Anah benar-benar tidak berada di rumah karena saat aku pulang kembali tidak ada tanda-tanda ada orang di dalam rumahku. Aku segera menuju kamar untuk membaca satu surat dari Anah yang sudah aku lupakan begitu saja.
Kemana Anah?
Pertanyaan itu tetap mengganggu benak dan pikiranku. Namun, tidak membuat aku gegabah dengan bertanya pada kedua orang tuanya dimana kemungkinan Anah berada. Aku tidak ingin pernikahan yang baru seumur jagung ini terlihat goyah.
Aku belum berjuang ... aku belum mencoba, tak ingin aku menyakiti hati Abah, Umi juga Ibu dan Bapak. Nyatanya pernikahan aku dan Anah bukan hanya mengikat kami berdua menjadi sepasang suami istri, pasangan halal yang juga menyatukan hubungan kedua keluarga.
Menyakiti Anah ... sudah pasti menyakiti kedua orang tuanya. Aku paham pasal itu, tapi tetap saja kemarin masih egois dan meminta waktu untuk membiasakan diri akan keberadaan Anah. Akhirnya, bukan malah membiasakan kami hidup berdua ... hubungan kami malah semakin kaku. Lebih parah dari sebelum kami menikah yang bisa saling melempar canda gurau setiap bertemu.
Surat dari Anah masih tergeletak di kasur. Aku segera membuka lipatannya untuk membaca apa yang dia tuliskan di dalam surat tersebut. Setidaknya aku berharap di sarat itu juga Anah menuliskan keberadaannya sekarang.
“Bismillahirrahmanirrahim,” gumamku sebelum mulai membacanya.
To: Kholid Anggara.
Assalamualaikum Wr. Wb.
Maaf aku ikut-ikutan meninggalkan sebuah surat meskipun aku yakin surat yang dicaba terlebih dulu tentunya surat dari Hanin yang tergeletak tepat di samping surat ini. kalau tebakan aku benar, itu semakin menguatkan keyakinanku bahwa meskipun aku ini istri sahmu ... tetap saja dia yang menjadi prioritas utama kamu.
Hah ... aku menghembuskan napas dengan kasar. Baru satu paragraf surat saja sudah menampar telak karena apa yang ditulis Anah tidak bisa aku elak. Aku mengabaikan surat darinya, bahkan melupakan surat itu dan memilih membuka surat dari Hanin terlebih dulu meskipun saat itu aku tidak merasa lebih memprioritaskan Hanin.
Aku tidak tahu apa yang akan membuat aku bertahan membina sebuah keluarga dimana sang kepala tidak menerima keberadaan aku di hatinya. Jujur ... aku kecewa. Tidak bisakah kamu menikah setelah urusan hatimu dengan wanita lain selesai meskipun bukan aku yang kamu nikahi.
Aku ini bukan lap kain yang bisa membersihkan isi otak dan hati kamu yang dipenuhi dengan nama Hanin. Aku ini wanita yang punya perasaan dan hati yang rentan dan mudah merasa tersakiti ... dan kamu malah sengaja membuat aku berpikir kalau aku ini ban serep yang bisa kamu gunakan kapan pun saat kamu butuhkan dan membiarkan aku sendiri saat merasa kamu masih mampu berjalan dengan ban yang sudah bocor di setiap sisinya.
Aku kecewa ....
Aku minta kamu pikirkan ulang tentang pernikahan kita. ‘
Aku tidak mau semua berakhir sia-sia kalau nyatanya kamu tidak akan pernah melupakan Hanin! Aku tidak meminta kamu menikahiku. Aku tidak memaksa kamu datang melamarku. Aku hanya berpikir kamu adalah jodoh yang Allah kirimkan untuk menjadi imam dalam kehidupanku. Salah ... aku salah berpikir demikian karena ternyata jangankan menjadi imam yang memimpinku. Berjalan di sampingku saja kamu tak akan sudi.
Anggaplah Aku salah sudah keluar dari rumah ini tanpa izinmu. Aku minta maaf ... aku hanya ingin memberi kamu waktu untuk memilih mempertahankan pernikahan ini atau kembalikan aku pada keluargaku.
Dua pilihan itu pasti akan ada konsekuensinya ... jika pilihan kedua yang kamu pilih, tentulah aku akan menyandang janda kembang ... janda yang belum tersentuh dan diceraikan suaminya yang tak bisa melupakan mantan terindah dalam hidupnya.
Dan kalau pilihan pertama yang kamu pilih ... aku tidak ingin tahu, kamu harus melupakan semua tentang Hanin dan jadikan aku prioritas utama dalam hidupmu. Bisa?
Kalau tidak bisa, aku tidak memaksa. Tolong jangan gegabah memilih kalau pada akhirnya kamu tetap kembali menyakitiku. Aku wanita yang tidak suka diduakan ... aku sudah belajar menjaga hati untuk pria yang kelak menjadi suamiku. Maka bukan sesuatu hal yang mengada-ada kalau aku pun berharap suamiku bisa menjaga hati dan perasaannya untukku.
Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca surat dariku. Jemput kalau kamu sudah punya pilihan. Aku ada di pesantren ... di tempat Aisyah. Tidak perlu juga kedua orang tua kita tahu tentang ini.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
By.
Uswatun Khasanah, wanita naas yang dinikahi pria tidak jelas.
Aku lipat kembali surat dari Anah ... semakin tidak karuan perasaanku setelah membacanya. Aku tahu dari dulu kalau Anah memang wanita yang tegas dan tipe blak-blakan. Kalau dalam hatinya dia merasa A, maka Anah tak akan ragu mengungkapkannya.
Dia bukan sosok yang suka berpura-pura untuk menyenangkan hati lawan bicara. Dia teman masa kecilku, dia teman sepermainan yang tumbuh di lingkungan yang sama denganku. Aku paham siapa Anah dan Anah pun tahu siapa aku, makanya dia menuliskan surat seperti itu.
Mungkin benar kalau dia bilang aku tidak perlu gegabah untuk mengambil keputusan, tapi aku jelaslah berperasaan. Aku tidak mungkin mengambil pilihan yang kedua karena itu bukan hanya menyakiti Anah, tapi juga akan membuat kecewa Umi, Abah serta kedua orang tuanya.
Masa iya belum genap sebulan menikah kami sudah membahas bab perceraian. Ah ... perceraian itu salah satu hal yang paling disukai setan. Memang tidak ada larangan untuk memilih jalur perceraian meskipun Allah membencinya. Dan sebisa mungkin aku tidak akan mengambil pilihan yang sudah jelas dibenci Tuhanku.
Tanpa menunggu waktu isya aku segera menyusul Anah ke pesantren. Aku memang tidak akan bisa masuk ke kawasan santriwati dimana kamar Aisyah berada. Namun, aku bisa menyuruh salah satu santriwati untuk memanggil istriku.
Ya ... Anah itu istriku. Sudah sah bersertifikat KUA dan memiliki bukti buku nikah yang masih fresh. Buat apa juga aku memilih pilihan kedua yang nantinya akan membuat aku kembali dilema saat Abah dan Umi kembali memintaku untuk menikah lagi.
Tiba di gerbang pondok khusus putri aku langsung memencet bel dan salah satu santriwati terlihat bergegas membuka jendela gerbang.
“Maaf Kang, mau cari siapa?” tanyanya yang hanya sedikit membuka jendela saat tahu aku yang berdiri di depan gerbang.
“Mbak Anah katanya di kamar Aisyah, tolong panggil dia dan katakan suaminya menjemput,” pesanku yang langsung diiyakan si santriwati.
Lima menit berlalu ... aku masih setia menunggu Anah, biar lah aku di sini sampai azan isya mulai berkumandang. Kalau dia tidak juga kelar, setelah isya aku bisa minta tolong pada Bunga untuk masuk ke dalam bilik santriwati dan memanggil Anah agar lekas pulang. Namun, tak berapa lama pintu gerbang pun terbuka dan saat aku menengok Anah sudah berdiri di ambang gerbang.
“Kita pulang,” ajakku menatap matanya yang terlihat sembab.
Wanita memang selalu dekat dengan tangis. Semua perasaan mereka lupakan dengan tangis. Kecewa, marah, sedih, bingung, bahkan bahagia pun mereka menangis.
“Aku tidak mau pulang kalau di sana aku hanya dijadikan pelayan,” sahutnya menantang tatapan mataku.
“Aku ke sini menjemput istriku, bukan pelayanku. Ini hampir isya, ayu aku antar kamu pulang dan kita salat di rumah saja.”
Dia diam, tidak menyahut dan tidak bergerak. Akhirnya, aku pun mengalah untuk maju beberapa langkah hingga jarak kami kini begitu dekat. Aku meraih satu tangannya dan tersenyum sebelum kembali mengajaknya pulang.
“Besok kamu bisa main ke Aisyah lagi, sekarang kita pulang ya. Sudah malam,” ajakku dengan berusaha mengeluarkan kalimat selembut mungkin.
Dia masih diam, tapi tidak menolak saat aku menuntunnya menuju motor. Sampai tiba di rumah Anah tidak bicara satu kata pun.
“Anah sudah makan?” tanyaku saat menuntunnya masuk ke dalam rumah. Dia menggeleng, rupanya Anah belum mau membuka suara. Biarlah aku mengalah ... kali ini memang aku yang salah dan kalau pun aku tidak salah ... wanita memang tidak pernah mau disalahkan.
“Nanti habis salat kita makan di luar ya ... Anah mau mandi dulu atau kita langsung salat?” tanyaku berusaha tidak ber-aku kamu lagi dengannya.
Tidak rugi juga kalau aku bersikap baik pada Anah, aku suaminya dan Allah akan memberiku balasan setimpal kalau aku menyenangkan wanita yang berisik di hadapanku ini.
“Aku sudah mandi, paling ganti baju dulu.”
“Ya sudah ... Anah ke kamar dulu, ganti baju, wudu dan Aa tunggu di tempat salat ya,” kataku sambil terus menatap kedua bola matanya agar Anah tahu kalau aku sungguh-sungguh ingin memperbaiki sikapku.
Aku salah sudah mendiamkannya beberapa hari ini. Aku pun salah sudah menyakiti hatinya sehingga aku kini harus sedikit melunak dan belajar untuk mencoba mengerti Anah dan menjadikan dia sebenar-benarnya istri buatku.
“Yuk ... Aa antar ke kamar,” tawarku saat melihat dia hanya diam tak bergerak sedikit pun.
“Tidak usah ... aku bisa ke kamar sendiri,” tolaknya langsung berbalik dan meninggalkan aku yang tersenyum membiarkannya ke kamar sendirian.
“Huftttt ....” Aku duduk sejenak di kursi ruang tamu.
Berpura-pura itu cukup melelahkan karena aku harus menekan perasaanku sendiri. Namun, tak malah kalau apa yang aku lakukan ini membuat Anah dan kedua orang tuaku bahagia. Urusan kebahagiaanku mah nomor seratus sekian ... saat semua orang di sekelilingku bahagia, aku yakin hati ini pun akan mudah untuk merasakan sebuah keceriaan tanpa beban perasaan lagi.
Isya kali ini pertama kalinya aku menjadi imam salat Anah, dalam batin tentulah aku berharap kalau setelah ini aku lebih bisa menjaga sikap dan perkataan agar tidak lagi menyakiti Anah.
Usai salat aku langsung mengajaknya keluar untuk makan. Perutku lapar dan tadi pun aku sempat mendengar suara protes dari penghuni perut Anah yang entah sejak kapan belum diberi makan.
“Mau nasi goreng seafood apa ayam bakar?” tanyaku sebelum menentukan tempat makan yang akan kami singgahi.
“Ayam bakar,” jawabnya. Itu membuatku membelokan motor ke arah kanan jalan menuju persimpangan dimana di sana ada kedai ayam bakar yang cukup terkenal enak.
Kalau saja yang duduk di belakangku ini Hanin, tentu dia akan memilih nasi goreng seafood. Hanin memang suka dengan aneka jenis nasi goreng.
‘Ya Allah, kenapa juga masih mengingat dia yang haram untukku.’ Aku langsung mengenyahkan jauh-jauh bayangan Hanin. Fokusku kini adalah Anah ... dia istriku dan harus menjadi prioritas utamakan.
Aku menarik tangan Anah agar melingkar di pinggangku ... dia sempat menolak, tapi aku menahan tangannya untuk terus berada di pinggangku.
“Biar romantis, Nah ... tuh kaya anak muda yang boncengannya nemplok mirip cicak-cicak di dinding,” gurauku yang malah membuat tangan kanan Anah yang tidak aku pegang memukul pelan pundakku.
“Enak saja ... itu mah Aa nyamain Anah sama cicak,” rajuknya manja.
“Kalau Anah bukan cicak, tapi selimut hangat buat Aa,” balasku mencoba merayunya meskipun jujur Aa tidak pandai untuk itu.
Mulai malam ini dan seterusnya ... aku sudah bertekad untuk belajar melunakkan hatiku untuk menerima kehadiran Anah ... biarkan aku membohongi perasaanku sendiri yang terpenting semua bahagia karena kebohongan ini.