukan aku lelah menunggu, bukan pula aku tak cinta lagi. Namun, aku terpaksa menikah dengan pria yang dipilihkan Bapak dan Emak. Pria yang juga dua tahun ini menjadi pacar Teteh.
Teteh selingkuh ... iya, karena teteh butuh perhatian dari pria yang selalu ada buat teteh. Bukan pria egois yang mementingkan harga dirinya dibanding perasaan wanita yang mencintainya. Maafkan Teteh ....
Maaf lagi kalau teteh bilang Aa egois. Memang kenyataannya seperti itu. Aa tidak pernah peduli sedikit pun perasaan Teteh. Aa terlalu fokus memperbaiki diri tanpa mau tahu sakitnya penantian yang Teteh rasakan. Teteh tidak menuntut kesempurnaan ... semua orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing dan Teteh yakin Aa paham hal itu.
Kalau pun takdir membuat kita tidak bersatu ... Teteh mengaku salah karena sudah menyerah terlebih dulu. Kini semua sudah terjadi ... Teteh sudah bersuami dan Teteh pun tahu dari Hamdan kalau Aa sudah beristri.
Biarkan Cinta yang pernah ada ini menjadi sebuah kenangan ... sampai kapan pun cinta Aa akan selalu Teteh kenang meskipun kita tidak ditakdirkan bersama. Teteh mencintai Aa sampai kapanpun. Namun, ada suami Teteh yang jauh lebih berhak atas cinta Teteh.
Terima kasih buat semua kenangan indah selama menghabiskan waktu SMK bersama. Cukup sampai di sini cinta kita ada ... karena esok, lusa dan ke depannya ada perasaan suami dan istri kita yang harus dijaga.
Selamat menempuh hidup baru Aa ... dari mantan terindah dalam hidup Aa.
Hanin A.
Mataku terasa panas, entah kenapa bulir air menetes begitu saja tanpa mampu aku tahan. Menyesal ... seegois itu kah aku?
Bulan Agustus statusku masih pekerja kontrak, bukanlah karyawan tetap dari pabrik semen tempatku bekerja. Sungguh harus dengan apa aku menjanjikan hidup bahagia untuk Hanin. Di mataku dia adalah seorang sarjana yang tingkat pendidikannya tentu lebih tinggi dariku.
Hal itulah yang membuat aku minder dan tidak berani melamarnya sebelum mendapatkan pekerjaan yang layak. Namun, saat aku mendapatkan posisi dan jabatan yang cukup aman ... semua sudah terlambat. Dia sudah menjadi milik orang dan Hanin benar ... dalam hal ini bukan hanya dia yang salah karena sudah berselingkuh di belakangku selama dua tahun terakhir.
Aku pun salah karena sudah egois membiarkan dia menanti tanpa kepastian ... tanpa kabar ... dan parahnya tanpa sama sekali ada usaha dariku untuk menunjukkan diri di depannya.
“Bodoh! Bodoh!” Aku merutuki diri hingga tanpa sadar aku melupakan surat kedua yang masih terlipat rapat dan belum aku buka hingga waktu azan magrib pun tiba, baru lah aku ingat Anah belum pulang ke rumah.
Aku meneleponnya, tapi suara operator yang terdengar untuk memberi tahu kalau nomor ponsel Anah sedang tidak aktif. Aku memilih ke masjid terlebih dulu sebelum menyusul Anah ke rumah Ibu.
Tebakanku cuma dua ... kemana lagi dia pergi kalau bukan ke rumah kedua orang tuanya dan juga ke rumah kedua orang tuaku. Biasanya aku ke masjid dengan berjalan kaki, tapi karena ingin menjemput Anah di rumah Ibu atau di rumah Umi. Maka aku memilih membawa motor, sekalian mengajaknya makan malam di luar.
Surat dari Hanin terbuka dan aku yakin dia sudah membacanya ... rasanya aku harus kembali bicara dengan Anah agar hubungan kami ada sedikit kemajuan. Semua tidak bisa dibiarkan terlunta-lunta begitu saja ... kami harus segera bicara dan menyelesaikan kecanggungan yang terjadi beberapa hari ini.
***
“A tidak nunggu Isya?” tanya Kang Fahmi saat melihat aku keluar dari masjid. Beberapa hari ini kami memang selalu berbincang di masjid sembari menunggu waktu isya datang.
“Ada perlu Kang. Maaf ya pulang dulu,” jawabku langsung menuju tempat parkiran motor. Aku segera menuju rumah Ibu karena di masjid tadi aku bertemu Bunga dan kata Bunga, sejak tadi siang Anah tidak datang ke rumah Umi. Itu membuat aku mengambil kesimpulan kalau Anah pastilah ada di rumah ibu dan bapaknya.
“Aa ... kok sendirian, Anah mana?” tanya Ibu begitu melihat motorku berhenti di teras rumahnya.
Pertanyaan Ibu pun membuat aku berasumsi kalau Anah juga tidak ada di sini. Terus ke mana dia kalau di rumah orang tuanya dan di rumah orang tuaku juga tidak ada.
“Tadi dari masjid langsung ke sini Ibu,” jawabku segera menghampirinya dan mencium tangan Ibu.
“Bapak di musala?” tanyaku karena memang Bapak rutin menjadi imam salat jamaah di musala belakang rumah mereka.
“Iya, masuk yuk.”
“Pulang saja ya Bu, takutnya Anah menunggu di rumah,” kataku bukan dengan maksud berbohong. Namun, aku memang berpikir mungkin tadi dia keluar dan kini sudah sampai ke rumah. Setelah berpamitan aku pun langsung pulang ke rumah untuk memastikan keberadaan Anah.
Ya Allah ... dimana Anah? Semoga saja dia sudah ada di rumah. Kalau di rumah pun tidak ada, ke mana aku harus mencari Anah?