Why

1948 Kata
Sepersekian detik berikutnya, cewek yang hobinya makan salad tiap ngacir ke kantin kantor, hampir jarang banget dia order nasi padang yang padahal eunnaaakkk tenan itu, akhirnya berada di puncak kegirangannya. Ya, dia amat dengan teramat bersemangat, justru merangkul sahabatnya yang jelas udah kecekek dari tadi itu, gara-gara perayaan ‘Naiknya Status Safira Tersayang’ jadi pegawai tetap di kantor ENG Corp setelah satu tahun bekerja, malah dieuforiakan di sini. Gym. Tentu dengan serangkaian kegiatan serba angkat beban supaya strong di hari-hari stress karena harus terbiasa dengan jabatan baru yang lebih ciamik. Demi apapun, Safira makin nggak bisa napas karena cewek yang notabennenya sahabatnya ini, suka nggak kira-kira dalam urusan ‘menyayangi dengan anarkis’. Cerita Alora dengan dua pacarnya tadi terus berputar ulang dibenak Kin. Kalau memang Gray pernah bertunangan dan pertunangannya harus batal, kasihan sekali dosennya itu. Kin memang tidak mengetahui apa masalahnya, tapi tetap saja sebuah perpisahan sedikit banyak pasti akan meninggalkan luka. Masih. Jangankan pertunangan batal, putus saat berpacaran saja terasa sakit. Meskipun tidak semuanya akan terus terasa sakit, ada kalanya terasa sakit di awal, namun melegakan pada akhirnya. Apapun masalahnya, Rara jadi menaruh simpati dengan dosennya itu. Rasa simpati Rara dengan Gantari hanya bertahan beberapa hari dan digantikan dengan rasa kesal. Bagaimana tidak, Gantari tidak pernah membalas pesan Rara sekali pun. Kalau seperti ini terus bagaimana bisa Rara lulus tepat waktu. Tetapi bukan Kin namanya kalau harus menyerah. Meskipun tak kunjung dibalas, Dewangga tetap mengirimkan pesan kepada Kin dan terus berharap ada mukjizat pesannya dibalas. Tepat seminggu lamanya, akhirnya pesan Kin mendapat balasan juga. Namun bukannya senang, rasa kesal R Kin justru semakin berlipat ganda. Sejak perceraian kedua orang tuanya, Rara hampir tidak pernah kembali ke Bandung kalau bukan karena satu hari spesial. Tidak, hari itu bukanlah hari ulang tahunnya, melainkan hari ulang tahun Gray. Sesibuk apapun Kin dengan kegiatan kuliahnya, dia pasti selalu menyempatkan pulang untuk merayakan hari ulang tahun Kin. Dan tahun ini perayaannya akan sedikit berbeda karena tahun ini kemungkinan tahun terakhir Gray merayakan ulang tahunnya di Bandung, karena adiknya ini berniat untuk menyusul Rara kuliah di Jakarta. Beruntungnya Gray mau membantu Kin menyiapkan kejutan untuk Kin. Sejak pagi dua anak muda ini sudah tiba di stasiun dan akan segera berangkat menuju Bandung. Saat diperjalanan Kin hanya menatap ke arah jendela. Walau pandangannya tampak kosong. sebenarnya pikiran Kin sudah berkelana kemana-mana. Dia memikirkan bagaimana caranya dia bisa memuntahkan makanannya saat dia berada di rumah nanti. Di saat pikiran Kin sibuk menyusun rencana yang harus dilakukannya nanti saat di rumah, tiba-tiba pikirannya terusik ketika kepala Gray bersandar di bahunya. Dimitri tampak kelelahan, dia pasti sibuk latihan semalam dan pagi-pagi sekali tadi mereka sudah berangkat ke stasiun. ** Hari yang dinanti pun tiba. Sejak pagi Kin sudah masuk ke kamar anak Dewangga untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun, bedanya kalau setiap tahun Rara sudah menyiapkan kue dan kado, tahun ini Rara sengaja tidak menyiapkan apapun. Begitu juga dengan Dimitri dan kedua orang tuanya yang sudah disuruh oleh Rara untuk tidak menyiapkan kado untuk Randra. Rencana Rara berhasil. Randra terlihat agak kesal karena tidak menerima kue maupun kado seperti biasanya. Dan untuk menghibur Randra, Dimitri mengajak Randra keluar. Tentu saja Kin tidak ikut dengan berpura-pura masih lelah. Sementara Dimitri dan Randra pergi, Rara langsung menjalankan Tak lama setelah adiknya rencana. Meninggalkan rumah, Raksaka ayah Rara datang untuk membantu dia dan Vena ibunya menyiapkan kejutan untuk Randra. Disusul dengan teman-teman dekat Randra yang datang berikutnya. Setelah mendapatkan pesan dari Rara, Dimitri langsung buru-buru mengajak Randra pulang. Rasa kesal Randra semakin bertambah, padahal mereka baru saja memesan makan. Namun rasa kesal Randra tak berlangsung lama karena ketika dia pulang, rumahnya sudah ramai dengan keluarga serta teman dekatnya. "Surprise!" Teriak semua orang. Asha terperangah. la dipanggil sesore ini hanya untuk mendengar lagi ceramah tentang kartu karyawan? Astaga ... ia hanya menghilangkan kartu karyawan, bukan berlian! Namun keterkejutan Asha bertambah, saat tangah Leon mengulurkan barang yang seharian ini menjadi sumber masalah harinya. "Kok. kok ... bisa?" Asha mengerjap menatap Leon Wicaragenara tak percaya. Tidak usah banyak tanya! Cepat ambil dan ucapkan terima kasih pada Leon!" perintah Hazel pada Asha yang masih dilanda penasaran. Leon, yang tersenyum bak pahlawan kesiangan sore ini, menatap Asha seraya menahan tawa melihat raut wajah lugu adik ipar mantan kekasihnya itu. Namun senyum dan tawa yang ia tahan, seketika lenyap berganti kebingungan dan prasangka buruk saat dua tangan Asha terulur untuk menerima kartu milik gadis itu. "Hazel," panggil Leon Wicaragenara tanpa melepas tatapannya pada salah satu tangan Asha. "Gue penasaran, berapa lo gaji karyawan lo sampai mereka..." Asha Nayana dan Hazel menunggu kalimat Leon yang tertahan. Randra tidak bisa menyembunyikan rasa harunya dan langsung memeluk Rara sambil mengucapkan terima kasih. Rara membalas pelukan adiknya, dia merasa senang Randra suka dengan kejutan ulang tahun yang disiapkannya. Rara membisikkan kata terima kasih untuk Dimitri dari balik pelukan adiknya yang dijawab anggukan oleh Dimitri. Selesai acara, Rara bukannya langsung beristirahat, dia malah sibuk membereskan kamarnya karena Dimitri akan tidur bersamanya malam ini. Ini semua gara-gara Randra yang dengan tidak tahu dirinya mengajak temannya menginap. Tidak mungkin mereka tidur berdesakan di kamar Randra, jadi mau tidak mau Dimitri tidur di kamar Rara. Seharusnya tidak masalah kalau mereka masih anak- anak, tapi Rara dan Dimitri bisa dibilang sudah cukup dewasa untuk di tempatkan sekamar berdua. Mau bagaimana lagi. Sepertinya Kin terlalu cepat berbahagia. Meski pun sedang online, Gantari tak kunjung membalas pesan Kin. Jari-jemari Kin sudah gemas ingin mengespam dosennya itu, namun tentu saja Rara tidak melakukannya. Bukannya dibalas, bisa-bisa kontak Kin diblokir oleh Agrya. Menit demi menit Rara lewati dengan sabar sambil terus mengecek hpnya, melihat apakah sudah ada balasan. tidak. Mulai dari sejam-dua jam sampai akhirnya Kin tertidur karena bosan menunggu. “Lepas, tolong, aduhhh, gue tahu lo happy banget dan nggak nyangka gue bakal di titik ini. Tapi, tolong … mau minum air putih gue …” erangnya, berharap protessannya yang lebih naik satu nada itu, membuat rasa iba dan belas kasih sahabatnya bertolak kepada dirinya. Namun, yang terjadi adalah … “Sayang loooo, Safiraaaa …” Masih dengan pekikan yang 45 vibes punya. Cewek itu justru mencubit pipi Safira sampai rasanya Safira benar-benar kehabisan kata-kata untuk menghadapinya. Paling hanya suara hati menggelegar pasrah semacam, ‘Alamat, nih, gue. Balik-balik jadi pepes atau perkedel gara-gara ini makhluk,’ yang membabi buta dalam dirinya. *** “Untuk terbaiknya, saya pikir solusi yang udah pecah di awal tadi, yang udah kita rundingin 1 jam suntuk di ruang meeting sekarang, sudah bisa dipahami, ya?” Semua yang ada di ruangan tersebut pun, menunduk patuh. Di hari pertama Safira resmi bekerja sebagai supervisor, dia sudah harus menangani tugas cukup krusial, yang mana, dia harus mengevaluasi banyak kinerja error dari bawahannya. Yang tentunya juga, ini justru akan memperlambat D-Day dari deadline para client yang sudah take project dengan mereka jauh-jauh hari. Gadis itu pun, mengembuskan napas berat, mengangguk singkat, “Ya sudah, kalian boleh keluar.” “Terima kasih, Bu.” Dan, semua staff pun, segera meninggalkan ruangan. Namun, persis saat Safira hendak keluar dari pintu ruangan meeting tersebut untuk segera menyelesaikan tugas selanjutnya, dia justru dikagetkan oleh kehadiran Felly yang menghadangnya tepat di hadapannya. “Lo kenapa?” tanya Safira bingung. Sebab, untuk ukuran gadis yang cinta mati sama dunia fashion dan menganggap kalo cewek adalah icon kebersihan juga kerapian, jarang banget bahkan nggak mungkin bagi seorang Felly bakal berantakan seperti sekarang. Hingga, kalimat yang mengejutkan itu cukup untuk membuat kelopak mata Safira terbuka lebar. “Itu Saf, itu! Manager Gun mabuk berat di rumah makan Chinese! Semaleman dia mabuk karena temennya ada yang ulang tahun dan ngadain traktir di sana!” “Alamat.” Safira menggigit bibir bawah. Cemas. Pasalnya, hidup dan matinya, akan ditentukan hari itu juga. Dia pun buru-buru ambil tas dan bergerak cepat sembari dibuntuti Felly yang lebih paham lokasi kejadian utamanya di mana. “Oke, kita naik taksi sekarang,” ujar Safira memutuskan. Felly mengangguk mantap. *** Yang paling tidak mengenakkan itu adalah saat kamu tahu bahwa kamu hanyalah seonggok amatiran di jalanan, dengan fakta jika hanya kamu satu-satunya yang mampu menuntaskannya, namun, sepanjang perjalanan, yang menjadi tonggak solusi, justru korslet dan berbaring tak berdaya. “Manager Gun, kita harus segera pergi sekarang,” bujuk Safira. Yang padahal, detik itu juga, Manager Gun hanya menguap sambil berbicara omong kosong. Kepalanya di awing-awang. Jangankan berharap banyak, untuk merespon saja, rasanya mimpi yang terlalu bagus buat jadi kenyataan. Safira mendesah, gadis itu panik, “Masalahnya, Tuan, kita akan berhadapan dengan keluarga besar ternama negeri ini! Dan, satu-satunya yang pernah duduk di meja café bareng staff emasnya, hanya Manager Gun! Bagaimana mungkin meeting penting ini berjalan kalau Manager bahkan tidak bisa membalas perkataan saya?!” Namun, memang sudah menjadi nasibnya. Yang mana dalam banyaknya kasus kejadian istimewa. Semacam kalau pemimpin tak bisa hadir maka wakil lah yang akan maju, maka, di sini lah gadis berusia 25 tahun beserta staff yang bertugas itu berada. Menunduk hormat sebagai salam sekaligus perminta maafan atas bagaimana ia menaik turunkan d**a karena begitu ngos-ngosan dirinya. Gadis itu sesak, dan jauh lebih terhimpit lagi begitu laki-laki tampan berwajah sempurna itu justru memberikan kalimat sapa menyebalkan. “Jadi, apa memang begini, ya, yang dikualifikasikan perusahaan kamu? Apa mereka memang menaungi orang-orang pecinta ‘tidak tanggung jawab’?” Safira melebarkan matanya. “Bukan begitu, Tuan-” “Husssttt.” Laki-laki yang telah bangkit dari tempat duduknya itu meminta gadis itu untuk diam. Tatapan dingin mencengkram khas predator ganas kini menjelma dengan sempurna di guratan penuh kilat wajahnya yang antipasti. Dia kini melipat dua tangannya depan d**a. “Bahkan dari yang saya dengar, kamu bahkan baru hari ini menjabat menjadi supervisor bukan? Lantas kenapa di hari sepenting ini, yang kamu tahu reputasi perusahaan saya ini seperti apa, malah kamu gunakan untuk disepelekan?” Laki-laki itu mengangkat satu alisnya, meremehkan. Sungguh, Falisha ingin sekali menghajarnya detik itu juga. Kalimat menusuk penuh tuduhan menyebalkan itu cukup membuat dirinya kesal. Namun, ia tahan semua itu karena … “Sayangnya, orang yang amatir dan level rendahan macam saya ini, yang mewakilkan perusahaan bermarkas orang-orang tidak bertanggung jawab ini, sangat tahu betul, jika ada yang menuduhmu p*****r lantas kamu tersinggung padahal kamu sama sekali bukan p*****r, maka, kamu bahkan jauhhhhh lebih rendah dari status p*****r,” ungkapnya mantap. Penuh dengan kepiawaian meletakkan jeda dan penegasan yang perlu pada setiap kata. Derry, laki-laki yang berhadapan dengan Safira itu, kini, menyunggingkan senyum tipis samar berkat kenyataan kalau rupanya ada juga yang berani bermain nyali dengannya. “Astagaaa, kamu lihat itu?” “Iya, tentu saja, aku lihat.” “Itu kali pertama aku lihat Tuan Derry terdiam atas argument seseorang.” “Gadis itu sungguh cari mati.” Namun, Safira sama sekali tak menggubris sepersekian gunjingan penuh bisik yang objek utamanya adalah tentang dirinya dan laki-laki ini. “Jadi … saya bisa mulai presentasinya, kan?” Untuk kali pertama sepanjang hidup Derry, dia tak pernah tidak mengepalkan tangannya di saat laki-laki itu marah. Namun, entah mengapa gadis ini rasa-rasanya lebih pantas masuk ke kotak box ; pengecualian. Apa, ya, mudahnya? Mungkin, Derrry tertarik? ‘Tidak mungkin,’ desisnya dalam hati. Ia menaikkan satu sudut bibirnya. Bab 2. Menarik “Jadi, untuk properti yang akan disediakan di kompleks mewah berbasis teknologi dan seni sebagai escape orang-orang urban, ini adalah model contohnya. Perusahaan kami telah menyediakan beberapa referensi-referensi motif yang disukai untuk diaplikasikan sebagai detail pemercantik bangunan.” Suara Safira turun rendah meliuk di antara keheningan yang tengah memperhatikannya. Semua kata-kata yang keluar dari bibir gadis itu begitu terstruktur dan nyaris sempurna sangat berkelas hingga rasa-rasanya, hampir semua ide yang beraliran, rasa-rasanya begitu digarap dengan sangat serius. Derry merasa dirinya kelu. Tapi, kepalanya tak bisa berhenti memanah banyak pertanyaan terutama soal bagaimana meruntuhkan gadis itu agar berada dalam kondisi ‘tunduk’ di bawah kungkungan egonya. Namun, sepertinya gadis ini berbeda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN