Graydebara

1877 Kata
Kin, dengan konyol dan entah logika gadis itu ia letakkan di mana, meski alasannya kabur, namun, gadis itu justru merampok uang orang yang ia ingin lepas dari jeratannya. Ini persis seperti kamu menginginkan agar kaitan dengan mantanmu putus, tapi, masihh aja nge-kelas bareng yang otomatis bakalan bikin tambah susah buat ngelupain dia. Apalagi, dengan nggak modal, ia bahkan mengambil fasilitas makan masakan padang supaya otaknya kembali fresh dan encer dalam menangani The Real Her Life's yang tentu sudah menatinya. Dia ambil suapan gede-gede. Bak, nggak ada matinya juga seakan nggak ada hari esok buat melahap lagi. "Bomat, dah, gue. Demi bisa syuting jadi Brand Ambassador ExtraGosh. Biar kekar gue. Enek banget kalo harus kena tekanan dan jiwa militer sebel sama itu cowok. Lagian ... kenapa pula, sih, makan rendang munculnya muka itu cucungut satu?" Kin menyumpah serapah. "Tapi, kadang, sedih juga, sih, lihat Orlin. Dia masih kecil, imut, baik, pintar, meski dipalak juga sama Istri Jadi-Jadian Bapaknya yang nggak akhlak." Bengek sendiri si Kin. Ketawa dia sampe keselek kerupuk. "Kayaknya emang takdir Orlin kali, ya. Makin gede malah makin ketemu makhluk-makhluk dengkot kayak gue gini." Lalu, ia memegang liontin yang ada di lehernya. Menggenggam erat. "Gue harus beli hp." Jangan salahkan betapa boros Kin dalam mengelola uang haram yang sebenarnya kalau versi lurusnya, hanya sebagian kecil ganti rugu atas betapa apesnya dia selama menjadi 'Red Era' sang Papah Orlin. Tapi, ini semua berkat semenjak hari pertama dirinya ditawan atas insiden tersebut, hp-nya entah dihancurkan di mana. Itu membuat Kin bertanya-tanya. 'Siapa, sih, kampret yang malah bikin gue kejebak begini?' batinnya emosi. Kalau seperti ini terus bagaimana bisa Rara lulus tepat waktu. Tetapi bukan Kin namanya kalau harus menyerah. Meskipun tak kunjung dibalas, Dewangga tetap mengirimkan pesan kepada Kin dan terus berharap ada mukjizat pesannya dibalas. Tepat seminggu lamanya, akhirnya pesan Kin mendapat balasan juga. Namun bukannya senang, rasa kesal R Kin justru semakin berlipat ganda. Tentu saja Kin tidak ikut dengan berpura-pura masih lelah. Sementara Dimitri dan Randra pergi, Rara langsung menjalankan Tak lama setelah adiknya rencana. Meninggalkan rumah, Raksaka ayah Rara datang untuk membantu dia dan Vena ibunya menyiapkan kejutan untuk Randra. Disusul dengan teman-teman dekat Randra yang datang berikutnya. Setelah mendapatkan pesan dari Rara, Dimitri langsung buru-buru mengajak Randra pulang. Rasa kesal Randra semakin bertambah, padahal mereka baru saja memesan makan. Namun rasa kesal Randra tak berlangsung lama karena ketika dia pulang, rumahnya sudah ramai dengan keluarga serta teman dekatnya. "Surprise!" Teriak semua orang. Asha terperangah. la dipanggil sesore ini hanya untuk mendengar lagi ceramah tentang kartu karyawan? Astaga ... ia hanya menghilangkan kartu karyawan, bukan berlian! Namun keterkejutan Asha bertambah, saat tangah Leon mengulurkan barang yang seharian ini menjadi sumber masalah harinya. "Kok. kok ... bisa?" Asha mengerjap menatap Leon Wicaragenara tak percaya. Tidak usah banyak tanya! Cepat ambil dan ucapkan terima Selesai acara, Rara bukannya langsung beristirahat, dia malah sibuk membereskan kamarnya karena Dimitri akan tidur bersamanya malam ini. Ini semua gara-gara Randra yang dengan tidak tahu dirinya mengajak temannya menginap. Tidak mungkin mereka tidur berdesakan di kamar Randra, jadi mau tidak mau Dimitri tidur di kamar Rara. kasih pada Leon!" perintah Hazel pada Asha yang masih dilanda penasaran. Leon, yang tersenyum bak pahlawan kesiangan sore ini, menatap Asha seraya menahan tawa melihat raut wajah lugu adik ipar mantan kekasihnya itu. Namun senyum dan tawa yang ia tahan, seketika lenyap berganti kebingungan dan prasangka buruk saat dua tangan Asha terulur untuk menerima kartu milik gadis itu. "Hazel," panggil Leon Wicaragenara tanpa melepas tatapannya pada salah satu tangan Asha. "Gue penasaran, berapa lo gaji karyawan lo sampai mereka..." Sejak perceraian kedua orang tuanya, Rara hampir tidak pernah kembali ke Bandung kalau bukan karena satu hari spesial. Tidak, hari itu bukanlah hari ulang tahunnya, melainkan hari ulang tahun Gray. Sesibuk apapun Kin dengan kegiatan kuliahnya, dia pasti selalu menyempatkan pulang untuk merayakan hari ulang tahun Kin. Dan tahun ini perayaannya akan sedikit berbeda karena tahun ini kemungkinan tahun terakhir Gray merayakan ulang tahunnya di Bandung, karena adiknya ini berniat untuk menyusul Rara kuliah di Jakarta. Beruntungnya Gray mau membantu Kin menyiapkan kejutan untuk Kin. Sejak pagi dua anak muda ini sudah tiba di stasiun dan akan segera berangkat menuju Bandung. Saat diperjalanan Kin hanya menatap ke arah jendela.   Tapi, Dewangga nggak menggubris. Dia malah lanjut bilang, "Karena sudah lengkap, ayo kita mulai makannya," kata Dewangga, lalu Orlin yang lagi aktif-aktifnya belajar banyak hal pun memimpin mereka dalam doa makan lalu mereka mulai makan siang. Kin pun memperhatikan kalau makanan hari ini adalah menu kesukaan seisi rumah. Ada udang goreng telur asin, pari bakar, cumi goreng tepung, dan tumis kangkung. Terutama, Orlin, dia pasti sangat menantikan makan siang ini, karena semua anggota keluarga sibuk dari senin sampai sabtu, sehingga jarang bertemu. Dewangga menanyakan tentang Kin yang masih kerja sama Mbak Ser dan juga teman sial bodoh yang suka Kin buat emosi, Alora, dan juga mengenai pekerjaan dan studi mereka, lalu sekolah si Orlin. Terakhir, dia ujung-ujungnya sibuk juga sama laptop yang udah kayak ayangbebnya. "Terus, bagaimana dengan perusahaan yang kata Alora kamu bahkan diterima tiga kali di sana?" tanya Dewangga. Kin hampir mengumpat. Masalahnya, perusahaan itu, tuh, Graydebara Bos m***m. Tentu, akan bikin perang dunia ketiga kalau sampai Kin masuk ke sana. Apalagi kelakuan nggak ada kelakuan si Bosnya. Apa nggak bikin Kin makin ngerasain neraka? Bareng Dewangga aja, dia ngerasa sial banget. Apalagi ditambah Graydebara. Yang ada, berabe dia. "Ah, itu, mah, nggak usah dipikirin, Tu—eh … Mas Dewangga." Kin nyengir, jatuhnya meringis, sih, namun, yang jelas, itu senyuman yang super creepy. "Toh, juga, se-oke okenya juga, Si Kanjeng Ndoro Bos, makin rame, juga bakalan ada niatan merenovasinya supaya bisa menampung lebih banyak orang. Kan, Mas Dewangga Tercinta juga tahu betapa nggak love-nya saya sama ruangan minimize," jawab Kin. Tuan Dewangga mengangguk-angguk. Untung aja jiwa keponya, tuh, cowok nggak membara. "Ah, Lagian … Papi tanyanya yang mau nampung Mama melulu. Tanyanya kapan Mama mau jadi anak buah Papi, dong. Mama, kan, juga baik sama Orlin," keluh Orlin bikin 1000 watt Kin nyala gitu aja. Deg. "Orlinnnn …." tegur Dewangga, tahu kalau ini adalah topik yang aneh buat jadi kenyataan untuk putri si Kin memilih hal tersebut. Lagi pula, itu berbahaya. ‘Bisa mateng gue deket sama dia, bukannya bantuin, yang ada protes system mulu’. Tapi bukan Dewangga namanya kalau semudah itu menyerah. "Ini serius, Papi. Very very important topic." "Wihhh … makin jago aja Inggrisnyeee …" Kin malah hepi. "Nih, tambah makan dulu. Makannnn …" Dengan semangat 45, Rara langsung mengirimkan pesan ke sohibnya itu. Sepertinya Kin terlalu cepat berbahagia. Meski pun sedang online, Gantari tak kunjung membalas pesan Kin. Jari-jemari Kin sudah gemas ingin mengespam dosennya itu, namun tentu saja Rara tidak melakukannya. Bukannya dibalas, bisa-bisa kontak Kin diblokir oleh Agrya. Menit demi menit Rara lewati dengan sabar sambil terus mengecek hpnya, melihat apakah sudah ada balasan. tidak. Mulai dari sejam-dua jam sampai akhirnya Kin tertidur karena bosan menunggu. Kin tersentak dan mengutuk dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia ketiduran di saat seperti ini. Buru-buru Kin mengecek kembali hpnya dan rasa takut mendadak menyelimuti Rara. Kalau bisa memutar waktu, jangankan tidur, berkedip pun tidak akan dilakukan Kin. Ternyata setelah dua jam lebih, Agrya membalas pesan Kin. Sialnya Rara tertidur dan sekarang hari sudah sangat siang. Dengan terus berdoa di dalam hati, Kin membalas pesan Gantari. Kin harus menunggu lagi dengan gelisah, tapi kali ini dia tidak akan ketiduran lagi. Rara memilih mandi sembari menunggu balasan dari sang dosen. Tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, Rara sampai rela membawa serta hpnya ke dalam kamarr andi. Kin menghembuskan nafasnya beberapa kali sebelum dia mengetuk pintu di hadapannya. Setelah merasa siap, Kin mengetuk pintu ruangan Gantari sambil membuka pintu itu. "Permisi Pak, saya-" "Kinan Sabrina Tanjung?" Potong Gantari. "lya saya Kinan Sabrina Tanjung, Pak." "Padahal saya pikir kamu bakal telat." Gantari tidak tahu saja kalau sebenarnya Rara dengan senang hati untuk terlambat hari ini sehingga dia bisa berganti dosen, tetapi Rara sudah tahu hal itu tidak akan terjadi. Tentu saja Ketua Jurusannya tidak akan mau menggantikan Gantari dengan dosen yang lain. Yang ada Kin pasti disuruh meminta maaf dengan Gantari dan hal itu hanya menambah kerjaan Kin saja. Sembari Gantari memeriksa skripsinya, Kin diam-diam memuji wajah Gantari. Memang ini bukan pertama kalinya Kin bertemu dengan Gantari karena Gantari pernah mengajar mata kuliah audit di kelasnya selama tiga semester, namun baru kali ini Kin melihat Gantari dari jarak sedekat ini. Kin bukanlah anak yang rajin dan ambisius, jadi saat di kelas dia selalu mengambil tempat duduk paling belakang. Gantari sendiri termasuk salah satu dosen yang disegani di fakultasnya. Biarpun bisa dibilang dirinya adalah dosen muda karena baru beberapa tahun ini mengajar, kualitas Gantari tidak perlu diragukan lagi. Mengambil konsentrasi audit sewaktu kuliah S1 menuntun Gantari untuk menjadi seorang auditor. Yang awalnya hanya menjadi staff. karir Gantari terus melejit sampai akhirnya dia bisa menjadi partner dan mendirikan Kantor Akuntan Publik (KAP) sendiri. Tidak mau berpuas diri, Gantari tetap melanjutkan pendidikan kuliahnya meskipun dia sudah menjadi seorang auditor pada waktu itu. Setelah merasa karirnya dalam dunia audit sudah cukup stabil, akhirnya Gantari memutuskan untuk kembali pada almamaternya saat S1 untuk menjadi seorang dosen. Tak! Bantingan pena di meja membuat Kin tersadar dari lamunannya. Dilihatnya Gantari yang sudah menatapnya dingin. "Kenapa kamu melihat saya terus? Ada yang ingin kamu tanyakan? Tanya Gantari yang dijawab gelengan oleh Rara. "Kamu kemarin sudah seminar proposal?" Gantari kembali bertanya. "Sudah Pak." “Apa maksud pertanyaan Gantari? Sudah jelas kalau Rara sudah melewati tahap seminar proposal, kalau tidak bagaimana bisa dia bimbingan skripsi sekarang.” "Siapa yang menguji kamu kemarin? Kok bisa-bisanya proposal seperti ini diluluskan" “Hah?” "Maaf, gimana Pak?" "Pertama, judul penelitian kamu ini terlalu biasa dan tidak menarik. Saya sudah kenyang memeriksa skripsi yang judulnya seperti kamu ini" "Kedua, penulisan kamu banyak sekali typo dan tidak sesuai dengan kaidah PUEBI. Kamu kemarin mengambil kelas metopel atau tidak sih? Saya heran untuk hal-hal seperti ini kamu masih saja melakukan kesalahan, padahal kamu sudah semester delapan" "Ketiga, di bab tiga dalam penelitian kamu, kamu tidak memasukkan analisis deksirptifnya. Makanya saya bertanya tadi kamu sudah mengikuti seminar proposal atau belum, kok bisa dengan kesalahan sefatal ini kamu lulus" “Sudahlah anggap saja kamu sedang beruntung kemarin. Sekarang kamu perbaiki dulu sebelum kita masuk ke bab selanjutnya" Gantari menyerahkan kembali skripsi Kinan Sabrina Tanjung yang sudah penuh dengan coretannya dan kartu bimbingan Kin. Rara seperti habis ditampar bolak-balik mendengar penjelasan panjang-lebar dari Gantari. Tidak mau berlama-lama, Kin menerima kembali skripsi dan kartu bimbingannya. Tanpa bertanya lagi, Kin mengucapkan terima kasih dan langsung keluar dari ruangan Gantari. Begitu keluar dari ruangan Gantari, Kin bertemu dengan Alora dan Agrya. "Eh, Ra!" Sapa Agrya. Rara yang sempat lesu bersemangat lagi melihat dua sahabatnya ternyata juga ke kampus hari ini. "Hei! Kalian abis bimbingan juga?” tanyanya. "lya. Gimana bimbingan sama Pak Graydebara? Enak gak?" Goda Alora. Kin mendengus kesal. "Boro-boro, lo liat ni skripsi gue abis dicoret-coret. Mana judes banget lagi!" Gerutu Kin. "Hahaha, santai dong. Gimana kalau kita nongki? Biar dingin kepala lo, Ra" Alora yang dijawab anggukan oleh Alora dan Kin. Tiga sekawan ini sudah duduk di tempat tongkrongan langganan mereka. Setelah pesanan mereka datang, mereka mulai mengobrol, membahas semua hal yang bisa dibahas. "Eh tapi serius deh, Pak Graydebara itu beneran belum nikah, ya?" Adelia kembali bertanya. Sedari tadi Gray menjadi topik hangat pembahasan mereka bertiga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN