PROLOG
“ANDWAE!”
“GILA WOY! MATI GUA!”
“SAVAGE! ANJIR LAH JAGO BANGET DIRIKU INI!”
“OPPA PLISSSS! TOLONG KEWARASANKU HILANG!”
Bagi Arkan dan teman-temannya, teriakan dari mulut dua orang yang saling bersahutan itu sudah biasa dan menjadi musik tersendiri. Airin tidak akan berhenti heboh dengan Drama Korea yang selalu dia tonton disela kesibukannya, dan Dipta tidak akan berhenti smpai dia memenangkan game online yang selalu dia mainkan setiap kali ada waktu luang.
Sementara sisanya, Arkan hanya bisa tiduran sambil menonton televisi yang tidak ada habisnya menayangkan berita atau FTV yang kalo Airin bilang terlalu cringe itu. Lano terlalu sibuk dengan kucing-kucing milik Airin dan Gia sibuk dengan dunia maya miliknya.
“KEUMANHAE! OPPA KEUMANHAE!”. Nah kan, kalau Airin sudah heboh kayak gini dia gak bakalan bisa berhenti sampe matanya merah baru deh dia bisa berhenti.
“Kemane-kemane apa? Lo mau kemana, Rin?” tanya Gia tanpa memalingkan pandangannya dari layar ponsel.
“Kenapa ganteng banget sih. Ya ampun!” pekik Airin.
Gia memalingkan pandangannya, menatap Airin yang mulai gila karena aktivitas fangirling yang sudah dimulai dua jam tadi. Dia kemudian melihat Dipta yang juga sama gilanya karena terus berteriak sambil mengeluarkan u*****n hanya karena kalah dari permainan.
“Kebiasaan deh lo semua, tujuan kita ke sini apa sih?” tanya Gia. Gadis itu mulai mematikan ponselnya dan menatap satu persatu temannya.
“Udah-udah sini semuanya ngumpul.” Titah Arkan. Laki-laki itu mulai meneriaki nama temannya satu-persatu untuk berkumpul. Lano mulai mendekat dan meninggalkan kucing-kucingnya Airin, Dipta juga sudah kalah dengan gamenya, dan Airin entahlah.
“ANDWAE!” gadis itu masih asik dengan Drama Korea.
“Rin, mau gue yang matiin hp lo atau atas kesadaran diri lo?” tanya Arkan dengan nada serendah mungkin, kalau dengan nada yang tinggi Airin bisa ngamuk.
“Oke-oke, nanti gue bisa lanjut. Kalo udah nonton Korea suka gak tau diri.” Airin akhirnya mengakhiri aksi teriak-teriaknya dan ikut bergabung dengan teman-temannya.
Mereka semua berkumpul membuat sebuah lingkaran kecil di atas karpet bulu yang ada di ruang keluarga rumah Airin, jangan tanyakan warnanya karena rumah itu dipenuhi dengan warna Pink sesuai warna kesukaannya. Lebih tepatnya, Airin memaksa untuk membeli furniture berwarna Pink. Meskipun adik laki-lakinya suka protes tapi Airin tetap teguh dengan pendiriannya.
“Kita disuruh buat nyari biji pohon pinus buat tugas besok, tapi kalian malah asik sama dunia sendiri.” Ucap Gia membuka percakapan.
Jadi, minggu lalu guru Biologi mereka menugaskan untuk masing-masing membawa stau biji pohon pinus. Airin mulai menyarankan agar teman-temannya itu mencari biji pohon pinus di perkebunan pinus yang ada di sekitaran daerah rumahnya. Tapi begitu mereka berkumpul, mereka lupa dengan tujuan awal mereka datang dan malah asik dengan dunia sendiri.
“Agak jauh gak?” tanya Dipta, jiwa magernya mulai bergejolak.
“Gak jauh amat sih, tapi kalo jalan kaki juga bisa bikin kaki keriting kayak mie.” Balas Airin.
“Beneran jauh nih? Males gue kalo harus membuang energi gue secara sia-sia.” Benarkan, jiwa mager Dipta mulai bergejolak.
“Lo bisa tunggu disini, gue yang nyari sama yang lain.” Saran Arkan, karena cowok itu paling tidak suka kalau harus berurusan dengan orang mageran dan menghambat pekerjaannya.
“Wih serius?” tanya Dipta, dalam hatinya dia berteriak karena bisa melanjutkan main game online.
“Kalo lo gak solid ya gapapa.” Sindir Lano. Lano ini, irit ngomong tapi sekali ngomong savage banget. Kan Dipta jadi gagal main game.
“Ya udah sekarang aja, keburu hujan.” Ajak Gia. Semuanya mulai bersiap. Para cowok mulai memanaskan mesi motor mereka satu-persatu.
“Rin.” Panggil Arkan begitu ia tengah membagikan air mineral dalam kemasan gelas pada Gia dan Lano yang katanya haus. Airin kemudian beranjak menuju Arkan yang tengah memanaskan mesin motornya.
“Lo bareng gue yah?”
“Hah?” gini nih kalo keseringan fangirl, banyak ngehalu, otak pinter Airin jad b**o dan super lemot.
“Gue boncengin lo, lo naik motor gue.” Ucap Arkan.
“Terus, Gia gimana?” tanya Airin. Arkan menoleh sebentar pada Gia yang sedang sibuk membuat story i********:.
“Dia bisa bareng Dipta, lagian dia mana mau diboncengin sama gue.” Balasnya. Airin kemudian melihat Gia yang sudah bersiap menaiki motor Dipta
“Oh, ya udah.” Ucap Airin pada akhirnya dan naik ke atas motor milik Arkan.
Dengan rasa ragu
***
TBC