Aku memegang dadaku melihat sosok itu. Tak terasa aku sampai terlonjak saking kagetnya. Ngapain sih di situ? Ngagetin orang saja. Kulihat Mas Bejo tengah bersedekap di depan pintu dengan pose tampannya. Badannya disandarkannya di kusen sembari melihat ke arahku. Tanpa dikageti saja jantungku udah nggak karuan rasanya, ditambah dia yang tiba-tiba saja berdiri di pintu seperti itu. Aku kembali mengatur napasku agar kembali seperti sedia kala. "Ngapain, sih, Mas kamu di situ? Bikin kaget orang saja," protesku pada makhluk yang masih bermuka datar itu. "Cuma mau memastikan saja, jika urutan wudhu kamu udah benar." "Udah bener, 'kan? Aku bisa minta hadiah lagi, dong." Aku mengucapkannya sambil ngeloyor menuju tempat untuk sholat. Aku nggak mau lihat ekspresi Mas Bejo karena takut bikin

