Banyak

1936 Kata
Bisa ia balas. "Jalang." lanjutnya dengan tajam. Dan tentu saja satu kata yang meluncur dari mulut Kai itu mendapatkan pukulan telak di rahangnya, dari Bian. Berdasarkan keputusan yang diambilnya untuk pergi ke kampung kakek-nenek dari ibunya tersebut Krystal bersiap pergi ke stasiun pagi hari. Setelah kemarin ia mengundurkan diri dari tempat kerjanya karena Krystal akan lama tinggal di rumah kakek- neneknya dan bekerja disana. Jadi untuk apa ia masih mempertahankan pekerjaannya disini? Pengumuman untuk kereta yang berangkat dari Jakarta ke Brebes berbunyi hampir di semua pengeras suara yang berada di stasiun. Krystal yang mendengar itu segera masuk ke dalam kereta yang sudah ia pesan. Dengan cepat ia menaruh barang bawaannya diatas dan mendudukkan dirinya di kursi penumpang. Perjalanan ini akan memakan waktu yang cukup lama, jadi Krystal juga sudah menyiapkan cemilan untuk ia makan selama perjalanan, meskipun ia tidak tau itu akan benar- benar masuk atau hanya numpang lewat saja di tenggorokan. 98 Krystal membuka snack yang dibawanya dan memakannya dengan tenang. Untung saja, anaknya Setelah sedang mau berkompromi sekarang. kantuk kenyang makanan, dengan rasa menghampiri Krystal dan membuat perempuan itu tidur dengan tenang didalam kereta. Sampai ia terbangun karena orang yang duduk disampingnya menepuk bahu Krystal pelan. "Maaf mba, sudah sampai." ucap perempuan yang duduk disebelahnya *** menepuk bahu Krystal pelan. "Maaf mba, sudah sampai." ucap perempuan yang duduk disebelahnya ketika Krystal sudah membuka mata. "Oh iya, terimakasih." Krystal tersenyum ramah pada perempuan tadi dan segera berdiri untuk mengambil barangnya. Baru saja Krystal keluar dari kereta dan berjalan keluar stasiun untuk memesan ojek online agar bisa melanjutkan perjalannya menuju ke kampung tempat tinggalnya dulu, ponsel Krystal berdering menampilkan panggilan masuk. Ambar is calling.... "Halo, Mbar?" "Lo dimana sekarang?" suara Ambar terdengar buru-buru. "Di stasiun." jawab Krystal memindahkan letak ponselnya agar lebih mudah ia genggam. "Stasiun mana? Gue susul sekarang." 99 "Di Brebes." "Hah?! Lo ke Brebes? Kerumah nenek lo?" Ambar malah terdengar panik. Krystal tersenyum, ia lupa mengabari Ambar jadi tentu saja perempuan itu kaget dengan pernyataannya barusan. "Iya gue di Brebes sekarang." "Pulang, Tal."nada suaranya tiba-tiba menjadi serius dan penuh ketegasan. Seakan-akan apa yang Ambar minta sekarang harus segera dilakukan. "Apa yang lo lakuin ke gue ini, ga akan bisa lo bayar dengan mudahnya pake kata maaf." ketus Krystal. "Kalo gitu.. Lo minta berapapun ke gue, gue pasti bakal kasih ke lo." Untuk kedua kalinya Kai mendapatkan tamparan keras dari Krystal dengan amarah yang memuncak. Rupanya laki-laki itu belum puas dengan tamparan pertama Krystal di pipinya. Bian yang mendengar tamparan suara walaupun cukup pelan terdengar ditelinga disela- sela lagu Taylor Swift yang sedang berputar mengisi earphone nya membuat laki-laki itu melepaskan benda tersebut dan melihat Kai yang sedang menunduk memegangi pipinya. Begitupula Krystal Dina yang sangat terkejut melihat menampar pria yang berbicara dengannya. "Berapa kali gue bilang, kalo gue bukan perempuan murahan?" ucap Krystal dengan wajahnya yang memerah menahan tangis dan sesak didadanya. "Mendingan lo bawa pulang orang ini, gue muak liatnya." Tambah Krystal menatap Bian. Cerita Alora dengan dua pacarnya tadi terus berputar ulang dibenak Kin. Kalau memang Gray pernah bertunangan dan pertunangannya harus batal, kasihan sekali dosennya itu. Kin memang tidak mengetahui apa masalahnya, tapi tetap saja sebuah perpisahan sedikit banyak pasti akan meninggalkan luka. Masih. Jangankan pertunangan batal, putus saat berpacaran saja terasa sakit. Meskipun tidak semuanya akan terus terasa sakit, ada kalanya terasa sakit di awal, namun melegakan pada akhirnya. Apapun masalahnya, Rara jadi menaruh simpati dengan dosennya itu. Rasa simpati Rara dengan Gantari hanya bertahan beberapa hari dan digantikan dengan rasa kesal. Bagaimana tidak, Gantari tidak pernah membalas pesan Rara sekali pun. Kalau seperti ini terus bagaimana bisa Rara lulus tepat waktu. Tetapi bukan Kin namanya kalau harus menyerah. Meskipun tak kunjung dibalas, Dewangga tetap mengirimkan pesan kepada Kin dan terus berharap ada mukjizat pesannya dibalas. Tepat seminggu lamanya, akhirnya pesan Kin mendapat balasan juga. Namun bukannya senang, rasa kesal R Kin justru semakin berlipat ganda. Sejak perceraian kedua orang tuanya, Rara hampir tidak pernah kembali ke Bandung kalau bukan karena satu hari spesial. Tidak, hari itu bukanlah hari ulang tahunnya, melainkan hari ulang tahun Gray. Sesibuk apapun Kin dengan kegiatan kuliahnya, dia pasti selalu menyempatkan pulang untuk merayakan hari ulang tahun Kin. Dan tahun ini perayaannya akan sedikit berbeda karena tahun ini kemungkinan tahun terakhir Gray merayakan ulang tahunnya di Bandung, karena adiknya ini berniat untuk menyusul Rara kuliah di Jakarta. Beruntungnya Gray mau membantu Kin menyiapkan kejutan untuk Kin. Sejak pagi dua anak muda ini sudah tiba di stasiun dan akan segera berangkat menuju Bandung. Saat diperjalanan Kin hanya menatap ke arah jendela. Walau pandangannya tampak kosong. sebenarnya pikiran Kin sudah berkelana kemana-mana. Dia memikirkan bagaimana caranya dia bisa memuntahkan makanannya saat dia berada di rumah nanti. Di saat pikiran Kin sibuk menyusun rencana yang harus dilakukannya nanti saat di rumah, tiba-tiba pikirannya terusik ketika kepala Gray bersandar di bahunya. Dimitri tampak kelelahan, dia pasti sibuk latihan semalam dan pagi-pagi sekali tadi mereka sudah berangkat ke stasiun. ** Hari yang dinanti pun tiba. Sejak pagi Kin sudah masuk ke kamar anak Dewangga untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun, bedanya kalau setiap tahun Rara sudah menyiapkan kue dan kado, tahun ini Rara sengaja tidak menyiapkan apapun. Begitu juga dengan Dimitri dan kedua orang tuanya yang sudah disuruh oleh Rara untuk tidak menyiapkan kado untuk Randra. Rencana Rara berhasil. Randra terlihat agak kesal karena tidak menerima kue maupun kado seperti biasanya. Dan untuk menghibur Randra, Dimitri mengajak Randra keluar. Tentu saja Kin tidak ikut dengan berpura-pura masih lelah. Sementara Dimitri dan Randra pergi, Rara langsung menjalankan Tak lama setelah adiknya rencana. Meninggalkan rumah, Raksaka ayah Rara datang untuk membantu dia dan Vena ibunya menyiapkan kejutan untuk Randra. Disusul dengan teman-teman dekat Randra yang datang berikutnya. Setelah mendapatkan pesan dari Rara, Dimitri langsung buru-buru mengajak Randra pulang. Rasa kesal Randra semakin bertambah, padahal mereka baru saja memesan makan. Namun rasa kesal Randra tak berlangsung lama karena ketika dia pulang, rumahnya sudah ramai dengan keluarga serta teman dekatnya. "Surprise!" Teriak semua orang. Asha terperangah. la dipanggil sesore ini hanya untuk mendengar lagi ceramah tentang kartu karyawan? Astaga ... ia hanya menghilangkan kartu karyawan, bukan berlian! Namun keterkejutan Asha bertambah, saat tangah Leon mengulurkan barang yang seharian ini menjadi sumber masalah harinya. "Kok. kok ... bisa?" Asha mengerjap menatap Leon Wicaragenara tak percaya. Tidak usah banyak tanya! Cepat ambil dan ucapkan terima kasih pada Leon!" perintah Hazel pada Asha yang masih dilanda penasaran. Leon, yang tersenyum bak pahlawan kesiangan sore ini, menatap Asha seraya menahan tawa melihat raut wajah lugu adik ipar mantan kekasihnya itu. Namun senyum dan tawa yang ia tahan, seketika lenyap berganti kebingungan dan prasangka buruk saat dua tangan Asha terulur untuk menerima kartu milik gadis itu. "Hazel," panggil Leon Wicaragenara tanpa melepas tatapannya pada salah satu tangan Asha. "Gue penasaran, berapa lo gaji karyawan lo sampai mereka..." Asha Nayana dan Hazel menunggu kalimat Leon yang tertahan. Randra tidak bisa menyembunyikan rasa harunya dan langsung memeluk Rara sambil mengucapkan terima kasih. Rara membalas pelukan adiknya, dia merasa senang Randra suka dengan kejutan ulang tahun yang disiapkannya. Rara membisikkan kata terima kasih untuk Dimitri dari balik pelukan adiknya yang dijawab anggukan oleh Dimitri. Selesai acara, Rara bukannya langsung beristirahat, dia malah sibuk membereskan kamarnya karena Dimitri akan tidur bersamanya malam ini. Ini semua gara-gara Randra yang dengan tidak tahu dirinya mengajak temannya menginap. Tidak mungkin mereka tidur berdesakan di kamar Randra, jadi mau tidak mau Dimitri tidur di kamar Rara. Seharusnya tidak masalah kalau mereka masih anak- anak, tapi Rara dan Dimitri bisa dibilang sudah cukup dewasa untuk di tempatkan sekamar berdua. Mau bagaimana lagi. Sepertinya Kin terlalu cepat berbahagia. Meski pun sedang online, Gantari tak kunjung membalas pesan Kin. Jari-jemari Kin sudah gemas ingin mengespam dosennya itu, namun tentu saja Rara tidak melakukannya. Bukannya dibalas, bisa-bisa kontak Kin diblokir oleh Agrya. Menit demi menit Rara lewati dengan sabar sambil terus mengecek hpnya, melihat apakah sudah ada balasan. tidak. Mulai dari sejam-dua jam sampai akhirnya Kin tertidur karena bosan menunggu. Bian mengangguk dan memegang lengan Kai, bersiap menyeret sahabatnya untuk masuk kedalam mobil segera meninggalkan tempat Krystal. Tapi Kairan tetap Kairan, ia akan bersikukuh selama apa yang ia tuju belum tersampai. 97 "Gue bakal nafkahin lo selama lo hidup, gue tau lo ga bisa nolak ini karena lo butuh duit gue.." ucap Kai terburu emosi akibat tamparan yang tidak pantas. Tapi, Dewangga nggak menggubris. Dia malah lanjut bilang, "Karena sudah lengkap, ayo kita mulai makannya," kata Dewangga, lalu Orlin yang lagi aktif-aktifnya belajar banyak hal pun memimpin mereka dalam doa makan lalu mereka mulai makan siang. Kin pun memperhatikan kalau makanan hari ini adalah menu kesukaan seisi rumah. Ada udang goreng telur asin, pari bakar, cumi goreng tepung, dan tumis kangkung. Terutama, Orlin, dia pasti sangat menantikan makan siang ini, karena semua anggota keluarga sibuk dari senin sampai sabtu, sehingga jarang bertemu. Dewangga menanyakan tentang Kin yang masih kerja sama Mbak Ser dan juga teman sial bodoh yang suka Kin buat emosi, Alora, dan juga mengenai pekerjaan dan studi mereka, lalu sekolah si Orlin. Terakhir, dia ujung-ujungnya sibuk juga sama laptop yang udah kayak ayangbebnya. "Terus, bagaimana dengan perusahaan yang kata Alora kamu bahkan diterima tiga kali di sana?" tanya Dewangga. Kin hampir mengumpat. Masalahnya, perusahaan itu, tuh, Graydebara Bos m***m. Tentu, akan bikin perang dunia ketiga kalau sampai Kin masuk ke sana. Apalagi kelakuan nggak ada kelakuan si Bosnya. Apa nggak bikin Kin makin ngerasain neraka? Bareng Dewangga aja, dia ngerasa sial banget. Apalagi ditambah Graydebara. Yang ada, berabe dia. "Ah, itu, mah, nggak usah dipikirin, Tu—eh … Mas Dewangga." Kin nyengir, jatuhnya meringis, sih, namun, yang jelas, itu senyuman yang super creepy. "Toh, juga, se-oke okenya juga, Si Kanjeng Ndoro Bos, makin rame, juga bakalan ada niatan merenovasinya supaya bisa menampung lebih banyak orang. Kan, Mas Dewangga Tercinta juga tahu betapa nggak love-nya saya sama ruangan minimize," jawab Kin. Tuan Dewangga mengangguk-angguk. Untung aja jiwa keponya, tuh, cowok nggak membara. "Ah, Lagian … Papi tanyanya yang mau nampung Mama melulu. Tanyanya kapan Mama mau jadi anak buah Papi, dong. Mama, kan, juga baik sama Orlin," keluh Orlin bikin 1000 watt Kin nyala gitu aja. "Wihhh … makin jago aja Inggrisnyeee …" Kin malah hepi. "Nih, tambah makan dulu. Makannnn …" Tapi, Orlin tetap berada pada jalan yang harus ia perjuangkan. Meski, mulutnya penuh dengan makanan, dia tetap fokus pada protesnya. "Apa jangan-jangan Papi tidak pernah mengenalkan perusahaan Papi dan Om Sekertaris ke Mami, ya? Papi, jangan begitu, Papi. Papi harus berbagi. Kan, lagian … yang namanya Papi Mami, tuh, harus selalu bersama." Lihat, Orlin saja merajuk. "Orlin, bukan Papi kamu yang salah, sayang, tapi Mami kamu. " "Hooh." Giliran beginian punya, Kin tentu saja bisa diajak bekerja sama. Sebab, dia sangat nggak mau diatur Dewangga kalau di kantor. Cukup di rumah saja, dia bahkan kehilangan kendali untuk tubuhnya. Adeeehhh … itu aja bikin kepalanya stress. "Tenang aja, sayang, Papi kamu juga sudah kenalin ke Mami empat wanita yang—aww!!," jawab Flo enteng, walau pun jantungnya sudah berdegup kencang karena tiba-tiba diinjek gitu aja kaki indahnya. Kin membenci keadaan ini. "Nanti Orlin ngira bapaknya pemangsa, ente, kan, nggak mau tanggung jawab ngurusin image ai …" Gitu, sih, protes dari tatapan matanya. Itu membuat Kin makin emosi. "Ah, iya, pokoknya, itu Orlin sayang …" Kin mengangguk-angguk sampai matanya jadi cuman segaris. "Papi sama Mami kamu sudah lebih dekat dari itu sayang." *** "Vendra, Jerry, Yelix, dan Ananta itu mantan kamu semua, Alora. Beda." "Yang penting, kan, aku nggak dimanfaatin sama mereka, kan? Artinya, aku udah bisa memilih lelaki mana yang baik buat diriku." Agrya dan Kin pun memutar bola mata. By the way, mereka lagi ngumpul di kosan tempat Alora dan Kin dulu bareng. Ngobrol bareng kebetulan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN