Ya sudah lah, persetan. Nggak ada yang lebih penting daripada pekerjaan dan hidupnya. Kalau tidak, bisa dicincang massa karena dia nggak kuliah dan nggak bekerja demi menyambung sisa nyawanya.
Namun, begitu Kin melepas paksa anak kecil perempuan tadi dari tangannya, seorang laki-laki, menarik pinggang Kin erat hingga membuat Kin dipeluk satu tangan. Dengan posisi kepala di bahu kirinya.
Dalam jarak seperti ini, bisa Kin lihat siapa laki-laki yang bergaya 'tampak orang terlalu kaya' tersebut.
Dia mengatakan, "Jadi, sudah ketemu Mama?"
Cerita Alora dengan dua pacarnya tadi terus berputar ulang dibenak Kin. Kalau memang Gray pernah bertunangan dan pertunangannya harus batal, kasihan sekali dosennya itu. Kin memang tidak mengetahui apa masalahnya, tapi tetap saja sebuah perpisahan sedikit banyak pasti akan meninggalkan luka.
Masih.
Jangankan pertunangan batal, putus saat berpacaran saja terasa sakit. Meskipun tidak semuanya akan terus terasa sakit, ada kalanya terasa sakit di awal, namun melegakan pada akhirnya. Apapun masalahnya, Rara jadi menaruh simpati dengan dosennya itu.
Rasa simpati Rara dengan Gantari hanya bertahan beberapa hari dan digantikan dengan rasa kesal. Bagaimana tidak, Gantari tidak pernah membalas pesan Rara sekali pun.
Kalau seperti ini terus bagaimana bisa Rara lulus tepat waktu.
Tetapi bukan Kin namanya kalau harus menyerah.
Meskipun tak kunjung dibalas, Dewangga tetap mengirimkan pesan kepada Kin dan terus berharap ada mukjizat pesannya dibalas.
Tepat seminggu lamanya, akhirnya pesan Kin mendapat balasan juga. Namun bukannya senang, rasa kesal R Kin justru semakin berlipat ganda.
Sejak perceraian kedua orang tuanya, Rara hampir tidak pernah kembali ke Bandung kalau bukan karena satu hari spesial. Tidak, hari itu bukanlah hari ulang tahunnya, melainkan hari ulang tahun Gray.
Sesibuk apapun Kin dengan kegiatan kuliahnya, dia pasti selalu menyempatkan pulang untuk merayakan hari ulang tahun Kin. Dan tahun ini perayaannya akan sedikit berbeda karena tahun ini kemungkinan tahun terakhir Gray merayakan ulang tahunnya di Bandung, karena adiknya ini berniat untuk menyusul Rara kuliah di Jakarta.
Beruntungnya Gray mau membantu Kin menyiapkan kejutan untuk Kin. Sejak pagi dua anak muda ini sudah tiba di stasiun dan akan segera berangkat menuju Bandung.
Saat diperjalanan Kin hanya menatap ke arah jendela.
Walau pandangannya tampak kosong. sebenarnya pikiran Kin sudah berkelana kemana-mana. Dia memikirkan bagaimana caranya dia bisa memuntahkan makanannya saat dia berada di rumah nanti.
Di saat pikiran Kin sibuk menyusun rencana yang harus dilakukannya nanti saat di rumah, tiba-tiba pikirannya terusik ketika kepala Gray bersandar di bahunya. Dimitri tampak kelelahan, dia pasti sibuk latihan semalam dan pagi-pagi sekali tadi mereka sudah berangkat ke stasiun.
**
Hari yang dinanti pun tiba. Sejak pagi Kin sudah masuk ke kamar anak Dewangga untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun, bedanya kalau setiap tahun Rara sudah menyiapkan kue dan kado, tahun ini Rara sengaja tidak menyiapkan apapun. Begitu juga dengan Dimitri dan kedua orang tuanya yang sudah disuruh oleh Rara untuk tidak menyiapkan kado untuk Randra.
Rencana Rara berhasil. Randra terlihat agak kesal karena tidak menerima kue maupun kado seperti biasanya. Dan untuk menghibur Randra, Dimitri mengajak Randra keluar.
Tentu saja Kin tidak ikut dengan berpura-pura masih lelah.
Sementara Dimitri dan Randra pergi, Rara langsung menjalankan
Tak lama setelah adiknya rencana. Meninggalkan rumah, Raksaka ayah Rara datang untuk membantu dia dan Vena ibunya menyiapkan kejutan untuk Randra. Disusul dengan teman-teman dekat Randra yang datang berikutnya.
Setelah mendapatkan pesan dari Rara, Dimitri langsung buru-buru mengajak Randra pulang. Rasa kesal Randra semakin bertambah, padahal mereka baru saja memesan makan. Namun rasa kesal Randra tak berlangsung lama karena ketika dia pulang, rumahnya sudah ramai dengan keluarga serta teman dekatnya.
"Surprise!" Teriak semua orang.
Asha terperangah. la dipanggil sesore ini hanya untuk
mendengar lagi ceramah tentang kartu karyawan? Astaga ... ia hanya
menghilangkan kartu karyawan, bukan berlian! Namun keterkejutan
Asha bertambah, saat tangah Leon mengulurkan barang yang
seharian ini menjadi sumber masalah harinya.
"Kok. kok ... bisa?" Asha mengerjap menatap Leon Wicaragenara tak percaya.
Tidak usah banyak tanya! Cepat ambil dan ucapkan terima
kasih pada Leon!" perintah Hazel pada Asha yang masih dilanda penasaran.
Leon, yang tersenyum bak pahlawan kesiangan sore ini,
menatap Asha seraya menahan tawa melihat raut wajah lugu adik
ipar mantan kekasihnya itu. Namun senyum dan tawa yang ia tahan,
seketika lenyap berganti kebingungan dan prasangka buruk saat dua
tangan Asha terulur untuk menerima kartu milik gadis itu.
"Hazel," panggil Leon Wicaragenara tanpa melepas tatapannya pada salah satu tangan Asha.
"Gue penasaran, berapa lo gaji karyawan lo sampai mereka..."
Asha Nayana dan Hazel menunggu kalimat Leon yang tertahan.
Randra tidak bisa menyembunyikan rasa harunya dan langsung memeluk Rara sambil mengucapkan terima kasih.
Rara membalas pelukan adiknya, dia merasa senang Randra suka dengan kejutan ulang tahun yang disiapkannya. Rara
membisikkan kata terima kasih untuk Dimitri dari balik pelukan adiknya yang dijawab anggukan oleh Dimitri.
Selesai acara, Rara bukannya langsung beristirahat, dia malah sibuk membereskan kamarnya karena Dimitri akan tidur bersamanya malam ini. Ini semua gara-gara Randra yang dengan tidak tahu dirinya mengajak temannya menginap. Tidak mungkin mereka tidur berdesakan di kamar
Randra, jadi mau tidak mau Dimitri tidur di kamar Rara.
Seharusnya tidak masalah kalau mereka masih anak- anak, tapi Rara dan Dimitri bisa dibilang sudah cukup dewasa untuk di tempatkan sekamar berdua. Mau bagaimana lagi.
Sepertinya Kin terlalu cepat berbahagia. Meski pun sedang online, Gantari tak kunjung membalas pesan Kin.
Jari-jemari Kin sudah gemas ingin mengespam dosennya itu, namun tentu saja Rara tidak melakukannya. Bukannya dibalas, bisa-bisa kontak Kin diblokir oleh Agrya.
Menit demi menit Rara lewati dengan sabar sambil terus mengecek hpnya, melihat apakah sudah ada balasan. tidak. Mulai dari sejam-dua jam sampai akhirnya Kin tertidur karena bosan menunggu.
'Wah, dia sama gilanya kayak anaknya.'
Siapapun pasti akan mengatakan itu karena keduanya sangat ... mirip. Bedanya mata anak itu tidak seperti laki-laki ini. Tegas, menawan, dan menjatuhkan. Seolah tidak memberikan satu celah pun untuk bermain-main dengannya.
Tapi, pertanyaannya … siapa laki-laki ini?
Lalu, dia menoleh pada Kin, "Mulai hari ini, kita akan bawa Mama ke rumah kita."
Tunggu.
Dalam kepala Kin seketika terputar cuplikan suara amat hina dalam kondisi remang-remang yang berada di kamar.
Dia bisa melihat adanya satu peristiwa yang terkunci dan baru terbuka sekarang.
Seketika, Kin menutup mulut dengan tangan. 'ASTAGA ... DIA ....'
Dan, secepat itu juga, dia makin menundukkan kepalanya, seolah ingin mendaratkan ciuman, tapi sekejap itu pula memberi sebuah pertanyaan, "Sudah ingat aku?"
Sontak ... Kin melakukan ketidaknormalan lain di saat ia ingin hidupnya normal-normal saja.
Yaitu, menampar laki-laki tersebut hingga kungkungannya terlepas.
Yap. Menampar dengan kekuatan maksimum dan menjelma jadi wanita perkasa.
"Dasar cowok m***m!"
Ya, dialah laki-laki yang membuatnya tak bisa bernapas bahkan untuk pagi hari. Dia laki-laki menyebalkan yang membuatnya masuk ke dalam neraka paling ternoda.
Laki-laki itu, tampak mendekat pada Kin. Tadi, menyentuh luka yang tersampir di bibirnya. Ada aura intimidasi saat menghampiri. "Kamu tidak tahu, ya, konsekuensi melawanku?"
Kin menarik seringai, "Konsekuensi menggeret seorang yang tak tahu diri ke polisi maksudmu? Cihh, emang kamu pikir aku mau disogok sepersekian juta uang bahkan miliaran yang kamu sebar malam itu! Kamu pikir perempuan nggak punya harga diri apa?"
Rahang Dewangga tampak mengeras. Bibirnya terkantup meski ekspresinya dingin dan tenang. Lalu, di tengah keramaian itu, dia mendekat, menekan bahu Kin.
Lalu, memeluknya memenangkan.
'Sial, laki-laki ini, kuat sekali. Apa yang mau dia lakukan?'
Ternyata, Dewangga mengklik ponselnya untuk segera menelepon bodyguardnya. Untuk mengeksekusi hal yang seharusnya.
"Bawa dia."
Begitu perintahnya.
***
Benar dugaan Kin, dia emang ditakdirkan untuk pingsan lagi.
Beneran, deh. Kin pengen misuh sampai Arizona.
Kenapa coba kegilaan terus menerus menyicil pada dirinya?
Oke, ini adalah rekor bagi hidupnya. Setelah digendong ala bridal style oleh laki-laki tadi, Kin langsung dieksekusi bersama sekitar empat cowok tampan yang ternyata bodyguard laki-laki tersebut.
'Sebenarnya ... sepenting apa, sih, cowok itu? Sampai, dia harus punya bodyguard segala?'
Kin menautkan alis. Kini, jantungnya berdegup kencang. Karena pemandangan yang ia lihat adalah tangannya diikat dengan tali bersama posisi sang laki-laki berengsek yang ingin ia maki tengah meminum wine melihatnya di samping. Jadi, mereka tidur di kasur yang sama.
Bedanya, Kin diikat dan Dewangga tengah meminum anggur.
Sontak saja, itu membuat Kin meronta. "Lepas! Kamu apakan aku? Kenapa kamu mengikatku?"
Tapi, sayang, tidak mudah melepas simpulan tali yang teramat rumit seperti itu.
Dia menoleh dingin, "Ternyata sudah bangun," katanya acuh. Lalu, mendecak kecil. Dari sorot mata, laki-laki ini tampak kosong dan datar saja. "Kamu cantik juga."
"Dasar gila!" serapah Kin. Kin juga bingung sebenarnya, kenapa pula ia harus ganti pakaian seperti sekarang.
Maksud Kin, terakhir kan dia pakai baju rumah sakit. Kenapa sekarang jadi pakai baju pendek begini? Tidakkah ini terlampau ... mengundang?
Apalagi tatapan buas laki-laki yang jakunnya tampak naik turun. Kin ngeri sekali. Sepertinya, dalam hitungan detik, Kin akan diterjangnya.
Astaga!
"Kamu takut?"
'Tentu saja!' Itu adalah kata yang ingin Kin teriakan.
"Sungguh kamu sama sekali tidak ada harga dirinya."
"Kamu malah mencaci," ujarnya, menuang lagi anggur. Lalu, mengocoknya sebentar di gelas.
"Apa? Apa tidak salah?" Kin membuang keenggakpercayaan alias nggak menyangka. "Kamu menculikku, memberiku minuman yang memabukkan, lalu menerkamku semalaman penuh dalam kondisi tak sadar? Begitu?"
"Well, urusan terkam menerkam memang benar. Tapi, Nona, aku adalah pemburu yang terhormat. Tidak mungkin kumangsa satu hewan pun tanpa adanya persetujuan berarti."
"Maksudmu?"
"Apa kamu masih tak sadar juga? Tak peka juga dengan apa yang terjadi antara kita?"
Dasar gila!
***
'Sudah Menjadi Milik Dewangga? Tapi, demi apa?'
Dewa bahkan kini sangat menghayati betapa monsternya ia.
Yang memang kelakukannya sangat memangsa.
Sekarang, di telinganya, berdentuman suara nikmat yang biasa dirasakannya. Dia mengulang lagi sebuah dosa sebagai makanan. Dengan gadis keras kepala ini.
Tak mengindahkan rintihan lelah dan ingin musnah dari tempat itu yang keluar dari mulut Kin sesegera mungkin. Dia terlanjut terjerat. Dan, tak ada hal mewah yang bisa dia lakukan kecuali patuh.
"Ini hanya untuk tanda bahwa kamu harus menjadi istriku."
"k*****t!" Itulah yang keluar dari mulut Kin. Di mana-mana pemaksaan pakai surat kontrak.
Lah, ini? Pakai aksi.
Kurang ajar memang!
Kin pun merasa sangat tertekan. Berkat tak usai-usai semua tangisannya terbuang. Yang artinya Dewa, cowok sok dewa memang ini, sungguh tak akan berhenti sampai Kin menyerah dan mau menjadi miliknya.
"Lepaskan aku! Tolong!"
"Percuma kamu teriak, kamu sudah masuk ke dalam milikku, maka tak ada lagi yang mendengarkanmu!"
Paksaan seperti sekarang ini, sangat tak disukainya.
Hingga pagi hari itu, dia bangun di ranjang. Makhluk laknat seperti Dewa ternyata sudah sibuk membaca koran. Telah bangun duluan dan bahkan sudah mulai kasar lagi. Menciumnya.
"Kamu sangat ... galak."
Klasik, membelai rambut. Meski sapaannya sangat ngajak ribut. Lalu, memeluk saat keduanya hanya ditutup selimut.
Loh, dia bahkan masih dalam kondisi sama dengan Kin?
Yang jelas, ini membuat Kin semakin bersemangat menendangnya. Sayang, itu diartikan hal lain.
Di tengah amukan, Dewangga berkata, "Kamu, amuki aku saja di kamar mandi. Sini, kamu aku gendong."
Sungguh, ini tak akan ... ada habisnya.
***
"Sudah, kenapa kamu malah jadi semakin misuh begitu?"
"Bersama pria berengsek yang memaksaku? Berkali-kali pula? Jelaskan, hormat macam apa yang harus aku perlihatkan?”
Dewangga senyum, menutup laptopnya. Hari ini, ia memang dipaksa untuk menemani Dewangga di ruang kerjanya. Entah untuk apa, mungkin, pajangan. Atau mau membandingkan kenapa Monalisa tak bisa kalah cantik dengan Kin.
"Kin, dengar. Aku hanya membuatmu merasakan surga."
"Pret ..."
Dewangga tertawa. "Kenapa kamu malah membuatku gemas, hem? Jangan begini, aku bisa menyerangmu lagi. Yang mungkin saja, di tempat yang tak terduga sebab aku tak bisa tahan lama-lama denganmu."
Di sana ada foto mantan istrinya. Terlihat sangat cantik yang bisa Kin pastikan, pastilah sangat berarti untuk Dewangga karena bersama gadis itu. Entah mengapa, dalam sejenak, Kin yakin. Dewangga yang suka memangsa, tak beginilah Dewangga yang sesungguhnya.
"Kenapa istrimu bisa meninggal?" Langsung. Rahang Dewangga mengeras, dia menatap Kin dingin. "Apa, sih? Aku cuma nanya."
"Dan, itu hal yang tak pernah boleh disuarakan."
Dahi Kin mengerut. "Bukannya aku ini istri ngawurmu? Kamu perlakukan aku dengan seenak jalan, ya wajar dong aku bertanya padamu seenak kepala."
Dia tersenyum.
Itu adalah ekspresi yang mengerikan.
"Aku suka dengan perlawannmu." Dia menunduk. "Dan, kengawuranmu harus menjaga privasi."
Kin tertawa. "Kamu bahkan sudah mengobrak-abrik privasiku. Ujung kepala sampai kaki, kamu nistai. Sadar nggak sama diri sendiri?!"
"Seenggaknya aku tahu kalau aku sangat tertarik padamu."
"Dan, aku nggak akan bosan-bosan menolakmu."
Dewangga mengangguk teratur. "Kita lihat saja siapa yang akhirnya jatuh di akhir nanti."
"Oke." Kin membusungkan d**a. Jelas saja, lepas dari cowok ini adalah hal paling menyenangkan di dunia. "Aku bahkan sangat tidak sabar untuk mengolokmu!"