Fresh

1444 Kata
Namun, begitu Kin melepas paksa anak kecil perempuan tadi dari tangannya, seorang laki-laki, menarik pinggang Kin erat hingga membuat Kin dipeluk satu tangan. Dengan posisi kepala di bahu kirinya.   Dalam jarak seperti ini, bisa Kin lihat siapa laki-laki yang bergaya 'tampak orang terlalu kaya' tersebut.   Dia mengatakan, "Jadi, sudah ketemu Mama?"   'Wah, dia sama gilanya kayak anaknya.'   Siapapun pasti akan mengatakan itu karena keduanya sangat ... mirip. Bedanya mata anak itu tidak seperti laki-laki ini. Tegas, menawan, dan menjatuhkan. Seolah tidak memberikan satu celah pun untuk bermain-main dengannya.   Tapi, pertanyaannya … siapa laki-laki ini?   Lalu, dia menoleh pada Kin, "Mulai hari ini, kita akan bawa Mama ke rumah kita."   Tunggu.   Dalam kepala Kin seketika terputar cuplikan suara amat hina dalam kondisi remang-remang yang berada di kamar.   Dia bisa melihat adanya satu peristiwa yang terkunci dan baru terbuka sekarang.   Seketika, Kin menutup mulut dengan tangan. 'ASTAGA ... DIA ....'   Dan, secepat itu juga, dia makin menundukkan kepalanya, seolah ingin mendaratkan ciuman, tapi sekejap itu pula memberi sebuah pertanyaan, "Sudah ingat aku?"   Sontak ... Kin melakukan ketidaknormalan lain di saat ia ingin hidupnya normal-normal saja.   Yaitu, menampar laki-laki tersebut hingga kungkungannya terlepas.   Yap. Menampar dengan kekuatan maksimum dan menjelma jadi wanita perkasa. "Dasar cowok m***m!"   Ya, dialah laki-laki yang membuatnya tak bisa bernapas bahkan untuk pagi hari. Dia laki-laki menyebalkan yang membuatnya masuk ke dalam neraka paling ternoda.   Laki-laki itu, tampak mendekat pada Kin. Tadi, menyentuh luka yang tersampir di bibirnya. Ada aura intimidasi saat menghampiri. "Kamu tidak tahu, ya, konsekuensi melawanku?"   Kin menarik seringai, "Konsekuensi menggeret seorang yang tak tahu diri ke polisi maksudmu? Cihh, emang kamu pikir aku mau disogok sepersekian juta uang bahkan miliaran yang kamu sebar malam itu! Kamu pikir perempuan nggak punya harga diri apa?"   Rahang Dewangga tampak mengeras. Bibirnya terkantup meski ekspresinya dingin dan tenang. Lalu, di tengah keramaian itu, dia mendekat, menekan bahu Kin.   Lalu, memeluknya memenangkan.   'Sial, laki-laki ini, kuat sekali. Apa yang mau dia lakukan?'   Ternyata, Dewangga mengklik ponselnya untuk segera menelepon bodyguardnya. Untuk mengeksekusi hal yang seharusnya.   "Bawa dia."   Begitu perintahnya.   ***   Benar dugaan Kin, dia emang ditakdirkan untuk pingsan lagi.   Beneran, deh. Kin pengen misuh sampai Arizona.   Kenapa coba kegilaan terus menerus menyicil pada dirinya?   Oke, ini adalah rekor bagi hidupnya. Setelah digendong ala bridal style oleh laki-laki tadi, Kin langsung dieksekusi bersama sekitar empat cowok tampan yang ternyata bodyguard laki-laki tersebut.   'Sebenarnya ... sepenting apa, sih, cowok itu? Sampai, dia harus punya bodyguard segala?'   Kin menautkan alis. Kini, jantungnya berdegup kencang. Karena pemandangan yang ia lihat adalah tangannya diikat dengan tali bersama posisi sang laki-laki berengsek yang ingin ia maki tengah meminum wine melihatnya di samping. Jadi, mereka tidur di kasur yang sama.   Bedanya, Kin diikat dan Dewangga tengah meminum anggur.   Sontak saja, itu membuat Kin meronta. "Lepas! Kamu apakan aku? Kenapa kamu mengikatku?"   Tapi, sayang, tidak mudah melepas simpulan tali yang teramat rumit seperti itu.   Dia menoleh dingin, "Ternyata sudah bangun," katanya acuh. Lalu, mendecak kecil. Dari sorot mata, laki-laki ini tampak kosong dan datar saja. "Kamu cantik juga."   "Dasar gila!" serapah Kin. Kin juga bingung sebenarnya, kenapa pula ia harus ganti pakaian seperti sekarang.   Maksud Kin, terakhir kan dia pakai baju rumah sakit. Kenapa sekarang jadi pakai baju pendek begini? Tidakkah ini terlampau ... mengundang?   Apalagi tatapan buas laki-laki yang jakunnya tampak naik turun. Kin ngeri sekali. Sepertinya, dalam hitungan detik, Kin akan diterjangnya.   Astaga!   "Kamu takut?" Kalau seperti ini terus bagaimana bisa Rara lulus tepat waktu. Tetapi bukan Kin namanya kalau harus menyerah. Meskipun tak kunjung dibalas, Dewangga tetap mengirimkan pesan kepada Kin dan terus berharap ada mukjizat pesannya dibalas. Tepat seminggu lamanya, akhirnya pesan Kin mendapat balasan juga. Namun bukannya senang, rasa kesal R Kin justru semakin berlipat ganda. Tentu saja Kin tidak ikut dengan berpura-pura masih lelah. Sementara Dimitri dan Randra pergi, Rara langsung menjalankan Tak lama setelah adiknya rencana. Meninggalkan rumah, Raksaka ayah Rara datang untuk membantu dia dan Vena ibunya menyiapkan kejutan untuk Randra. Disusul dengan teman-teman dekat Randra yang datang berikutnya. Setelah mendapatkan pesan dari Rara, Dimitri langsung buru-buru mengajak Randra pulang. Rasa kesal Randra semakin bertambah, padahal mereka baru saja memesan makan. Namun rasa kesal Randra tak berlangsung lama karena ketika dia pulang, rumahnya sudah ramai dengan keluarga serta teman dekatnya. "Surprise!" Teriak semua orang. Asha terperangah. la dipanggil sesore ini hanya untuk mendengar lagi ceramah tentang kartu karyawan? Astaga ... ia hanya menghilangkan kartu karyawan, bukan berlian! Namun keterkejutan Asha bertambah, saat tangah Leon mengulurkan barang yang seharian ini menjadi sumber masalah harinya. "Kok. kok ... bisa?" Asha mengerjap menatap Leon Wicaragenara tak percaya. Tidak usah banyak tanya! Cepat ambil dan ucapkan terima Selesai acara, Rara bukannya langsung beristirahat, dia malah sibuk membereskan kamarnya karena Dimitri akan tidur bersamanya malam ini. Ini semua gara-gara Randra yang dengan tidak tahu dirinya mengajak temannya menginap. Tidak mungkin mereka tidur berdesakan di kamar Randra, jadi mau tidak mau Dimitri tidur di kamar Rara. kasih pada Leon!" perintah Hazel pada Asha yang masih dilanda penasaran. Leon, yang tersenyum bak pahlawan kesiangan sore ini, menatap Asha seraya menahan tawa melihat raut wajah lugu adik ipar mantan kekasihnya itu. Namun senyum dan tawa yang ia tahan, seketika lenyap berganti kebingungan dan prasangka buruk saat dua tangan Asha terulur untuk menerima kartu milik gadis itu. "Hazel," panggil Leon Wicaragenara tanpa melepas tatapannya pada salah satu tangan Asha. "Gue penasaran, berapa lo gaji karyawan lo sampai mereka..." Sejak perceraian kedua orang tuanya, Rara hampir tidak pernah kembali ke Bandung kalau bukan karena satu hari spesial. Tidak, hari itu bukanlah hari ulang tahunnya, melainkan hari ulang tahun Gray. Sesibuk apapun Kin dengan kegiatan kuliahnya, dia pasti selalu menyempatkan pulang untuk merayakan hari ulang tahun Kin. Dan tahun ini perayaannya akan sedikit berbeda karena tahun ini kemungkinan tahun terakhir Gray merayakan ulang tahunnya di Bandung, karena adiknya ini berniat untuk menyusul Rara kuliah di Jakarta. Beruntungnya Gray mau membantu Kin menyiapkan kejutan untuk Kin. Sejak pagi dua anak muda ini sudah tiba di stasiun dan akan segera berangkat menuju Bandung. Saat diperjalanan Kin hanya menatap ke arah jendela.   Tapi, Dewangga nggak menggubris. Dia malah lanjut bilang, "Karena sudah lengkap, ayo kita mulai makannya," kata Dewangga, lalu Orlin yang lagi aktif-aktifnya belajar banyak hal pun memimpin mereka dalam doa makan lalu mereka mulai makan siang. Kin pun memperhatikan kalau makanan hari ini adalah menu kesukaan seisi rumah. Ada udang goreng telur asin, pari bakar, cumi goreng tepung, dan tumis kangkung. Terutama, Orlin, dia pasti sangat menantikan makan siang ini, karena semua anggota keluarga sibuk dari senin sampai sabtu, sehingga jarang bertemu. Dewangga menanyakan tentang Kin yang masih kerja sama Mbak Ser dan juga teman sial bodoh yang suka Kin buat emosi, Alora, dan juga mengenai pekerjaan dan studi mereka, lalu sekolah si Orlin. Terakhir, dia ujung-ujungnya sibuk juga sama laptop yang udah kayak ayangbebnya. "Terus, bagaimana dengan perusahaan yang kata Alora kamu bahkan diterima tiga kali di sana?" tanya Dewangga. Kin hampir mengumpat. Masalahnya, perusahaan itu, tuh, Graydebara Bos m***m. Tentu, akan bikin perang dunia ketiga kalau sampai Kin masuk ke sana. Apalagi kelakuan nggak ada kelakuan si Bosnya. Apa nggak bikin Kin makin ngerasain neraka? Bareng Dewangga aja, dia ngerasa sial banget. Apalagi ditambah Graydebara. Yang ada, berabe dia. "Ah, itu, mah, nggak usah dipikirin, Tu—eh … Mas Dewangga." Kin nyengir, jatuhnya meringis, sih, namun, yang jelas, itu senyuman yang super creepy. "Toh, juga, se-oke okenya juga, Si Kanjeng Ndoro Bos, makin rame, juga bakalan ada niatan merenovasinya supaya bisa menampung lebih banyak orang. Kan, Mas Dewangga Tercinta juga tahu betapa nggak love-nya saya sama ruangan minimize," jawab Kin. Tuan Dewangga mengangguk-angguk. Untung aja jiwa keponya, tuh, cowok nggak membara. "Ah, Lagian … Papi tanyanya yang mau nampung Mama melulu. Tanyanya kapan Mama mau jadi anak buah Papi, dong. Mama, kan, juga baik sama Orlin," keluh Orlin bikin 1000 watt Kin nyala gitu aja. Deg. "Orlinnnn …." tegur Dewangga, tahu kalau ini adalah topik yang aneh buat jadi kenyataan untuk putri si Kin memilih hal tersebut. Lagi pula, itu berbahaya. ‘Bisa mateng gue deket sama dia, bukannya bantuin, yang ada protes system mulu’. Tapi bukan Dewangga namanya kalau semudah itu menyerah. "Ini serius, Papi. Very very important topic." "Wihhh … makin jago aja Inggrisnyeee …" Kin malah hepi. "Nih, tambah makan dulu. Makannnn …"   'Tentu saja!' Itu adalah kata yang ingin Kin teriakan.   "Sungguh kamu sama sekali tidak ada harga dirinya."   "Kamu malah mencaci," ujarnya, menuang lagi anggur. Lalu, mengocoknya sebentar di gelas.   "Apa? Apa tidak salah?" Kin membuang keenggakpercayaan alias nggak menyangka. "Kamu menculikku, memberiku minuman yang memabukkan, lalu menerkamku semalaman penuh dalam kondisi tak sadar? Begitu?"   "Well, urusan terkam menerkam memang benar. Tapi, Nona, aku adalah pemburu yang terhormat. Tidak mungkin kumangsa satu hewan pun tanpa adanya persetujuan berarti."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN