"Oke, itu sudah cukup menunjukkan kalau itu adalah kamu, Alora yang itu. Alora yang malah salto di hadapan saya."
Graydebara ketawa.
Kin malah mengerucutkan bibir emosi yang bisa ditebak betapa 'bebek'-nya cewek itu sekarang.
"Saya sungguh tidak menyangka kita akan bertemu di sini."
Gray, seperti biasa, keagresifannya malah menjadikan warung soto yang memang ukuran medium—alias mampu memuat banyak orang yang makan di sana—menjadi tempat menatap intens yang Kin pengen banget nabok itu orang.
"Masnya mau kanan apa kiri, Mas?"
"Hahaha." Gray ketawa. "Kamu seperti maling yang mau eksekusi orang tapi malah izin dulu." Dan, sekarang, tangannya mengelus rambut Kin. Tapi, Kin tepis. "Temani saya makan."
"Enggak mau!"
"Hah?"
Kalau seperti ini terus bagaimana bisa Rara lulus tepat waktu.
Tetapi bukan Kin namanya kalau harus menyerah.
Meskipun tak kunjung dibalas, Dewangga tetap mengirimkan pesan kepada Kin dan terus berharap ada mukjizat pesannya dibalas.
Tepat seminggu lamanya, akhirnya pesan Kin mendapat balasan juga. Namun bukannya senang, rasa kesal R Kin justru semakin berlipat ganda.
Tentu saja Kin tidak ikut dengan berpura-pura masih lelah.
Sementara Dimitri dan Randra pergi, Rara langsung menjalankan
Tak lama setelah adiknya rencana. Meninggalkan rumah, Raksaka ayah Rara datang untuk membantu dia dan Vena ibunya menyiapkan kejutan untuk Randra. Disusul dengan teman-teman dekat Randra yang datang berikutnya.
Setelah mendapatkan pesan dari Rara, Dimitri langsung buru-buru mengajak Randra pulang. Rasa kesal Randra semakin bertambah, padahal mereka baru saja memesan makan. Namun rasa kesal Randra tak berlangsung lama karena ketika dia pulang, rumahnya sudah ramai dengan keluarga serta teman dekatnya.
"Surprise!" Teriak semua orang.
Asha terperangah. la dipanggil sesore ini hanya untuk
mendengar lagi ceramah tentang kartu karyawan? Astaga ... ia hanya
menghilangkan kartu karyawan, bukan berlian! Namun keterkejutan
Asha bertambah, saat tangah Leon mengulurkan barang yang
seharian ini menjadi sumber masalah harinya.
"Kok. kok ... bisa?" Asha mengerjap menatap Leon Wicaragenara tak percaya.
Tidak usah banyak tanya! Cepat ambil dan ucapkan terima
Selesai acara, Rara bukannya langsung beristirahat, dia malah sibuk membereskan kamarnya karena Dimitri akan tidur bersamanya malam ini. Ini semua gara-gara Randra yang dengan tidak tahu dirinya mengajak temannya menginap. Tidak mungkin mereka tidur berdesakan di kamar
Randra, jadi mau tidak mau Dimitri tidur di kamar Rara.
kasih pada Leon!" perintah Hazel pada Asha yang masih dilanda penasaran.
Leon, yang tersenyum bak pahlawan kesiangan sore ini,
menatap Asha seraya menahan tawa melihat raut wajah lugu adik
ipar mantan kekasihnya itu. Namun senyum dan tawa yang ia tahan,
seketika lenyap berganti kebingungan dan prasangka buruk saat dua
tangan Asha terulur untuk menerima kartu milik gadis itu.
"Hazel," panggil Leon Wicaragenara tanpa melepas tatapannya pada salah satu tangan Asha.
"Gue penasaran, berapa lo gaji karyawan lo sampai mereka..."
Sejak perceraian kedua orang tuanya, Rara hampir tidak pernah kembali ke Bandung kalau bukan karena satu hari spesial. Tidak, hari itu bukanlah hari ulang tahunnya, melainkan hari ulang tahun Gray.
Sesibuk apapun Kin dengan kegiatan kuliahnya, dia pasti selalu menyempatkan pulang untuk merayakan hari ulang tahun Kin. Dan tahun ini perayaannya akan sedikit berbeda karena tahun ini kemungkinan tahun terakhir Gray merayakan ulang tahunnya di Bandung, karena adiknya ini berniat untuk menyusul Rara kuliah di Jakarta.
Beruntungnya Gray mau membantu Kin menyiapkan kejutan untuk Kin. Sejak pagi dua anak muda ini sudah tiba di stasiun dan akan segera berangkat menuju Bandung.
Saat diperjalanan Kin hanya menatap ke arah jendela.
Tapi, Dewangga nggak menggubris. Dia malah lanjut bilang, "Karena sudah lengkap, ayo kita mulai makannya," kata Dewangga, lalu Orlin yang lagi aktif-aktifnya belajar banyak hal pun memimpin mereka dalam doa makan lalu mereka mulai makan siang.
Kin pun memperhatikan kalau makanan hari ini adalah menu kesukaan seisi rumah. Ada udang goreng telur asin, pari bakar, cumi goreng tepung, dan tumis kangkung. Terutama, Orlin, dia pasti sangat menantikan makan siang ini, karena semua anggota keluarga sibuk dari senin sampai sabtu, sehingga jarang bertemu.
Dewangga menanyakan tentang Kin yang masih kerja sama Mbak Ser dan juga teman sial bodoh yang suka Kin buat emosi, Alora, dan juga mengenai pekerjaan dan studi mereka, lalu sekolah si Orlin. Terakhir, dia ujung-ujungnya sibuk juga sama laptop yang udah kayak ayangbebnya.
"Terus, bagaimana dengan perusahaan yang kata Alora kamu bahkan diterima tiga kali di sana?" tanya Dewangga.
Kin hampir mengumpat. Masalahnya, perusahaan itu, tuh, Graydebara Bos m***m. Tentu, akan bikin perang dunia ketiga kalau sampai Kin masuk ke sana. Apalagi kelakuan nggak ada kelakuan si Bosnya.
Apa nggak bikin Kin makin ngerasain neraka?
Bareng Dewangga aja, dia ngerasa sial banget.
Apalagi ditambah Graydebara.
Yang ada, berabe dia.
"Ah, itu, mah, nggak usah dipikirin, Tu—eh … Mas Dewangga." Kin nyengir, jatuhnya meringis, sih, namun, yang jelas, itu senyuman yang super creepy. "Toh, juga, se-oke okenya juga, Si Kanjeng Ndoro Bos, makin rame, juga bakalan ada niatan merenovasinya supaya bisa menampung lebih banyak orang. Kan, Mas Dewangga Tercinta juga tahu betapa nggak love-nya saya sama ruangan minimize," jawab Kin. Tuan Dewangga mengangguk-angguk. Untung aja jiwa keponya, tuh, cowok nggak membara.
"Ah, Lagian … Papi tanyanya yang mau nampung Mama melulu. Tanyanya kapan Mama mau jadi anak buah Papi, dong. Mama, kan, juga baik sama Orlin," keluh Orlin bikin 1000 watt Kin nyala gitu aja.
Deg.
"Orlinnnn …." tegur Dewangga, tahu kalau ini adalah topik yang aneh buat jadi kenyataan untuk putri si Kin memilih hal tersebut. Lagi pula, itu berbahaya. ‘Bisa mateng gue deket sama dia, bukannya bantuin, yang ada protes system mulu’. Tapi bukan Dewangga namanya kalau semudah itu menyerah.
"Ini serius, Papi. Very very important topic."
"Wihhh … makin jago aja Inggrisnyeee …" Kin malah hepi. "Nih, tambah makan dulu. Makannnn …"
"Enggak mau nolak kalau dibayarin."
Kini, Gray semakin tertawa.
Sementara Kin dalam hati udah sempat berseteru sama dirinya sendiri.
Sempat protes dia, tuh.
Kenapa, sih, harga dirinya malah seharga soto dan antek-anteknya?
Dasar Kin.
Percuma banget, kan, kemarin adu bela diri di depan cowok itu mempertahankan kehormatan di depan makhluk paling ngajak nge-hulk bareng sama dia.
Hingga, beberapa menit setelahnya, semua makanan tersaji.
Rupanya, Graydebara memesan semuanya dan memborongnya.
Yang itu tentu menjadikan warung soto tersebut mendadak menjadi tempat makan laris manis yang mana baik dari ajudan hingga supir plus bodyguard ambil tempat dan makan di sana.
Tapi, yang sistem makannnya paling kuli alias paling lahap justru ... Kin.
"Kamu pelan-pelan, dong. Masa cewek makannya garong begini?"
"Maklum, Mas, saya jelmaan singo barong."
Graydebara bengek. "Terus saya reognya gitu?"
"Bisa jadi, bisa jadi."
Dan, pemilik warung menghampiri.
"Ya ampun, terima kasih, ya, Mas. Lumayan, loh, bayarannya tadi, 5 kali lipat," ujarnya berterima kasih.
Gray pun, yang sedang memelihara jiwa karismatik yang legend meski dia lebih saiton daripada siapapun pun, mengangguk takzim.
"Iya, Bu, sama-sama. Toh, saya juga suka sama warung soto sini. Enak."
"Aaahhh, Tuan Gray bisa saja." Lalu, dia melirik ke Kin yang sabodo amat. "Apa Tuan makan banyak di sini, seperti syukuran, itu sedang merayakan hamilnya wanita Tuan? Si Mbak ini?"
Mendengar kata Mbak ini, Kin pun melebarkan kelopak mata.
Dia dengan kocak menjawab, "Ohh, si Tuan Gray ini merayakan dipecatnya saya jadi pembantu rumah dia, Bu. Saya VVIP pembantu. Jenis pembantu yang nggak cuma bikin kepalanya pusing tapi bikin majikan bonyok."
Dan, Kin menunjuk ke pipi Gray.
"Tuh, Bu. Saking saya multitalent, saya sampe nggak bisa nahan sinar laser yang keluar dari mata saya. Maklum, saya ultra woman. Jadi, ya, gitu, demi kemaslahatan bersama, saya dipecat, Bu. Alhamdulillah sekali. Itu bisa membuat dunia ini tentram, damai, bersahaja soalnya saya udah nggak ada."
Ibu yang nggak ngerti tapi ketawa juga pun melanjutkan, "Ahh, yaudah, ya, Mbak. Nanti sering-sering mampir ke sini, ya."
Kin pun menunjukkan jempol dari tangan kanannya. Asyik lanjut makan.
"Jangan dengerin dia, Bu. Sebagai suaminya, saya juga heran kenapa istri saya ini suka banget menolak saya. Kebetulan juga, dia lagi hamil. First time buat kita berdua mau punya anak. Makanya, ya, gitu. Jadi makin ngelawak istri saya ini."
Dia bahkan mengelus rambut Kin.
Kin yang pengen banget ngeluarin death glare, udah keselek duluan.
"Tuh, kamu makanya kalo anak kita emang lagi pengen dikasih nutrisi lebih, jangan bombastis gitu, Yang. Enggak apa, kok. Entar juga kalo kamu mau porsi segedung juga aku kasih."
Gray bahkan menutup mulut Kin. Dengan alasan membantu, khawatir Kin muntah. Padahal, itu semua demi agar Kin nggak menyumpah serapah. Dia udah tahu banget Kin jenis yang galak pake banget.
Dan, yang tersisa di sana hanyalah ...
"So sweet bangeeeettttt!!!"
Co cwitt??
In your head kali.
Kin, merotasikan bola mata.
***
Dan, si neraka berjalan, yakni, Graydebara, memaksa Kin untuk ikut sama dia aja.
Dia memaksa agar Kin pulang di antar dia.
Yang tentu aja Kin nggak percaya.
Dia protes dengan protokol alasan.
Macem begini ...
"Tuan Mas, Tuan Masnya ini makhluk sejuta akal bulus penuh taktik, metodikal, dan sistematis, daripada sia-sia jadiin saya kelinci percobaan, mending Tuan Masnya nyari yang lain aja, deh. Saya terlalu bar bar buat diajak perang, Tuan Mas."
Kin, bak anak kecil, nggak mau naik mobil.
Banyak benerrr kenapa-nya.
"Ih, nanti saya muntah gimana? Kan, ada banyak yang bikin mual. Tuan Mas apalagi. Jangankan duduk di mobil bareng, di samping Mas aja berasa gak glowing shimmering splending whitening amaizing brightening perut saya."
"Saya nggak suka mobil yang ada AC-anya. Suhu saya sudah se-damai ubin masjid. Dosa, loh, Tuan Mas, kalau saya ditaro di dalam. Saya, kan, batas suci!"
Sampai, karena Gray udah pening duluan, dia akhirnya menyerah dengan mengatakan, "Saya beliin pizza tiga box double cheese, mau?"
"Oke, ke mana kita?"
Kin, tanpa disuruh sudah masuk ke dalam. Membuat Graydebara mendecak ketawa nggak percaya.
'Mudah juga menundukkan anak itu,' batinnya nggak habis pikir.
Sampai, satu hal menyadarkan Gray. Salah satu ajudan pribadi yang paling dekatnya menyeletuk bilang, "Saya baru pertama kali melihat Tuan Gray begini, apa dia ... benar-benar berarti untuk Tuan? Bukankah biasanya para gadis yang bergantung pada Tuan? Mengapa kali ini berbeda, Tuan?"
Gray terhenyak. Dia mendadak merenung. Benar ... juga.
***
Pagi harinya, di kediaman Ayah-Anak Dewangga dan Orlin, mereka berdua dihadapkan kebingungan.
Pasalnya, Dewangga sudah memasang semua keamanan tingkat tinggi untuk menjaga gadis itu tetap tinggal.
Namun, entah bagaimana ajaibnya, Kin kabur dengan mulus melewati pos penjagaan satpam.
Padahal, anak itu anti sekali menyogok. Dia lebih suka disogok.
"Pokoknya saya nggak mau tahu, cari Kin sampai ketemu!"
Selera makannya bahkan hilang sekarang.
Sama halnya dengan sang putri, Orlin sekarang.
"Orlin harus makan, loh. Nanti Mama Kin nggak bakal dateng kalau Orlin nggak makan."
Orlin cuma mengerucutkan bibir. "Papa pasti ada salah, ya, sama Mama?"
"Loh, kok, jadi Papa?"
"Ih, Papa ..." Orlin merajuk. "Enggak mungkin Mama pergi tanpa alasan, Pa. Pasti ada penyebabnya. Kalau Orlin, Orlin selalu nurut sama Mama. Mama mau tidur sama Orlin dibanding sama Papa juga Orlin mau. Tapi, ternyata Mama malah pergi pas tidur sama Orlin. Kalau begitu kenyataannya, berarti memang ada masalah antara Mama dan Papa!"
"Orlin," panggil Dewangga Laksana Tirtoadji. "Kamu bahkan masih kecil, kamu nggak tahu masalah orang dewasa."
"Tapi, yang Orlin pernah baca, anak perempuan itu reinkarnasi dari cinta pertama Papanya! Yang namanya cinta pertama akan mendukung cinta sejati, Pa! Orlin lihat di TV, kok. Film-film semacam itu. Terus, kenapa Papa yang nyuruh Orlin supaya terus menyadari kesalahan dan memperbaikinya, malah, Papa sangkal sendiri!"
Orlin melipat tangan depan d**a.
"Papa egois! Papa harus minta maaf sama Mama! Papa jahat sekali sama Mama! Orlin nggak suka Papa seperti itu! Itu bukan Papa Orlin!"
Gadis itu pun ... melenggang pergi.
Dewangga menghela napas panjang.
Benar-benarr ...