Dara kini kembali sibuk dengan semua peralatan dapurnya, berjuang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan tidaklah mudah. “Berasa beneran jadi babu, padahal pengen tidur sampai malem,” gumam Dara sembari mencuci peralatan masaknya. Ia memandangi arloji yang sudah menunjukan pukul setengah enam, kantuknya tak bisa ia sembunyikan, matanya bahkan berair karena menahan diri untuk tidak tidur. Reza datang tiba-tiba tanpa suara, namun pandangannya cukup tajam menyelidik sampai Dara menyadari keberadaannya, Reza mengubah raut wajahnya. “Mas udah bangun,” sapa Dara dengan wajah yang sumringah, ia mengusap tangan basahnya ke kain lap sebelum menghampiri suaminya yang sudah duduk di meja makan. “Mau langsung makan? Tapi Naya belum pulang.” Reza hanya bisa termenung mendengar pertanyaan dari Dara

