Belive

2034 Kata
Kalau semudah itu, mungkin pagi-pagi buta aku sudah ada di antrean paling depan bengkel. Kalau ada yang menyayangkan kenapa aku nggak menyatakan perasaanku sebelum Arga melamar Karin, mungkin memang harus kuakui sebagai kesalahanku. Sebelum dengan Karin, Arga sudah beberapa kali pacaran. Selama itu, aku nggak pernah merasa insecure. Aku tahu Arga nggak pernah serius dengan hubungannya. Dia masuk kategori cowok yang menyadari: gue-tahu-gue-ganteng-dan- belum-ada-niat-mau-serius. Dia sendiri yang bilang saat aku mencibir hobinya berganti pasangan dalam waktu singkat. That's why, ketika suatu hari dia bilang dia punya pacar baru bernama Karin, aku pun nggak terlalu ambil pusing. Kalau seperti ini terus bagaimana bisa Rara lulus tepat waktu. Tetapi bukan Kin namanya kalau harus menyerah. Meskipun tak kunjung dibalas, Dewangga tetap mengirimkan pesan kepada Kin dan terus berharap ada mukjizat pesannya dibalas. Tepat seminggu lamanya, akhirnya pesan Kin mendapat balasan juga. Namun bukannya senang, rasa kesal R Kin justru semakin berlipat ganda. Tentu saja Kin tidak ikut dengan berpura-pura masih lelah. Sementara Dimitri dan Randra pergi, Rara langsung menjalankan Tak lama setelah adiknya rencana. Meninggalkan rumah, Raksaka ayah Rara datang untuk membantu dia dan Vena ibunya menyiapkan kejutan untuk Randra. Disusul dengan teman-teman dekat Randra yang datang berikutnya. Setelah mendapatkan pesan dari Rara, Dimitri langsung buru-buru mengajak Randra pulang. Rasa kesal Randra semakin bertambah, padahal mereka baru saja memesan makan. Namun rasa kesal Randra tak berlangsung lama karena ketika dia pulang, rumahnya sudah ramai dengan keluarga serta teman dekatnya. "Surprise!" Teriak semua orang. Asha terperangah. la dipanggil sesore ini hanya untuk mendengar lagi ceramah tentang kartu karyawan? Astaga ... ia hanya menghilangkan kartu karyawan, bukan berlian! Namun keterkejutan Asha bertambah, saat tangah Leon mengulurkan barang yang seharian ini menjadi sumber masalah harinya. "Kok. kok ... bisa?" Asha mengerjap menatap Leon Wicaragenara tak percaya. Tidak usah banyak tanya! Cepat ambil dan ucapkan terima Selesai acara, Rara bukannya langsung beristirahat, dia malah sibuk membereskan kamarnya karena Dimitri akan tidur bersamanya malam ini. Ini semua gara-gara Randra yang dengan tidak tahu dirinya mengajak temannya menginap. Tidak mungkin mereka tidur berdesakan di kamar Randra, jadi mau tidak mau Dimitri tidur di kamar Rara. kasih pada Leon!" perintah Hazel pada Asha yang masih dilanda penasaran. Leon, yang tersenyum bak pahlawan kesiangan sore ini, menatap Asha seraya menahan tawa melihat raut wajah lugu adik ipar mantan kekasihnya itu. Namun senyum dan tawa yang ia tahan, seketika lenyap berganti kebingungan dan prasangka buruk saat dua tangan Asha terulur untuk menerima kartu milik gadis itu. "Hazel," panggil Leon Wicaragenara tanpa melepas tatapannya pada salah satu tangan Asha. "Gue penasaran, berapa lo gaji karyawan lo sampai mereka..." Sejak perceraian kedua orang tuanya, Rara hampir tidak pernah kembali ke Bandung kalau bukan karena satu hari spesial. Tidak, hari itu bukanlah hari ulang tahunnya, melainkan hari ulang tahun Gray. Sesibuk apapun Kin dengan kegiatan kuliahnya, dia pasti selalu menyempatkan pulang untuk merayakan hari ulang tahun Kin. Dan tahun ini perayaannya akan sedikit berbeda karena tahun ini kemungkinan tahun terakhir Gray merayakan ulang tahunnya di Bandung, karena adiknya ini berniat untuk menyusul Rara kuliah di Jakarta. Beruntungnya Gray mau membantu Kin menyiapkan kejutan untuk Kin. Sejak pagi dua anak muda ini sudah tiba di stasiun dan akan segera berangkat menuju Bandung. Saat diperjalanan Kin hanya menatap ke arah jendela.   Tapi, Dewangga nggak menggubris. Dia malah lanjut bilang, "Karena sudah lengkap, ayo kita mulai makannya," kata Dewangga, lalu Orlin yang lagi aktif-aktifnya belajar banyak hal pun memimpin mereka dalam doa makan lalu mereka mulai makan siang. Kin pun memperhatikan kalau makanan hari ini adalah menu kesukaan seisi rumah. Ada udang goreng telur asin, pari bakar, cumi goreng tepung, dan tumis kangkung. Terutama, Orlin, dia pasti sangat menantikan makan siang ini, karena semua anggota keluarga sibuk dari senin sampai sabtu, sehingga jarang bertemu. Dewangga menanyakan tentang Kin yang masih kerja sama Mbak Ser dan juga teman sial bodoh yang suka Kin buat emosi, Alora, dan juga mengenai pekerjaan dan studi mereka, lalu sekolah si Orlin. Terakhir, dia ujung-ujungnya sibuk juga sama laptop yang udah kayak ayangbebnya. "Terus, bagaimana dengan perusahaan yang kata Alora kamu bahkan diterima tiga kali di sana?" tanya Dewangga. Kin hampir mengumpat. Masalahnya, perusahaan itu, tuh, Graydebara Bos m***m. Tentu, akan bikin perang dunia ketiga kalau sampai Kin masuk ke sana. Apalagi kelakuan nggak ada kelakuan si Bosnya. Apa nggak bikin Kin makin ngerasain neraka? Bareng Dewangga aja, dia ngerasa sial banget. Apalagi ditambah Graydebara. Yang ada, berabe dia. "Ah, itu, mah, nggak usah dipikirin, Tu—eh … Mas Dewangga." Kin nyengir, jatuhnya meringis, sih, namun, yang jelas, itu senyuman yang super creepy. "Toh, juga, se-oke okenya juga, Si Kanjeng Ndoro Bos, makin rame, juga bakalan ada niatan merenovasinya supaya bisa menampung lebih banyak orang. Kan, Mas Dewangga Tercinta juga tahu betapa nggak love-nya saya sama ruangan minimize," jawab Kin. Tuan Dewangga mengangguk-angguk. Untung aja jiwa keponya, tuh, cowok nggak membara. "Ah, Lagian … Papi tanyanya yang mau nampung Mama melulu. Tanyanya kapan Mama mau jadi anak buah Papi, dong. Mama, kan, juga baik sama Orlin," keluh Orlin bikin 1000 watt Kin nyala gitu aja. Deg. "Orlinnnn …." tegur Dewangga, tahu kalau ini adalah topik yang aneh buat jadi kenyataan untuk putri si Kin memilih hal tersebut. Lagi pula, itu berbahaya. ‘Bisa mateng gue deket sama dia, bukannya bantuin, yang ada protes system mulu’. Tapi bukan Dewangga namanya kalau semudah itu menyerah. "Ini serius, Papi. Very very important topic." "Wihhh … makin jago aja Inggrisnyeee …" Kin malah hepi. "Nih, tambah makan dulu. Makannnn …" Who knows that person could change in an instant? Namun, mungkin itu kesalahan terbesar yang pernah kulakukan dan malam ini kuputuskan untuk tidak mengingatnya lagi. Lagi pula, it won't change anything, right? Aku hanya harus fokus sama hal yang lebih penting yaitu bersikap seperti biasanya Alya kepada Arga sembari menyembuhkan luka diam-diam Alasanku memilih dinner bersama Fanny karena kemarin Arga mengajakku makan malam bareng Karin. Katanya, aku sudah berjasa banyak dalam hubungan mereka, jadi anggap saja sebagai ucapan terima kasih. Berjasa, my ass. Berjasa dalam mendoakan supaya mereka putus dan Arga bisa suka sama aku sih iya. Aku ingat pertama kali ke sini bareng Arga. Waktu itu aku belum lama ditempatkan di divisiku sekarang. Arga yang langsung bisa cepat akrab denganku, mengajakku kemari Mungkin itu pertama kalinya aku sadar akan cocok dengan orang itu. Melihat Arga terkadang membuatku merasa seperti melihat diriku sendiri. Mulai dari bicara soal risk management dan segala perhitungannya yang njelimet, sampai membahas film favorit masing-masing. That's the beginning of our friendship. Yang aku ingat, tempat ini jadi salah satu tempat nongkrong favorit kami. Kalau semudah itu, mungkin pagi-pagi buta aku sudah ada di antrean paling depan bengkel. Kalau ada yang menyayangkan kenapa aku nggak menyatakan perasaanku sebelum Arga melamar Karin, mungkin memang harus kuakui sebagai kesalahanku. Sebelum dengan Karin, Arga sudah beberapa kali pacaran. Selama itu, aku nggak pernah merasa insecure. Aku tahu Arga nggak pernah serius dengan hubungannya. Dia masuk kategori cowok yang menyadari: gue-tahu-gue-ganteng-dan- belum-ada-niat-mau-serius. Dia sendiri yang bilang saat aku mencibir hobinya berganti pasangan dalam waktu singkat. That's why, ketika suatu hari dia bilang dia punya pacar baru bernama Karin, aku pun nggak terlalu ambil pusing. Who knows that person could change in an instant? Namun, mungkin itu kesalahan terbesar yang pernah kulakukan dan malam ini kuputuskan untuk tidak mengingatnya lagi. Lagi pula, it won't change anything, right? Aku hanya harus fokus sama hal yang lebih penting yaitu bersikap seperti biasanya Alya kepada Arga sembari menyembuhkan luka diam-diam "KADANG gue nggak habis pikir, Al. Cewek yang cantiknya ampun-ampunan kayak lo, banyak duit, pinter, kenapa malah experiencing one sided love kayak gini?" Aku tersenyum tipis ke arah Fanny, sahabat sekaligus satu- satunya orang yang tahu perasaanku soal ini. "Emang nggak boleh? Lagian, lo terlalu melebih-lebihkan" Gue itu ngomong apa adanya, Alyanata. Harusnya cewek kayak lo itu live happily ever after sama pangeran dari mana gitu. Bukan kayak gini. And I almost believe that Arga is the one Jor you" Gue nggak seberuntung princes-princess Disney, Fan. I'im not one of them," ujarku geli sekaligus miris. Can't you do something for yourself" "Do what? "Stealing that damn ring from her jawab Fanny dengan mulutnya yang being well-known as nyablak. Oh, seriously?" Aku memutar mata. "Gue nggak akan semenyedihkan itu, kok. "Already, Darling Kalau nggak, lo sekarang udah di Westin, dinner bareng Arga dan juga Karin. Nyatanya, lo sekarang di Monty's, bareng gue. Alasanku memilih dinner bersama Fanny karena kemarin Arga mengajakku makan malam bareng Karin. Katanya, aku sudah berjasa banyak dalam hubungan mereka, jadi anggap saja sebagai ucapan terima kasih. Berjasa, my ass. Berjasa dalam mendoakan supaya mereka putus dan Arga bisa suka sama aku sih iya. Aku ingat pertama kali ke sini bareng Arga. Waktu itu aku belum lama ditempatkan di divisiku sekarang. Arga yang "Stealing that damn ring from her jawab Fanny dengan mulutnya yang being well-known as nyablak. Oh, seriously?" Aku memutar mata. "Gue nggak akan semenyedihkan itu, kok. "Already, Darling Kalau nggak, lo sekarang udah di Westin, dinner bareng Arga dan juga Karin. Nyatanya, lo sekarang di Monty's, bareng gue. Alasanku memilih dinner bersama Fanny karena kemarin Arga mengajakku makan malam bareng Karin. Katanya, aku sudah berjasa banyak dalam hubungan mereka, jadi anggap saja sebagai ucapan terima kasih. Berjasa, my ass. Berjasa dalam mendoakan supaya mereka putus dan Arga bisa suka sama aku sih iya. Aku ingat pertama kali ke sini bareng Arga. Waktu itu aku belum lama ditempatkan di divisiku sekarang. Arga yang langsung bisa cepat akrab denganku, mengajakku kemari Mungkin itu pertama kalinya aku sadar akan cocok dengan orang itu. Melihat Arga terkadang membuatku merasa seperti melihat diriku sendiri. Mulai dari bicara soal risk management dan segala perhitungannya yang njelimet, sampai semuanya menjadi rumit. "Sori, ya. Gue jadi ngerepotin lo. Padahal, gue udah bilang Noah untuk nggak minta bantuan lo. Lagian, ada Audrey yang bisa anter gue ke apartemen." "Santai aja, Le. Gue nggak ngerasa direpotin, kok." Sudut bibir Lea terangkat. "Thanks." 58 Mendadak, ponsel Audrey berdering. Cewek itu meng- aduk-aduk isi tasnya yang besar dan segera menempel kan benda itu ke telinganya, setelah mengatakan, "Tunggu sebentar," pada Lea. "Ya, Ren?" Seketika itu juga ekspresi Audrey berubah terkejut, bercampur antusias yang menggebu-gebu. Bagaimana tidak, Rendi mengabarkan bahwa istrinya masuk rumah sakit. Sudah mengalami kontraksi. Itu berarti anaknya kemungkinan besar akan lahir malam itu juga. Tandanya, Rendi pun akan segera menjadi seorang Ayah. Ini momen besar pertamanya yang rasanya bisa dijadikan pengalaman bersejarah. Dan, untuk menanti momen- momen itu, dia juga membutuhkan sahabatnya untuk menemaninya. "Le?" Audrey menatap Lea bingung bercampur cemas. "Rendi minta gue ke sana, nemenin dia. Nggak apa kalo lo gue tinggal?" tanyanya setelah hubungan telepon itu berakhir dengan sebuah pesan titip salam untuk Lea. "Santai aja, Drey. Lo temenin aja Rendi. Gue juga pe- ngen bisa nemenin dia..." Lea menggantungkan kalimatnya. Audrey menatap Lea tak rela. Kemudian, pandangan- nya beralih pada Nathan yang berdiri di seberangnya, dalam diam. "Tolong anterin Lea, ya," pintanya dengan sedikit sungkan. "Sure." [19/11 14.45] Xiao Lu: Audrey tidak langsung beranjak. Dia masih sangsi, menebak-nebak apakah masih ada alternatif lain yang bisa dia lalkukan supaya tak harus meninggalkan Lea. "Ya udah, Le. Lo pulang sama Nathan, tapi nanti kalo gue bisa ke apartemen lo, gue dateng. Gue temenin lo," katanya khawatir "Nggak usah, Drey. Lo langsung pulang, aja." "Let see. Gue duluan, ya." Audrey menyampirkan tas di pundaknya. "Call me when you get home." "Pulang sekarang, Le?" tanya Nathan setelah Audrey menghilang-kagok karena hanya ada mereka berdua saja. "lya." Dengan gesit, Nathan segera bergerak ke sisi Lea yang satu lagi, membantu Lea menuruni ranjang dengan hati hati. Pandangan mata mereka sempat bertemu dari jarak dekat, membuat Lea menyadari sepasang mata teduh dan tenang itu, seperti pernah dilihatnya sebelum ini. "Lo keliatan familier, Nath," kata Lea pelan ketika keduanya beriringan menuju mobil Noah di parkiran. Tadi, Nathan menawarkan supaya Lea menunggunyadi lobi saja dan Nathan akan membawa mobilnya ke sana, tapi Lea menolak mentah-mentah usul itu. Lea tidak suka memperlakukan cowok asing itu seperti sopir. Nathan tersenyum. "Apanya yang keliatan familier?" "Bukan apa-apa, sih. Mungkin cuma perasan gue, doang." Lea malah salah tingkah sendiri. "Well, mungkin. Lea mengangkat kedua alisnya, terkejut mendengar jawaban singkat itu. Mungkin? Apa maksudnya mereka memang pernah bertemu sebelum ini sehingga ketika me- lihat Nathan, Lea merasa seperti de-javu? Lea menunggu Nathan bicara lagi. Barangkali, akan ada lanjutan dari kata
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN