“Kenapa lo bohong sama mereka?” tanya Eidwen di perjalanan. Kampus mulai gelap, dan beberapa jalan setapak menuju tempat parkir tidak cukup diterangi oleh lampu taman.
“Bohong apaan?” balas Abbey dengan perasaan berantakan. Sahabatnya dengan Casandra benar-benar jadian.
“Tentang gue yang tinggal di rumah lo,” terang Eidwen.
Mereka berjalan masih dengan Abbey yang memimpin dan Eidwen yang mengekorinya.
“Menurut lo apa yang bakalan terjadi kalau gue bilang sama yang lain kalau lo tinggal di rumah gue?” balas Abbey.
Eidwen mengerutkan dahinya. “Memangnya kenapa? Gue nggak peduli dengan yang semua orang omongin tentang gue. Gue emang sewa rumah atap lo kok. Sejak dulu orang-orang suka omongin gue, tapi buat apa gue peduliin.”
Abbey menghentakkan kaki. “Eid, dunia ini nggak cuma berputar di sekitar lo, ya. Gue nggak peduli sama orang yang ngomongin lo. Tapi gue peduli sama diri gue sendiri.”
Selama sesaat, Eidwen terdiam. “Oh, jadi semua ini karena lo takuti diomongin orang? Memangnya apa yang salah dengan menyewakan rumah atap? Kriminal juga bukan.”
Abbey mendesah. Benar-benar cowok ini sama sekali tidak peka.
“Banyak kan orang di luar sana yang sewain rumahnya buat mahasiswa? Kenapa pula lo malu dan takut diomongin orang?” lanjut Eidwen sama sekali tidak peka.
“Eid, udahlah. Diam deh!” sentak Abbey. Perasaannya benar-benar kacau saat ini dan dia tidak ingin direcoki hal lain lagi. Dia berbalik menatap Eidwen, di antara remang cahaya, cowok itu terlihat tinggi, rambut panjangnya tertiup angin sepoi. Bahkan dengan penerangan yang kurang pun, tidak membuat ketampanan Eidwen berkurang. Dengan hidung tinggi dan mata sipit, cowok itu malah seperti foto model dengan tema jejepangan yang sering seliweran di media sosial. Namun, semua hal itu masih tampak mengesalkan di mata Abbey. “Kalau lo nggak mau pulang jalan kaki, mulai sekarang lo diem aja nggak usah bicara. Oke?” imbuh Abbey dengan nada memperingatkan.
“Oke, tapi─” sahut Eidwen.
“Nggak usah tapi-tapian. Pokoknya lo diem aja. Oke?” potong Abbey dengan ketus.
Setelah selesai bicara, Abbey berbalik untuk meneruskan perjalanan, pada saat itu pula satu kakinya yang mengawali langkah mendadak menjejak udara kosong. Dan seketika, tubuhnya terperosok jatuh ke lubang galian.
“Aah!” jerit Abbey dengan spontan. “Sial!” umpatnya begitu pantatnya mendarat keras ke tanah berlumpur. Tubuhnya kotor, lengannya berlumur tanah karena menggaruk dinding tanah saat jatuh dan kakinya terasa nyeri karena terkilir.
Sial, sial! Imbuhnya dalam hati. Kenapa sih dengan dirinya?
Sebenarnya kenapa dengan hari-harinya saat ini? Kenapa dia terus saja tertimpa masalah? Sejak pagi hingga menjelang malam, ada saja masalah.
Lalu sekarang, yang paling penting, bagaimana caranya dia bisa keluar dari lubang galian yang dalamnya setinggi puncak kepalanya ini. Belum lagi lubang ini gelap serta berlumpur. Dan tanpa tangga.
Kemudian seleret cahaya muncul menerangi lubang galian. Tampak Eidwen sedang berjongkok dan memegangi ponselnya dengan mode lampu senter yang menyala.
“Lo nggak apa-apa?” tanya Eidwen dengan enteng.
Cowok ini, ya ampun. “Jelas apa-apa lah. Lo kenapa sih nggak bilang kalau ada lubang galian di depan gue?” protes Abbey dengan kesal.
“Sori, tapi lo yang suruh gue buat nggak ngomong apa-apa,” balas Eidwen.
Ah, sial, batin Abbey. Bisa-bisanya dia sial seperti ini. Pasti semua ini gara-gara si Eidwen.
“Jadi, lo bisa naik sendiri nggak?” tanya Eidwen lagi masih dengan nada yang santai seolah sedang bertanya apakah Abbey sudah makan malam atau belum.
“Naik sendiri kepala lo. Lubang ini dalamnya setinggi badan gue, mana mungkin gue bisa naik sendiri,” balas Abbey kesal.
“Oh, jadi butuh bantuan,” lanjut Eidwen. “Kalau gitu minggir!”
“Eh, tunggu-tunggu! Jangan lompat kayak gitu─”
Terlambat.
Eidwen melompat masuk ke dalam lubang galian, dan kuatnya tumbukan kakinya di tanah becek membuat air berlumpur itu menciprat ke mana-mana. Ke baju Abbey, sekaligus wajahnya.
Eidwen berbalik, lalu menerangi wajah Abbey dengan cahaya ponsel, seketika saja dia tersentak ringan. “Duh, ngagetin aja, kenapa muka lo jadi kayak gitu? Kirain setan.”
Ampun banget sih, Eidwen Saki. Benar-benar cowok ini membuat Abbey darah tinggi.
“Lo bisa nggak sih, tiap mau ngapa-ngapain nggak gradak-gruduk?” protes Abbey sambil mengusap wajahnya dengan lengan bajunya.
Eidwen merengut. “Lo ngomong apaan sih?”
Abbey memutar bola matanya. “Jadi, gimana caranya kita berdua keluar dari sini kalau lo ikut nyebur ke sini tanpa bawa tali atau tangga?”
“Gampang,” balas Eidwen ringan. “Bawa ponsel gue,” dia menyerahkan ponselnya pada Abbey lalu berjongkok. “Gue gendong lo di bahu gue!”
“Apa?” seru Abbey.
Eidwen menoleh padanya. “Lo mau keluar dari sini nggak? Kalau nggak mau, kasih kunci motor lo ke gue biar gue pulang sendiri.”
Resek banget ini cowok! Seru Abbey dalam hati.
Sepertinya tidak ada jalan lain untuk keluar yang lebih mudah daripada naik ke bahu Eidwen untuk mencapai ke permukaan.
Abbey pun akhirnya naik ke bahu Eidwen. Kedua kakinya menjepit leher cowok itu lalu dengan perlahan, Eidwen bangkit berdiri. Membuat tinggi Abbey lebih dari cukup untuk membantu dirinya keluar dari dalam lubang.
Begitu Abbey keluar dengan selamat di permukaan tanah yang padat, dia bernapas lega.
“Terus lo gimana keluarnya?” seru Abbey kemudian, setelah selesai mengambil napas.
Tanpa jawaban, Eidwen melompat ringan, kedua kakinya menapak di kedua sisi dinding, lalu mendorong tubuhnya naik ke permukaan. Dia melakukan manuver itu dengan ringan dan mudah seolah dia seorang atlit parkur yang ada di tivi-tivi.
Selama sesaat, Abbey mau tidak mau terhibur juga dengan kehebatan Eidwen.
“Wow, lo lumayan jago juga,” seru Abbey.
Eidwen Saki tersenyum dan dia terlihat begitu tampan. “Gue jago ngapa-ngapain,” balasnya dengan sok percaya diri.
Abbey mencebik. Dia pun bangkit berdiri, namun kakinya yang terkilir terasa nyeri.
“Lo nggak apa-apa?” tanya Eidwen.
“Kayaknya terkilir,” balas Abbey.
Lalu mereka pun memutuskan untuk beristirahat di tepi jalan setapak. Duduk di tepi batu paving dan saling bersisihan, sementara Abbey mengistirahatkan kakinya.
Selama beberapa saat, mereka tidak saling bicara, lalu perut Abbey berbunyi.
“Lo laper,” ujar Eidwen ringan. Kemudian dia membuka tasnya dan mengeluarkan kotak makanan yang diberikan Abbey padanya tadi sore. “Nih, ambil. Gue sisain kue muffin buat lo,” lanjut Eidwen sambil mengulurkan kotak kue pada Abbey.
Abbey mengamati kotak itu, kemudian beralih pada Eidwen.
“Lo sisain kue buat gue?” tanya Abbey dengan nada geli sekaligus heran.
Eidwen mengangguk ringan. “Air mineralnya juga masih ada, lo mau minum juga?”
Cowok itu kembali merogoh tasnya dan mengambil gelas air mineral.
Abbey menerima pemberian Eidwen dan tersenyum ringan. “Lo baik juga ternyata.”
Eidwen mengangguk ringan. “Gue emang bukan orang jahat.”
Kembali Abbey tergelak mendengar kalimat Eidwen. Dia pun membuka gelas air mineral dan meminumnya. Sedikit merasa bersalah karena terus saja berpikir buruk mengenai cowok tampan nan cantik di sampingnya ini. Eidwen tidak seburuk yang dia pikirkan ternyata.
“Omong-omong, lo nanti masak apa buat makan malam? Gue laper banget,” celetuk Eidwen kemudian. Membuat Abbey keselek.
Eidwen Saki, benar-benar ya. Ngerepotin banget nih cowok. Hih.