Dive

1879 Kata
Kamu begitu, justru makin membuatku mau, Kin ..."   "Kamu memang pantas ditampar."   Itu perkataaan yang sangat ... membuat Dewangga lagi-lahi kehilangan akal.   ***   Satu-satunya yang waras di sini hanyalah Orin jika Kin boleh membuatkan daftarnya. Sementara itu, sang Bapaknya sangat biadab. Ini mirip, sih, sebetulnya, sama istilah Hells with Heaven’s.   "Mama Kin ..."   Anak perempuan itu ... menyapanya.   Kin memeluk, "Halo juga ..."   Tapi, dia dan Dewangga sama sekali belum menikah. Dewangga hanya melakukan ritual gendengnya setiap hari. Dan itu selalu penuh paksa, tak bisa ditolak, melawan nggak mempan, sampai menghajarnya pun nggak kelar-kelar.   "Mama sangat cantik."   Bola mata Kin merotasi. "Itu karena Mamamu ini Mama jadi-jadian."   Sekarang, tertawa.   "Papa, Papa, Mama lucu, Pa! Orlin suka!" Lapor sama Ndoro Bapak yang lagi sibuk sama wankawan tajirnya. Biasa, vidcall.   "Ah, iya, Nak. Mainnya jangan nakal, ya."   Kembali, terkekeh. "Iya, Papa. Pasti." Lalu, memandang Kin. "Apa Mama mencintai Papa?"   Kin pun mengangkat bahu. "Enggak tahu. Papamu minta dihruqyaj."   Oke. Sebut saja itu jawaban yang tidak sopan dan tidak pantas diajar. Tapi, jika tidak diungkapkan. Oh ... demi apapun, Kin sangat kesal.   Orlin pun justru tertawa.   "Bukannya Papa sangat baik kepada Mama? Kalau nggak salah, ini sudah hari keenam Mama di sini. Mama bahkan selaku bersama Papa. Di kamar, aku tidak boleh ke sana. Padahal aku selalu tidur dengan Papa …"   Jemari Kin menjentik. "Nah, Papa itu kan orang paling baik sedunia. Dia bahkan lebih ganteng dari Supermen. Abis ini ... Orin suruh Papa aja buat tidur sama Orin aja. Mama juga kadang capek disayang Papa terus. Papamu emang betul-betul harus disembur. Nanti, lain kali, Orin sembur Papa buat Mama, ya? Orin, kan, sayang Mama, iya, kan? Nanti kalo Orin ngak nonjok Papa, Mama pergi, loh. Mama mau cari anak yang lebih penurut."   "Dan, anak penurut itu akan datang sebentar lagi. Aku akan memberikan enam anak kembar sekaligus untukmu. Tapi, ya, aku pun rela kalau harus lebih dari itu."   Ehhh????   Orin terkekeh. "Mama lucu. Galak tapi menggemaskan juga. Kayak kucingnya Orin. Sangaaaatt manis."   "Makanya, Papa suka sama Mama."   Ihhh ... setan ruqyah satu ini.   Di depan bocah juga tetep gaskeun rangkul bahu. "Eh, lepas, ya. Nggak baik buat kesehatan bakteri."   "Tuh, lihat Mamamu, Orin, sama bakteri aja nggak tega apalagi sama Papa? Makanya, kalo Mama nyuruh Orin nonjok Papa jangan didengerin, itu artinya, dia mau Orin sayang Papa banyak-banyak."   Walhasil, berpelukanlah dua teletubbies yang bak Tinkiwinkie dan Dipsy tersebut.   Kin merunduk ngeri. "Nggak kebayang anakku akan seperti apa jika terus bersama Dewangga. Bagaimanapun, aku harus menemukan cara agar bisa keluar, pergi, jauh, musnah, tak lagi di sini, dan berurusan dengannya."   ***   Dan, bulatlah tekad Kin. Malam itu ia jadikan sebagai malam eksekusi.   Dengan lampu sekadarnya, Kin bertekad untuk jauh sejauh mungkin dari ring neraka tersebut.   Wajah Dewangga, di matanya, bak poster makanan pedas yang bikin dia mikir dua kali, apakah pantas penuh racun dan membahayakan kesehatan begitu, ia pertahankan?   Ah, persetan.   Tidak perduli apapun lagi, Kin kabur.   Dia memutuskan lari secepat mungkin begitu keluar dari kamarnya.   Sesuai yang dia mau. Akhirnya Kin berhasil membujuk Orin, putri kesayangan duda gila seperti Dewangga, memaksa untuk tidur dengannya.   Jujur. Seharian ini, total ada tujuh hari bersama Dewa. Semuanya membuat Kin sangat tak bisa menahan emosinya.   "Pokoknya, ini harus berhasil dan jadi tanda merdeka."   Di sudut halaman belakang yang seperti anak sekolah minggat, Kin beranikan diri untuk nekad naik tangga tak perduli jatuh tersungkur di tanah.   Kin bergegas pergi. Meski sangat kepayahan di tambah lagi adanya gerimis rintik-rintik. Patroli sedang makan nasi goreng. Ini pukul dua malam.   "Aman, pasti amaan,” seringainya. Kalau seperti ini terus bagaimana bisa Rara lulus tepat waktu. Tetapi bukan Kin namanya kalau harus menyerah. Meskipun tak kunjung dibalas, Dewangga tetap mengirimkan pesan kepada Kin dan terus berharap ada mukjizat pesannya dibalas. Tepat seminggu lamanya, akhirnya pesan Kin mendapat balasan juga. Namun bukannya senang, rasa kesal R Kin justru semakin berlipat ganda. Tentu saja Kin tidak ikut dengan berpura-pura masih lelah. Sementara Dimitri dan Randra pergi, Rara langsung menjalankan Tak lama setelah adiknya rencana. Meninggalkan rumah, Raksaka ayah Rara datang untuk membantu dia dan Vena ibunya menyiapkan kejutan untuk Randra. Disusul dengan teman-teman dekat Randra yang datang berikutnya. Setelah mendapatkan pesan dari Rara, Dimitri langsung buru-buru mengajak Randra pulang. Rasa kesal Randra semakin bertambah, padahal mereka baru saja memesan makan. Namun rasa kesal Randra tak berlangsung lama karena ketika dia pulang, rumahnya sudah ramai dengan keluarga serta teman dekatnya. "Surprise!" Teriak semua orang. Asha terperangah. la dipanggil sesore ini hanya untuk mendengar lagi ceramah tentang kartu karyawan? Astaga ... ia hanya menghilangkan kartu karyawan, bukan berlian! Namun keterkejutan Asha bertambah, saat tangah Leon mengulurkan barang yang seharian ini menjadi sumber masalah harinya. "Kok. kok ... bisa?" Asha mengerjap menatap Leon Wicaragenara tak percaya. Tidak usah banyak tanya! Cepat ambil dan ucapkan terima Selesai acara, Rara bukannya langsung beristirahat, dia malah sibuk membereskan kamarnya karena Dimitri akan tidur bersamanya malam ini. Ini semua gara-gara Randra yang dengan tidak tahu dirinya mengajak temannya menginap. Tidak mungkin mereka tidur berdesakan di kamar Randra, jadi mau tidak mau Dimitri tidur di kamar Rara. kasih pada Leon!" perintah Hazel pada Asha yang masih dilanda penasaran. Leon, yang tersenyum bak pahlawan kesiangan sore ini, menatap Asha seraya menahan tawa melihat raut wajah lugu adik ipar mantan kekasihnya itu. Namun senyum dan tawa yang ia tahan, seketika lenyap berganti kebingungan dan prasangka buruk saat dua tangan Asha terulur untuk menerima kartu milik gadis itu. "Hazel," panggil Leon Wicaragenara tanpa melepas tatapannya pada salah satu tangan Asha. "Gue penasaran, berapa lo gaji karyawan lo sampai mereka..." Sejak perceraian kedua orang tuanya, Rara hampir tidak pernah kembali ke Bandung kalau bukan karena satu hari spesial. Tidak, hari itu bukanlah hari ulang tahunnya, melainkan hari ulang tahun Gray. Sesibuk apapun Kin dengan kegiatan kuliahnya, dia pasti selalu menyempatkan pulang untuk merayakan hari ulang tahun Kin. Dan tahun ini perayaannya akan sedikit berbeda karena tahun ini kemungkinan tahun terakhir Gray merayakan ulang tahunnya di Bandung, karena adiknya ini berniat untuk menyusul Rara kuliah di Jakarta. Beruntungnya Gray mau membantu Kin menyiapkan kejutan untuk Kin. Sejak pagi dua anak muda ini sudah tiba di stasiun dan akan segera berangkat menuju Bandung. Saat diperjalanan Kin hanya menatap ke arah jendela.   Tapi, Dewangga nggak menggubris. Dia malah lanjut bilang, "Karena sudah lengkap, ayo kita mulai makannya," kata Dewangga, lalu Orlin yang lagi aktif-aktifnya belajar banyak hal pun memimpin mereka dalam doa makan lalu mereka mulai makan siang. Kin pun memperhatikan kalau makanan hari ini adalah menu kesukaan seisi rumah. Ada udang goreng telur asin, pari bakar, cumi goreng tepung, dan tumis kangkung. Terutama, Orlin, dia pasti sangat menantikan makan siang ini, karena semua anggota keluarga sibuk dari senin sampai sabtu, sehingga jarang bertemu. Dewangga menanyakan tentang Kin yang masih kerja sama Mbak Ser dan juga teman sial bodoh yang suka Kin buat emosi, Alora, dan juga mengenai pekerjaan dan studi mereka, lalu sekolah si Orlin. Terakhir, dia ujung-ujungnya sibuk juga sama laptop yang udah kayak ayangbebnya. "Terus, bagaimana dengan perusahaan yang kata Alora kamu bahkan diterima tiga kali di sana?" tanya Dewangga. Kin hampir mengumpat. Masalahnya, perusahaan itu, tuh, Graydebara Bos m***m. Tentu, akan bikin perang dunia ketiga kalau sampai Kin masuk ke sana. Apalagi kelakuan nggak ada kelakuan si Bosnya. Apa nggak bikin Kin makin ngerasain neraka? Bareng Dewangga aja, dia ngerasa sial banget. Apalagi ditambah Graydebara. Yang ada, berabe dia. "Ah, itu, mah, nggak usah dipikirin, Tu—eh … Mas Dewangga." Kin nyengir, jatuhnya meringis, sih, namun, yang jelas, itu senyuman yang super creepy. "Toh, juga, se-oke okenya juga, Si Kanjeng Ndoro Bos, makin rame, juga bakalan ada niatan merenovasinya supaya bisa menampung lebih banyak orang. Kan, Mas Dewangga Tercinta juga tahu betapa nggak love-nya saya sama ruangan minimize," jawab Kin. Tuan Dewangga mengangguk-angguk. Untung aja jiwa keponya, tuh, cowok nggak membara. "Ah, Lagian … Papi tanyanya yang mau nampung Mama melulu. Tanyanya kapan Mama mau jadi anak buah Papi, dong. Mama, kan, juga baik sama Orlin," keluh Orlin bikin 1000 watt Kin nyala gitu aja. Deg. "Orlinnnn …." tegur Dewangga, tahu kalau ini adalah topik yang aneh buat jadi kenyataan untuk putri si Kin memilih hal tersebut. Lagi pula, itu berbahaya. ‘Bisa mateng gue deket sama dia, bukannya bantuin, yang ada protes system mulu’. Tapi bukan Dewangga namanya kalau semudah itu menyerah. "Ini serius, Papi. Very very important topic." "Wihhh … makin jago aja Inggrisnyeee …" Kin malah hepi. "Nih, tambah makan dulu. Makannnn …" *** Setelah aman, itu