Ide Konyol Bunda.

1199 Kata
Happy reading. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga." Berjalan menuju rumah besar dengan halaman yang cukup luas, Andra menenteng koper yang sengaja ia bawa dari Yogyakarta. Andra sampai tepat sebelum adzan Magrib, disaat kedua orang tuanya sedang melaksanakan kewajiban mereka. "Ehm, aku rindu rumah ini. Sepertinya sudah lama sekali aku tidak tinggal di rumah ini." "Andra, astaga! Kenapa sampai di rumah nggak kabari Bunda?" "Kejutan Bun, aku baru saja sampai di Jakarta." Andra memeluk tubuh Bunda Resya, wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini. Andra bersyukur memiliki seorang Bunda yang penuh kasih sayang seperti Bunda Resya. "Ayo, kita beri kejutan Ayah kamu di mushola belakang. Sepertinya Ayah kamu pasti akan pingsan setelah tahu putranya pulang tanpa memberitahukannya." "Ayah, kejutan!" "Wah, doa Ayah akhirnya diijabah oleh Allah." "Alhamdulillah, akhirnya keluarga kita kumpul lagi. Dan semoga kita seperti ini untuk selamanya." "Aamiin." *** Keesokan harinya. "Bunda, mau kemana? Kenapa rapi sekali?" "Bunda mau ke pasar, ada barang belanjaan yang harus Bunda beli." "Mau Andra antar? Mumpung Andra masih mendapatkan cuti sebelum kembali bekerja." Bunda Resya menggeleng kepalanya cepat, ia mengatakan bahwa nanti ketika pulang ia akan dijemput oleh Ayah Respati. "Kamu istirahat saja di rumah, nanti Bunda akan masakan makanan favoritmu itu." Sudah hampir lima jam lamanya, Andra menunggu kedatangan Bunda Resya dari pasar. Padahal jarak antara pasar dan rumah hanya sekitar setengah jam saja, tapi mengapa Bunda Resya tidak kunjung pulang. Lalu ia menghubungi Ayah Respati menurutnya sedang bersama Bundanya. "Ayah nggak sama Bunda, bukankah Bunda kamu sejak tadi di rumah?" Andra menutup panggilannya, ia lalu bergegas menuju motornya untuk mencari keberadaan Bunda Resya di pasar. Akan tetapi, sebelum ia keluar dari rumah ia melihat Bunda Resya bersama seorang gadis yang sepertinya tidak asing bagi Andra. "Afiqah?" beo Andra. Ia tidak percaya jika saat ini bertemu dengan gadis tukang bunga. "Loh, dokter Andra." "Kamu mau ngapain disini? Ada perlu apa?" tanya Andra kembali. "A-Aku ingin.." "Afiqah yang telah membantu Bunda ketika berada di pasar, kalau tidak ada Afiqah. Bunda nggak tahu apa yang terjadi dengan Bunda." Andra semakin tidak mengerti dengan keadaan Bundanya, ia melihat ada sobekan baju Bunda Resya. Lalu terdapat perban di sekitar tangan Bundanya, membuat ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan Bundanya sendiri. "Bun, katakan apa yang terjadi sama Bunda. Jangan buat Andra khawatir." "Bunda kecopetan dan Afiqah yang menolong Bunda." "Afiqah? Jadi, yang menolong Bunda gue itu gadis tukang bunga?" Andra menatap Afiqah begitu intens, tatapannya tertuju pada kedua wanita berbeda usia. Bunda Resya dan Afiqah berbicara layaknya seorang ibu dan anak, berbeda sekali ketika Andra bersama dengan Bunda Resya "Bun, Andra masuk ke kamar dulu ya." Tanpa menunggu jawaban dari Bunda Reysa, Andra berjalan melewati Afiqah yang sedang duduk di sofa. Ia hanya melirik sebentar, lalu berjalan kembali menuju kamarnya. *** Malam harinya, saat Andra masih berada di rumah kedua orang tuanya. Ia mendengar kedua orang tuanya berbicara, Andra mematung mendengar Bunda Resya berbicara mengenai perjodohan dirinya. "Bagaimana kalau kita jodohkan Andra dengan Afiqah? Sepertinya mereka cocok." "Bunda jangan aneh-aneh, nanti Andra ngambek lagi. Terus nggak bakal balik kesini bagaimana? Ayah enggak mau ya." "Bunda nggak aneh, Afiqah gadis ramah, sopan dengan orang tua. Bunda yakin Afiqah cocok dengan Andra yang introvert tidak mudah bergaul." "Mereka mencarikan jodoh untukku? Tapi mengapa harus gadis tukang bunga?" Andra keluar dari persembunyiannya, ia ingin meminta penjelasan kepada kedua orang tuanya mengenai apa yang ia dengar beberapa menit yang lalu. Bisa-bisanya mereka berdua mencarikan jodoh untuknya tanpa memberitahukan kepada dirinya terlebih dahulu, apalagi wanita yang akan dijodohkan dengannya adalah gadis tukang bunga. "Lagi pada membicarakan siapa? Kenapa kalian berdua nggak ajak Andra?" Kedua orang tuanya saking bertatapan, mereka saat ini tidak ingin mengatakan terus terang kepada Andra. Untuk sementara waktu pembicaraan mengenai perjodohan antara Andra dan Afiqah itu menjadi rahasia sementara mereka berdua. "Bunda sama Ayah nggak membicarakan siapapun, kamu salah dengar Andra." "Andra nggak percaya sama kalian berdua, Andra dengar kalau kalian berdua mau menjodohkan Andra sama gadis tukang bunga itu." "Namanya Afiqah, kamu jangan lupa itu." Andra mengedikkan kedua bahunya, ia tidak perlu siapa nama wanita yang akan dijodohkan dengannya. Yang Andra inginkan adalah untuk sementara waktu ia malas memikirkan seorang wanita, apalagi untuk menikah secepatnya. Andra belum sepenuhnya move on dari mantan kekasihnya yang sudah membohongi Andra. "Bunda nggak perlu buat ide konyol tentang menjodohkan Andra dengan gadis tukang bunga itu, untuk sementara Andra nggak mau dekat dengan siapapun." "Ya, sudah kalau itu mau kamu. Bunda hanya berharap kamu bisa cepat move on dari mantan kamu itu." Merasa putranya sudah tidak menyukai topik pembicaraan, Bunda Resya mencari alternatif untuk membuat mood Andra kembali bagus. "Kamu mau kemana? Kenapa sudah rapi lagi?" "Andra mau pulang ke apartemen, besok Andra sudah mulai kerja lagi di rumah sakit. Bunda sama Ayah tahu kalau jarak apartemen ke rumah sakit itu dekat, berbeda dengan di rumah ini. Kalau Andra tinggal disini, sudah pasti setiap hari Andra bisa telat masuk kerja." Memang jarak antara rumah ke Mahendra hospital sangat jauh, Andra tidak bisa membayangkan jika ia akan terlambat tiap hari jika ia tinggal di rumah. Berbeda dengan ketika ia tinggal di apartemen, jaraknya lebih dekat menuju Mahendra hospital. "Ide konyol Bunda kali ini benar-benar aneh." Pagi harinya. Andra kembali melihat penampilannya di cermin, setelah merasa ia sudah siap untuk memulai aktivitas bekerja pagi ini. Andra tidak lupa dengan tas yang selama ini menjadi tempat untuk alat-alat kerjanya. "Oke, bismillah. Semua pagi ini menjadi awal dari pekerjaan di Jakarta, aamiin." Masuk kedalam mobilnya, Andra menunggu beberapa menit untuk pergi. Lalu kedua matanya melihat objek yang dibicarakan semalam bersama kedua orang tuanya. "Afiqah, dia mau ke apartemen siapa?" Andra ingin menunggu Afiqah kembali, tapi sepertinya waktu sudah menunjukkan angka 06.30 pagi. Ia tidak mungkin datang terlambat di awal Andra bekerja. "Andra Respati Sanjaya." Andra menoleh kebelakang di mana ada seseorang memanggilnya, dari kejauhan ia melihat pemilik Mahendra hospital sekaligus sahabat kecilnya.Arsya yang baru saja keluar dari mobil yang sama seperti miliknya. "Bos, sorry baru datang pagi ini. Kemarin gue ditahan sama Bunda, biasa bunda kangen sama anaknya yang sangat tampan ini." "Ehm, nggak masalah. Yang penting hari ini lo datang dan langsung kerja, gue harap lo menepati janji lo sama gue." "Siap Bos!" Tepat pukul 07.00 pagi, Arsya memperkenalkan Andra sebagai dokter anak yang baru. Sebelumnya Andra bekerja di Mahendra Hospital cabang Yogyakarta dan baru saja kembali. "Semoga saya bisa bekerja dengan baik di sini, terima kasih." "Wah, nambah lagi dokter simpan di sini. Sepertinya kita semakin betah kerja di Mahendra hospital, semua dokternya tampan." "Benar, kita bekerja sambil melihat yang simpan itu seperti magnet agar kita bekerja dengan baik." Andra menghela nafas panjang, ia baru saja menginjakkan kakinya di rumah sakit ini dan secepat itu ia menjadi bahan gosip para suster muda yang bekerja di rumah sakit ini. "Mereka sama saja, nggak di Yogyakarta atau di Jakarta. Gue selalu jadi bahan gosip mereka." "Pesona lo dari dulu nggak kaleng-kaleng, good job boy." Andra mendengkus sebal, Arsya sahabatnya selalu menggodanya seperti itu. Memang sejak dulu ia selalu menjadi bahan gosip para gadis yang menyukai dirinya, sejak kuliah di Yogyakarta Andra mendapatkan julukan pria tampan dengan segudang prestasi. Padahal tidak hanya dirinya saja yang mendapatkan julukan itu, Arsya pun sama sepertinya. "Semangat tingkatkan prestasi lo di sini, siapa tahu dapat jodoh." "Arsya sialan, Arsya bangke."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN