Kenapa rasanya begitu lama menunggu malam tiba. Aku sudah tidak sabar mendengar jawaban Mas Bejo. Kenapa dia jadi seaneh itu setelah bibir kami saling menempel seperti tadi? Kulirik ke arah jam dinding yang ada di atas televisi. "Ini masih setengah enam sore dan rasanya aku sudah mau mati karena penasaran." Kubaringkan tubuhku di atas sofa yang berada di depan TV. Aku begitu bosan saat ini. Mas Bejo tadi pamit ada urusan sebentar dan sekarang aku sendirian. Berkali-kali aku menghela napas, berharap waktu dapat berputar lebih cepat. "Mas Bejo ke mana, sih? Lama amat perginya." Seperempat jam yang lalu Mas Bejo menghidupkan mesin mobil dan berlalu meninggalkan aku sendirian di rumah. "Penting banget, ya? Mesti pergi ninggalin aku?" Hidupku tak pernah sesepi ini. Biasanya aku tidak per

