Eh, Si Jutek.

1055 Kata
Happy reading. "Terima kasih atas kunjungan anda, selamat sore." Afiqah menghela nafas panjang, seharian ini ia sangat kelelahan. Ada saja tingkah laku para pelanggan barunya, dan itu membuat Afiqah harus menjadi pribadi sabar menghadapi para pembeli yang akan menjadi pelanggan setia toko bunganya. Sejak pagi, ia tidak ada waktu untuk istirahat. Waktunya dicurahkan untuk bunga, bunga dan bunga. Bagi Afiqah bunga adalah warna untuknya, dan membuat hatinya semakin ceria saja. "Malam ini jangan lupa, kita ketemuan di taman hotel. Kamu harus ikut sama aku menemui sahabat lama ku yang akan aku kenalkan sama kamu." "Astaga! Hampir saja aku lupa, sepertinya aku harus siap-siap untuk menemui Arsya di taman hotel." Afiqah hampir saja melupakan pertemuan malam ini, ia sudah berjanji untuk bertemu dengan Arsya yang telah ia anggap Kakak angkatnya. Baginya Arsya adalah seorang Kakak terbaik ketika dirinya sedang mengalami guncangan hebat yang pernah ia alami, dan hanya Arya yang membantunya sampai di posisi sekarang. "Sudah siap! Aku pikir hanya makan malam saja, jadi tidak perlu rapi seperti biasanya." Afiqah menjalankan motor maticnya menuju Mahendra hotel, dengan kecepatan sedang ia mampu melesat dan sampai tepat waktu. "Kamu sudah siap?" tanya seorang pria tampan yang selama ini menjadi Kakak angkatnya. "Siap? Memang kita mau kemana?" tanya Afiqah kembali. "Kita akan bertemu dengan dokter muda yang jomblo akut, siapa tahu kamu kepincut dokter itu." Afiqah merasa tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini, untuk apa Arsya mengenalkan dengan seorang pria lagi. Bukankah Arsya tahu kalau ia sudah mempunyai seorang tunangan yang masih berada di Yogyakarta. "Kak Arsya, untuk apa kita bertemu dengan dokter itu? Kakak tahu kalau aku sudah punya tunangan." Arsya berhenti sejenak, ia menatap adik angkatnya yang sangat baik. Jika saja ia tidak memikirkan hati Afiqah saat ini, sudah pasti ia akan menceritakan bagaimana sepak terjang tunangan Afiqah yang ia kenal. Namun, Arsya masih memikirkan bagaimana jika Afiqah tahu tunangannya diluar sana. "Tidak masalah, ini hanya perkenalan saja. Kalau kamu berubah pikiran dengan menyukai dokter ini, aku setuju saja denganmu. Aku berharap kamu lebih bijak memilih siapa yang terbaik untukmu." Afiqah diam, ia mencerna perkataan yang baru saja diucapkannya. Saat ini otaknya belum bisa mencerna apa yang didengarnya. "Aku harus bijak memilih siapa yang terbaik untuk menjadi pasanganku, maksud ucapan dari Kak Arsya apa?" Afiqah tidak menyangka, bahwa sahabat dari Kakak angkatnya itu adalah pelanggan pertama di toko bunganya tadi pagi. Ia tidak akan lupa dengan pria yang menurutnya sangat jutek ketika berada di toko bunga miliknya. "Jadi, sahabatnya Kak Arsya yang jomblo akut itu adalah pria yang membeli bunga tadi pagi di toko aku. Astaga! Kenapa dunia sempit sekali, aku bertemu dengan pria dengan wajah super super dingin seperti kulkas empat pintu." Andra terpaku melihat gadis itu kembali, tidak terlalu jauh dari tempat duduknya. Tawa dan senyumnya seolah tidak sama ketika mereka bertemu di toko bunga tadi pagi, Andra mengira wanita penjual bunga itu super super jutek kepadanya dan ternyata ia salah besar. "Jadi, gadis yang akan dikenalkan dengan aku itu gadis penjual bunga. Yang benar saja, gadis itu jutek dengan pelanggan baru seperti aku. Lalu dikenalkan untuk Aku, Arsya sudah gila." Andra tetap mengamati Afiqah dalam diam, ia tidak mungkin mengatakan bahwa tadi pagi gadis itu begitu jutek kepadanya lalu sekarang gadis itu baik bahkan sangat manis jika dilihat lebih dekat. "Namanya Afiqah, apa lo suka?" bisik Arsya. "Lo, kenal kenal gadis penjual bunga." "Sembarangan, Afiqah itu adik angkat gue." Andra mengernyitkan dahinya, mengapa Arsya mengenal Afiqah begitu dekat. Bahkan Arsya mengenalkannya sebagai adik angkatnya, padahal selama ini ia mengenal Arsya tidak mempunyai adik perempuan seperti Afiqah. "Adik angkat? Sejak kapan Arsya punya adik?" beo Andra dalam hatinya. Pertemuan kedua mereka jauh lebih baik, berbanding dengan pertemuan pagi tadi. Andra bahkan melihat senyum manis milik Afiqah yang tidak ia lihat tadi pagi. "Jangan bengong, ayam tetangga gue mati kebanyakan melamun." "Sialan." Satu jam kemudian, Afiqah berpamitan dengan mereka berdua. Ia akan pulang ke toko bunga yang sudah menjadi rumah kedua bagi Afiqah. "Pria kulkas empat pintu, kenapa harus bertemu dengannya lagi. Padahal aku berharap tidak akan melihat wajahnya lagi setelah kejadian tadi pagi." Afiqah memang berharap untuk tidak bertemu dengan Andra kembali, tapi ternyata Kakak angkatnya bersahabat baik dengan Andra bahkan menjadi salah satu dokter terbaik di Mahendra hospital milik Arsya. "Huft, ini terakhir kalinya aku bertemu dengannya. Semoga saja tidak akan bertemu lagi." Setelah memarkirkan motornya kembali, Afiqah tidak lupa untuk menyalakan semua lampu yang berada di lantai atas dimana ia fungsikan sebagai rumah keduanya. Sejak berdirinya toko bunga ini, Afiqah selalu tidur di lantai atas sampai saat ini. "Begitu nyaman di kamar ini, seharusnya kamarku yang dulu juga seperti itu." Malam ini untuk kesekian kalinya Afiqah akan tidur disini, di toko bunga yang ia punya. Toko yang menjadi rumah kedua untuk dirinya, bukan Afiqah tidak punya rumah. Akan tetapi Afiqah hanya ingin hidup mandiri saja. Lepas dari kehidupan mewah dari kedua orang tuanya, menjadi anak pertama membuatnya mendapatkan kasih sayang yang melimpah bahkan harta yang banyak. Akan tetapi ia hanya ingin hidup mandiri dengan hasil jerih payahnya sendiri tanpa meminta uang dari kedua orang tuanya. Afiqah duduk termenung seorang diri di sofa, ia melihat foto keluarganya yang sengaja ia taruh diatas meja. Bagaimanapun juga Afiqah sangat rindu dengan keluarganya yang berada jauh darinya. "Bun, aku kangen." Tidak terasa airmata Afiqah jatuh dikedua pipinya, menahan sesak di d**a karena rindu dengan keluarganya terutama Bundanya yang telah lama tidak bertemu. "Apa aku harus kembali ke rumah bersama kalian? Tapi, aku sudah berjanji dengan diri sendiri kalau aku akan pulang setelah aku sukses dan bisa membuktikan kepada kalian seorang Afiqah bisa menjadi bisnis women yang terkenal di Indonesia. "Bun, mulai sekarang aku akan mulai usaha kecil-kecilan dulu. Aku mau membuka toko bunga sebagai pekerjaan utamaku." "Kenapa nggak kerja di perusahaan milik Ayah aja, bagaimana pun kamu akan mewarisi semua harta Bunda sama Ayah. Lalu untuk apa membuka toko bunga?" "Aku mau membuktikan kalau bisa menjadi bisnis women seperti yang lainnya, Bunda sama Ayah nggak perlu khawatir mengenai aku?" Anaya dan Bramasta saling menatap, mereka pasrah dengan apa yang diucapkan oleh putri pertama mereka yang ingin menjadi bisnis women. Padahal perusahaan milik keluarga sudah siap untuk Afiqah menjadi CEO, tapi putri mereka malah ingin menjadi bisnis women dari toko bunga. "Baiklah, kami akan setuju apapun itu keinginan kamu. Kami doakan agar toko bunga yang kamu punya akan menjadi toko bunga terbesar di Indonesia bahkan di dunia." "Aamiin."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN