Kehidupannya mendadak jungkir balik karena harus berurusan dengan makhluk-makhluk menyebalkan ini.
Dan, pertanyannya, siapa yang telah lancang berbuat demikian pada dirinya?
Kin harus meminta pertanggung jawabannya!
Kin akan membuatnya ... membayar semua ini.
Dan, itu pasti!
Hingga selanjutnya, dengan tergesa-gesa pun Kin akhirnya keluar dari gedung tersebut.
Dia bersungut-sungut kesal karena tak menyangka dia akan bangun sesiang ini, jam sembilan.
Ini membuat Mbak Ser jadi membebalkan makian agar Kin segera datang ke tempatnya.
Kin juga bt karena dia ... bolos kuliah hanya karena tidur bersama seorang lelaki yang tak ia kenal?
Itu alasan paling gila namun sekaligus juga meski, ya, tak memungkiri itu fakta dan jelas masuk akalnya.
Namun, tentu saja, tak bisa Kin bayangkan jika saja kata hina itu ditebarkan di kelas.
Akan jadi cacian umat sekampung kalau misalkan ia lontarkan hal tersebut dengan ‘iya banget’ dan betulan ‘okay saja’ saat terjadi. Bisa mati dia.
Jelas lah, kesucian terenggut, kok, malah happy dan dipamerkan?
Ah, sudahlah.
Lelah Kin menjambak rambutnya sebab memindai sisa-sisa memori semalam, sama sekali, tak membuat … kepalanya memberritahukan wajah berengsek macam apa itu. Semuanya blue. Jauh lebih menyebalkan dari status abu-abu.
Hingga pada akhirnya ...
Sebuah mobil APV melaju kencang yang bisa Kin identifikasi tengah kesulitan mengerem.
Terlihat dari kacanya di mana sang pengemudi meminta untuk banyak orang minggir.
Tapi, seorang gadis, yang sepertinya masih TK, menyeberang di jalan raya hendak membantu anak kucing yang kesulitan menyeberang.
Sontak saja, Kin merengkuh tubuh anak itu, yang kemudian berkata, “Awas!!!”
BRAKK!!
Tubuh gadis itu pun mendarat di trotoar dengan lecet di sekujur tangan sementara Kin terpental di aspal.
Sial!
***
Sementara itu, seseorang tak henti-hentinya memuarakan sesal.
Diterbangkan hingga ke langit sampai menembus celah-celah awan yang seringan kapas.
Dewa kini di pemakaman sang istri. Tengah mengusap kasar bagian belakang kepalanya.
Dasar bodoh!
Mau memuaskan diri tapi malah kepada yang salah diajak.
Bagaimana mungkin di adegan percintaan hebat yang terpampang wajah sang istri tapi begitu bangun justru jenis muka perempuan muda yang ternyata masih suci?
Oke, katakanlah, ini tidak jelas.
Tidak jelasnya banget malah.
Dan, secara santai pula menyebut, jika ini keterlaluan plus tak masuk akal, tapi, untuk ukuran Dewa yang amat mementingkan kemasukakalan kepala, ini sangat di luar batas.
Yang artinya, dengan penuh nista pula, bahwa Dewangga Putra Kusuma, dia ... kecolongan.
Hingga supirnya, Hando, datang menjemput, “Tuan, Nona Orin kecelakaan.”
“Apa?”
Dewa pun terbirit-b***t menggaskan mobil untuk segera ke lokasi.
Tidak. Ini tidak boleh terjadi.
Satu-satunya harta peninggalan sang istri dan alasannya untuk terus berdiri hanya Orin dan dia tidak boleh mati.
Dewa pun secepat kilat menuju rumah sakit. Begitu sampai ...
“Ini, Pak, ruangannya.”
Dewa menyeka keringatnya yang ikut lari sebab semenjak kedatangannya ke rumah sakit tadi ... Dewa berkejaran dengan waktu. Tak mau kehilangan momen.
Dia pun melempar napas lega begitu menatap sang putri kecilnya hanya lecet saja.
“Nggak papa, ya, Nak. Yang tenang. Lain kali, kalo di jalan, lihat-lihat mobil yamg lewat. Kalo perlu, mulai besok Papa sewain Babysitter baru biar kamu nggak sendirian dan hal kayak gini nggak lagi kejadian!”
Gadis itu cemberut. “Papa, sampai kapan aku harus terus sama babysitter terus! Temen-temenku punya, kok, Mama! Mereka, tiap mau nyebrang, digandeng sama Mama, tamasya pun sama Mama, jalan-jalan, ada Mama Papa. Kenapa Mama harus pergi duluan dan ninggalin aku, sih, Pa? Kan, niatku mau jadi anak baik yang nurut sama Mama Papa.”
Dewa merengkuhnya, memeluk. “Mama dipanggil sama yang Nyiptain Mama, sayang. Mama sayang sama Orin, tapi, kan, yang Nyiptain Mama lebih sayang sama Mama. Yang Nyiptain mau Mamanya Orin nemenin sang Pencipta dulu."
"Nanti, kalau kita udah disuruh pulang ke sana, kita nanti nyapa Mama, ya? Kita main, jalan-jalan, tamasya, keliling kota, pamer sama Mama apa yang terjadi selama kita di sini, semuanyaaa ... sama Mama,” bujuk Dewa, menyentil hidung putrinya dengan telunjuk. “Orin bisa, kan?”
“Tapi, Pa, tadi pas Orin jatuh, ada Tante baik yang nolongin Orin. Bisa nggak pas sebelum jemput Mama, si Tante baik ini jadi Mamanya Orin? Buat pamer sama Mama, kalau Orin juga beneran jadi anak baik dan nunjukkinnya ke Tante ini.”
DEG.
‘Siapa pula ini?’
Lantas, supirnya, Hando mengangkatkan bahu karena tak tahu begitu keduanya bersitatap.
Namun, dengan penuh kenetralan, Dewangga pun berbesar hati dengan sabar menanyakan, "Oh, ya, siapa memang Tante ini?"
Kin kini memegangi kepala. Sinar yang menyelusup dari tirai enggan tiarap untuk membangunkan bobo cantiknya.
Serius! Kepalanya kali ini nyut-nyutan!
Ya, meski nggak separah waktu pagi tadi, sih.
Kalo pagi kala nista itu, nggak cuma migraine, dari mulai cenat-cenut, disko, ampe demo, semuanya kebabat.
Sungguh sebuah kolaborasi yang ‘koala banget’, sih, sebetulnya kalo dilakuin sama itu oknum-oknum ngeselin.
Namun, ada satu kesamaan, kali ini, lagi dan lagi, Kin, bangun di tempat asing, yang meski, dalam beberapa detik setelahnya, Kin, tahu banget jika ini adalah … rumah sakit.
Dari seragam, tirai, baunya, dekornya.
Cih ...
Kin bahkan sejatinya benci jarum suntik, dan sekarang dirinya diinfus.
Dan, yang paling bikin dia pengen segera berubah jadi hulk, meski itu emang nggak mungkin pake banget, faktanya, dia saat ini buang-buang waktu!
Damn!
Bukannya kerja, ngais rupiah, see? Kini dirinya justru tamasya ke tempat di mana orang sehat hanya paramedis, penjaga, kerabat, dan para tukang.
Baik tukang bangunan, tukang parkir, hingga tukang kebun.
Sekarang, Kin cuma bisa mengembungkan pipinya lantaran kesal.
Serius, ya, sebenarnya, gadis itu simple sekali.
Dia hanya ingin hidupnya normal serta baik-baik saja, tapi, nggak ngerti juga, kok, bisa dalam kurun malam sampai pagi tidak ada yang masuk akal untuk menerjangkan pengalaman waras pada dirinya.
Persetan!
Cerita Alora dengan dua pacarnya tadi terus berputar ulang dibenak Kin. Kalau memang Gray pernah bertunangan dan pertunangannya harus batal, kasihan sekali dosennya itu. Kin memang tidak mengetahui apa masalahnya, tapi tetap saja sebuah perpisahan sedikit banyak pasti akan meninggalkan luka.
Masih.
Jangankan pertunangan batal, putus saat berpacaran saja terasa sakit. Meskipun tidak semuanya akan terus terasa sakit, ada kalanya terasa sakit di awal, namun melegakan pada akhirnya. Apapun masalahnya, Rara jadi menaruh simpati dengan dosennya itu.
Rasa simpati Rara dengan Gantari hanya bertahan beberapa hari dan digantikan dengan rasa kesal. Bagaimana tidak, Gantari tidak pernah membalas pesan Rara sekali pun.
Kalau seperti ini terus bagaimana bisa Rara lulus tepat waktu.
Tetapi bukan Kin namanya kalau harus menyerah.
Meskipun tak kunjung dibalas, Dewangga tetap mengirimkan pesan kepada Kin dan terus berharap ada mukjizat pesannya dibalas.
Tepat seminggu lamanya, akhirnya pesan Kin mendapat balasan juga. Namun bukannya senang, rasa kesal R Kin justru semakin berlipat ganda.
Sejak perceraian kedua orang tuanya, Rara hampir tidak pernah kembali ke Bandung kalau bukan karena satu hari spesial. Tidak, hari itu bukanlah hari ulang tahunnya, melainkan hari ulang tahun Gray.
Sesibuk apapun Kin dengan kegiatan kuliahnya, dia pasti selalu menyempatkan pulang untuk merayakan hari ulang tahun Kin. Dan tahun ini perayaannya akan sedikit berbeda karena tahun ini kemungkinan tahun terakhir Gray merayakan ulang tahunnya di Bandung, karena adiknya ini berniat untuk menyusul Rara kuliah di Jakarta.
Beruntungnya Gray mau membantu Kin menyiapkan kejutan untuk Kin. Sejak pagi dua anak muda ini sudah tiba di stasiun dan akan segera berangkat menuju Bandung.
Saat diperjalanan Kin hanya menatap ke arah jendela.
Walau pandangannya tampak kosong. sebenarnya pikiran Kin sudah berkelana kemana-mana. Dia memikirkan bagaimana caranya dia bisa memuntahkan makanannya saat dia berada di rumah nanti.
Di saat pikiran Kin sibuk menyusun rencana yang harus dilakukannya nanti saat di rumah, tiba-tiba pikirannya terusik ketika kepala Gray bersandar di bahunya. Dimitri tampak kelelahan, dia pasti sibuk latihan semalam dan pagi-pagi sekali tadi mereka sudah berangkat ke stasiun.
**
Hari yang dinanti pun tiba. Sejak pagi Kin sudah masuk ke kamar anak Dewangga untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun, bedanya kalau setiap tahun Rara sudah menyiapkan kue dan kado, tahun ini Rara sengaja tidak menyiapkan apapun. Begitu juga dengan Dimitri dan kedua orang tuanya yang sudah disuruh oleh Rara untuk tidak menyiapkan kado untuk Randra.
Rencana Rara berhasil. Randra terlihat agak kesal karena tidak menerima kue maupun kado seperti biasanya. Dan untuk menghibur Randra, Dimitri mengajak Randra keluar.
Tentu saja Kin tidak ikut dengan berpura-pura masih lelah.
Sementara Dimitri dan Randra pergi, Rara langsung menjalankan
Tak lama setelah adiknya rencana. Meninggalkan rumah, Raksaka ayah Rara datang untuk membantu dia dan Vena ibunya menyiapkan kejutan untuk Randra. Disusul dengan teman-teman dekat Randra yang datang berikutnya.
Setelah mendapatkan pesan dari Rara, Dimitri langsung buru-buru mengajak Randra pulang. Rasa kesal Randra semakin bertambah, padahal mereka baru saja memesan makan. Namun rasa kesal Randra tak berlangsung lama karena ketika dia pulang, rumahnya sudah ramai dengan keluarga serta teman dekatnya.
"Surprise!" Teriak semua orang.
Asha terperangah. la dipanggil sesore ini hanya untuk
mendengar lagi ceramah tentang kartu karyawan? Astaga ... ia hanya
menghilangkan kartu karyawan, bukan berlian! Namun keterkejutan
Asha bertambah, saat tangah Leon mengulurkan barang yang
seharian ini menjadi sumber masalah harinya.
"Kok. kok ... bisa?" Asha mengerjap menatap Leon Wicaragenara tak percaya.
Tidak usah banyak tanya! Cepat ambil dan ucapkan terima
kasih pada Leon!" perintah Hazel pada Asha yang masih dilanda penasaran.
Leon, yang tersenyum bak pahlawan kesiangan sore ini,
menatap Asha seraya menahan tawa melihat raut wajah lugu adik
ipar mantan kekasihnya itu. Namun senyum dan tawa yang ia tahan,
seketika lenyap berganti kebingungan dan prasangka buruk saat dua
tangan Asha terulur untuk menerima kartu milik gadis itu.
"Hazel," panggil Leon Wicaragenara tanpa melepas tatapannya pada salah satu tangan Asha.
"Gue penasaran, berapa lo gaji karyawan lo sampai mereka..."
Asha Nayana dan Hazel menunggu kalimat Leon yang tertahan.
Randra tidak bisa menyembunyikan rasa harunya dan langsung memeluk Rara sambil mengucapkan terima kasih.
Rara membalas pelukan adiknya, dia merasa senang Randra suka dengan kejutan ulang tahun yang disiapkannya. Rara
membisikkan kata terima kasih untuk Dimitri dari balik pelukan adiknya yang dijawab anggukan oleh Dimitri.
Selesai acara, Rara bukannya langsung beristirahat, dia malah sibuk membereskan kamarnya karena Dimitri akan tidur bersamanya malam ini. Ini semua gara-gara Randra yang dengan tidak tahu dirinya mengajak temannya menginap. Tidak mungkin mereka tidur berdesakan di kamar
Randra, jadi mau tidak mau Dimitri tidur di kamar Rara.
Seharusnya tidak masalah kalau mereka masih anak- anak, tapi Rara dan Dimitri bisa dibilang sudah cukup dewasa untuk di tempatkan sekamar berdua. Mau bagaimana lagi.
Sepertinya Kin terlalu cepat berbahagia. Meski pun sedang online, Gantari tak kunjung membalas pesan Kin.
Jari-jemari Kin sudah gemas ingin mengespam dosennya itu, namun tentu saja Rara tidak melakukannya. Bukannya dibalas, bisa-bisa kontak Kin diblokir oleh Agrya.
Menit demi menit Rara lewati dengan sabar sambil terus mengecek hpnya, melihat apakah sudah ada balasan. tidak. Mulai dari sejam-dua jam sampai akhirnya Kin tertidur karena bosan menunggu.
Yang jelas … Kin harus keluar dari sini.
Bodoamat.
Dia pun melepaskan infus di tangannya, paksa. Enggak perduli rasa sakitnya kayak gimana. Hingga saat memutuskan duduk pun, dia masih merasakan berbagai macam nyeri yang menusuk dan menukik.
'Sial,' batinnya.
Pasti sekarang Mbak Ser misuh-misuh karena Kin tidak datang ke kedai secepat mungkin. Jangan sampai ... ah, tidak-tidak. Adalah mimpi buruk terlucu kalau ia dipecat hanya karena kendablegan semesta ngacoin porsi kejadian buat dirinya.
No!
Itu sangat tidak boleh terjadi.
Titik.
Namun, baru saja Kin berusaha membuka pintu. Seorang gadis membawa boneka beruang warna pink menghadangnya di daun pintu.
"Mama," panggilnya riang. Memeluk kaki Kin.
Lah?
"Mama?" Kin bertanya bingung. Lalu berlutut, "Kenapa kamu manggil aku Mama?"
Gadis itu tersenyum. "Kata temen-temenku, seorang Ibu itu, sosok wanita kuat yang melindungi anaknya. Tante nolong aku waktu dua hari lalu—"
"DUA HARI LALU?"
Mata Kin melebar, dalam hati membatin, 'Mati gue!'
"Ih ... Mama mau kemana?!" Gadis itu terus mengejar Kin. Berusaha menggapai tangan Kin. Dapat! Kin, pun berhenti di lorong-lorong rumah sakit. "Mama jangan tinggalin aku!"
'Aduh, ini tuyul siapa, sih?' gerutu Kin di hati. 'Ribet amat.'
Ia pun berusaha sabar dengan mengurai emosi sembari menyugar anak rambut sebagai poninya.
"Dedek sayang ..." Kin memejamkan mata, berusaha menata kalimat. "Tante bukan Mama kamu. Mama kamu itu, pasti istri Papamu. Dan, kakak, kenal bapakmu aja nggak. Jadi, udah, ya. Kita ke communication center. Terus, nanti kamu nanti bilang sama Om dan Tante yang ada di sana, 'Om, aku mau nyari Papa aku'. Gitu ..."
"Huaaaaaaaaaaa."
'Yaelah, malah nangis,' ujar Kin memberungut. Dia mendecak kecil.