Bab 10 : Phobos And Demos

1183 Kata
Abbey berjalan keluar dari perpustakaan sambil menghentakkan kaki. Dia masih kesal sekali dengan ulah Eidwen yang menjatuhkan semua buku di rak perpustakaan, yang membuat Abbey harus bekerja sejam lebih lama dari waktu pulang untuk menyelesaikan kekacauan. Sementara Abbey bersungut-sungut, Eidwen berjalan mengekori gadis itu. “Sori, gue benar-benar nggak sengaja,” kata Eidwen. Langit sudah gelap saat ini, dan kampus mulai lengang. Hanya ada satu dua mahasiswa yang berkeliaran di area kampus, namun di bangunan sayap barat, masih tampak mahasiswa teknik yang berkumpul di lapangan basket. Para mahasiswa itu memang jarang pulang. Suka menginap di laboratorium. “Abbey,” panggil Eidwen. Gadis itu masih tampak kesal. “Lo nggak benar-benar nyuruh gue pulang jalan kaki, kan?” Abbey berbalik, matanya menyipit. “Memangnya kenapa sih kalau jalan kaki? Nggak kuat? Gue aja pernah jalan kaki dari kampus ke rumah sambil dorong motor, dan gue masih hidup sampai sekarang.” “Bukan karena gue nggak kuat jalan kaki, tapi kalau jalan kaki, perut gue bakal lapar lagi dan lo harus masakin gue makan malam,” balas Eidwen dengan santai. Abbey berdecih. Kenapa sih Eidwen Saki merepotkan? Seolah apa pun kesulitan cowok itu, Abbey juga dapat kebagian. “Lo mau masakin gue makan malam?” tanya Eidwen semakin memancing emosi Abbey. Hih! “Diem deh, Eid. Tahu nggak sih, kalau lo itu ngeselin banget?” Abbey berjalan dengan langkah panjang-panjang menuju ke arah tempat parkir. Melintasi gedung teater kampus, yang saat ini masih tampak satu dua orang di dalam sana. Selama sesaat Abbey berhenti melangkah, dia mengintip ke arah gedung teater. Seharian ini, dia tidak bertemu dengan Egra, entah di mana sahabatnya itu berada saat ini. Begitu pula dengan Casandra. Belum sempat Abbey menengok sepenuhnya ke dalam ruangan, dia terpergok oleh dua orang yang mendadak muncul tiba-tiba dari dalam gedung. Awalnya mereka sedang saling bercanda dengan mesra, saling bercakap-cakap dan menggoda, sebelum menyadari kehadiran Abbey di depan pintu keluar. “Abbey,” seru Egra dengan kaget. Sepertinya Egra sedang habis latihan bersama dengan Casandra. Dia membawa tas besar berisi pakaian ganti di tangan kirinya. Sementara Casandra, dia kini tengah menatap Abbey dengan senyum mengejek. Merasa senang karena keromantisannya terpergok oleh Abbey. Dia suka merasa menang dan merasa berada di atas Abbey apa pun kondisinya. “Lo mau ke mana, Bey?” tanya Egra lagi. Abbey mematung selama beberapa saat karena terkejut. Apalagi setelah melihat tangan Casandra dan Egra yang sedang bergandengan. Mereka berdua membuat wajah Abbey memanas. Gadis jahat itu telah membawa pergi sahabatnya. “Eh, ada Abbey,” sahut Casandra dengan suara manis yang memuakkan. “Ngapain Bey, ngintipin gedung teater? Lagi nyari cowok yang lagi lo suka, ya? Cie, Abbey.” Abbey hanya menatap Casandra dengan mimik wajah tidak suka. Abbey tahu Casandra sedang mengejek dirinya. Dasar gadis muka dua, batin Abbey kesal. “Bey, lo nggak pulang?” Egra kembali bertanya membangunkan lamunan Abbey. “Iya pulang. Ini mau pulang,” balas Abbey dengan menahan emosi. “Lo mau pulang?” Egra tersenyum. “Iya, tapi mau nganterin Casandra dulu,” balasnya dengan pipi memerah. Jelas sekali bahwa sahabatnya itu sedang kasmaran setengah mati. Melihat kemesraan itu, membuat Abbey sesak napas. “Gue kemarin telepon, lo. Lo nggak angkat,” ujar Abbey lagi. Tak menggubris Casandra yang cengar-cengir karena merasa menang. “Oh, sori, gue lihat, tapi─” kalimat Egra terpotong karena pada saat itu, cowok itu memilih untuk menatap Casandra sambil tersenyum. Sepertinya, pada saat Abbey meneleponnya, Egra sedang bersama dengan Casandra. Egra menyisir rambutnya dengan tangan dan tampak salah tingkah. “Nanti deh, gue telepon lo lagi. Ada apa? Ada masalah kah?” “Gue udah bilang gue punya masalah, tapi ya udahlah nggak apa-apa,” balas Abbey. Lagian masalah keuangannya juga udah terselesaikan. “Masalah apa sih, Bey? Ceritain dong, siapa tahu gue juga bisa bantu. Kita bertiga kan udah saling kenal sejak SMA,” pinta Casandra sok peduli. Rasanya Abbey ingin sekali mencolok hidung gadis itu. “Kita emang udah kenal sejak SMA Case, tapi lo dan gue nggak berteman baik,” balas Abbey dengan penuh intonasi, kemudian dia berpaling pada Egra. “Gue pergi dulu,” lanjut Abbey dengan sedikit ketus. Abbey melangkah mundur, lalu saat dia berbalik dia bertabrakan dengan Eidwen Saki yang berdiri di belakangnya. Selama sesaat, Abbey lupa bahwa dia sedang dibuntuti cowok itu sejak dari perpustakaan. “Ngapain lo masih di sini?” tanya Abbey sambil sedikit terhuyung. Menabrak Eidwen membuatnya merasa seperti habis menabrak beton. “Nungguin lo lah. Kita kan pulang bareng,” balas Eidwen dengan ringan. “Pulang bareng?” sahut Casandra, yang rupanya mendengar percakapan mereka. Abbey berbalik, dia menatap Egra dan Casandra yang balik menatapnya dengan pandangan heran bercampur tanda tanya. “Kalian saling kenal?” lanjut Casandra lagi dengan mata melebar karena penasaran. Eidwen mengangguk. “Gue serumah─ aduh.” Kalimat Eidwen mendadak terpotong karena pada saat itu, siku Abbey menonjok tulang iganya. Buru-buru Abbey menambahkan agar Egra dan Casandra tidak salah paham. “Gue kenal dia karena buku yang dia pesan di perpustakaan.” Bisa berabe kalau Egra tahu dia tinggal bersama dengan cowok. Egra pasti akan memberitahu Mama dan segalanya akan berantakan. Abbey mungkin terancam mengembalikan semua uang Eidwen yang telah dia setorkan ke bank untuk membayar SPP. “Tapi kenapa kalian pulang bareng?” tanya Egra dengan pandangan curiga. Abbey tergelak ringan. “Oh, kalian salah paham. Buku perpustakaan yang dia pesan ketinggalan di rumah gue, jadi dia mau ambil aja di rumah karena dia butuh buku itu mala mini juga. Ya kan, Eid?” Abbey memandang Eidwen dan memberinya kode dengan kedipan mata agar dia mengiakan alasan yang sedang dibuat-buat oleh Abbey. Eidwen hanya mengerutkan keningnya. Namun tampaknya dia menyadari bahwa ketiga orang di hadapannya itu sedang menunggu jawabannya. “Kira-kira begitu lah,” balas Eidwen akhirnya, membuat Abbey bernapas lega. Abbey kembali tersenyum dengan terpaksa lalu buru-buru berpamitan. “Oke, gue pergi dulu, ya. Keburu kemaleman. Bye.” Gadis itu pun memimpin langkah dan Eidwen kembali membuntutinya seperti ekor bayangan. Begitu mereka menyingkir dari muka gedung, Egra dan Casandra saling pandang. Mereka masih merasa janggal dengan interaksi Abbey dan Eidwen. “Gue nggak pernah lihat Eidwen dekat sama cewek,” celetuk Casandra. “Kira-kira mereka ada hubungan apa, ya?” Egra mengamati kepergian Abbey bersama Eidwen. Aneh, batinnya. Kenapa Abbey tidak menceritakan apa pun mengenai kedekatannya dengan seorang cowok padanya? Atau masalah itulah yang ingin diceritakan Abbey padanya. “Gra, lo tahu siapa cowok itu kan?” ujar Casandra lagi. “Siapa? Eidwen?” balas Egra. “Gue cuma dengar beberapa desas-desus.” “Desas-desus kalau dia sebenarnya Pangeran, kan?” “Pangeran? Cewek-cewek suka sebut dia kayak gitu?” Egra memincingkan mata. “Gue cuma dengar kalau dia anak orang penting di kedutaan Jepang. Ibunya orang Jepang, ya kan?” “Bener, dan bapaknya, didesas-desusin jadi calon presiden tahun depan,” jawab Casandra, lalu dia bertukar pandang dengan Egra. “Mereka nggak mungkin dekat, kan?” tanyanya lagi tapi kali ini lebih kepada dirinya sendiri. Bagaimana bisa si dukun Abbey mendadak dekat dengan cowok seperti Eidwen Saki? Casandra menjadi iri melihat semua hal itu. Kenapa sih, semua selalu Abbey? Bukan dirinya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN