Pertemuan Petaka
Happy reading gaes.
Pagi ini Andra Respati Sanjaya, ingin memberikan kejutan untuk kekasihnya. Sebelum bertemu dengan kekasihnya itu, ia ingin memberikan sesuatu yang berkesan untuk pertemuan pagi ini. Andra mempunyai ide untuk membeli buket bunga mawar merah yang selalu menjadi favorit kekasihnya itu.
Andra berjalan perlahan pada jam 08.00 pagi, saat ini ia sedang berada di jalan Kalibata. Tepatnya belakang stasiun Duren tiga. Pagi ini Andra akan memberikan sesuatu yang manis untuk wanita pilihan hatinya, sekaligus mengajak berkencan di pagi ini.
"Ehm, bunga mawar merah memang cocok untuk Sila." Gumam Andra.
Toko bunga yang berdiri sepanjang jalan, baru beberapa yang buka. Saat ini Andra baru melihat-lihat sebagian toko yang baru buka, hingga kedua matanya melihat nama toko yang menurutnya menjual bunga-bunga segar.
"Afiqah Florist."
"Selamat pagi, selamat datang di toko kami." Ucap seorang wanita berhijab.
"Saya butuh 1 buket bunga mawar untuk calon istri saya dan tentunya harus segar." Jawab Andra detail.
"Baik, segera saya buatkan."
Setengah jam berlalu, satu buket bunga mawar indah telah jadi. Andra menerima buket bunga mawar yang sudah rapi dengan pita berwarna pink.
"Kenapa lama sekali." gerutu Andra.
Andra membayar dengan uang pas, Ia melirik kembali wanita berhijab yang masih menatapnya.
"Ternyata rangkaian bunga ini bagus juga, walau memang pembuatannya menurutku masih lama."
Andra kembali menatap wanita muda yang berdiri tidak jauh dari dirinya, bagaimanapun ia harus mengucapkan terima kasih kepada pembuat buket bunga untuk kekasihnya.
"Terima kasih anda sudah membuatkan buket ini untuk calon istri saya,
"Ehm."
Andra keluar dari toko bunga itu, hatinya merasa senang. Melihat rangkaian bunga yang indah, Ia harus mengacungkan jempol kepada pembuat rangkaian bunga yang memang sangat cantik menurutnya.
"Cantik dan harum."
***
Andra masih memandang rangkaian bunga yang baru saja ia beli, saat ini ia sedang menuju apartemen Sila yang berada di pusat kota. Sudah lama sekali Andra tidak menemui Sila yang memang tinggal di Jakarta, sedangkan Andra berada di Bandung. Mereka sudah merasakan LDR selama satu tahun lebih, dan menurut Andra saat ini waktunya sudah tepat untuk melamar Sila agar mereka tidak merasakan LDR lebih lama lagi.
"Sebentar lagi sampai sayang," batin Andra dalam hati.
Mobil sudah sampai di parkiran lantai 15, Andra merapikan kembali rambut kembali, baru kali ini Andra terlihat gugup untuk bertemu dengan Sila. Padahal ini bukan pertama kalinya ia bertemu dengan kekasihnya sekaligus calon istrinya itu.
"Sudah ganteng dari lahir."
Andra lalu menuju lift menekan nomer kamar apartemen Sang kekasih, lalu tidak lama ia sudah berada tepat di depan kamar bernomer 2126. Andra masuk ke dalam unit apartemen Sila dengan kartu akses yang memang ia punya.
"Dimana Sila? Kenapa sepi dan berantakan?"
Andra masih melihat ruangan unit apartemen Sila, namun semakin membuatnya berpikir yang aneh-aneh kepada Sila. Apalagi ia menemukan banyak barang-barang berantakan.
"Kemeja lelaki," batin Andra.
Otak dan hatinya sudah bisa menebak, apa yang akan selanjutnya terjadi. Ia bukan pria bodoh yang tidak tahu apa maksud dari ini semua.
"Astagfirullah, sabar Andra." Ucap Andra memenangkan hatinya yang sudah kesal karena melihat piyama dan kemeja seorang pria dewasa.
Membuka pintu yang memang sedikit terbuka, Andra melihat dengan mata kepalanya sendiri. Tubuh kekasihnya yang hanya berbalut selimut, Andra tidak hanya melihat kekasihnya saja yang berada di ranjang. Namun seorang pria dewasa yang Andra tidak tahu siapa dia.
"Sila"
Sila yang memang sudah terbangun sejak tadi, namun ia masih memejamkan kedua matanya. Berpelukkan dengan seorang pria dewasa di atas ranjangnya.
"Andra, kamu di Jakarta?"
"Wanita tidak tahu malu, penghianat." teriak Andra.
Emosi Andra seketika memuncak, ia mendekat hendak memukul pria yang masih memeluk Sila dengan Erat.
"Sialan."
Bugh.
Tiga pukulan mendarat di wajah pria itu, Andra tidak peduli setelah ini ia akan masuk penjara karena telah memukul seorang pria.
"Andra, jangan gila kamu!"
"Kamu yang gila wanita sialan, kita putus."
Meninggalkan keduanya, Andra berjalan tergesa-gesa. Saat ini ia hanya ingin pergi jauh dari kamar kekasihnya, ralat mantan kekasihnya yang telah menduakan dirinya.
"Wanita sialan, fuck." Umpat Andra.
Baru kali ini Andra mengeluarkan kata-kata yang hampir saja tidak pernah diucapkan, Andra merasa bodoh terhadap dirinya sendiri. Cinta dan sayangnya kini telah dikhianati oleh Sila. Bahkan seharusnya hari ini Andra akan melamar wanita yang sudah hampir 3 tahun menjadi kekasihnya.
"Seharusnya memang aku lakukan sejak dulu, ternyata Sila berselingkuh selama ini."
Andra baru menyadari bahwa Sila sudah banyak berubah selama ini, sebelum mereka LDR Sila selalu menghubunginya setiap hari dan setelah mereka LDR Sila sangat jarang untuk sekedar menghubungi dirinya.
Sore harinya.
Andra terbangun di sore hari, saat ini ia berada di dalam kamar hotel yang memang sengaja ia pesan. Sebenarnya ia mempunyai rumah yang selama ini ditempati oleh kedua orang tuanya, tapi Andra sengaja tidak ingin bertemu dengan mereka karena saat ini hatinya sedang kacau balau karena penghianatan Sila kepadanya.
Ting.
"Lagi dimana bro?"
"Lagi di hotel, baru bangun."
"Ketemuan nanti di taman dekat hotel gue,"
"Ok."
Andra bergegas menuju kamar mandi, ia ingin mandi sebelum bertemu dengan sahabatnya. Malam ini ia ingin mengembalikan mobil yang dipinjamkan kepadanya, bukan karena Andra tidak mempunyai mobil tapi memang ketika Andra pulang ke Jakarta ia sengaja memakai kereta api sebagai jasa transportasi yang ia pakai. Alasannya memang agar Andra bisa beristirahat dengan nyaman tanpa kelelahan karena membawa mobil sendiri.
"Wajah sudah tampan, tapi kenapa percintaan selalu gagal?"
Andra merasa insecure dengan keadaannya saat ini, mempunyai wajah tampan itu ternyata tidak membuatnya bahagia. Bahkan kekasihnya saja meninggalkan dirinya dengan pria lain, menurut Andra sangat aneh bukan.
"Ya, sudahlah. Mungkin aku harus jomblo dulu setelah ini, hidup jomblo."
Waktu sudah menunjukkan angka 7, Andra bergegas menuju taman hotel tempat pertemuannya dengan sahabat sekaligus teman masa kecil Andra.
"Bos, gue sudah sampai."
"Ok, tunggu sebentar."
Andra mengedarkan pandangannya ke arah lain, banyak pemuda pemudi sedang duduk bersama pasangan mereka. Membuat hati Andra semakin kesal jika melihat mereka semua.
"Sialan, kenapa mereka berpacaran di depan mata gue."
Andra ingin pergi dari taman, tapi ternyata sahabatnya datang dari arah berlawanan.
"Arsya sama siapa? Kenapa sepertinya nggak asing ya?"
Andra menunggu kedatangan sahabatnya dengan seorang wanita berhijab, semakin dekat semakin terlihat siapa wanita yang bersama dengan sahabatnya itu. Andra tidak akan lupa siapa yang membuat buket bunga mawar cantik yang ia beli tadi pagi, sayangnya ia sudah buang ke tempat sampah karena membuatnya semakin kesal dengan mantan kekasihnya itu.
"Gadis penjual bunga, kenapa sama Arsya?"