Bertemu lagi

1167 Kata
Happy reading. Andra mematung melihat gadis yang diperkenalkan padanya, ia tidak menyangka bahwa kekasih sahabatnya adakah wanita yang telah membuat tidurnya terganggu akhir-akhir ini. Namun, ia belum menyadari bahwa dirinya cemburu dengan Reyhan. Gadis yang sejak kemarin ingin sekali Andra sapa, ternyata sudah mempunyai kekasih dan yang membuat Andra merasa bahwa kali ini Reyhan sangat beruntung mendapatkan Afiqah yang jutek, bar-bar namun anehnya Andra mulai menyukainya. Entah sejak kapan Andra mulai menyukai Afiqah Si Tukang Bunga, jutek dan bar-barnya melebihi gadis yang pernah ia temui. Tidak bisa dipungkiri bahwa Afiqah memang sangat cantik jika dilihat lebih dekat. "Dra, jangan jauh-jauh. Jangan takut sama kekasih gue, Afiqah sudah jinak sejak kita jadi kekasih." Ajak Reyhan. Andra mendengkus sebal, ia bukan takut dengan Afiqah. Namun sendi kakinya terasa lemas, entah apa yang ia rasakan sekarang. Apakah harus senang atau sedih. Bertemu kembali dengan gadis yang telah mengubah hari-harinya sejak beberapa Minggu ini. "Sayang, ini Dokter Andra sahabatku sama Arsya. Kita sahabatan sudah lama sekali, tapi soal jodoh Andra itu sangat selektif dalam perihal wanita." Reyhan memperkenalkan Afiqah dengan Andra. "Rey, aku tinggal dulu. Ada yang harus dikerjakan di dalam, kamu di sini saja sama sahabatmu." Reyhan mengangguk, ia tahu kekasihnya sedang mengerjakan laporan penjualannya hari ini. Dan seperti biasa saya ia harus menunggu beberapa menit untuk Afiqah mengerjakan tugasnya. "Kalau begitu gue pamit, sebentar lagi buka puasa. Kedua orang tua gue pasti sudah menunggu." Andra berkata. "Enggak buka puasa disini! Sepertinya calon tunangan gue sudah masak buat buka puasa nanti." "Tunangan?" Lagi dan lagi Andra dibuat kaget, dengan apa yang baru saja ia dengar. Andra tidak menyangka bahwa sahabatnya yang terkenal playboy ketika masih bersekolah dulu sudah berubah. Dan siapa sangka gadis jutek seperti Afiqah bisa membuat Reyhan menjadi pria baik-baik. Berjalan keluar tanpa berpamitan kepada Afiqah, sepertinya itu pilihan terbaik untuk dirinya. Ia tidak ingin terlalu lama di sini membuat hatinya semakin sesak saja. Beberapa menit kemudian. Afiqah keluar dari ruang kerjanya, melihat hanya ada Reyhan lelaki yang telah menjadi kekasihnya beberapa bulan yang lalu. Ia ingin bertanya mengenai Andra, tapi ia menyadari jika itu bukan pilihan yang tepat untuknya dan Reyhan. "Kamu sudah masak, sebentar lagi buka puasa?" Tanya Reyhan. "Ya, aku sudah masak untuk kita berbuka puasa nanti. Aku akan merapikan makanannya dulu. Tunggu ya." Setiap Senin dan Kamis Afiqah selalu menerapkan puasa sunah untuknya, ia juga mengajak Reyhan untuk puasa menurutnya jika bisa melakukan puasa sunah kenapa tidak. "Sampai kapan ini berlangsung, aku sudah bosan seperti ini." *** Satu jam setelah adzan magrib, Reyhan masih berada di toko bunga milik Afiqah. Malam ini ia akan membawa Afiqah pulang bertemu dengan kedua orang tua Afiqah. Sesuai rencana Minggu kemarin yang sudah disepakati bersama. Setelah menutup toko dan menguncinya, Afiqah kini menuju mobil milik Reyhan. Masuk kedalam dan duduk disamping kemudi, Afiqah melihat Reyhan sedang fokus dengan kemudinya. "Astagfirullah," ucap Afiqah. Reyhan mengerutkan dahinya, mendengar Afiqah mengucapkan istighfar. Padahal saat ini ia sedang tidak menabrak sesuatu, namun mengapa kekasih hatinya melakukan hal itu. "Kamu kenapa sayang, sakit?" Menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin perasaannya diketahui oleh Reyhan. Bagaimanapun saat ini Afiqah adalah kekasih Reyhan dan calon istrinya. Perjalanan menuju Depok berjalan lancar, mereka berdua telah sampai di kediaman Bramantyo. Ternyata kedua orang tuanya telah menunggunya sejak tadi, mereka sengaja menunggu Afiqah di depan rumah agar terlihat kedatangan putrinya pertama mereka " Anak Mama kenapa baru pulang sekarang? Apa nggak kangen sama rumah?" "Mah, Afiqah kangen Mama, Ayah, sama adik." Di tempat lain. Andra masih berada di balkon kamarnya, ia masih memikirkan pertemuannya dengan Afiqah. Ternyata sesakit ini ia rasakan, dan anehnya ia menyadari bahwa perasaan sudah mulai tumbuh dihatinya hanya untuk Afiqah seorang. Andra menghela nafas nya panjang, ia tidak tahu perasaanya saat ini. Menyangkut perihal rasa sayangnya yang mulai tumbuh dihati Andra. "Kenapa harus Si Jutek sih? Kenapa nggak orang lain aja." Gumam Andra. Masih duduk diatas kursi malasnya, Andra bahkan tidak tahu bahwa saat ini tepat dibelakangnya ada Sang Bunda melihatnya dengan tatapan aneh. Baru kali ini Andra datang ke rumah dengan raut wajah yang tidak biasa, apakah Andra masih marah soal ide konyol dirinya beberapa hari yang lalu. "Andra, kenapa melamun aja. Apa yang sedang kamu pikirkan?" Andra masih terdiam pikirannya melayang, bahkan panggilan Bunda Resya saja tidak didengarkan. "Andra Respati Sanjaya, kamu melamun?" Teriak Bunda Resya. "Ya, Bun. Andra nggak melamun." "Lalu sejak tadi itu apa? Kamu tidur apa melamun?" "Galau Bun," jawabnya enteng. Bunda Resya tertawa kencang, baru kali ini putranya merasakan galau. Padahal selama ini Andra terkenal dengan sikapnya yang periang dan banyak berbicara, namun anehnya mengapa putranya galau sekarang disaat pulang ke rumah. "Galau karena siapa?" Tanya Bunda Reysa. "Galau sama Tukang Bunga Bun." "Hah? Yang benar kamu, masa galau sama Afiqah." "Eh, nggak galau Bun. Aku salah ada maksud apa-apa, jangan dipikirkan ya Bun." Bunda Resya menggeleng kepalanya pelan, percuma saja Andra mengelak toh ia sudah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Andra sekarang. "Jangan galau terus, ayo kita makan dulu, lupakan dulu galau mu. Setelah makan kita baru diskusikan lagi." Andra akhirnya pasrah atas permintaan Bunda Resya, mungkin saja dengan makan sesuatu kegalauan yang Andra rasakan akan berkurang bahkan menghilang. Andra dengan lahap memakan makanan hasil masakan dari Bunda Resya, memang benar untuk sebagian orang ketika merasakan galau atau sedih hal yang paling sering dilakukan adalah makan. Bahkan sebagian orang selalu melakukan hal tersebut dan berakhir lupa karena sudah makan banyak. "Tidur di sini saja, besok kamu bisa ke rumah sakit dari sini." "Ok, Andra istirahat dulu ya Bun." "Ehm, jangan galau terus. Malu sama umur." *** Pagi harinya, Andra telah rapi dengan setelan kemeja biru langit. Ia tengah bersiap menuju rumah sakit tempatnya bekerja, pagi ini ia akan datang lebih pagi agar tidak terjebak macet. Seperti biasa Bunda Resya selalu stand by di dapur, pagi ini ia sedang membuat nasi goreng seafood kesukaan Andra. Dengan telaten Bunda Resya membuat dua piring untuknya dan tentu buat anak tunggalnya. "Bun, Andra pergi dulu ya." "Hai, anak Bunda Resya harus makan dulu. Nggak boleh keluar dari rumah kalau belum makan" jawab Bunda Reysa Memutar bola matanya malas, pagi ini ia tidak ingin terlambat. Akan tetapi Bunda Resya mengajaknya makan, mau tidak mau ia harus mengikuti apa yang diucapkan oleh Bundanya. "Iya Bun, Andra makan nih. Tapi nggak bisa banyak-banyak, takut kelamaan di rumah jadi nanti telat." Sebelumnya Andra memberitahukan kepada salah satu perawatnya, bahwa pagi ini ia akan datang terlambat. Satu jam berlalu. Andra telah memarkirkan mobilnya ditempat biasa, ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Andra berpapasan dengan Arsya pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. "Pagi, Bos." "Ehm, ini bukan pagi. Tapi sudah siang." jawab Arsya. "Sorry Bos, gue baru dari rumah nyokap jadi disuruh makan dulu. Tapi, tenang ini buat lo sebagai tanda sayang Bunda gue sama lo." "Ok, permintaan maaf lo gue maafin. Kalau begitu silahkan kerja sama, sudah banyak pasien yang datang." "Siap Bos." Andra telah bersiap-siap untuk menerima pasien, mempersilahkan perawat memanggil pasien yang hari ini akan berobat dengannya. Namun, ia tidak menyangka bahwa pasien pertama membuatnya kembali galau seperti semalam. "Pagi Dokter." "Pagi, silahkan-" "Dokter Andra." "Kamu?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN