Sejak malam itu aku berusaha menjadi sosok suami yang baik untuk Anah meskipun hati ini belum sepenuhnya menghapus jejak bayang-bayang Hanin. Aku mengubur cinta untuk Hanin dengan mengukir semua kenangan indah bersama Anah.
Semua berhasil ... pengorbananku membawa kebahagiaan untuk keluarga kami. Meskipun setelahnya Anah dirundung duka dengan banyaknya yang bertanya perihal mongmongan. Allah memang belum mempercayakan amanah berupa generasi penerus aku dan Anah. Tahun demi tahun terlewati aku dan Anah belum juga diberi mongmongan hingga kerap aku sering mendapati Anah menangis dalam kesunyian malam.
“Sayang, tidak kah kau lelah menangis seperti ini. Bersabarlah ... Allah selalu punya rencana yang baik untuk kita. Tidak perlu kamu jadikan ini sebagai beban,” kataku saat mendapati Anah kembali berurai tangis di atas sajadah yang tergelar dengan balutan mukena yang belum dia lepaskan.
“Aku malu A ... Anah malu belum bisa memberi Aa keturunan.” Anah kembali terisak dan tergugu di tempatnya duduk. Aku menarik badannya, mendekap erat Anah sembari menguap punggungnya yang terus bergetar.
“Apa yang membuat kamu malu Nah. Kita sama-sama tahu kalau anak itu titipan dari Allah, seandainya kita belum diberi kepercayaan, tak perlu juga kamu menangis seperti ini. Sudah ... jangan jadikan ini beban. Yakinlah, kalau sudah waktunya ... Allah akan memudahkan jalan untuk kita mendapatkan mong-mongan.”
Tangis Anah berlanjut tak berhenti dengan banyaknya kalimat dan nasihat yang aku lontarkan padanya. Aku mengerti kalau dia tertekan ... Ibu, bapak, bahkan Umi pun terkadang bertanya perihal Anah yang belum juga hamil.
Lebih dari itu para tetangga dan kerabat pun sering melontarkan pertanyaan bernada sama hingga membandingkan Anah dengan wanita lainnya yang mudah untuk hamil. Dan puncaknya tadi siang saat kumpul keluarga ... Hamdan dengan tanpa rasa bersalah menyebut nama Hanin saat kami berkumpul di ruang tengah rumah Abah dan Umi.
“A ... teh Hanin lagi Hamil lagi loh, katanya sekarang anaknya cowok, pas kan sama Hilya jadi cewek-cowok,” celetuk Hamdan yang membuat Bunga dengan begitu semangat menimpali perkataan Hamdan.
“Wah Aa makin kebalap dong, padahal Bunga juga pengen nih punya kemenakan A,” sahut Bunga. Aku diam tak menanggapi, tapi saat melirik Anah yang baru menghidangkan kue kering dengan nampan. Aku bisa melihat bulir bening ada di sudut matanya.
Dari siang hingga malam aku pun mendapatkan Anah menjadi sosok yang pendiam hingga sekarang aku temukan jawaban kenapa dia terus menutup mulut. Masalah mong-mongan kembali membuat Anah menjadi lebih sensitif.
“Maaf A ... kalau memang Aa mau menikah lagi dengan wanita yang bisa memberi Aa mong-mongan, Anah terima A. Anah memang tidak berguna," isaknya dengan suara terbatas-bata.
Aku merenggangkan pelukan dan merangkum wajah Anah dengan kedua telapak tangan. Aku paksa dia menatap mataku meski dengan berurai air mata. “Dengar, Nah. Aku tidak menuntut kamu untuk segera hamil. Aku, kamu dan semua keluarga kita memang menantikan anak dari rahim kamu. Namun, jangan pernah menyuruhku meninggalkanmu hanya karena kamu belum hamil,” tegasku sebelum menepis bulir air yang malah semakin deras mengalir dari kedua sudut matanya.
“Maaf, aku tidak bisa hamil secepat Hanin A,” keluhnya masih dengan suara terbatas-bata.
Ya Tuhan, aku tidak pernah membandingkan Hanin dengan istriku. Aku kembali merangkum wajah wanita yang masih tersedu di hadapanku. Wajahnya yang tertunduk aku angkat hingga bayangan diriku terlihat di kedua bola matanya yang berair.
“Anah ... aku menikahimu tanpa pernah membandingkan kamu dengan Hanin. Jangan dengarkan celotehan tak berguna Hamdan dan Bunga. Mereka belum bisa meraba perasaanmu. Maafkan kedua adikku kalau sekiranya gurauan mereka melukai hatimu.”
Anah menyusut hidungnya dengan ujung mukena. Aku melepas mukena yang dia pakai hingga rambut hitamnya kini tergerai. “Sudah ya, Nah. Aku tak tega kamu terus menangis,” ucapku sebelum membopong tubuhnya untuk dibaringkan di atas kasur kami.
Jarum jam masih menunjukan pukul dua dini hari, malam masih cukup panjang untuk beristirahat setelah meluapkan tangisan. Aku menjadikan lengan kiri sebagai bantal untuk kepala Anah, sementara telapak tangan kananku mengusap rambutnya hingga isaknya mereda. Mata Anah terpejam dengan napas yang berhembus beraturan.
Lelah membuat dia cepat memejamkan mata, perlahan aku menarik tangan kiriku dan menggantinya dengan bantal. Aku berbaring telentang menatap langit-langit kamar. Empat tahun yang tidak mudah untuk aku lalui. Hubunganku dengan Anah hanya diinginkan oleh Umi dan Abah, tidak dengan kedua adikku. Itu sebabnya mereka masih kerap menyebut nama Hanin saat aku main ke rumah.
Aku, Umi, bahkan Abah sekali pun sudah sering mengingatkan Hamdan dan bunga agar jangan pernah membandingkan Hanin dan Anah, jelas itu sangat menyakiti hatinya. Namun, entah kenapa kedua adikku tak juga menerapkan nasihat kami. Hingga aku lelah dan membiarkan mereka sesuka hati terus membahas Hanin.
Aku meraih ponsel di atas akas, entah kenapa rasa penasaran menggiringku untuk membuka aplikasi f*******: dan mengetik nama Hanin di sana. Benar kata Hamdan, beranda Hanin dipenuhi dengan cerita suka cita kehamilan keduanya. Aku melirik Anah yang terlelap di sampingku.
Kuenyahkan pikiran yang mulai membandingkan mereka berdua karena jelas, dibandingkan itu menyakitkan. Apalagi jika dibandingkan dengan mantan, kutarik napas sebelum mengklik simbol messenger untuk mengirim pesan pada Hanin.
[Teh, selamat untuk kehamilan keduanya. Alhamdulillah sudah sepasang kalau benar anak kedua Teteh laki-laki. Doakan Aa untuk segera memiliki mong-mongan.]
[Btw, bumil makin cantik ya ....]
Setelah mengirim pesan pada Hanin aku kembali meletakan ponsel di nakas. Tanpa sepengetahuan Anah, aku memang masih kerap bertukar kabar dengan Hanin. Bukan untuk berselingkuh atau menjalin hubungan terlarang yang akan menciderai pernikahan kami berdua.
Aku masih pria beragama dan masih punya rasa untuk menjaga perasaan Anah. Namun, untuk memutuskan komunikasi dengan Hanin ... Jujur aku tidak bisa. Dia adalah hal yang terindah yang pantang untuk aku lupakan. Kenangan kami tidak akan pernah aku lupa meskipun kami tidak akan pernah saling memiliki.
Aku mengaku kalau selama empat tahun lebih menjadi suami Anah, perlahan memang ada cinta dan sayang yang tumbuh untuknya. Namun, sayang perasaanku pada Anah tetap tidak pernah bisa mengalahkan luapan cintaku untuk Hanin. Aku salah ... kalian berhak menyalahkan aku.
Aku memang salah karena tak pernah bisa melupakan Hanin sepenuhnya. Namun, tak pernah terbersit dalam angan kalau aku menggadaikan pernikahan ini untuk wanita yang masih sah menjadi istri orang.
***
Pagi menjelang, seperti biasanya Anah akan sibuk di dapur menyiapkan sarapan sebelum aku berangkat ke pabrik. Aroma wangi nasi sup yang sedang dia masak menuntunku berjalan mendekatinya. Aku melingkarkan tangan di pinggang ramping Anah.
“Aa ... aku lagi masak,” rengek Anah yang meminta aku melepaskan diri.
“Aku tidak mengganggu, cuma lihat Anah masak,” bisikku dengan sengaja menyapukan hembusan napas di belakang telinganya.
“Aa ... kalau begini aku terganggu,” keluhnya yang langsung mematikan nyala kompor dan membalik badan hingga kini kami berhadapan.
Aku gesekan pucuk hidungku pada hidungnya, mata Anah terpejam ... aku menarik bibirnya yang pias kemerahan. Tangannya mengalung di leherku ... ciuman yang awalnya hanya sebatas ingin menggoda Anah pun berlanjut panjang.
“Aa ... geli,” desahnya membuat aku langsung mengangkat badan Anah dan menurunkan dia di atas kasur ruang tengah dimana kami menghabiskan waktu menonton televisi di sana setiap malam.
“Aa harus ke pabrik.” Dia berusaha mendorong, tapi tenagaku jelas lebih kuat. Akhirnya, tubuh Anah melemah, dia pasrah dan membiarkan aku mencumbunya pagi ini. Sarapan pagi yang spesial dan membuat aku harus kembali mandi setelah menuai benihku di rahim Anah.
“Semoga kali ini jadi,” gumamku pelan seraya mengecup parut Anah sebelum meninggalkannya untuk ke kamar mandi.
“Mas, cepat sarapan. Nanti kesiangan,” teriak Anah dari arah dapur.
Aku menengok ke arah jam dinding, benar saja sudah jam tujuh, sedangkan aku harus tiba di pabrik sebelum jam delapan. Aku segera meraih tas selempang dan menuju dapur untuk mencicipi sedikit sarapan yang Anah buat.
“Wah sup ayam, enak nih,” pujiku dengan langsung menyantap makanan yang sudah Anah siapkan. Kami makan dalam diam, Anah tahu kalau aku sedang terburu-buru. Begitu piring dan mangkuk di hadapanku kosong, segera aku menyambar gelas air dan menenggaknya hingga habis.
“Alhamdulillah. Aa berangkat ya Nah.” Aku mengecup kening Anah dan segera berlari kelar rumah. Tak kupedlikan Absen Anah yang mengingkat dompet, ponsel dan aneka barang lainnya yang basa tertinggal.
Aku langsung tancap gas menuju pabrik sebelum terlambat absen dan mendapat peringatan dari atasan. Hingga jam istirahat, barulah aku sadar kalau ternyata ponselku tertinggal. Aku belum sempat memasukannya ke dalam nakas.
Aku pikir tertinggalnya ponsel itu bukan perkara genting karena biasanya hanya Anah dan kedua orang tuaku saja yang kerap mengirim pesan saat aku bekerja. Sampai jam kerja berakhir, aku sama sekali tidak mempermasalahkan masalah ponsel.
Aku hanya perlu segera pulang agar Anah tidak khawatir, tapi tidak seperti biasanya. Pintu rumah tertutup saat aku tiba. Kemana Anah? Pertanyaan itu kembali muncul karena setiap sore biasanya dia selalu menanti kepulanganku.
Aku mengangkat taplak meja rotan di depan rumah. Sesuai yang aku duga, di sana tergeletak anak kunci. Aku langsung membuka pintu dan netraku langsung menangkap ponsel yang di bawahnya ada sebuah kertas terlipat. Aku mengangkat ponsel dan membuka lipatan kertas yang ternyata surat dari Anah.
Aku pikir selama ini benar Aa sudah melupakan Hanin. Aku bisa diam saat kedua adikmu berceloteh riang menceritakan tentang Hanin padamu hingga mengabaikan perasaan aku yang menjadi kakak iparnya.
Bagiku tak peduli seperti apa Bunga dan Hamdan memuji Hanin asal Aa tetap menatapku penuh cinta. Namun, ternyata aku salah ... Aa pun sama saja masih menganggap Hanin itu sosok istimewa hingga memuji dia cantik di tengah malam usai menenangkan aku yang menangis meratapi kemalangan nasibku.
Maaf A ... aku tak kuasa bertahan, aku lelah berada dalam bayang-bayang Hanin. Mungkin hanya sejenak Allah memberi kesempatan aku bahagia dengan pernikahan kita. Maaf kalau sampai saat ini aku belum bisa memberimu anak ... tolong jangan susul aku ke rumah ibu kalau hanya luka yang sama akan selalu aku rasakan.
Uswatun khasanah.
“Ya Allah gusti, ini apalagi,” gumamku setelah selesai membaca surat dari Anah. Aku kembali melipatnya dan melihat pesan balasan dari Hanin yang mungkin sudah dibaca oleh Anah.
[Amin A. Teteh doakan Aa dan Mbak Anah segera memiliki mong-mongan.]
[Terima kasih untuk kata cantiknya. Dipuji suami cantik itu biasa, tapi dipuji mantan cantik itu luar biasa.]
Pesan diakhiri stiker tertawa yang dikirimkan Hanin tentulah menjadi gadah besar yang menghantam d**a Anah. Sial! Aku hanya bisa merutuki keteledoranku dan segera kembali keluar rumah untuk menyusul Anah yang berada di rumah kedua orang tuanya.