Happy reading.
Keesokan harinya sesuai jadwal Andra akan kembali ke Yogyakarta, ia memang ditugaskan disana. Andra menikmati sekali menjadi dokter anak di Mahendra Hotel, Padahal Sang Ayah ingin sekali ia menjadi pebisnis sepertinya, namun Andra menolak secara halus. Hidupnya hanya ingin mendedikasikan untuk menjadi dokter sekaligus penyelamat untuk anak-anak yang sakit.
Pesawat jurusan Yogyakarta telah lepas landas sejak lima menit yang lalu, Andra duduk di kursi penumpang dengan nyaman. Perjalanan kembali menuju Yogyakarta seharusnya dilakukan Andra esok hari, namun jadwalnya berubah ketika ia menyaksikan adegan yang sama sekali diluar pikirannya. Kekasih yang selama ini begitu ia cintai tenyata telah berkhianat di belakangnya. Beruntung Andra mengetahui perselingkuhan kekasihnya sekarang dan mulai saat ini Andra hanya akan berpikir mengenai pekerjaan dan kehidupannya saja.
Setelah pesawatnya sampai di Bandar Udara Yogyakarta, Andra keluar dengan menenteng satu koper kecilnya. Ia akan menuju rumah kecilnya yang berada di daerah Kasihan, Kabupaten Bantul. Andra mempunyai rumah pribadi hasil dari pekerjaannya menjadi dokter.
Hanya butuh beberapa menit menuju perumahan, Andra sengaja memilih lebih dekat dari rumah sakit. Ia hanya ingin mengantisipasi ketika ada pasien yang membutuhkan dirinya, secepat kilat Andra akan meluncur kesana.
"Akhirnya sampai juga di rumah ini, aku rindu sekali dengan kamarku."
Sunyi dan sepi hanya dirinya yang berada di rumah ini, seharusnya diusia Andra yang sudah menginjak 27 tahun. Ia sudah mempunyai seorang istri, niatnya datang ke Jakarta kemarin selain ingin menghadiri perayaan hari ulang tahun pernikahan Arsya lalu Andra ingin melamar Sila menjadi istrinya, namun takdir memberikan kenyataan yang pahit. Cincin untuk Sila masih berada dengannya, belum sama sekali diterima oleh Sila.
"Tampang gue keren, pekerjaan ada. Kenapa nasib gue jelek kalau masalah wanita." batin Andra.
Andra berpikir kembali, apakah LDR itu akan selalu berakhir tragis seperti ini. Kehilangan dan kecewa karena perselingkuhan Sila kemarin membuat ia takut untuk menjalin hubungan kembali dengan seorang wanita, mungkin ia akan menjadi jomblo untuk beberapa bulan lagi setelah itu ia akan mencari wanita lagi.
Menghela nafas nya panjang, biarkan saja dirinya sekarang jomblo untuk beberapa bulan. Suatu saat Andra akan mempunyai kekasih bahkan istri untuk diperlihatkan kepada teman-temannya nanti.
"Lebih baik tidur sekarang, besok waktunya untuk merapikan rumah ini."
"Ayah, sini." Panggil anak laki-laki diseberang sana.
Andra tersenyum senang, panggilan Ayah kepadanya membuat hatinya berbunga-bunga. Andra merasa anak lelaki dengan memakai pakaian sederhana itu menyayangi dirinya, namun Andra tidak mengetahui siapa anak lelaki itu.
"Ada Bunda di situ sedang menunggu kita, ayo kita ke sana!" ajak anak kecil itu.
"Kenapa wajah itu seperti tidak asing denganku, apa sebelumnya aku pernah melihatnya?"
Andra mengucap istighfar berkali kali, ia terbangun dari mimpi anehnya. Ini adalah mimpi keduanya setelah beberapa bulan yang lalu Andra mengalaminya. Perbedaanya mimpi pertama ia belum tahu wanita berhijab yang mengendong anak kecil itu siapa, namun sekarang Andra mengetahui siapa wanita yang ada di mimpi keduanya. Andra yakin bahwa wanita berhijab itu adalah Afiqah, gadis pemilik toko bunga.
"Pantas saja, aku seperti mengenal wajah Afiqah gadis penjual bunga itu ternyata pernah ada di dalam mimpiku."
Andra masih duduk diatas tempat tidurnya, melupakan mimpi yang baru saja dialaminya. Mengedarkan pandangannya ke arah jendela, sepertinya siang ini keadaan cuaca berubah, sedikit mendung namun masih ada sinar matahari yang masuk kedalam kamarnya.
Keluar dari kamarnya yang berada di lantai bawah, ia hanya mempunyai kamar 3. Satu dibawah dan dua diatas, keadaan masih tampak rapi dan bersih, sepertinya Andra hanya perlu merapikan sedikit.
"Kenapa hidup gue terlalu monoton seperti ini? Apa aku perlu perubahan lagi setelah menjomblo?"
Andra menertawakan dirinya sendiri, benar-benar tragis menurutnya. Dan ia harus menerima kenyataan bahwa saat ini ia sedang merasakan pria jomblo kembali.
"Sebaiknya aku merapikan perlengkapan untuk besok bekerja, daripada merenungi kehidupan percintaan aku yang telah kandas."
Jam 7.00 pagi Andra telah sampai di tempatnya bekerja, selama ini Andra menjadi dokter anak di Mahendra hospital cabang Yogyakarta. Ia menyukai anak kecil, menyukai keceriaan di wajah mereka semua. Menurutnya anak kecil patut bahagia, semua anak kecil harus sehat.
"Pagi dokter Andra," ucap salam salah satu perawat yang berjaga.
"Pagi."
Andra berjalan menuju poli anak yang berada di lantai 2, pagi ini seperti biasa Andra akan menerima pasien anak jam 08.00 pagi. Dan setengah jam sebelumnya akan berkunjung ke ruang rawat inap untuk memeriksa pasien yang memang sudah Andra anggap anak sendiri.
"Pagi semuanya, bagaimana kabar kalian semua?"
Andra memang selalu menjadi lebih hangat ketika berada di ruang inap khusus anak-anak, bahkan ia bisa menjadi teman sekaligus dokter untuk mereka semua.
"Pagi dokter Andra."
Andra mengecek keadaan pasien ujung kanan sampai kiri pojok, rawat inap anak di lantai 3 hanya berjumlah 7 anak.
Setelah setengah jam berlalu, Andra berpamitan kepada anak-anak. Sebelum Ia keluar dari ruang inap, Andra selalu memberikan coklat untuk anak-anaknya.
"Cepat sembuh ya anak-anak, Pak dokter balik dulu ke ruangan."
Jam praktek Andra akan dimulai beberapa menit lagi, Andra sebagai dokter anak telah menunggu pasien yang akan berobat kepadanya.
"Anak Dinda, silahkan masuk."
Andra memberikan senyum yang ramah, ketika anak perempuan berusia dua tahun masuk kedalam ruangan. Andra sengaja menyediakan mainan untuk anak-anak agar ketika masuk ke ruangannya, mereka tidak menangis kencang karena ketakutan.
"Semoga sehat selalu, ini hadiah untuk anak pintar."
Beberapa jam kemudian
Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 siang, pasien anak terakhir dengan nama Ana telah selesai diberikan imunisasi lengkap.
"Saya istirahat dulu ya, suster."
"Baik, dok."
***
Sore harinya, Andra yang telah selesai tugasnya hari ini bersiap untuk pulang. Ia memang selalu on time ketika pulang bekerja. Rutinitas selama di Yogyakarta selalu seperti itu, Ia pernah merasa bosan. Kadang dirinya ingin kembali ke Jakarta bersama dengan kedua orang tuanya, namun Andra berpikir kembali Ia tidak akan selemah itu.
Andra berjalan menyusuri lorong rumah sakit, ia tidak sengaja berpapasan dengan seorang wanita muda.
"Maaf dokter,"
"Enggak apa-apa,"
"Ternyata ada dokter ganteng di sini," gumam wanita yang tadi tertabrak.
Andra menggelengkan kepalanya, ia tidak kaget lagi ketika dirinya berpapasan dengan kaum hawa. Bahkan setiap sore Andra selalu mendapatkan buket bunga dari beberapa fans yang mengaguminya.
"Dokter, ini ada satu buket bunga dari penggemarnya."
Andra menghela nafas panjang, ternyata sore ini ia masih mendapatkan kembali buket bunga.
"Terima kasih sus, buat suster apa. Saya nggak suka bunga."
"Tumben dok, biasanya dokter suka banget sama bunga mawar."
"Sekarang sudah nggak suka sama berbagai bunga, apalagi bunga mawar."
Andra melanjutkan langkah kakinya menuju parkiran mobil yang berada di basement, namun baru saja ia akan masuk ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk untuknya.
Ting.
"Arsya?" beo Andra.
Membaca pesan untuknya, Arsya memberitahukan bahwa Andra mulai bulan depan akan bekerja di Mahendra Hospital cabang Jakarta.
"Mulai bulan depan lo pindah tugas ke Jakarta, gue butuh dokter anak seperti lo di sini."
"Eh, kenapa gue harus bekerja disana?"
"Gue nggak butuh penolakan dari lo, surat perintah ini sudah disetujui oleh direktur Mahendra hospital cabang Yogyakarta."
Ingin rasanya Andra memukul wajah sahabatnya, tapi ia masih menghormati Arsya sebagai CEO dari Mahendra hospital. Bagaimana pun ia hanya sebagai dokter di rumah sakit milik Arsya, dan ia tidak bisa berkutik jika berhubungan dengan jabatan.
"Baiklah, gue akan menuruti semua yang diperintahkan oleh Kanjeng Arsya."
Arsya lalu meninggalkan basement rumah sakit, sore ini jadwal rutinitas yang ia lakukan setiap Senin sore. Andra selalu meluangkan waktunya untuk berbelanja di supermarket untuk mengisi kulkas di rumahnya.
Setelah sampai di supermarket, Andra langsung menuju lorong utama dimana ada sayuran, buah, daging serta ayam yang akan dibelinya. Satu persatu belanja sudah ia dapatkan, Andra lalu bergegas menuju kasir untuk ia bayar.
"Mas, sendirian ya?" tanya salah satu wanita yang berada dibelakangnya.
"Ya, saya sendirian. Kenapa ya Bu?"
"Memang istrinya kemana Mas? Kok belanja sebanyak ini sendirian,"
"Saya belum punya istri." jawab Andra ketus.
"Wah! Mas nya jomblo." ujar wanita yang lainnya.
Andra mengangguk pasrah, kenapa disaat seperti ini ia harus bertemu dengan wanita yang sangat antusias dengannya
"Kalau begitu saya permisi lebih dulu ibu-ibu semua."
Beruntung barang belanjaan Andra telah selesai dihitung, dan Andra berjalan secepatnya meninggalkan 3 wanita yang masih setia melihatnya.
"s**t, nasib jomblo."