Long

1918 Kata
Sela dipaksa sang Mama Tiri untuk bekerja saja di diskotik melayani hidung belang. Cerita Alora dengan dua pacarnya tadi terus berputar ulang dibenak Kin. Kalau memang Gray pernah bertunangan dan pertunangannya harus batal, kasihan sekali dosennya itu. Kin memang tidak mengetahui apa masalahnya, tapi tetap saja sebuah perpisahan sedikit banyak pasti akan meninggalkan luka. Masih. Jangankan pertunangan batal, putus saat berpacaran saja terasa sakit. Meskipun tidak semuanya akan terus terasa sakit, ada kalanya terasa sakit di awal, namun melegakan pada akhirnya. Apapun masalahnya, Rara jadi menaruh simpati dengan dosennya itu. Rasa simpati Rara dengan Gantari hanya bertahan beberapa hari dan digantikan dengan rasa kesal. Bagaimana tidak, Gantari tidak pernah membalas pesan Rara sekali pun. Kalau seperti ini terus bagaimana bisa Rara lulus tepat waktu. Tetapi bukan Kin namanya kalau harus menyerah. Meskipun tak kunjung dibalas, Dewangga tetap mengirimkan pesan kepada Kin dan terus berharap ada mukjizat pesannya dibalas. Tepat seminggu lamanya, akhirnya pesan Kin mendapat balasan juga. Namun bukannya senang, rasa kesal R Kin justru semakin berlipat ganda. Sejak perceraian kedua orang tuanya, Rara hampir tidak pernah kembali ke Bandung kalau bukan karena satu hari spesial. Tidak, hari itu bukanlah hari ulang tahunnya, melainkan hari ulang tahun Gray. Sesibuk apapun Kin dengan kegiatan kuliahnya, dia pasti selalu menyempatkan pulang untuk merayakan hari ulang tahun Kin. Dan tahun ini perayaannya akan sedikit berbeda karena tahun ini kemungkinan tahun terakhir Gray merayakan ulang tahunnya di Bandung, karena adiknya ini berniat untuk menyusul Rara kuliah di Jakarta. Beruntungnya Gray mau membantu Kin menyiapkan kejutan untuk Kin. Sejak pagi dua anak muda ini sudah tiba di stasiun dan akan segera berangkat menuju Bandung. Saat diperjalanan Kin hanya menatap ke arah jendela. Walau pandangannya tampak kosong. sebenarnya pikiran Kin sudah berkelana kemana-mana. Dia memikirkan bagaimana caranya dia bisa memuntahkan makanannya saat dia berada di rumah nanti. Di saat pikiran Kin sibuk menyusun rencana yang harus dilakukannya nanti saat di rumah, tiba-tiba pikirannya terusik ketika kepala Gray bersandar di bahunya. Dimitri tampak kelelahan, dia pasti sibuk latihan semalam dan pagi-pagi sekali tadi mereka sudah berangkat ke stasiun. ** Hari yang dinanti pun tiba. Sejak pagi Kin sudah masuk ke kamar anak Dewangga untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun, bedanya kalau setiap tahun Rara sudah menyiapkan kue dan kado, tahun ini Rara sengaja tidak menyiapkan apapun. Begitu juga dengan Dimitri dan kedua orang tuanya yang sudah disuruh oleh Rara untuk tidak menyiapkan kado untuk Randra. Rencana Rara berhasil. Randra terlihat agak kesal karena tidak menerima kue maupun kado seperti biasanya. Dan untuk menghibur Randra, Dimitri mengajak Randra keluar. Tentu saja Kin tidak ikut dengan berpura-pura masih lelah. Sementara Dimitri dan Randra pergi, Rara langsung menjalankan Tak lama setelah adiknya rencana. Meninggalkan rumah, Raksaka ayah Rara datang untuk membantu dia dan Vena ibunya menyiapkan kejutan untuk Randra. Disusul dengan teman-teman dekat Randra yang datang berikutnya. Setelah mendapatkan pesan dari Rara, Dimitri langsung buru-buru mengajak Randra pulang. Rasa kesal Randra semakin bertambah, padahal mereka baru saja memesan makan. Namun rasa kesal Randra tak berlangsung lama karena ketika dia pulang, rumahnya sudah ramai dengan keluarga serta teman dekatnya. "Surprise!" Teriak semua orang. Asha terperangah. la dipanggil sesore ini hanya untuk mendengar lagi ceramah tentang kartu karyawan? Astaga ... ia hanya menghilangkan kartu karyawan, bukan berlian! Namun keterkejutan Asha bertambah, saat tangah Leon mengulurkan barang yang seharian ini menjadi sumber masalah harinya. "Kok. kok ... bisa?" Asha mengerjap menatap Leon Wicaragenara tak percaya. Tidak usah banyak tanya! Cepat ambil dan ucapkan terima kasih pada Leon!" perintah Hazel pada Asha yang masih dilanda penasaran. Leon, yang tersenyum bak pahlawan kesiangan sore ini, menatap Asha seraya menahan tawa melihat raut wajah lugu adik ipar mantan kekasihnya itu. Namun senyum dan tawa yang ia tahan, seketika lenyap berganti kebingungan dan prasangka buruk saat dua tangan Asha terulur untuk menerima kartu milik gadis itu. "Hazel," panggil Leon Wicaragenara tanpa melepas tatapannya pada salah satu tangan Asha. "Gue penasaran, berapa lo gaji karyawan lo sampai mereka..." Asha Nayana dan Hazel menunggu kalimat Leon yang tertahan. Randra tidak bisa menyembunyikan rasa harunya dan langsung memeluk Rara sambil mengucapkan terima kasih. Rara membalas pelukan adiknya, dia merasa senang Randra suka dengan kejutan ulang tahun yang disiapkannya. Rara membisikkan kata terima kasih untuk Dimitri dari balik pelukan adiknya yang dijawab anggukan oleh Dimitri. Selesai acara, Rara bukannya langsung beristirahat, dia malah sibuk membereskan kamarnya karena Dimitri akan tidur bersamanya malam ini. Ini semua gara-gara Randra yang dengan tidak tahu dirinya mengajak temannya menginap. Tidak mungkin mereka tidur berdesakan di kamar Randra, jadi mau tidak mau Dimitri tidur di kamar Rara. Seharusnya tidak masalah kalau mereka masih anak- anak, tapi Rara dan Dimitri bisa dibilang sudah cukup dewasa untuk di tempatkan sekamar berdua. Mau bagaimana lagi. Sepertinya Kin terlalu cepat berbahagia. Meski pun sedang online, Gantari tak kunjung membalas pesan Kin. Jari-jemari Kin sudah gemas ingin mengespam dosennya itu, namun tentu saja Rara tidak melakukannya. Bukannya dibalas, bisa-bisa kontak Kin diblokir oleh Agrya. Menit demi menit Rara lewati dengan sabar sambil terus mengecek hpnya, melihat apakah sudah ada balasan. tidak. Mulai dari sejam-dua jam sampai akhirnya Kin tertidur karena bosan menunggu. Diurus Tante, Sela pun akhirnya menjadi PSK resmi yang terdaftar sebagai kategori 'perawan' di sana. Sayang ... hari pertamanya kerja, dia malah cari masalah dengan Tuan Hadrig. Seorang CEO Besar perusahaan otomotif yang tengah mengadakan seleksi PSK terbaik di ruangan privat diskotik tersebut. Eh, tapi, kenapa ... Sela terasa berbeda dan amat menantang? Fix. Gadis ini ... harus dimilikinya sekarang! *** Paling parah itu ... Saat kamu nggak tahu apa-apa, tak bersangkut paut pada soal apa-apa, tiba-tiba menerima batu untuk bertanggung jawab di atas semuanya. Itulah yang dirasakan Sela. Di umurnya yang 19 tahun, baru saja merasakan pahit manis di dunia kerja, dia lantas dilarikan ke diskotik oleh sang Tante yang merupakan adik dari Ibu tirinya, untuk menghasilkan uang saja di sana. Tentu karena hal yang haram acapkali lebih 'menjanjikan' daripada bertempur dengan yang 'halal'. Itulah yang menjadikan Sela kini hanya memakai rok teramat mini yang mengekspos sempurna paha cantiknya. "Aduh ..." keluh Sela tak nyaman. Ya, bagaimana tidak? Dress ini terlalu ketat hingga menampakkan lekuk tubuhnya. Memang tampak cantik, sih, tapi hei ... bukankah, ini terlalu berlebihan? Ditambah riasan seperti habis dihajar di pipi yang terlihat akan pergi ke acara pernikahan? Dan, yang paling mengganggu Sela, tak lain dan tak bukan, bau parfume menyengat teramat wangi yang membuatnya memang ada niatan untuk menggoda nafsu seluruh p****************g. Sungguh sial! Tapi, semua itu berubah begitu dirinya cari masalah dengan seorang laki-laki yang lebih tinggi darinya. Seketika, Sela merangsek laki-laki tersebut lalu melepaskan pagutan saat laki-laki itu tengah menjamah rekan kerjanya. Mereka melakukan hal senonoh dengan paksaan dari laki-lakinya. Sela pun menamparnya. "Apa-apaan kamu?!" teriaknya marah. "Bapak jangan kasar, ya! Kasihan ceweknya sampai mau nangis begitu! Hanya karena dia dibayar bukan berarti bis diperlakukan seenaknya!" "Tahu apa kamu, bocah!" Pria paruh baya itu tampak menantang. Sela pun semakin menengadahkan dagunya tak takut. Berani, kok, dia. "Apa, Pak? Ayok! Kalo dibawa ke pengadilan! Nih, saya udah rekam buktinya, tuh!" "Apa?!" Wajah Pak Tua itu tampak merah padam. Sepertinya sangat marah. Ia pun menggapai ponsel Sela. "Siniin!" Sela menjulurkan bibir, "Tidak mau!!" "Heh, bocah!" Adegan 'terajana' seperti film India yang berarti kejar-kejaran pun terjadi. Bedanya, mereka versi lebih ganas dari 'Tom and Jerry'. Menerobos kerumunan orang yang sibuk berdansa, kumpul untuk minum-minum, bahkan, berpesta pora transaksi gelap—seperti wanita atau narkoba. Sela pun terus melarikan diri dari Pak Tua, hingga tanpa sadar, di depan pintu warna hijau limau itu, dia tersandung kaki laki-laki yang entah namanya siapa. Itu membuatnya terlempar ke pangkuan seorang laki-laki yang lebih tak ia kenali lagi. "Aduh, maaf ..." Sela bersitatap dengan laki-laki itu. Dia seorang pria muda dengan garis rahang tegas dan tatapan tajam yang menggoda. Dia bahkan jauh lebih tampan dari pahatan patung Dewa Yunani. Dia bersinar dengan wajahnya. Pesona yang dipancarkan juga mampu membuat siapapun takluk. Tapi, di mata Sela, yasudah. Yang tampan banyak. Bukan cuma dia saja. Kalau begitu, bagus. Jika nanti dia bangkrut atau di PHK, dia masih punya potensi bekerja di dunia model sekalipun. "Siapa kucing kecil yang mengganggu acaraku?" Sela mengernyit. 'Kucing kecil?' Tuh, kan, dia bahkan lebih nggak ada harga dirinya dibanding Bapak tadi, dasar suka meremehkan. Seorang perempuan yang biasa disebut Madam, dengan aksesoris bling-bling, mendekati dengan ricuh, "Astagaaaa ... Mr. Hadrig ... Apa Tuan tidak apa-apa? Maafkan kami sekali lagi, Tuan. Kami akan mengurus kucing nyebelin satu ini dengan menghukumnya. Bodyguard! Kalian cepat eksekusi gadis tak tahu diri ini. Kita akan kembali memulai pertunjukkan Nona-Nona Cantik untuk memuaskan Tuan Hadrig." 'Memalukan!' batin Sela. Ini justru membuatnya makin ilfeel untuk melihat wajah laki-laki itu. 'Dasar sama saja! Tetap menganggap wanita sebagai bahan jual beli dan lepas pasang! Cih ... tidak tahu diri! Tidak tahu malu!' batin Sela. "Baik, Madam!" Kedua bodyguard berdada bidang dan tampak amat kuat itupun, segera mengarah ke Sela untuk menariknya. "Ayo!" Tapi, Sela malah menyalak galak. "Heh! Aku juga punya telinga dan otak! Tanpa kalian paksapun, aku juga nggak sudi berada di posisi hina semacam ini?" Mereka tampak tercengang. "Dasar kurang ajar!" Madam terlihat sangat ingin mengamuk. Tapi, Sela tak perduli. Mudah saja kalau diajak ribut. Dia tinggal hajar balik. Simple. Dan ... baru saja Sela berusaha bangkit. Tangannya malah dicegat. Tubuhnya juga didekatkan ke d**a laki-laki itu. Sehingga, napas dan pergerakan naik turun d**a yang tampak normal tersebut, bisa Sela rasakan. Yang negatifnya, laki-laki itu, bisa mencium aroma tubuh keterlaluan wangi milik Sela. Ishhh! Bisa membuatnya turn on nanti malah! Dan, Sela 'terlampau geli' untuk membayangkan hal tersebut. Apalagi, kini, tangan laki-laki itu memegang pinggangnya seperti menandakan kepemilikan. Tapi, Sela, justru menamparnya. "Dasar nggak tahu malu!" Madam dan yang lain lagi-lagi tercekat, "Apa yang kamu lakukan, bocah?!" Sementara Mr. Hadrig yang amat tampan itu masih membisu dan tak membuka suara. Meski Sela menatapnya sengit. Dia bahkan menjawab dengan sinis pertanyaan tidak berguna Madam. "Apalagi? Kalau bukan ngasih dia pelajaran seenaknya menganggap perempuan mau sama dia! Dengar, ya, Mr. Hadrig yang terhormat! Kalau kamu butuh perempuan lain, cari saja sampai New York! Pasti banyak perempuan yang dengan senang hati mau jadi milikmu! Tapi sayang, di mataku, kamu nggak lebih dari m***m b*****h yang cuma butuh wanita tanpa menghormatinya! Aku nggak mau sama kamu!" Mr. Hadrig tampak tersenyum. Masih belum terbaca apa makna ekspresinya. "Oh, ya, dan satu lagi. Kalau aku mengacaukan malam pilih-pilih pemuasmu, aku sama sekali nggak ada niatan daftar jadi kandidat! Aku ke sini karena nggak sengaja dan terjebak! Sekarang, aku pergi! Dan, aku sudi banget buat nggak ada di sini!" Tapi baru saja Sela beranjak, pergelangan tangannya ditarik. Dia didudukkan kembali dalam posisi yang sama, bedanya kali ini dengan adegan yang lebih tinggi, yaitu ... dicium Mr. Hadrig! Sesaat, Sela tak bisa merasakan apa-apa karena terkejut akan jadi begini. Tapi, yang bisa ia lakukan adalah meronta. Sayang, laki-laki itu lebih kuat darinya. Bahkan kini, ia sudah merubah posisi untuk meletakkan gadis itu di kursi empuk miliknya. Bergantian ialah yang berhadapan dengannya. "Lepasin, berengsek!" Sela mengumpat. Laki-laki ini sungguh tak memberinya celah seakan tahu kemana Sela akan melawannya. Bahkan ketika akhir dari pertempuran itu tiba, Sela akhirnya puas dapat menendang kaki laki-laki menyebalkan itu. "Aw!" "Tanggung jawab!" Sela menyentak. "Lo laju peredaran darah di seluruh tubuh gue! Untung gue nggak mati! Dan, juga, lo bikin rusak psikis gue karena ini semua pemaksaan! Terakhir, gue benci sama lo! Amit-amit kalau gue harus ketemu b******n kayak lo lagi!" Tapi, laki-laki itu malah tersenyum dan berkata, "Kamu akan jadi milik saya. Itu cara terbaik saya untuk mengompensasi kerugianmu?" Heh? Baru ketemu aja kamu begini, apalagi jadi milikmu? "Males!" Sela menegaskan kata tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN