AJAK TEMANMU TURUN!

3558 Kata
Berawal dari sebuah keinginan untuk mendaki gunung. Berhubung 1 minggu kedepan sekolah ada libur 3 hari Robi membuat rencana pendakian ke gunung Lawu. Dia menawari teman-teman sekelasnya untuk diajak dan hanya ada 4 doang yang mau ikut, sebut saja mereka adalah Fuad, Diki, Fia dan Wiwin. Mereka berempatini merupakan teman se-frekuensi dengan Bagus.    Pulang sekolah mereka janjian untuk berkumpul di sebuah tongkrongan untuk membahas pendakian ini, Bagus yang sudah 2 kali mendaki ke gunung Lawu mengajak mereka untuk mendakinya via Cemoro sewu aja, karena jalur itu bisa dibilang lebih sering dilewati oleh pendaki dan pasti rame, tapi Fuad kurang setuju kalau, katanya gak fair soalnya dia sudah pernah mendaki via jalur itu dan dia memberi usul untuk mendakinya via jalur yang sama-sama belum pernah dilalui. Mendengar usul itu Robi setuju sedangkan yang lain hanya menurut karena bisa diantara mereka berlima hanya Robi dan Fuad yang mempunyai pengalaman mendaki. Akhirnya mereka sepakat pendakian akan dilakukan melalui jalur Candi cetho, karena diantara mereka berlima belum ada yang pernah mendaki via jalur itu. Setelah rencana sudah dirasa matang mereka bubar untuk pulang dan singkat cerita tibalah hari pendakian. Pagi itu mereka berkumpul di rumahnya Fuad untuk menata perlengkapan yang akan dibawa, tenda peralatan masak dan keperluan lainnya di masukan kedalam 2 tas carier kemudian masing-masing carier di gendong Robi dan Fuad, sedangkan yang lain hanya membawa tas sekolah yang diisi perlengkapan pribadi masing-masing. Siang itu mereka berangkat dengan mengendarai motor, Robi berboncengan dengan Fia, Diki berboncengan dengan Wiwin sedangkan Robi berkendara sendiri. Di perjalanan mereka sempat mampit di pasar untuk mencukupi logistik yang kurang. Nah, ketika sedang di pasar itu Fia melihat ada orang yang menjual ikan, dia bilang ke Robi, “Rob, beli ikan kayaknya enak, buat dibakar ntar” “Boleh2, ntar dulu kalo uangnya cukup kita beli’in ikan”, jawab Robi. Setelah beli beberapa logistik dan uangnya juga masih sisa akhirnya mereka membeli ikan setelah itu perjalanan kembali di lanjutkan. Sekitar pukul 1 siang mereka sampai di basecamp gunung lawu via Cetho, motor diparkirkan dan mereka menuju pos untuk meminta ijin pendakian, setelah mengisi formulir mereka pun diijinkan untuk mendaki siang ini juga. Setelah mendaftar mereka istirahat di dekat basecamp untuk membagi logistik yang dibeli di pasar tadi, setelah semua sudah terbagi rata perjalanan dimulai sekitar pukul 2 siang. Di awal-awal perjalanan belum ada yang aneh, selangkah demi selangkah mereka melewati jalur setapak hingga sampai di pos 1, di pos 1 mereka istirahat untuk minum dan mengatur nafas. Terlihat mereka berdua yang cewek wajahnya sangat kucel karena mungkin sedang kecapekan. “Gimana, yang cewek masih kuat kan?” “Kuat dong, masih jauh ya puncaknya?”, tanya Wiwin. “Masih, ntar kita camp dulu, paling lanjut jalan ke puncak besok”, jelas Robi. Setelah cukup minum dan istirahat perjalanan kembali di lanjutkan. Di perjalanan menuju ke pos 2 seringkali Robi mengajak yang lain untuk ngobrol, bahas-bahas keadaan sekolah dll, hingga tidak terasa sampailah mereka di pos 2 sekitar pukul setengah 5 sore. Di pos 2 mereka istirahat lagi karena Fia sudah sangat kelelahan, sekali dua kali mereka berpapasan dengan pendaki yang sedang turun dan tidak lupa menyapanya. Setengah jam istirahat, mereka bergegas melanjutkan perjalanan dengan tujuan agar tidak terlalu malam nantinya. Lanjut berjalan... dan tidak terasa hari sudah mulai gelap. Di pertengahan jalan menuju ke pos 3 mereka berhenti di pinggir jalur untuk mempersiapkan penerangan, setelah penerangan sudah siap perjalanan kembali dilanjutkan. Belum sampai di pos 3, Robi yang waktu itu berjalan di paling belakang tanpa disengaja menyorotkan senternya kearah kanan. Di antara pohon yang cukup rimbun samar-samar terlihat seperti ada orang berkebaya kuning sedang berdiri diantara pepohonan. Merasa kaget dengan keberadaan orang itu dia langsung mengalihkan sorot senternya kearah depan dan dia berjalan sedikit cepat menyusul teman-temannya. Tanpa memberitahu apapun pada yang lain Robi berusaha tenang tapi dia masih kepikiran tentang apa yang dilihatnya tadi, “Itu tadi apa ya? Apa mungkin beneran orang? Tapi kalau orang ngapain di situ?”, ucap Robi dalam hati. Tidak berselang lama Fia yang waktu itu berjalan di barisan nomor 2 tiba-tiba ambruk, dengan cekatan Fuad dan Diki memberinya pertolongan, “Hati-hati dong Fi kalau jalan”, ucap Fuad pada Fia. “Kok kayak ada yang dorong ya?”, ucap Fia dengan bingung. “Siapa juga yang dorong Fi”, tanya Fuad. “Beneran loh, dari kanan kayak ada yang dorong keras banget”, jelas Fia. Mendengar itu Robi mengarahkan senternya kearah kanan dan ternyata, dari jarak sekitar 10 meter di dalam hutan tampak jelas seorang wanita berkebaya kuning sedang berdiri membelakangi mereka, dia mengenakan kemben khas jawa dan rambutnya terurai pendek. Melihat keberadaan sosok itu Robi segera meminta Fia agar lekas berdiri dan kembali melanjutkan perjalanan. Fia yang masih dalam keadaan sakit berusaha untuk kembali berdiri dan pelan-pelan melanjutkan perjalanan. Singkat cerita, sampailah mereka di pos 3 sekitar pukul setengah 7 malam. Di pos 2 mereka memutuskan untuk istirahat sebentar sambil melemaskan kaki Fia yang tadi sempat tergores tanah. Sambil menunggu kondisi Fia kembali pulih tiba-tiba Wiwin nyeletuk, “Eh, bau apa ini?”, ucapnya sambil menutupi hidung. Spontan mereka semua melihat kearah Wiiwin, “Ada apa Win?”, tanya Robi. “Bau anyir banget, emang kalian gak nyium apa?”, jelas Wiwin. Mereka semua memasang hidug dan sekilas bau anyir yang dimaksud Wiwin itu tercium oleh mereka semua. Karena bau anyir itu hanya tercium sekilas mereka menganggap mungkin di dekat sini ada hewan mati, mereka melanjutkan istirahatnya di pos 3 dan... tidak berselang lama seklilas bau anyir itu tercium lagi. Disini Robi ingat kalau mungkin bau anyir ini bersumber dari ikan yang tadi di belinya di pasar, “Fia, coba liat ikannya di tasmu, kali aja ikannya busuk”, pinta Robi pada Fia. Fia segera membuka ranselnya dan mengeluarkan ikan yang terbungkus plastik, setelah diamati ternyata ikannya tidak se-anyir bau yang mereka cium. Fia memasukan ikan itu kedalam tasnya lagi, setelah kondisi Fia sudah dirasa membaik Robi mengajak mereka untuk melanjutkan perjalanan. Di perjalanan Robi berfikir kesana kemari, dia mempunyai firasat buruk terlebih setelah dia melihat sosok berkebaya kuning tadi. Di sepanjang perjalanan Robi terus melantunkan doa, berharap semoga tidak terjadi hal buruk yang menimpa mereka semua.    Singkat cerita, setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang akhirnya mereka sampai di area Gupakan menjangan alias camp terakhir, mereka sampai disitu sekitar pukul 11 malam. Terlihat suasana disini cukup ramai oleh pendaki lain. Robi dan Fuad segera mengeluarkan tenda yang ada di dalam cariernya untuk didirikan, setelah berdiri mereka lanjut masak makanan di depan tenda sambil menyalakan api unggun kecil. Setelah perut sudah dirasa kenyang mereka lanjut nongkrong di depan tenda sambil menikmati kopi dan tidak lupa mereka membakar ikan yang tadi dibelinya di pasar. Ada 5 ekor ikan yang dibeli tadi, mereka membakarnya diatas bara api bekas api unggun. Sambil menunggu ikan matang mereka membicarakan tentang persiapannya menghadapi ujian akhir sekolah dan kemana mereka akan lanjut setelah lulus nanti. Tidak terasa ikan pun sudah matang, sementara Fia dan Wiwin menyiapkan bumbu ikan itu diletakan di sebuah piring sambil menunggu bumbunya jadi, setelah itu mereka mengambil ikan itu satu persatu. Nah, disini ada mereka menemukan keanehan. Ikan yang tadinya ada 5 sekarang tiba-tiba tinggal 4. Awalnya mereka menuduh Robi yang sudah mengambilnya terlebih dahulu, tapi saat itu Robi sama sekali tidak merasa mengambil ikannya. Mereka mencari ikan itu di sekitaran piring, barangkali jatuh atau bagaimana tapi tidak ada. Akhirnya daripada ribut soal ikan Robi mengalah, dia berbagi ikan yang ada bersama Fuad dan Diki. Sambil makan ikan tiba-tiba Fia nyeletuk, “Apa jangan-jangan ikannya diambil setan?”. “Husst, jangan ngomong kayak gitu disini gak baik”, sahut Robi. “Habis siapa lagi yang ngambil, orang tadi jelas-jelas ada 5 kok sekarang tinggal 4”, jawab Fia. “Udah-udah bener tuh gak baik ngomongin setan di hutan kayak gini”, sahut Fuad. Merekapun melupakan tentang ikan itu dan lanjut ngobrol di depan tenda, karena malam itu semakin larut mereka memutuskan untuk masuk tenda dan tidur. Satu per satu dari mereka masuk kedalam tenda kecuali Robi, sebelum meninggalkan tempat dia mematikan bara api yang masih menyala. Nah ketika sedang sibuk mematikan bara api itu samar-samar dia melihat ada seseorang yang sedang duduk di sebelah pohon, jaraknya kira-kira 10 meter dari tendanya. Dia cewek, rambutnya cukup panjang dan terlihat sedang memakan sesuatu dan itu terlihat cukup menakutkan. Melihat itu Robi cepat-cepat mematikan bara apinya dan bergrgas masuk kedalam tenda, didalam tenda dia bilang ke Fuad dan Diki, “Eh kalian coba tengok ke kanan tenda di sebelah pohon” “Ada apa Rob?”, tanya Diki. “Udah liat aja”, pinta Robi. Fuad dan Robi melihat kearah kanan tenda dan... mereka tidak melihat ada siapa-siapa, hanya ada pohon dan kondisinya cukup gelap. “Ada apa sih Rob?”, tanya Fuad. “Kalian liat sesuatu nggak?”, tanya Robi dari dalam tenda. “Enggak tuh gak ada apa2, gelap”, jawab Fuad. Mereka berdua kembali masuk kedalam tenda kemudian Robi menjelaskan tentang apa yang dilihatnya barusan. “Tadi di dekat pohon aku kayak ngeliat ada cewek duduk, rambutnya panjang”. Jelas Robi. “Pendaki lain mungkin Rob, jangan mikir aneh2 lah”, jawab Fuad. “Aku tadi juga mikir gitu, tapi kayaknya dia deh yang ambil ikan kita tadi”, ucap Robi. “Udah-udah diam, kalo terus2an diomongin ntar dia malah datang kesini lo”, sahut Diki takut. Mereka pun tidak mengabaikan soal itu dan menganggap mungkin tadi yang cewek yang dilihat Robi itu memang pendaki lain. Mereka kembali merebahkan badannya diatas matras dan berusaha tidur agar besok tidak kesiangan. Sebelum tidur Robi tidak henti membaca doa sampai akhirnya dia tertidur.    Pagi pun tiba, sekitar jam 6 pagi mereka bangun, terlihat Fia dan Wiwin sudah sibuk menyiapkan makanan di depan tenda, setelah keluar dari tenda Robi berjalan kearah kanan tenda untuk buang air kecil dan ketika sendang buang air di dekat pohon, di bawahnya dia melihat ada bangkai ikan. Disini dia mikir, “Loh, jangan-jangan ini bangkai ikan yang hilang semalam?”. Dan seketika itu dia ingat kalau semalam di sini dia sempat melihat ada seorang cewek berambut panjang sedang duduk dan seperti sedang makan. Karena merasa takut Robi cepat-cepat menyelesaikan pipisnya dan segera kembali ke teman-temannya, sesampai di teman-temannya dia tidak mengatakan pada yang lain dengan tujuan agar teman-temannya tidak ikut takut. Pagi itu terlihat beberapa pendaki lain sedang sibuk prepare untuk berjalan summit ke puncak, setelah selesai makan mereka juga prepare kemudian mulai berjalan summit bareng dengan 1 rombongan yang juga akan summit. Di perjalanan menuju ke puncak mereka ngobrol-ngobrol dengan 1 rombongan itu, mereka dari semarang, 2 cowok dan 2 cewek. Selangkah demi selangkah akhirnya mereka sampai di puncak tertinggi gunung lawu, puncak Hargo dumilah. Di puncak mereka sangat senang apalagi Fia, Wiwin dan Diki yang baru pertama kalinya naik gunung. Setelah puas di puncak mereka kembali turun dan mampir di sebuah warung yang berad adi hargo dalem untuk sarapan. Setelah itu mereka kembali turun ke tempat camp. Di perjalanan turun, tepatnya di area pasar dieng, mereka bertemu dengan 1 orang laki2 yang cukup tua, dia sedang duduk tenang sambil menikmati sebatang rokok. Kalau dilihat-lihat sepertinya dia adalah warga sekitar yang sengaja naik untuk keperluan tertentu. Karena capek mereka ikut istirahat dan menyapa 1 orang itu, “Permisi pak, ikut istirahat ya”, Ucap Robi. “Monggo silahkan”, jawab orang itu. “Sendirian aja pak?”, tanya Robi. “Iya, udah biasa”. Jawab orang itu singkat. Robi dan Fuad menyalakan sebatang rokok. Sambil menunggu rokok habis mereka ngobrol-ngobrol setelah itu mereka lanjut berjalan turun dan tidak lupa pamit sama 1 orang laki-laki itu. Sebelum berjalan turun laki-laki itu mengambil sebatang kayu yang tergeletak sebelahnya sambil bilang, “Bawa kayu ini, buat bekal kalian turun”. Robi sedikit berfikir, “Kenapa orang ini memberi kayu?”. Dia menerima kayu itu dan mengucapkan terima kasih kemudian mereka kembali berjalan turun. Yaa lumayanlah kayu ini bisa buat pegangan, lagi pula jalannya waktu itu cukup menurun. Beberapa meter setelah meninggalkan orang itu Robi nengok kearah belakang dan... orang yang memberi kayu tadi tiba-tiba tidak ada di tempat duduknya. Robi bilang tuh ke temen-temennya, “Loh, orang tadi kemana?”. Spontan mereka semua nengok keatas dan memang orang itu sudah tidak tidak ada di tempatnya. Ini aneh. Kalapun orang itu sudah lanjut jalan harusnya masih keliatan, lagian vegetasi disini sangat terbuka. Merasa ada yang janggal mereka cepat-cepat melanjutkan perjalanan turun dan Robi membawa kayu tadi sampai kembali di tempat camp. Sesampainya di camp dia meletakan kayu itu di dekat pohon kemudian mereka istirahat sebentar. Tidak ada perasaan aneh yang mereka rasakan, semua berjalan seperti biasa, bahkan Robi juga sudah melupakan kejadian semalam. Setelah cukup istirahat mereka segera berkemas dan lanjut berjalan turun. Di perjalanan turun Fuad yang waktu itu berjalan di depan tanya ke Robi, “Rob, kayu yang kamu bawa tadi mana? Buat nebas semak soalnya jalannya rimbun”. “Waduh gak aku bawa, aku tinggal di pos 5 tadi”, jawab Robi. Mereka terus berjalan hingga sampai di pos 4 sekitar pukul 2 siang. Di pos 4 mereka tidak berhenti dan lanjut berjalan ke pos 3. Sesampainya di pos 3 barulah mereka istirahat, disitu mereka mengeluarkan alat masak untuk menghabiskan logistik yang masih tersisa di tas. Sambil makan-makan itu mereka ngobrol-ngobrol hal yang tidak penting sambil sesekali bercanda. Setelah puas istirahat mereka berkemas lagi dan lanjut berjalan turun. Posisi mereka kali ini Fuad berada di paling depan disusul Fia, Wiwin, Diki dan Robi di paling belakang. Karena saking menikmati perjalanan Fuad berjalan sedikit cepat hingga cukup jauh di depan. Nah ketika jarak mereka dengan Fuad ini cukup jauh terlihat Fuad ini berjalan kembali keatas sambil tergesa-gesa. Sama Robi ditanya, “Ad, kenapa balik?”. Sambil ngos-ngosan dia jawab, “Gila, di depan tadi ada ular gede banget, seukuran paha”. “Serius? Dimana?”, tanya Robi. “Di depan situ, ularnya lagi nyebrang jalur”. Jawba Fuad. Mendengar itu mereka semua panik. Fuad gemeteran dan mengajak yang lain untuk berhenti dulu disini sambil menunggu pendaki lain yang turun agar bisa bareng. Sambil berhenti Robi bertanya lebih lanjut tentang ular yang dilihatnya itu. Menurut Fuad, ularnya itu sebesar paha orang dewasa, berwarna kuning dan berjalan melintas jalur pendakian. Disini mereka semua waspada, takutnya ular itu tiba-tiba muncul di sekitar sini. Setelah cukup lama berhenti mereka tidak juga bertemu dengan pendaki lain yang turun, malahan bertemu dengan sekelompok pendaki yang mau naik. Fuad bertanya pada sekelompok pendaki itu, “Mas, tadi di sana ngeliat ada ular nggak?”. “Ular? Enggak tuh, emang ada ular?”, jawab pendaki itu. “Iya tadi disana saya ngeliat ada ular yang lewat mangkanya kita berhenti disini dulu”, jelas Fuad. “Tapi kita lewat tadi gak ada apa-apa kok mas?”, jawab pendaki itu. “Oh yaudah mas, makasih kalo gitu, mungkin ularnya udah pergi”. Jawab Fuad. Pendaki itu permisi untuk melanjutkan perjalanan. Karena pendaki itu menyatakan tidak melihat keberadaan ular Fuad menganggap mungkin ularnya emang udah pergi, kemudian pelan-pelan mereka lanjut jalan turun. Kali ini Fuad tidak berandi jalan di depan, sesampainya mereka di tempat tadi Fuad melihat ular ternyata memang sudah tidak ada. Robi yang waktu itu berjalan di depan bertanya pada Fuad, “Dimana ularnya tadi Ad?” “Tadi disitu lagi nyebrang jalur”, jawab Fuad. “Tapi kok gak ada tanda2nya?”, tanya Robi. “Ya gak tau, tadi jelas2 disitu kok”. Jawab Fuad. Robi meminta pada mereka untuk waspada, mungkin ular yang dimaksud Fuad itu emang beneran dan masih ada di sekitar sini, sesampainya tepat ular tadi melintas Robi mengamati keadaan sekitar, tapi disitu memang tidak ada tanda-tanda di lewati ular. Harusnya kalau memang bener ada ular pasti ada jejaknya dong, apalagi menurut Fuad ularnya sebesar paha orang dewasa, tapi ini tidak ada tanda-tanda sama sekali. Mereka terus berjalan melewati tempat itu, setelah cukup jauh meniggalkan tempat itu Robi bilang ke Fuad, “Kamu halu mungkin Ad, orang tadi gak ada apa-apa gitu kok”, “Sumpah, tadi jelas banget aku liat ada ular, kalo gak gitu ngapain aku jalan balik”, jelas Fuad. “Udah-udah, yang penting udah gak ada kan ayo lanjut jalan keburu malam ntar”, sahut Diki menenangkan situasi. Mereka pun mengabaikan kejadian itu dan menganggap mungkin tadi Fuad ini salah lihat. Perjalanan turun terus berlanjut dan terlihat waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Nah, belum sampai di pos 2, mereka menjumpai seorang kakek-kakek yang sedang memikul kayu, sepertinya kakek itu sangat kelelahan. Mereka berjalan mendekati kakek itu dan terlihat keringat si kakek bercucuran karena mungkin beban kayu itu sangat berat. Setelah melewati kakek itu Fia berbisik pada Robi, “Rob, bantuin napa, kasian itu kakeknya kecapekan”. Robi yang juga merasa kasihan sama kakek itu berinisiatif membantunya, dia mengajak Fuad untuk ikut dan Fuad tidak keberantan. Mereka berdua menghampiri kakek itu, “Kek, mau kita bantu bawain kayunya?”. . “Boleh-boleh, kebetulan”. Jawab kakek itu dengan nafas tersengal-sengal. Kakek itu menurunkan kayu yang dipikulnya kemudian Robi dan Fuad memikulnya berdua. Mereka berjalan dengan kakek itu, sambil jalan Fia bertanya, “Rumahnya dimana kek?” “Itu dekat sini kok”, jawab si kakek. “Bukan dekat kek itu masih jauh, biar dibantu bawa temen2ku aja ya kayunya”. Ucap Fia. Belum jauh berjalan kakek itu meminta pada mereka untuk belok ke kanan, katanya rumahnya ada di sana. Mereka sempat kaget, “Loh, rumahnya kok di hutan?”. Tapi mereka berfikir positif aja, mungkin yang di maksud kakek itu bukan rumah tapi gubuk buat nampung kayu. Mereka menuruti arahan dari kakek itu dan tidak jauh berjalan kearah kanan ternyata itu memang benar-benar rumah, bukan gubuk seperti yang mereka pikirkan sebelumnya. Robi sempat merasa ada yang aneh, kok bisa ada rumah di hutan kayak gini? Tapi dia berusaha berfikir positif aja, kali aja ini rumah yang sengaja didirikan si kakek untuk singgah. Kakek itu bilang agar kayunya diletakan di halaman rumah, setelah itu si kakek mengajak mereka untuk mampir dulu. Karena waktu itu mereka cukup lelah, mereka pun memutuskan untuk mampir dulu di rumah si kakek dan masuk kedalam. Rumah si kakek terlihat cukup unik dan jadul tapi suasana sekitar rumahnya sangat alami di kelilingi hutan. Sementara mereka duduk di ruang tamu, si kakek masuk kedalam dan tidak lama kemudian si kakek keluar dengan membawa makanan berupa buah-buahan segar, ada pisang, anggur dan apel. “Terima kasih sudah mau bantu kakek, kalian pasti lapar, ini ada sedikit makanan buat kalian”. Ucap si kakek sambil meletakan buah itu di atas meja, setelah itu si kakek kembali masuk kedalam. Setelah si kakek masuk, dari dalam rumah terlihat ada 1 orang yang sedang berdiri di depan rumah, orang itu terlihat sedang memperhatikan mereka berlima, seperti memberi sebuah isyarat. Kalau dilihat dari penampilannya sepertinya dia adalah orang gila, pakaiannya kotor dan lusuh, rambutnya acak-acakan dan tubuhnya sangat kotor. Melihat orang itu Robi merasa kasihan, dia membawa buah beserta wadahnya keluar rumah dan menawarkan pada orang gila itu. “Pak, mau makan?” Orang itu hanya mengangguk. Robi menyodorkan wadah berisi buah itu. Ternyata, orang ini sangat kelaparan, dia memakan semua buah yang ada di wadah itu dengan rakus sampai habis. Setelah habis tiba-tiba orang itu bilang ke Robi, “Kamu dan teman-temanmu cepat turun, rumah yang kalian tempati itu bukan rumah manusia” Mendengar itu Robi tersentak, dia bertanya pada orang gila itu, “Maksudnya gimana pak?” “Kamu dan orang tua itu beda, dia dari alam lain”. Robi yang dari awal sudah beranggapan seperti itu langsung memanggil teman-temannya dan diajaknya turun, “Eh kalian semua sini, ayok lanjut jalan turun”. Mereka semua segera keluar dari rumah, “Ada apa Rob?”, tanya Fuad. “Nanti aja jelasinnya, kita langsung turun sekarang”. Ucap Robi tergesa-gesa. Tanpa banyak bertanya yang lain hanya menurut. Sebelum meninggalkan tempat ini orang gila tadi sempat memberi Robi sebatang kayu dan memintanya untuk dibawa sampai kembali di bawah. Setelah menerima kayu itu seketika Robi teringat dengan kayu yang diberi orang di pasar dieng tadi, karena kayunya ini sama persis dengan kayu itu. Robi pamit sama orang gila itu dan segera berjalan kembali ke jalur pendakian. Sesampainya di jalur pendakian sesekali yang lain bertanya pada Robi, kenapa tiba-tiba ngajak turun tanpa pamit sama si kakek. Robi hanya menjelaskan dengan singkat kalau tempat yang didatangi tadi mungkin gaib. Tanpa banyak bertanya lagi mereka segera melanjutkan perjalanan turun. Robi membawa kayu pemberian orang gila tadi sampai kembali di basecamp tepat menjelang maghrib. Sesampai di basecamp dia memberitahukan pada teman-temannya tentang perkataan orang gila tadi sekaligus menunjukan kayu pemberiannya yang ternyata itu sama persis dengan kayu pemberian orang di pasar dieng tadi. Mendengar penjelasan Robi mereka sempat tidak percaya. Untuk lebih jelasnya mereka berinisiatif untuk bertanya pada salah satu petugas pos, apakah ada warga yang tinggal di atas, dan ternyata benar, menurut penjaga pos memang tidak ada. Dari sini sudah jelas, kalau rumah dan kakek yang membawa kayu tadi adalah makhluk lain, tapi ada pertanyaan yang masih mengganjal di benak Robi. Orang gila yang memberitahu itu beneran orang apa juga makhluk halus? Tapi yaudahlah, yang penting sekarang mereka tidak ada halangan apapun dan tepat habis maghrib mereka kembali pulang dengan selamat. Selesai...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN