Kin, yang nista dan rempong bener sebenarnya berkat dirinya kini bak embak-embak tukang endorsement skincare yang over glowing dan modis, kini, bergidik nyeri.
Bukan karena efek bajunya tentu enggak seselera dengan kesehariannya yang elbih demen pake baju oblong dan celana koboi, emang agak rock and roll juga Madagaskar, sih, emang, kedemanannya si Kin, tapi, yang sebenarnya jadi masalah adalah … betapa jiwa nyinyir dalam dirinya, sungguhan nggak tahan saat disuguhi tulisan besar pamflet dan ornament mewah ertuliskan …
“Benih Bumi?” tanyanya. Kemudian, ia mendecih. “Bego juga yang namain.”
Oke.
Kin mungkin secara tidak resmi berhasil mencetak rekor sebagai satu-satunya orang yang ngajak berantem ini perusahaan.
The amaizing VVIP penghujat yang bahkan dari depan aja udah kena kritik.
Tapi, semua itu beralasan.
Maka, maksud Kin di sini adalah …
Cerita Alora dengan dua pacarnya tadi terus berputar ulang dibenak Kin. Kalau memang Gray pernah bertunangan dan pertunangannya harus batal, kasihan sekali dosennya itu. Kin memang tidak mengetahui apa masalahnya, tapi tetap saja sebuah perpisahan sedikit banyak pasti akan meninggalkan luka.
Masih.
Jangankan pertunangan batal, putus saat berpacaran saja terasa sakit. Meskipun tidak semuanya akan terus terasa sakit, ada kalanya terasa sakit di awal, namun melegakan pada akhirnya. Apapun masalahnya, Rara jadi menaruh simpati dengan dosennya itu.
Rasa simpati Rara dengan Gantari hanya bertahan beberapa hari dan digantikan dengan rasa kesal. Bagaimana tidak, Gantari tidak pernah membalas pesan Rara sekali pun.
Kalau seperti ini terus bagaimana bisa Rara lulus tepat waktu.
Tetapi bukan Kin namanya kalau harus menyerah.
Meskipun tak kunjung dibalas, Dewangga tetap mengirimkan pesan kepada Kin dan terus berharap ada mukjizat pesannya dibalas.
Tepat seminggu lamanya, akhirnya pesan Kin mendapat balasan juga. Namun bukannya senang, rasa kesal R Kin justru semakin berlipat ganda.
Sejak perceraian kedua orang tuanya, Rara hampir tidak pernah kembali ke Bandung kalau bukan karena satu hari spesial. Tidak, hari itu bukanlah hari ulang tahunnya, melainkan hari ulang tahun Gray.
Sesibuk apapun Kin dengan kegiatan kuliahnya, dia pasti selalu menyempatkan pulang untuk merayakan hari ulang tahun Kin. Dan tahun ini perayaannya akan sedikit berbeda karena tahun ini kemungkinan tahun terakhir Gray merayakan ulang tahunnya di Bandung, karena adiknya ini berniat untuk menyusul Rara kuliah di Jakarta.
Beruntungnya Gray mau membantu Kin menyiapkan kejutan untuk Kin. Sejak pagi dua anak muda ini sudah tiba di stasiun dan akan segera berangkat menuju Bandung.
Saat diperjalanan Kin hanya menatap ke arah jendela.
Walau pandangannya tampak kosong. sebenarnya pikiran Kin sudah berkelana kemana-mana. Dia memikirkan bagaimana caranya dia bisa memuntahkan makanannya saat dia berada di rumah nanti.
Di saat pikiran Kin sibuk menyusun rencana yang harus dilakukannya nanti saat di rumah, tiba-tiba pikirannya terusik ketika kepala Gray bersandar di bahunya. Dimitri tampak kelelahan, dia pasti sibuk latihan semalam dan pagi-pagi sekali tadi mereka sudah berangkat ke stasiun.
**
Hari yang dinanti pun tiba. Sejak pagi Kin sudah masuk ke kamar anak Dewangga untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun, bedanya kalau setiap tahun Rara sudah menyiapkan kue dan kado, tahun ini Rara sengaja tidak menyiapkan apapun. Begitu juga dengan Dimitri dan kedua orang tuanya yang sudah disuruh oleh Rara untuk tidak menyiapkan kado untuk Randra.
Rencana Rara berhasil. Randra terlihat agak kesal karena tidak menerima kue maupun kado seperti biasanya. Dan untuk menghibur Randra, Dimitri mengajak Randra keluar.
Tentu saja Kin tidak ikut dengan berpura-pura masih lelah.
Sementara Dimitri dan Randra pergi, Rara langsung menjalankan
Tak lama setelah adiknya rencana. Meninggalkan rumah, Raksaka ayah Rara datang untuk membantu dia dan Vena ibunya menyiapkan kejutan untuk Randra. Disusul dengan teman-teman dekat Randra yang datang berikutnya.
Setelah mendapatkan pesan dari Rara, Dimitri langsung buru-buru mengajak Randra pulang. Rasa kesal Randra semakin bertambah, padahal mereka baru saja memesan makan. Namun rasa kesal Randra tak berlangsung lama karena ketika dia pulang, rumahnya sudah ramai dengan keluarga serta teman dekatnya.
"Surprise!" Teriak semua orang.
Asha terperangah. la dipanggil sesore ini hanya untuk
mendengar lagi ceramah tentang kartu karyawan? Astaga ... ia hanya
menghilangkan kartu karyawan, bukan berlian! Namun keterkejutan
Asha bertambah, saat tangah Leon mengulurkan barang yang
seharian ini menjadi sumber masalah harinya.
"Kok. kok ... bisa?" Asha mengerjap menatap Leon Wicaragenara tak percaya.
Tidak usah banyak tanya! Cepat ambil dan ucapkan terima
kasih pada Leon!" perintah Hazel pada Asha yang masih dilanda penasaran.
Leon, yang tersenyum bak pahlawan kesiangan sore ini,
menatap Asha seraya menahan tawa melihat raut wajah lugu adik
ipar mantan kekasihnya itu. Namun senyum dan tawa yang ia tahan,
seketika lenyap berganti kebingungan dan prasangka buruk saat dua
tangan Asha terulur untuk menerima kartu milik gadis itu.
"Hazel," panggil Leon Wicaragenara tanpa melepas tatapannya pada salah satu tangan Asha.
"Gue penasaran, berapa lo gaji karyawan lo sampai mereka..."
Asha Nayana dan Hazel menunggu kalimat Leon yang tertahan.
Randra tidak bisa menyembunyikan rasa harunya dan langsung memeluk Rara sambil mengucapkan terima kasih.
Rara membalas pelukan adiknya, dia merasa senang Randra suka dengan kejutan ulang tahun yang disiapkannya. Rara
membisikkan kata terima kasih untuk Dimitri dari balik pelukan adiknya yang dijawab anggukan oleh Dimitri.
Selesai acara, Rara bukannya langsung beristirahat, dia malah sibuk membereskan kamarnya karena Dimitri akan tidur bersamanya malam ini. Ini semua gara-gara Randra yang dengan tidak tahu dirinya mengajak temannya menginap. Tidak mungkin mereka tidur berdesakan di kamar
Randra, jadi mau tidak mau Dimitri tidur di kamar Rara.
Seharusnya tidak masalah kalau mereka masih anak- anak, tapi Rara dan Dimitri bisa dibilang sudah cukup dewasa untuk di tempatkan sekamar berdua. Mau bagaimana lagi.
Sepertinya Kin terlalu cepat berbahagia. Meski pun sedang online, Gantari tak kunjung membalas pesan Kin.
Jari-jemari Kin sudah gemas ingin mengespam dosennya itu, namun tentu saja Rara tidak melakukannya. Bukannya dibalas, bisa-bisa kontak Kin diblokir oleh Agrya.
Menit demi menit Rara lewati dengan sabar sambil terus mengecek hpnya, melihat apakah sudah ada balasan. tidak. Mulai dari sejam-dua jam sampai akhirnya Kin tertidur karena bosan menunggu.
“Ya, lagian … paling aman dan diusahakan, tuh, ya, ngebor dilautan. Ngatain benih bumi, lo kata perusahaan lo di bidang pertanian? Ahli cocok tanam? Dih, parah banget, sih, nih, idenya nggak right amat. Udeh lah, karena gue berbudi, beriman, dan berbahasa, gue bantu revisi, deh.”
Dan, dengan senyum jahil yang tercipta dari bibirnya, Kin pun menghapus pamphlet mini di pintu masuk perusahaan tersebut, yang tentu usai melewati satpam, dengan tulisan : Dengkot Samudera. Plus tambah subtitle, ‘Melayani Kebutuhan Manusia Berencana.’
“Oke, gue terinspirasi dari KB. Semoga mereka bisa belajar betapa amaizingnya KB sukses dipake semua orang.”
Kin … betul-betul … nggak jelas.
:’((
***
Lalu, selalu saja, sesuai dengan prosedur orang hebat pada umumnya, Kin pun melangkahkan kaki ke meja resepsionis untuk bisa bertemu dengan Grayebara.
Yang sebenarnya, sih, dari mini notes bak buku dairy yang dituliskan oleh Alora, Kin jelas sudah tahu letak lokasi pas di mana biasa Tuan Muda Besar Ganteng Pujaan Sejuta Umat—yang di mata Kin bego karena namain perusahaan aja error—akan sangat aneh jika Kin tiba-tiba kabur masuk.
Bisa-bisa dituduh maling pake x, malingx nanti dia.
Kan, berabe ...
Makanya, Kin dengan sopan pun bertanya, "Apa Tuan Graydebara ada di dalam?"
Sang resepsionis itu pun, entah apa pemicunya. Mungkin emosi kalah Beauty and The Beast dari Kin, haha, yakali Kin bak makhluk nyeleneh, orang dandannya aja menganut asas gebyar-gebyar.
'Merah pipiku, putih wajahku.'
Hehe.
Makanya, agak aneh kalau Mbak-Mbak tersebut justru nampangin ekspresi sinis dan jutek abis ke dia.
Bilang cuman ... "Nggak ada." Percayalah itu sungguh ketuzz dari babaktuzz. Yakni, bakso bakar tuzzukzz. "Nona juga belum membuat janji, kan, dengan Tuan Graydebara?"
Kin pun mengangguk-angguk takzim. "Jadi, apakah Tuan Graydebara selain nyetak rekor sebagai Amaizing Man In The Galaxies ini juga kena pasal 'Bak Alif Lam Syamsiyah'?"
"Hah? Maksud Mbaknya?"
Tuh, ganti dari Nona jadi Mbak.
"Ya, sebenernya ada, tapi tak terdengar di mata Mbaknya."
Langsung, deh, itu respsionis emosi.
"Mbak ngatain Bos saya ghaib?"
"Hehehe." Kin nyengir.
Berhasil juga dia tydack menyinyir meski endingnya bisa elegan dan ngajak emosi.
'Enak juga, ya, ternyata jadi Alora. Begini, toh, rasanya,' batinnya.
Kapan-kapan mau dia bodoh macam sahabatnya. Seru ...
Yang setelah itu, datang lah cowok beserta para staff yang sepertinya hendak buru-buru pergi ke suatu tempat.
Kin bisa dengan yakin 100 triliun persen, kalau cowok itu lah yang bernama Graydebara.
Karena semenjak dari jabang bayi, meski belum kelihatan skill Ultra Man nya, namun, sungguhan, Graydebara memang setampan itu dan Alora, karena begitu niat dan tergila-gila untuk mewawancarainya, berakhir dengan ... bak jampi-jampi.
Hampir semua foto Graydebara di pasang di kamar mereka.
"Ini foto dia waktu di Zimbabwe 5 hari lalu, Kin. Kalau yang ini, pas dia makan sate. Nah, ini, nih, pas dia diajak CEO Deor buat jamuan makan malam keluarga. Very Mamba Banget, kan, koneksinya?"
Justru, mendengar itu terlalu sering, efeknya sampai bikin Kin nggak bisa tidur.
Efek punya temen on the way jadi reporter. Kacaaaauu parah. Stalker kelas kakap.
"Tuh, kan, Mbak. Saya bilang apa. Kedengaran dari tadi, loh, suara bincang-bincang. Khatam saya sama suara si Mas Gray-nya."
"Mbaknya, wah ... berbahaya sekali. Selain dukun, apakah Mbaknya ini ... stalkernya?"
Tuh, dibilang Kin juga apa.
Bahaya memang terlalu banyak tahu.
Namun, sebelum sang resepsionis itu mengabdikan diri dengan sangat enerjik memberitahu kalau Kin adalah ancaman umat ini, Kin jauhh leeebihh dulu, mendapatkan Graydebara.
Gadis itu memasang senyum manis yang begitu lebar.
"Halo, Tuan. Saya Alora. Saya dari perwakilan jurusan Komunikasi yang seminggu lalu meletakkan formulir wawancara Tuan. Dan, hari ini—"
Belum selesai ngomong, sudah dipotong, Gray bilang, "Kamu enggak punya kompetensi lebih buat ngomong sama saya."
DEG.
Kin membeku.
Ini kah Tuan Bersayap yang didamba-damba oleh Alora?
Sang Tuan Berkuda Putih yang bahkan nggak tahu diri yang hell-llo banget?
Yang katanya menduniawi dan kritis sama aspek oranglain padahal dirinya hanya manusia kelas cupang?
Apa enggak salah seorang Graydebara Tuan Dahsyat justru dinobatkan menjadi mega bintang?
Kalau untuk mengorbit yang lain saja jelas ia tepar?
Kin sungguh nggak percaya.
Maka, sama batunya dengan sahabatnya, Kin yang nggak kehabisan akal, dia menghadang.
"Pak, tapi meski kami kelas bubur, kami punya integritas, Tuan. Kami sangat memperhatikan opini netral sebagai hasil."
"Ya, tapi, untungnya buat saya apa?" tanya balik Graydebara. Kini, lelaki itu menatap Kin intens. "Apa kamu mau menyebarkan wajah saya, mencetak brosur seperti banyak dilakukan reporter-reporter universitas lain supaya saya dapat berbelas kasih menampung lulusan kamu untuk bekerja di lapang saya?"
Kin mengimbuh dengan decah. "Tapi, setahu saya Tuan melebarkan sayapnya di bidang minyak, deh. Apa Bapak memang selalu pakai sistem replay sehingga saya harus ulang kalau ... 'Dear, Tuan Gray, saya berasal dari Ilkom, Universitas Yudhatama, A-Lo-Ra. Enggak ada niatan bahkan terbersit di kepala saya harus mengotori voice recorder saya dengan minyak."
Di situ, smirk Graydebara mengembang.
"Kamu melanggar aturan jurnalistik."
"Apa?"
"Harusnya seorang reporter riser dulu dengan baik, kan, seputar pengetahuan up to date narasumbernya? Kenapa yang dari dua hari lalu hingga trending di kanal You Tube dan Twitter, yang semua orang pun tahu kalau saya akan membuka stasiun TV sendiri, yang otomatis akan mempekerjakan banyak sekali reporter, kamu jusru nggak tahu?"
DEG.
"Sta—stasiun TV?"
Dengan detik itu juga, Graydebara yang memang begitu berkelas pun, meletakkan tangannya ke saku celana. Wajahnya yang dingin semakin dingin begitu dirinya tersenyum devil.
Lelaki itu kemudian memotong langkahnya dengan menyebut, "Itulah mengapa bodoh sekali mengandalkan pengetahuan tanpa mau belajar."
Yang dalam hati, Kin sudah menyumpah.
'