Seminggu kemudian..
Seperti mimpi jadi Istri kedua, Karena insiden hamil diluar Nikah. Bukan seperti ini kehidupan yang Aku inginkan tapi garis hidup membuatku mau atau tidak harus menerimanya.
Aku tinggal di Apartemen milik Pak William, Dua hari sekali Dia mengunjungiku dengan membawa makanan sehat, Buah-buaham dan Vitamin. Seperti hari ini dia Mampir ke Apartemenku setelah Jam kerja Usai.
"Mulai besok Aku tidak bisa mengunjungimu sesering biasanya, Istriku akan pulang dari Singapura" Ucap Pak William sambil merapihkan Buah di meja makan.
"Oke..Tidak masalah..Bayi ini sekarang tidak terlalu rewel, Jadi Aku bisa mandiri" Ucapku sedikit kecewa.
Hari ini Aku bekerja seperti biasa, Sekarang Aku menjadi Assisten Pak William yaitu Suamiku sendiri. Tapi semua karyawan Kantor tidak mengetahuinya termasuk Istrinya sendiri.
Hari ini Pak William tidak dikantor, sepertinya Dia menjemput Istrinya di Bandara. Aku mencoba tak peduli.
Karena sedikit mengantuk, Aku ingin meminum Kopi walahpun Pak William melarangku meminum Kaffein.
Terdengar suara pegawai wanita menggosip Ria di ruang Pantri.
"Apa kau dengar? Istri Pak William Hamil" Tanya Ela Kepada Yunita Pegawai di kantor Pak William.
"Benarkah? Kasihan mereka lama tidak mempunyai keturunan" Jawab Yunita.
Aku tersenyum kecut mendengar obrolan mereka, Karena yang hamil adalah Aku istri keduanya. Seperti menonton Telenovela saja menurutku, intrik kehidupan sedang dipermainkan sekarang.
Aku kembali ke meja kerjaku, Melirik keruangan kerja Pak William. Perasaan aneh menyergapku, Apa Aku merindukannya. Tidak..Tidak..mungkin..
Jam pulang kantor tiba, Aku bergegas pulang. Saat keluar dari Lift dan menuju lobi untuk keluar gedung, Tiba-tiba Perut terasa sakit dan karena panik Aku cepat mencari tempat duduk, Aku beristirahat untuk meredakan sakit diperutku. Jujur aku takut Janin di perutku mengalami masalah.
"Bu Emilia gak Apa-apa ?" Tanya Satpam kepadaku .
"Tidak..perutku hanya sedikit sakit" Jawabku.
"Mau saya panggil Taksi?" Tanya nya lagi.
"Baik..Silahkan" Aku sedikit takut berdiri.
Mungkin karena Aku telat makan siang, Perutku sedikit Kram. Entah kenapa Aku tidak selera makan, Biasanya Pak William yang memesan makan siangku tapi hari ini Dia lupa denganku.
"Bu Taksi nya sudah menunggu"Satpam menyadarkanku dari lamunan.
Aku berjalan pelan menuju Taksi.
*****
Hari sudah mulai Pagi, Entah kenapa Tubuhku terasa lemas dan Kram perutku masih terasa. Sepertinya Aku tidak bisa pergi bekerja hari ini, Untuk sekedar berkirim pesanpun Aku ragu pada Pak William. Dari kemarin pagi Dia seperti menghilang dan melupakan Aku yang Ibu dari Anak nya.
Aku mengirim pesan pada sekertaris Pak William jika hari ini Aku tidak bisa datang kekantor untuk bekerja, Hari ini Aku akan istrirahat seharian di kamar bahkan untuk Urusan makan Aku memesan secara Daring.
Setelah Makan pagi Aku melanjutkan Tidur dan entah berapa lama Aku tertidur dan ternyata pintu Apartemenku diketuk keras seseorang.
"Tunggu" Aku beranjak dari Ranjang pelan.
"Pak William..?"
Ternyata pak William datang saat jam kantor.
"Kenapa Kamu tidak bekerja?" Tanyanya Langsung tanpa masuk terlebih dahulu.
"Masuk Pak" Ucapku sambil masuk dan Duduk di Sofa.
"Apa kamu sakit"? Tanyanya lagi.
"Perutku sedikit Kram" Ucapku pelan.
"Apa?" Mata pak William sedikit terbuka lebar.
"Bukan kah itu hal biasa." Jawabku.
"Aku tidak peduli dengan tubuhmu tapi Aku tidak ingin karena kecerobohanmu Anakku yang belum lahir mendapat masalah" Ucap Pak William membuat hatiku terluka.
Aku terdiam mendengar ucapan Pak William, Tak terasa mataku terasa buram karena Air mata yang menggenang.
Ternyata Aku hanya alat untuk menghasilkan Anak demi membahagiankan Istri dan keluarganya.
Kram di perutku mulai terasa lagi tapi Aku menahannya.
"Bisakah Pak William pergi, Aku ingin istirahat"Ucapku dengan nada berat menahan tangis sambil beranjak dari sofa menuju ranjang.
"Tidak.." Jawabnya tegas.
"Please.." Aku memohon.
"Aku akan pergi tapi Aku ingin memastikan Bayiku sehat" Jawabnya.
"AMBIL SAJA BAYIMU" Teriakku sambil menangis.
Aku memukul Perutku keras, Benci dan rasa tak dihargai sebagai seorang perempuan membuatku nekat melukai Bayi dalam perutku.
PLAKKK..
Pak William menamparku dengan mata merah menahan marah.
"William.." Ucapku marah.
"Akh..Sakit" Tiba-tiba perutku serasa melilit di perut bawah.
"Emilia.." teriak Pak William Panik melihatku kesakitan.
"To..long..Per..gi..dari sini" Aku terbata-bata mengusir Pak William.
Memang bukan hal yang baik mengusirnya saat keadaanku seperi ini, Tapi Aku sedikit muak melihat kearogannya.
Kepalaku pusing, Pandangku buram dan Teriakan Pak William terdengar sayup.
Sepi..
*****
Aku terbangun dengan kepala Pusing dan Perut terasa Kram, Aku bingung dimana Aku sekarang.
"Kenapa Aku disini" Ucapku lirih.
Aku mencoba duduk walau masih terasa sakit di bawah perut, Terlihat Pak William tertidur di sofa. Aku masih marah padanya, Dia berani menampar dan berteriak kepadaku. Aku memandangnya benci, Aku ingin sekali pergi dan membawa bayi ini bersamaku.
Aku melepas infusan.Terlihat Darah mengalir di Bekas jarum infusan, Rasa perih tak seberapa di banding perih di hatiku akibat perlakuan "William" .
Aku mengendap-ngendap keluar dari Ruang inap ku, Masih terasa kram di perutku walaupun tidak sesakit sebelum Aku di rawat.
Baru saja Knop Pintu akan Aku buka, ternyata perawat Masuk.
"Ibu..Kenapa turun dari Ranjang, Ibu masih sakit" Ucapnya perawat perempuan.
"Em..Aku ingin memakan sesuatu, Makanya Aku ingin keluar" Aku gugup takut Pak William terbangun.
"Kenapa Kamu keras kepala Emilia?" Suara di belakang mengagetkanku.
"A..Ku..Lapar" Jawabku bohong.
"Astaga..Apa yang kamu lakukan, Darahmu menetes dilantai. Apa kamu berusaha kabur?" Tanya Pak William.
"Ti..ti ..dak..Mana mungkin Aku kabur dengan keadaan seperti ini" Ucapku cepat menutupi kebohonganku.
Pak William menarik lenganku dan menuntunku duduk di Ranjang, perawat segera memasang Infus di tanganku.
"Huh..Aku gagal kabur dari Laki-laki menyebalkan ini" Gumamku dalam hati.
Setelah selesai memasang Infus kembali, Perawat meninggalkan kami berdua.
"Apa yang kamu inginkan sebenarnya?" Tanya Pak William tiba-tiba.
"Aku bosan hidup seperti peliharaan, Kamu menganggapku seperti Sapi penghasil Anak tanpa memikirkan perasaanku" Ucapku ketus.
"Aku minta Maaf karena kasar kepadamu, Aku Kalut karena Takut Bayiku bermasalah. Aku mohon Maafkanku" Ucapnya
"Aku tidak menginginkan Bayi ini" Ucapku.
"Apa??" Pak William mendekati Ranjangku.
"Aku merasa Seperti manusia bodoh mengandung bayi ini, Pers***n dengan perjanjian Kita tentang menukar bayi ini dengan saham" Ucapku sambil mengelus perutku yang masih rata.
"Kumohon bertahanlah..Aku rela melakukan apa aja demi bayi ini" Pak William mengiba padaku.
"Baiklah..Ada syaratnya.." Jawabku.
"Apapun tolong..Aku bersedia.." Jawabnya sambil memegang tanganku.
"Aku ingin kamu menjadi suami sesungguhnya, Pulang dan tidur bersamaku sampai bayi ini lahir" Ucapku.
"Apa?Pak William Kaget.
"Please..Emilia..Jangan Egois"
"Aku tidak peduli.." Ucapku datar.
TBC...