cewek malah ngacir ke tukang soto sambil bergaya ala tukang yang butuh makan segentong. Maklum, berurusan sama CEO kurang belai dan anak kecil yang menghayati kalau Kin adalah emaknya itu butuh tenaga ekstra. Perlu pula kuda-kuda santa claus biar mereka nggak crush. Ya, begini lah musibah orang beriman. Adaaaaa aja errornya. Hingga, yang namanya problem detik itu bertambah. Kin yang mencintai soto hingga ke kuah tetes terakhir, mendadak keselek usai melihat ada sosok iblis yang turun dari khayangan bernama mobil mewah tak terdefinisi—saking bagusnya Kin ampe nggak tahu itu merk apa. "Lah, dia di sini?" Kin melebarkan mata. Terkejut setengah mati waktu tahu itu adalah Graydebara. Cowok paling absurd semuka bumi yang otaknya cuma membalas dengan anarkis. Bukan anarkis, sih, tapi difasilitasi sampai ke tahap uvvu-amaizing. Kayak kemarin, kan, kesoetjian yang Kin miliki mendadak jadi terancam. "Kenapa dia malah ke warung rakjel begini, sih? Sok merakyat banget! Mau pemilu apa?" Di situ, bodohnya Kin, dia malah misuh dulu bukannya kabur. Itu menjadikan si predator dengan mudah menangkap dia. Yang ada di kepala Kin, sih, mateng dia. Bisa kena pidana karena menyiksa CEO dan membantingnya bak ia Ninja Warrior membela keadilan. Mana rekaman suara nyaris mengancamnya ada di rumah si Dewangga lagi. Kan, alamat banget. "Aloraaa?" Nah, bagus, doi nggak tahu nama asli Kin. "Kamu di sini?" Dia nanya gitu. Padahal itu adalah pertanyaan paling bodoh semuka bumi. Kin cuma senyum anggun bak ratu solo. "Ente siapa, ya? Kenapa pegang-pegang pundak saya?" Kin yang ingin melepaskan tangan dari cowok itu pun gagal karena cowok itu menarik tubuhnya lewat tangannya untuk mengikis jarak antara mereka. Itu membuat Gray dengan mudah menatap intens Kin. "Kamu nggak usah pura-pura lupa saya." Terus, Gray menunjuk ke pipi kanannya. "Indah, kan, karya kamu?" Iya. Indah. Sampe memar dan bonyok gitu pipinya. Kin aseli pengen banget dia senyum kalau nyatanya dulu dia yang selalu kabur kalau pelajaran bela diri dan memilih buat nge-es di sekolah, kini, bangga, karena nyatanya, dia terlalu bagus untuk jadi suhu. Tuh, bahkan di level malas aja bisa, loh, dia bikin muka anak orang diperban. Sungguh strong dia ini. Hehehe. Tapi, Kin hanya mengelak dengan bilang, "Itu mukanya kenapa, Mas? Kena tonjok, ya? Aduh, kasihan banget, deh. Masnya kalah, ya? Payah banget." Yaaaahh ... itu malah bikin senyum makin ketata di wajah Gray. "Kamu satu-satunya cewek yang mengatakan saya payah, yang bahkan nanya skincare saya, waktu itu juga kamu nanya merk sandal saya. Kamu tahu? Efek dari aksi nggak terduga kamu, menganiaya saya, membuat saya jadi kehilangan kesempatan buat iklanin produk s**u Penambah Massa Tubuh, Skincare Men yang mau rilis tahun ini, dan Merk Sandal famous." Glek. Kin menelan ludah. Tapi, mau bengek juga dia. Bukannya dia CEO perusahaan minyak? Kenapa dia nggak mikirin bikin minyak sayur dulu malah mau bintangin iklan? "Makanya saya mau minta ganti rugi hari ini." Kin mode ngamuk. "Kok malah jadi hutang begini, sih? Emangnya gue jiwaswaraya apa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN