Warisan Cinta

1888 Kata
Dari luar aku bisa melihat pintu rumah ibu dan Bapak terbuka. Tak biasanya juga ibu dan bapak duduk di ruang tamu berdua seolah mereka menunggu kedatanganku. Begitu motorku berhenti di depan rumah, keduanya langsung keluar menyambutku. Aku dibuat salah tingkah karena tatapan Ibu dan Bapak seolah mengisyaratkan banyak tanya yang sedang coba mereka tahan. Setelah menyalami keduanya bergantian, kini aku duduk di hadapan ibu dan Bapak seperti maling ayam yang tertangkap basah sedang beraksi di siang bolong. “Kamu mau jemput Anah, A?” tanya Bapak mengawali pembicaraan. Aku sontak mengangguk untuk mengiyakan apa yang bapak tanyakan. “Sepertinya Anah ingin menginap sejenak di sini A,” balas Bapak membuat aku mati kutu, ditambah lagi tatapan ibu yang sama sekali tidak bersahabat hingga aku tak berani menatapnya dan memilih menundukkan kepala. Jujur, aku bingung hendak bertanya kenapa dan berpura tidak tahu alasan Anah memilih seperti itu. Nyatanya, aku sudah membaca surat darinya dan tahu sebab kemarahan Anah. Namun, membiarkan Anah menginap di sini tanpa menjelaskan sesuatu pun aku tahu itu tak baik. Semua harus dibicarakan, tidak boleh terus berlarut hingga kesalahpahaman ini semakin melebar. “Bisa aku ketemu Anah, Pak, Bu.” Akhirnya, kalimat itu yang meluncur dari mulutku. Aku tidak yakin Anah mau menemuiku, tapi kalau Bapak dan Ibu mengizinkan aku masuk ke dalam kamar Anah. Mau tidak mau kami bisa bertemu dan aku akan mencoba merayunya, bicara dari hati ke hati agar Anah tahu semua yang terjadi tidak seperti yang dia bayangkan. Aku dan Hanin tidak pernah terjebak obrolan panjang dan bernostalgia membawa memori serta kenangan masa lalu kami. Semua hanya sebatas sapaan pada teman dan sambung silaturahmi tanpa ada niat untuk mengkhianati rumah tangga kami. Lima menit menanti jawaban, tak ada satu kata pun yang Bapak dan Ibu keluarkan untuk mengizinkan atau melarangku masuk ke dalam kamar Anah. Aku semakin bingung, tapi sebagai pria sejati aku pun memutuskan mengakui kesalahan yang aku perbuat. “Maaf, Pak ... Bu, mungkin Anah sudah cerita sesuatu sebelum kedatangan aku ke sini. Hanya saja aku tidak pernah berniat untuk menyerah dan membiarkan pernikahan kami berhenti sampai di sini. Anah adalah istriku, kesalahanku tidak bisa membuatnya nyaman di dalam rumah hingga memilih pulang ke rumah Ibu dan Bapak, aku minta maaf akan hal itu.” Aku menghirup napas sejenak untuk mengisi pasokan oksigen dalam paru-paruku. Tidak berani aku mengangkat kepala saat mengatakannya, aku hanya bisa tertunduk dan memikirkan apa saja yang sudah Anah ceritakan pada orang tuanya. “Semua yang terjadi mungkin memang salahku, Bu. Namun, aku harap ibu percaya kalau aku tidak pernah dengan sengaja melakukan kesalahan apa pun,” sambungku sebelum terdiam menanti jawaban kedua mertuaku. “A ... dalam rumah tangga itu memang sudah bukan sesuatu yang aneh ada hal seperti ini. Bapak malah bangga kamu langsung ke sini menjemput Anah. Itu berarti bapak tidak salah memilihkan suami buat Anah. Temui dia, dia ada di kamarnya.” “Bapak ... kan Anah ....” “Sudah lah, Bu. Sebagai orang tua kita tidak semestinya menahan Kholid untuk menemui istrinya,” potong Bapak saat Ibu hendak mengajukan protes karena bapak mengizinkan aku untuk ke kamar Anah. Aku pun belum beranjak karena tak sepenuhnya mengantongi izin dari keduanya. “Sudah, sana kamu temui dia dan ajak Anah pulang,” kata Bapak. “Nanti kalau sudah pulang jangan dibuat nangis lagi ya, Lid,” pesan Ibu yang hanya bisa aku jawab dengan berkata insyaallah. Tentulah tak ada niatan dalam diriku untuk sengaja menyakiti Anah. Mungkin aku salah masih bertukar pesan dengan Hanin, tapi itu semata-mata hanya karena tidak ingin memutus komunikasi kami. Aku dulu pacaran baik-baik dengannya, kami memang tidak pernah putus. Hubungan pernikahan Hanin dan aku yang menjadikan kami berdua putus otomatis, tapi itu tidak lantas membuat aku harus berjarak dengannya. Kalau aku bukan jodohnya, kalau aku tidak bisa menjadi suaminya. Aku masih bisa menjadi temannya meskipun bukan teman akrab karena sejatinya pria dan wanita tidak baik terlalu dekat hingga sering bertukar pesan dan berbagi cerita melalui aplikasi pesan apapun. Pintu kamar Anah aku ketuk, sengaja aku tidak bersuara karena takut Anah menolakku. Aku berdiri di ambang pintu dengan jantung berdebar ... ketakutanku cuma satu, tidak bisa mengendalikan emosi Anah dan berakhir membuat keributan di rumah ini. “Masuk. Tidak dikunci,” kata Anah setelah aku mengetuk pintu untuk kedua kalinya. Aku memutar gagang pintu, membuka dan langsung menutupnya kembali. “Aa, buat apa Aa ke sini. Aku tidak mau pulang,” ucap Anah ketus. Dia membuang muka, awalnya Anah duduk di ranjang menghadap pintu, kini dia memutar badan membelakangiku dengan kaki bersila di atas kasur dan sebuah bantal ada di pangkuannya. “Anah ... Aa minta maaf ya, Aa salah ... Anah cantik, kita pulang yuk,” ajakku dengan memijat lembut kedua bahunya. Aku pun mengecup pucuk rambutnya yang tidak tertutupi jilbab. “Aku kalah cantik dibanding Hanin, apalagi aku belum juga bisa hamil,” jawabnya masih dengan nada ketus tanpa sedikit pun berniat memandangku yang berdiri di belakangnya. Aku usap rambut panjang Anah yang terikat rapi, sebelum duduk di sampingnya dengan menghadap ke arah pintu. “Kalau menurut Aa, Anah itu bidadari paling cantik di dunia, meskipun semua wanita memang cantik. Namun, cantik paras saja tak menjamin cantik hati dan sikapnya.” Aku melirik Anah yang tidak bergeming, dia tidak bergerak sama sekali. Mulutnya pun diam tertutup rapat tidak ingin menimpali ucapanku. “Aa salah masih mengirim pesan buat Hanin?” Sengaja aku menekankan kalimatku dengan nada bertanya dan berpura tidak tahu perbuatanku itu salah meskipun pada kenyataannya tanpa bertanya pun sudah jelas. Wanita mana yang rela kalau suaminya masih berhubungan dengan mantan pacar mereka. Apalagi mantan kali ini jelaslah bukan mantan biasa, Hanin terlalu indah untuk dilupakan. Banyak kenangan yang aku lewatkan selama dua tahun menjadi pacarnya. Masa putih abu-abu yang begitu berwarna karena kehadiran Hanin membuat aku belum juga bisa move on dari sosoknya yang begitu ceria. “Oke, kalau kata Anah, Aa salah. Aa minta maaf. Aa pikir Anah pun pernah chat dan bertukar pesan dengan pria lain. Mereka juga puji Anah cantik, tapi Aa tidak keberatan. Bukan karena Aa tidak cemburu, tapi karena Aa percaya kalau Anah tidak akan berbalas pesan lebih dengan mereka.” Seketika Anah membalik badannya, sorot matanya tajam menatapku seolah bertanya dari mana aku bisa tahu isi pesan seperti itu. “Aa suka buka hape Anah?” tanyanya menyelidik. Aku mengangguk. “Seperti Anah yang suka buka hape Aa ... Aa tidak masalah. Kita ini suami istri sayang, tidak perlu ada yang disembunyikan. Kalau Anah tidak suka Aa tukar pesan dengan Hanin, Anah ngomong saja terus terang.” Dia menghembuskan napas kasar. “Memangnya Aa terima kalau aku tukar pesan dengan mantan. Iya sih aku tidak punya mantan, makanya Aa percaya sama aku.” Aku mengusap pucuk rambutnya hingga acak-acakan, senyumku mengembang melihat Anah merajuk manja. Kalau dia mau diajak bicara seperti ini. itu berarti kadar ngambeknya masih bisa dijinakkan. “Apa menurut Anah seorang mantan itu harus menjadi musuh?” Dia menggeleng, tapi dengan wajah cemberut. “Kalau begitu Aa juga tidak mungkin memusuhi Hanin. Anah tidak suka Aa kirim pesan ke Hanin.” Kali ini dia mengangguk, matanya menatapku dengan kristal bening yang mulai terlihat. Aku membawanya dalam pelukan, dia istriku ... tak pantas aku membuatnya menangis. Kebahagiaan Anah adalah prioritasku. Dulu, di rumah ini dia dilimpahi kasih sayang oleh kedua orang tuanya. Saat menjadi istriku, aku memboyongnya keluar dari rumah ini. Harusnya aku memberikan kebahagiaan dan rasa nyaman yang sama. Tidak bisa aku menyia-nyiakan dia yang diamanahkan untuk aku jaga. “Aa minta maaf ya sayang ... Aa tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Aa tidak menuntut Anah buat segera hamil. Kita jalani saja semuanya sesuai dengan ajaran agama, tak perlu terbebani dengan keinginan Anah untuk lekas hamil. Jangan juga membandingkan diri Anah dengan Hanin. Itu hanya akan menyakiti hati Anah. Asal Anah tahu kalau Anah itu spesial buat Aa.” Aku merangkum wajahnya yang sudah basah karena linangan air mata. Kata Buston, obat penangkal wanita yang sedang marah dan ngambek itu hanya belaian, rayuan dan bujuk manja yang membuat hatinya berbunga-bunga. Bukan malah mengajaknya berdebat hingga amarahnya semakin meningkat. “Tak usah Anah masukan ke hati omongan Hamdan dan Bunga, nanti Aa nasihati juga mereka. Sekarang kita pulang dan Anah harus percaya ... Insyaallah kalau sudah waktunya semua akan mudah Anah,” pungkasku membuat Anah mengangguk dan kembali masuk dalam pelukanku. Isak tangisnya berlanjut, tapi suaranya teredam dadaku. Aku biarkan Anah puas meluapkan tangisnya. Tangis yang aku buat karena lagi dan lagi aku tidak bisa menjaga sikap hingga membuatnya kembali terluka. Cukup lama Anah terisak dalam dekapanku. Saat sesenggukan mulai hilang, aku pun mengangkat wajahnya. “Kita pulang ya, Sayang. Masa Anah tega ninggalin Aa di rumah sendirian,” bujukku. Tentu saja dia tersenyum dengan kedipan mata yang pertanda kalau Anah bersedia aku ajak pulang. Sejak saat itu aku mencoba tidak lagi menyakiti hatinya, aku dan Hanin tak lagi bertukar kabar lewat media apapun hingga setahun kemudian Anah pun dinyatakan hamil. Aku bahagia, kebahagiaan yang juga dirasakan oleh keluarga besar kami berdua setelah lima tahun penantian panjang yang kami lalui berdua. Sembilan bulan dia mengandung tanpa keluhan berarti seperti ibu hamil lainnya. Bayi perempuan cantik pun lahir dan kami beri nama Almira Zalfa Ghaida, yang dipanggil Zalfa dari sejak dia bayi hingga beranjak dewasa. Saat seorang pria asal Indramayu datang untuk melamarnya, tidak pernah aku berpikir kalau Eijaz Hilman Al Hafidz adalah putra kedua dari Hanin. Baik aku maupun Anah seolah lupa kenangan yang tertinggal di kota mangga itu. Aku mengubur bayangan Hanin terlalu dalam hingga lupa bertanya alamat lengkap Hilman, nama kedua orang tuanya dan silsilah keluarga dia. Aku lupa kalau dunia ini sempit, semua kemungkinan selalu ada dan aku pikir semua tanya itu bisa dikemukakan saat pertemuan keluarga berlangsung. Bukankah nantinya Hilman akan datang dengan kedua orang tuanya, pemuda santun itu memang pantas untuk dicintai Zalfa. Dia bukan hanya tampan paras dan bagus budi pekertinya, tapi di usia yang masih terbilang cukup muda ... Hilman sudah berhasil mengembangkan bisnis makanan ringan kedua orang tuanya. Ah ... tak bisakah Anah berbaik hati untuk mengizinkan putrinya menikah dengan Hilman meskipun dia anak dari mantanku? Bukankah kini sudah tidak ada satu rasa pun yang tertinggal karena hidupku cukup bahagia bersama Anah dan Zalfa, begitu pula aku melihat Hanin bahagia dengan keluarganya. Aku buang jauh pandangan netraku mengingat kejadian lepas isya tadi. Anah begitu sensitif dengan semua hal tentang Hanin sampai dia yang pertama sadar kalau Hilman adalah putra dari mantanku. Semua persiapan lamaran sudah dibereskan oleh Mbok Sumi. Namun, aku belum lah mampu beranjak masuk ke dalam rumah untuk melihat seperti apa keadaan istri dan putriku setelah gagalnya penyambutan lamaran yang sudah kami siapkan. Aku masih betah memandang langit yang terhampar luas berhiaskan kelip bintang yang membuatku merasa lebih tenang. Otakku terus dikelilingi tanya tentang nasib kisah asmara Zalfa dan Hilman. Haruskah kisah cinta Zalfa dan Hilman tak memiliki masa depan hanya karena masa lalu aku dan Hanin? Tidak bisakah seorang mantan berubah jadi besan kalau takdir memang menyatukan putra-putri kami untuk melanjutkan kisah cinta kami yang terhenti? Tidak Tuhan ... jangan wariskan sakitnya terpisah dari orang yang dicinta karena keegoisan orang tua. Aku tak mau kegagalan kisah cinta aku dan Hanin berulang pada Zalfa dan Hilman. Kalau pun kami tidak bisa bersatu ... bukan berarti mereka pun tak boleh bersatu. Warisan Cintakah ini, warisan rasa yang dipaksa terhenti karena keinginan orang tua. Flashback end
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN