Bab 16

1912 Kata

Alana. Sudah tiga hari ini aku berada di Bandung, sejak Mas Sofyan menyuruhku untuk ikut dengannya setelah menyaksikan pertengkaranku dengan Mas Wildan waktu itu. Sebenarnya aku belum siap jika permasalahan rumah tanggaku diketahui oleh keluargaku, terutama ayah dan ibuku. Mereka berdua sudah sepuh, aku tak ingin membuat mereka bersedih. Namun kehadiran Mas Sofyan tepat di saat aku keluar dari rumah membuatku tak bisa menyembunyikannya lagi. “Jangan melamun aja, Nak. Apa Ibu boleh masuk?” Tiba-tiba saja ibuku sudah muncul di depan pintu kamarku saat aku tengah duduk melamun di tepi tempat tidurku memikirkan nasib rumah tanggaku. “Eh ... Ibu, silahkan masuk, Bu,” jawabku. Ibu menatap mataku sendu, aku tau begitu banyak kata yang ingin terucap dari wanita yang telah melahirkanku itu. “Ib

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN