Kembali ke Jakarta

1019 Kata
Happy reading. Afiqah sedang mencatat apa saja yang akan dibeli untuk mengisi kekosongan toko bunganya, bersama Khansa sahabatnya sejak kecil. Mereka berdua bekerja sama membangun toko bunga yah sengaja diberi nama Afiqah Florist karena memang toko bunga ini milik Afiqah sepenuhnya. "Aku pulang dulu, besok aku datang lebih awal dari hari ini." "Baiklah. Hati-hati dijalan." Kini tinggal Afiqah seorang, ia kembali merapikan beberapa bunga yang baru saja datang. Setiap sore menjelang magrib, Afiqah selalu merapikan bunga datang agar besok bisa terjual dengan cepat. "Alhamdulillah, hari ini rezeki untuk lebih banyak. Aku bisa menabung untuk menambah tempat jualan ku." Afiqah selalu seperti itu, bersyukur atas rezeki yang melimpah. Hidup secara sederhana menurutnya sangat menyenangkan. Ia bukan anak miskin, kehidupannya berkecukupan bahkan seharusnya Afiqah tidak bekerja seperti ini, menjual bunga yang mungkin penghasilannya dibawah rata-rata. Namun Afiqah menyukainya, baginya merawat bunga dan menjual bunga serta tanamannya adalah setengah dari isi hatinya. Menutup dan mengunci pintu masuk toko bunganya, Ia selalu melakukan itu sendiri. Kadang afiqah berdoa semoga mendapatkan lelaki yang baik untuknya. "Abang Arsya," beo Afiqah. "Afiqah adik Abang yang cantik, dapat salam dari teman Abang." "Abang jangan aneh, aku sudah punya kekasih." Terang Afiqah. "Abang enggak suka sama kekasihmu, nggak cocok sama kamu yang baik hati." Arsya memang tahu kekasih Afiqah saat ini adalah seorang dokter IGD di Mahendra Hospital. Bahkan, ia tahu sepak terjang kekasih Afiqah yang bernama Reyhan itu. "Abang ada calonnya nih," goda Arsya. "Ish, Abang jangan aneh-aneh deh, aku tidak tertarik dengan calon dari Abang." Diseberang sana, Arsya tertawa cekikikan diruang kerjanya. Menurutnya sangat menyenangkan menggoda gadis seperti Afiqah, menurutnya sudah biasa ia menggoda gadis mungil itu seperti sekarang ini. "Abang, aku mau menanyakan sesuatu?" "Mau nanya apa? Penasaran dengan pria yang mengirimkan pesan untukmu?" Ingin rasanya menyudahi percakapan ini, tapi Afiqah masih menyimpan banyak pertanyaan untuk Arsya. Dan mau tidak mau ia harus bersabar dengan kelakuan Abang angkatnya itu. "Lelaki yang ingin Abang kenalin ke kamu, tuh Andra. Teman Abang di rumah sakit." "Astagfirullah, Abang." Sementara itu di tempat lain. Seminggu kemudian surat pemberitahuan, bahwa perpindahan Andra dari Yogyakarta ke Jakarta sudah ditangannya. Kini Andra sedang merapikan barang-barang miliknya, ruang kerja di rumah sakit ini akan menjadi milik dokter lainnya. Mau tidak mau Andra menerimanya. "Wah stok dokter ganteng lama-lama habis nih," goda suster Erika. Andra mendengarkan godaan suster yang selama ini membantunya, hanya menggelengkan kepalanya saja. Sister Erika salah satu fans girl dokter Andra, ia sangat sedih dengan kabar perpindahan Andra ke Jakarta. Jika, ia boleh memilih suster Erika ingin Andra menjadi dokter di rumah sakit ini. Tapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa jika menyangkut pemilik Mahendra hospital yang maju lebih dulu. "Saya hanya pindah ke Jakarta, bukan ke luar negeri." Jawab Andra "Ke Jakarta saja, saya sedih dok. Bagaimana kalau dokter keluar negeri," balas suster Erika. "Saya masih ada disini sampai besok, jadi kamu bisa puas melihat saya sebelum pergi ke Jakarta." "Siap dok!" Andra berlalu menuju ruang poli anak, disana seperti biasa Andra menghabiskan istirahatnya. Istirahat terakhir disini dan mungkin Andra enggak akan kembali lagi. "Bakal kangen dengan suasana disini," batin Andra. Dua hari kemudian. "Bismillah, semoga gue betah di Jakarta." Tiba diparkiran Andra mendengar ponselnya berbunyi, ia melihat kearah layar ponselnya. Ternyata Sang Bunda yang memberitahukan bahwa kamar untuknya sudah dibersihkan. Siap menyambut kedatangan pemilik kamar yang hampir setahun lebih ditinggalkan. "Nanti sore Andra akan meluncur ke Jakarta, Bunda sama Ayah tunggu Andra di rumah." Andra akhirnya meninggalkan Yogyakarta hari ini, perasaan campur aduk semua menjadi satu. Tapi, ia ikhlas menerima semuanya. Yang jelas ia berdoa agar anak-anak yang masih sakit secepatnya sembuh dan tidak akan kembali lagi ke rumah sakit dengan penyakit yang sama. Perjalan menuju Jakarta memakan waktu yang cukup lama, Dengan jarak tempuh sekitar 500-600 km, waktu perjalanan bisa berkisar antara 8 hingga 12 jam, tergantung pada kondisi lalu lintas dan cuaca. Dan Andra sangat beruntung kali ini, jalan dari Yogyakarta pagi hari dan beberapa jam lagi ia akan sampai di Jakarta dengan selamat. Andra beristirahat di rest area, beruntung ia masih mempunyai kekuatan untuk mengendarai mobilnya. Andra hanya butuh beristirahat sejenak, merenggangkan otot-ototnya yang kaku dan mengisi perutnya yang sudah kosong sejak tadi. "Toko bunga?" beo Andra. Andra melihat toko bunga di rest area, baru kali ini ia melihat ada toko bunga di tempat seperti ini. "Kenapa apa jadi memikirkan tukang bunga itu?" Andra mengingat seorang wanita yang hampir seminggu ini telah mengisi pikirannya, semakin hari Andra selalu memikirkan gadis tukang bunga yang bernama Afiqah. "Masa iya, gue sudah move on sama tukang bunga?" Andra tersenyum tipis mengingat kembali wajah Afiqah yang menurutnya jutek dan tidak ingin tersenyum kepadanya, walau bagaimanapun ia mengagumi kepintaran Afiqah dalam merangkai bunga pilihannya. "Kalau enggak jutek, boleh juga sih." "Uhuk, uhuk." Afiqah yang sedang memakan siomai langganannya tersedak, ia tidak tahu siapa yang sore ini sedang membicarakannya. Yang jelas Afiqah merasakan tersedak di tenggorokan. "Siapa yang membicarakan aku sore ini, aku tersedak jadinya." Ditempat lain. Sang Bunda telah merapikan kembali kamar anak tunggalnya, ia memberikan aroma wangian untuk kamar anaknya itu. Bunda Resya menyambut kedatangan Andra dengan suka cita, ketika ia mendapatkan kabar bahwa anak lelaki satu-satunya akan bekerja kembali di Jakarta. "Kali ini Andra nggak boleh pergi lagi dari kamar ini, Bunda akan mematikan wanita untuk menjadi istrinya." Bunda Resya masih berada dikamar Andra, pintu kamar Andra terbuka. Sang suami tercinta datang untuk melihat isi kamar anaknya. "Bun, sudah yuk keluar. Bukankah sudah bersih semua, sekarang kita me time yuk!" ajak Ayah Respati. "Iya, Ayah." Tidak hanya Bunda Resya, Ayah Respati juga juga merasakan senang. Anak satu-satunya akan kembali lagi disini, dan ia sudah berjanji tidak ingin membahas apa yang pernah terjadi antara dirinya dan putra satu-satunya itu. "Bukan kamu saja yang seneng, aku juga suka Andra akhirnya pulang ke rumah ini." "Ingat Ayah, jangan membicarakan tentang perusahaan lagi. Bunda akan marah jika Ayah membicarakan kembali dengan Andra. "Siap Bos, Ayah janji nggak akan mengulangi lagi kesalahan Ayah dulu." Bunda Resya tersenyum senang, akhirnya Sang suami merelakan Andra menjadi seorang dokter. Padahal ia tahu suaminya ingin sekali mewariskan perusahaan yang selama ini dimilikinya untuk Andra seorang, andai saja mereka mempunyai anak lagi ia yakin suaminya tidak akan memaksakan Andra lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN