Pagi berikutnya, udara di gang sempit tempat kontrakan Renata berjejer terasa lembap. Matahari belum tinggi, tapi suara orang jualan sayur, anak-anak berlari tanpa alas kaki, dan radio dari rumah tetangga yang memutar lagu lama sudah memenuhi udara. Renata keluar dari kamar dengan rambut masih acak-acakan, mengenakan seragam sekolah yang warnanya sudah memudar. Ia berdiri di depan cermin kecil yang digantung di dinding, mencoba merapikan kerah bajunya yang mulai sobek di ujung. Cermin itu buram, tapi cukup untuk membuatnya melihat betapa matanya kini selalu sembap. “Ma, aku berangkat dulu, ya,” katanya sambil melirik ke arah tempat tidur. Mira belum bangun. Tubuhnya menggigil, keringat dingin mengalir di pelipis. Napasnya terdengar berat. Renata panik, segera mendekat dan menepuk bahu i

