Panggilan tak lama masuk setelah penantian panjang bagi Adelia dan reka-rekannya. Wajah sumringahnya begitu terlihat dan juga kegugupan yang tak bisa dinafikan. Adelia menghela nafasnya dalam sebelum mengangkat panggilan, ia merasa ini pertama kali ia merasa begitu berat mengangkat telepon. “Halo Delia! Sorry banget nih, aku lupa ngabarin kalau aku udah kuliah, asli lupa banget. Gimana yah?” “Nay, terus gimana?” “Oh … boleh! Ya udah hutangmu pas kemarin gantiin pizza aja, ukuran large ya lagi laper banget sama cola dua botol.” Adelia hanya melirik dua sahabatnya, ia kebingungan menangkap pembicaraan Naya yang tak searah dengannya namun berbeda dengan Dafid. Pria itu tersenyum senang dengan jawaban yang Naya berikan. “Buat alamatnya, eum.” Naya menjeda ucapannya. Tak lama terdeng

