“What a amaizing!” seru Felly begitu memekakkan telinga.
Sepersekian detik berikutnya, cewek yang hobinya makan salad tiap ngacir ke kantin kantor, hampir jarang banget dia order nasi padang yang padahal eunnaaakkk tenan itu, akhirnya berada di puncak kegirangannya.
Ya, dia amat dengan teramat bersemangat, justru merangkul sahabatnya yang jelas udah kecekek dari tadi itu, gara-gara perayaan ‘Naiknya Status Safira Tersayang’ jadi pegawai tetap di kantor ENG Corp setelah satu tahun bekerja, malah dieuforiakan di sini. Gym.
Tentu dengan serangkaian kegiatan serba angkat beban supaya strong di hari-hari stress karena harus terbiasa dengan jabatan baru yang lebih ciamik.
Demi apapun, Safira makin nggak bisa napas karena cewek yang notabennenya sahabatnya ini, suka nggak kira-kira dalam urusan ‘menyayangi dengan anarkis’.
Kalau semudah itu, mungkin pagi-pagi buta aku sudah ada di
antrean paling depan bengkel.
Kalau ada yang menyayangkan kenapa aku nggak
menyatakan perasaanku sebelum Arga melamar Karin,
mungkin memang harus kuakui sebagai kesalahanku.
Sebelum dengan Karin, Arga sudah beberapa kali pacaran.
Selama itu, aku nggak pernah merasa insecure. Aku tahu
Arga nggak pernah serius dengan hubungannya. Dia masuk
kategori cowok yang menyadari: gue-tahu-gue-ganteng-dan-
belum-ada-niat-mau-serius. Dia sendiri yang bilang saat aku
mencibir hobinya berganti pasangan dalam waktu singkat.
That's why, ketika suatu hari dia bilang dia punya pacar baru
bernama Karin, aku pun nggak terlalu ambil pusing.
Kalau seperti ini terus bagaimana bisa Rara lulus tepat waktu.
Tetapi bukan Kin namanya kalau harus menyerah.
Meskipun tak kunjung dibalas, Dewangga tetap mengirimkan pesan kepada Kin dan terus berharap ada mukjizat pesannya dibalas.
Tepat seminggu lamanya, akhirnya pesan Kin mendapat balasan juga. Namun bukannya senang, rasa kesal R Kin justru semakin berlipat ganda.
Tentu saja Kin tidak ikut dengan berpura-pura masih lelah.
Sementara Dimitri dan Randra pergi, Rara langsung menjalankan
Tak lama setelah adiknya rencana. Meninggalkan rumah, Raksaka ayah Rara datang untuk membantu dia dan Vena ibunya menyiapkan kejutan untuk Randra. Disusul dengan teman-teman dekat Randra yang datang berikutnya.
Setelah mendapatkan pesan dari Rara, Dimitri langsung buru-buru mengajak Randra pulang. Rasa kesal Randra semakin bertambah, padahal mereka baru saja memesan makan. Namun rasa kesal Randra tak berlangsung lama karena ketika dia pulang, rumahnya sudah ramai dengan keluarga serta teman dekatnya.
"Surprise!" Teriak semua orang.
Asha terperangah. la dipanggil sesore ini hanya untuk
mendengar lagi ceramah tentang kartu karyawan? Astaga ... ia hanya
menghilangkan kartu karyawan, bukan berlian! Namun keterkejutan
Asha bertambah, saat tangah Leon mengulurkan barang yang
seharian ini menjadi sumber masalah harinya.
"Kok. kok ... bisa?" Asha mengerjap menatap Leon Wicaragenara tak percaya.
Tidak usah banyak tanya! Cepat ambil dan ucapkan terima
Selesai acara, Rara bukannya langsung beristirahat, dia malah sibuk membereskan kamarnya karena Dimitri akan tidur bersamanya malam ini. Ini semua gara-gara Randra yang dengan tidak tahu dirinya mengajak temannya menginap. Tidak mungkin mereka tidur berdesakan di kamar
Randra, jadi mau tidak mau Dimitri tidur di kamar Rara.
kasih pada Leon!" perintah Hazel pada Asha yang masih dilanda penasaran.
Leon, yang tersenyum bak pahlawan kesiangan sore ini,
menatap Asha seraya menahan tawa melihat raut wajah lugu adik
ipar mantan kekasihnya itu. Namun senyum dan tawa yang ia tahan,
seketika lenyap berganti kebingungan dan prasangka buruk saat dua
tangan Asha terulur untuk menerima kartu milik gadis itu.
"Hazel," panggil Leon Wicaragenara tanpa melepas tatapannya pada salah satu tangan Asha.
"Gue penasaran, berapa lo gaji karyawan lo sampai mereka..."
Sejak perceraian kedua orang tuanya, Rara hampir tidak pernah kembali ke Bandung kalau bukan karena satu hari spesial. Tidak, hari itu bukanlah hari ulang tahunnya, melainkan hari ulang tahun Gray.
Sesibuk apapun Kin dengan kegiatan kuliahnya, dia pasti selalu menyempatkan pulang untuk merayakan hari ulang tahun Kin. Dan tahun ini perayaannya akan sedikit berbeda karena tahun ini kemungkinan tahun terakhir Gray merayakan ulang tahunnya di Bandung, karena adiknya ini berniat untuk menyusul Rara kuliah di Jakarta.
Beruntungnya Gray mau membantu Kin menyiapkan kejutan untuk Kin. Sejak pagi dua anak muda ini sudah tiba di stasiun dan akan segera berangkat menuju Bandung.
Saat diperjalanan Kin hanya menatap ke arah jendela.
Tapi, Dewangga nggak menggubris. Dia malah lanjut bilang, "Karena sudah lengkap, ayo kita mulai makannya," kata Dewangga, lalu Orlin yang lagi aktif-aktifnya belajar banyak hal pun memimpin mereka dalam doa makan lalu mereka mulai makan siang.
Kin pun memperhatikan kalau makanan hari ini adalah menu kesukaan seisi rumah. Ada udang goreng telur asin, pari bakar, cumi goreng tepung, dan tumis kangkung. Terutama, Orlin, dia pasti sangat menantikan makan siang ini, karena semua anggota keluarga sibuk dari senin sampai sabtu, sehingga jarang bertemu.
Dewangga menanyakan tentang Kin yang masih kerja sama Mbak Ser dan juga teman sial bodoh yang suka Kin buat emosi, Alora, dan juga mengenai pekerjaan dan studi mereka, lalu sekolah si Orlin. Terakhir, dia ujung-ujungnya sibuk juga sama laptop yang udah kayak ayangbebnya.
"Terus, bagaimana dengan perusahaan yang kata Alora kamu bahkan diterima tiga kali di sana?" tanya Dewangga.
Kin hampir mengumpat. Masalahnya, perusahaan itu, tuh, Graydebara Bos m***m. Tentu, akan bikin perang dunia ketiga kalau sampai Kin masuk ke sana. Apalagi kelakuan nggak ada kelakuan si Bosnya.
Apa nggak bikin Kin makin ngerasain neraka?
Bareng Dewangga aja, dia ngerasa sial banget.
Apalagi ditambah Graydebara.
Yang ada, berabe dia.
"Ah, itu, mah, nggak usah dipikirin, Tu—eh … Mas Dewangga." Kin nyengir, jatuhnya meringis, sih, namun, yang jelas, itu senyuman yang super creepy. "Toh, juga, se-oke okenya juga, Si Kanjeng Ndoro Bos, makin rame, juga bakalan ada niatan merenovasinya supaya bisa menampung lebih banyak orang. Kan, Mas Dewangga Tercinta juga tahu betapa nggak love-nya saya sama ruangan minimize," jawab Kin. Tuan Dewangga mengangguk-angguk. Untung aja jiwa keponya, tuh, cowok nggak membara.
"Ah, Lagian … Papi tanyanya yang mau nampung Mama melulu. Tanyanya kapan Mama mau jadi anak buah Papi, dong. Mama, kan, juga baik sama Orlin," keluh Orlin bikin 1000 watt Kin nyala gitu aja.
Deg.
"Orlinnnn …." tegur Dewangga, tahu kalau ini adalah topik yang aneh buat jadi kenyataan untuk putri si Kin memilih hal tersebut. Lagi pula, itu berbahaya. ‘Bisa mateng gue deket sama dia, bukannya bantuin, yang ada protes system mulu’. Tapi bukan Dewangga namanya kalau semudah itu menyerah.
"Ini serius, Papi. Very very important topic."
"Wihhh … makin jago aja Inggrisnyeee …" Kin malah hepi. "Nih, tambah makan dulu. Makannnn …"
Who knows that person could change in an instant?
Namun, mungkin itu kesalahan terbesar yang pernah
kulakukan dan malam ini kuputuskan untuk tidak
mengingatnya lagi. Lagi pula, it won't change anything,
right? Aku hanya harus fokus sama hal yang lebih penting
yaitu bersikap seperti biasanya Alya kepada Arga sembari
menyembuhkan luka diam-diam
"KADANG gue nggak habis pikir, Al. Cewek yang cantiknya
ampun-ampunan kayak lo, banyak duit, pinter, kenapa malah
experiencing one sided love kayak gini?"
Aku tersenyum tipis ke arah Fanny, sahabat sekaligus satu-
satunya orang yang tahu perasaanku soal ini. "Emang nggak
boleh? Lagian, lo terlalu melebih-lebihkan"
Gue itu ngomong apa adanya, Alyanata. Harusnya cewek
kayak lo itu live happily ever after sama pangeran dari mana
gitu. Bukan kayak gini. And I almost believe that Arga is the one
Jor you"
Gue nggak seberuntung princes-princess Disney, Fan. I'im
not one of them," ujarku geli sekaligus miris.
Can't you do something for yourself"
"Do what?
"Stealing that damn ring from her jawab Fanny dengan
mulutnya yang being well-known as nyablak.
Oh, seriously?" Aku memutar mata. "Gue nggak akan
semenyedihkan itu, kok.
"Already, Darling Kalau nggak, lo sekarang udah di Westin,
dinner bareng Arga dan juga Karin. Nyatanya, lo sekarang di
Monty's, bareng gue.
Alasanku memilih dinner bersama Fanny karena kemarin
Arga mengajakku makan malam bareng Karin. Katanya, aku
sudah berjasa banyak dalam hubungan mereka, jadi anggap
saja sebagai ucapan terima kasih.
Berjasa, my ass. Berjasa dalam mendoakan supaya mereka
putus dan Arga bisa suka sama aku sih iya.
Aku ingat pertama kali ke sini bareng Arga. Waktu itu
aku belum lama ditempatkan di divisiku sekarang. Arga yang
langsung bisa cepat akrab denganku, mengajakku kemari
Mungkin itu pertama kalinya aku sadar akan cocok dengan
orang itu. Melihat Arga terkadang membuatku merasa
seperti melihat diriku sendiri. Mulai dari bicara soal risk
management dan segala perhitungannya yang njelimet, sampai
membahas film favorit masing-masing. That's the beginning
of our friendship. Yang aku ingat, tempat ini jadi salah satu
tempat nongkrong favorit kami.
gitu. Bukan kayak gini. And I almost believe that Arga is the one
Jor you"
Gue nggak seberuntung princes-princess Disney, Fan. I'im
not one of them," ujarku geli sekaligus miris.
Can't you do something for yourself"
"Do what?
"Stealing that damn ring from her jawab Fanny dengan
mulutnya yang being well-known as nyablak.
Oh, seriously?" Aku memutar mata. "Gue nggak akan
semenyedihkan itu, kok.
"Already, Darling Kalau nggak, lo sekarang udah di Westin,
dinner bareng Arga dan juga Karin. Nyatanya, lo sekarang di
Monty's, bareng gue.
Alasanku memilih dinner bersama Fanny karena kemarin
Arga mengajakku makan malam bareng Karin. Katanya, aku
sudah berjasa banyak dalam hubungan mereka, jadi anggap
saja sebagai ucapan terima kasih.
Berjasa, my ass. Berjasa dalam mendoakan supaya mereka
putus dan Arga bisa suka sama aku sih iya.
Aku ingat pertama kali ke sini bareng Arga. Waktu itu
aku belum lama ditempatkan di divisiku sekarang. Arga yang
langsung bisa cepat akrab denganku, mengajakku kemari
Mungkin itu pertama kalinya aku sadar akan cocok dengan
orang itu. Melihat Arga terkadang membuatku merasa
seperti melihat diriku sendiri. Mulai dari bicara soal risk
management dan segala perhitungannya yang njelimet, sampai
membahas film favorit masing-masing. That's the beginning
of our friendship. Yang aku ingat, tempat ini jadi salah satu
tempat nongkrong favorit kami.
Kalau semudah itu, mungkin pagi-pagi buta aku sudah ada di
antrean paling depan bengkel.
Kalau ada yang menyayangkan kenapa aku nggak
menyatakan perasaanku sebelum Arga melamar Karin,
mungkin memang harus kuakui sebagai kesalahanku.
Sebelum dengan Karin, Arga sudah beberapa kali pacaran.
Selama itu, aku nggak pernah merasa insecure. Aku tahu
Arga nggak pernah serius dengan hubungannya. Dia masuk
kategori cowok yang menyadari: gue-tahu-gue-ganteng-dan-
belum-ada-niat-mau-serius. Dia sendiri yang bilang saat aku
mencibir hobinya berganti pasangan dalam waktu singkat.
That's why, ketika suatu hari dia bilang dia punya pacar baru
bernama Karin, aku pun nggak terlalu ambil pusing.
Who knows that person could change in an instant?
Namun, mungkin itu kesalahan terbesar yang pernah
kulakukan dan malam ini kuputuskan untuk tidak
mengingatnya lagi. Lagi pula, it won't change anything,
right? Aku hanya harus fokus sama hal yang lebih penting
yaitu bersikap seperti biasanya Alya kepada Arga sembari
menyembuhkan luka diam-diam
"KADANG gue nggak habis pikir, Al. Cewek yang cantiknya
ampun-ampunan kayak lo, banyak duit, pinter, kenapa malah
experiencing one sided love kayak gini?"
Aku tersenyum tipis ke arah Fanny, sahabat sekaligus satu-
satunya orang yang tahu perasaanku soal ini. "Emang nggak
boleh? Lagian, lo terlalu melebih-lebihkan"
Gue itu ngomong apa adanya, Alyanata. Harusnya cewek
kayak lo itu live happily ever after sama pangeran dari mana
gitu. Bukan kayak gini. And I almost believe that Arga is the one
Jor you"
Gue nggak seberuntung princes-princess Disney, Fan. I'im
not one of them," ujarku geli sekaligus miris.
Can't you do something for yourself"
"Do what?
"Stealing that damn ring from her jawab Fanny dengan
mulutnya yang being well-known as nyablak.
Oh, seriously?" Aku memutar mata. "Gue nggak akan
semenyedihkan itu, kok.
"Already, Darling Kalau nggak, lo sekarang udah di Westin,
dinner bareng Arga dan juga Karin. Nyatanya, lo sekarang di
Monty's, bareng gue.
Alasanku memilih dinner bersama Fanny karena kemarin
Arga mengajakku makan malam bareng Karin. Katanya, aku
sudah berjasa banyak dalam hubungan mereka, jadi anggap
saja sebagai ucapan terima kasih.
“Jadi, untuk properti yang akan disediakan di kompleks mewah berbasis teknologi dan seni sebagai escape orang-orang urban, ini adalah model contohnya. Perusahaan kami telah menyediakan beberapa referensi-referensi motif yang disukai untuk diaplikasikan sebagai detail pemercantik bangunan.”
Suara Safira turun rendah meliuk di antara keheningan yang tengah memperhatikannya.
Semua kata-kata yang keluar dari bibir gadis itu begitu terstruktur dan nyaris sempurna sangat berkelas hingga rasa-rasanya, hampir semua ide yang beraliran, rasa-rasanya begitu digarap dengan sangat serius.
Derry merasa dirinya kelu.
Tapi, kepalanya tak bisa berhenti memanah banyak pertanyaan terutama soal bagaimana meruntuhkan gadis itu agar berada dalam kondisi ‘tunduk’ di bawah kungkungan egonya.
Namun, sepertinya gadis ini berbeda.
Dia sungguh bukan jenis gadis yang akan