Arkan Yang Pemaksa

1701 Kata
Satu-satunya alasan yang mendasari rasa ragu dalam diri Airin adalah, hubungan Arkan dan Gia yang terjalin sebelumnya. Airin sudah berteman lama dengan Arkan, sejak mereka berada di bangku sekolah menengah pertama. Semua mantan Arkan tentu ia ketahui, termasuk Gia. Gadis itu termasuk ke dalam list mantan Arkan yang selalu cowok itu ceritakan pada Airin. Airin sebenarnya tidak berniat untuk bersekolah apalagi satu kelas dengan Arkan lagi. Namun karena Airin di tolak di SMA favorite saat itu, membuat Airin mau tidak mau mendaftar ke sekolah Swasta. Airin tau, Arkan dan Gia mendaftarkan diri mereka ke dalam sekolah itu. Namun siapa sangka, keduanya disatukan dalam satu kelas yang sama bersama Airin di dalamnya. Sampai akhirnya Airin sering menghabiskan waktu bersama Gia, dan gadis itu bilang kalau ia masih menyukai Arkan walau ia juga tidak mau berhubungan dengan cowok itu lagi. Dengan dalih bahwa berteman seperti ini lebih dari cukup. "Rin, lo turun dulu deh." Ucap Arkan saat di tengah perjalanan. "Kenapa? Gue berat? Gue pindah ke motor Lano aja deh." Ucapnya sambil turun dari motor Arkan. Tapi cowok itu menahan lengannya saat Airin hendak berjalan mendekati Lano yang juga sama-sama berhenti. "Jalan di depan nanjak banget, jalannya juga masih banyak batu belum di aspal. Lo mau jatoh?" tanya Arkan, sontak Airin menggelengkan kepalanya. Memang jalan yang ditempuh sedikit lebih menanjak dan masih berbatu. Bukan batu kerikil, tapi batu yang cukup besar. "Jadi lo mau gue jalan sampe ke atas gitu?" tanya Airin yang baru sadar maksud dari Arkan yang menurunkannya. "Biar langsing, hehe. Tuh, Gia juga sama di turunin." Ucap Arkan membuat Airin mendengus. Dia langsung menghampiri Gia yang baru saja turun dari motor Dipta. "Kita tunggu di atas." Ucap Dipta dan ketiga cowok itu mulai melajukan motornya. "Gila emang, masa nurunin di jalan nanjak kayak gini. Sinting! gue udah kurus masih di suruh buat langsing." Kebiasaan Airin suka menggerutu. "Yaudah sih, gue juga gak keberatan." Ucap Gia. Mereka berdua mulai berjalan menyusuri jalan berbatu. "Eh tapi lo keberatan gak kalo gue dibonceng sama Arkan? Kalo iya kita bisa tukeran, gue sama Dipta. Berantem-berantem dah." Tawar Airin yang merasa tidak enak dengan Gia. Dia rela beradu cekcok dengan Dipta agar temannya itu bisa dekat dengan sang mantan. Ya, Dipta dan Airin tidak pernah akur. Selalu ada saja hal yang mereka ributkan. Meskipun hal yang tidak seberapa, seperti kenapa ayam bertelur?. "Enggak kok, gue malah jadi canggung nanti sama Arkan. Lo tau sendiri kan, gue berusaha mati-matian nahan diri supaya gak baper sama dia. Meskipun gue gak yakin kalau Arkan bakalan bersikap seolah gue bukan mantannya." Airin mengerti, mungkin dia juga memang harus seperti ini. Berusaha mendekatkan keduanya tanpa Arkan ketahui. "Woy! Lelet banget sih!" teriak Dipta yang sudah berisik karena Airin dan Gia terlalu lambat. "Gue sobekin itu bibir tau rasa lo!" kan, Airin mulai beradu cekcok dengan Dipta. Begitu mereka sampai di atas, Airin akhirnya bisa bernafas lebih leluasa meskipun dirinya harus mengatur nafasnya yang ngosngosan dan membuat tubuhnya tidak berkeringat lebih banyak. "Siput." Sindir Dipta yang tengah asik memotret pemandangan dari atas sana. Membuat Airin mati-matian menahan emosi. "Hp lo gue lempar dari atas sini baru tau rasa." Ujar Airin penuh dendam. Sementara Dipta terus saja memancing-mancing agar Airin semakin emosi. Karena semakin emosi, gadis itu bisa semakin terlihat gemas. "Udah gak usah diladenin, nih minum." Arkan datang membawa dua botol air mineral di tangannya dan memberikan yang satu pada Airin. Tapi Airin malah memberikannya pada Gia. Gia langsung terdiam dan menatap Arkan yang hanya diam melihat Airin seperti itu. "Ah lama." Ucapnya saat Arkan tidak memberinya botol kedua. "Lo beli lagi yah, hehe." Arkan tidak punya pilihan, toh dia juga tidak boleh pilih kasih pada temannya. Jadi dia kembali membeli air mineral yang ada di warung. Herannya, Arkan masih gagal paham mengapa ada warung di daerah pegunungan seperti ini. Padahal tidak ada ruas jalan raya yang melewatinya. Hanya ada jalan berbatu tadi. "Cewek-cewek diem aja, biar cowok-cowok yang nyari. Lagian tempatnya agak curam tuh. Ngeri gue, apalagi liat lo yang suka teledor, Rin." Kata Dipta. "Yaudah sana, tapi gue pinjem hp lo yah?" pinta Airin seimut mungkin, tapi malah membuat Dipta jijik. Meskipun Dipta sering berantem tapi cowok itu tidak pernah pelit dan selalu bersikap baik pada Airin. "Yu, keburu sore sama hujan. Mendung soalnya." Ajak Arkan. "Lano, lo kenapa diem aja?" tanya Airin. Cowok itu tidak beranjak dari posisinya sejak tadi dan tidak mengucapkan sepatah katapun. Lano menatap Airin dan sedikit menggigit bibirnya. "Mules gue. Nyari wc dulu yah?” Airin dan yang lain hanya bisa memutar bola mata mereka. Kebiasaan Lano, irit ngomong tapi begitu dia diam tak bergeming pasti karena perutnya mules. "Rin, jagain hp gue. Mahal tuh." Iya tau, Iphone keluaran terbaru memang mahal dan cuman Dipta yang punya diantara mereka. Bukannya tidak mampu, semuanya berasal dari keluarga mampu mereka hanya malas mengikuti trend. Tidak seperti Dipta yang selalu mengikuti trend. "Berisik! Gue lempar asli ya!" "Arkan." Panggil Gia, Airin yang tengah memainkan ponsel Dipta langsung curi-curi pandang. "Hati-hati yah." Arkan hanya membalas ucapan Gia dengan seulas senyuman. Namun cukup membuat hati Gia meronta-ronta. "Eh sini dong liatnya." Pinta Airin, Gia langsung berpose di depan kamera bersama Airin. Hp Dipta memang selalu jadi korban Airin dan Gia. Galerinya penuh dengan foto berdua. "Lo beneran gak mau balikan lagi sama Arkan? Gue bisa comblangin lo." Ujar Airin sambil mengedit foto-foto yang diambilnya tadi. Sebenarnya Gia mau-mau saja. Tapi nampaknya Arkan ogah-ogahan. Entah karena apa. "Kita liat aja deh, Arkan juga lagi deketin cewek. Si Dhea kan mantep orangnya, udah cantik pinter baik. Gue cuman remahan kue doang bisa apa." "Tapi Arkan gak liat dari sisi fisiknya deh." "Lo bisa aja bilang kayak gitu. Dimana-mana cowok bilang gak mandang fisik, maunya yang cantik, bening, aduhay, tapi natural gausah makeup-makeup apalah. Giliran dikasih yang berminyak gak mau." Airin jadi ngakak sendiri mendengarnya. Tapi memang menunjukan fakta seperti itu. "Lama banget sih, mereka ngapain aja coba." Ucap Airin. Gadis itu menitipkan ponsel Dipta pada Gia dan berniat menyusul Arkan dan Dipta. Begitu Airin melihat apa yang tengah dilakukan keduanya, Airin segera turun dengan langkah yang hati-hati. "Woy Arkan, Dipta! Lo berdua ngapain malah selfie begi— Aaaaaaaaaaakkkk!" Akibat terlalu tergesa-gesa, Airin malah tergelincir dan membuatnya sedikit terperosok. Kalau saja dia tidak memegang pohong di sampingnya mungkin dia bisa terjatuh sambil guling-guling seperti apa yang selalu dia tonton di film-film. Arkan dan Dipta langsung menghampiri Airin dan segera menariknya. Rasa perih dan sakit mulai terasa. Arkan berhasil membawa Airin ke tempat tadi saat Airin disuruh menunggu bersama Gia. "Dibilangin diem malah ngeyel." Dipta mulai ngomel. "Kan lo berdua lama, malah selfie gue juga mau ikutan kali! Awwww Arkan sakit ih b**o!" Arkan menekan luka di lutut Airin saat gadis itu mulai berantem dengan Dipta. "Berisik." "Eh Airin kenapa?" tanya Lano yang baru saja datang setelah menyelesaikan urusannya. Entah Lano buang air dimana. "Disuruh diem malah ngeyel kan jadi jatoh, untung aja itu pohon nolongin lo. Kalo enggak?" Dipta beneran marah karena Airin kadang suka gak bisa diomongin. "Ya maaf." "Yaudah sekarang pulang aja, biji pinusnya udah terkumpul banyak juga." Ajak Arkan. Airin dipapah Gia menuju motor Arkan. "Dip, nitip Gia anterin sampe rumahnya." Pinta Arkan, membuat pipi Gia memanas dan hatinya menghangat. Mungkin dibalik tidak pedulinya seorang Arkan, cowok itu masih peduli pada Gia sang mantan. Airin yang melihat situasi itu juga jadi iri karena dia masih jomblo. Mereka mulai melajukan motornya dan pulang ke rumah masing-masing. Terkecuali Arkan yang malah membelokkan motornya ke mini market. Rencananya dia akan mengobati luka Airin terlebih dahulu. "Lo gak mau turun?" tanya Arkan yang masih merasa kalau motornya berat. "Dengan kaki gue kayak gini? Ogah banget." Arkan membuka helmnya dan langsung masuk ke dalam mini market. Tidak lama, hanya membeli perban dan obat merah. Setelah itu dia kembali. Menatap wajah Airin yang tengah kebingungan. "Kopinya mana?" tanya Airin. Si pecinta kopi nomor satu ini tidak akan bisa tennag kalau sehari tidak meminumnya, dan begitu Arkan membawanya ke mini market maka cowok itu juga harus membelikannya kopi. "Gak ada. Pokoknya lo gak boleh minum kopi dulu. Udah berapa kali gue bilang? Kalo lambung lo kambuh lagi gimana?" Airin hanya bisa mengerucutkan bibirnya saat Arkan tidak mau membelikannya kopi. Tapi tidak apa-apa, Airin bisa menyuruh adiknya untuk membeli stok kopi. Arkan kembali memakai helm dan melajukan motornya. Begitu sampai di depan rumah Airin, cowok itu memarkirkan motornya di halaman runah Airin dan kembali membuka helmnya. Membuat Airin kebingungan. "Lo ngapain?" "Lo pikir gue beli perban buat apa? Ngasih makan kucing lo?" tanya Arkan kemudian masuk ke dalam rumah mendahului Airin yang masih bengong. "Bang, Kakak gue kemana? Lo kok sendiri?" tanya Alden, adik Airin yang suka tidak tau diri. "Lagi bengong depan rumah." "Bengong? Mikirin apa?" "Mikirin gimana caranya biar bisa nikah sama Bihun. Eh So'un. Eh siapa sih biasnya?" Arkan malah bingung sendiri jadinya. "Sehun woy! Ngapain ngata-ngatain bias gue Bihun?" protes Airin sambil masuk ke dalam rumah dengan kaki pincang. "Lah, kaki lo kenapa?" tanya Alden yang kaget. "Kebanyakan ngehalu, jalan gak liat-liat jadi jatoh." Ucap Arkan membuat Airin sebal dan sangat ingin membuat bantal sofa mendarat di pipinya. "Udah duduk disitu lo." Titah Arkan. Cowok itu langsung membersihkan luka yang ada di lutut Airin. Rok pendek selutut tidak berhasil melindungi lututnya sementara hoodie berhasil melindungi sikunya meskipun kini hoodie Airin sobek di bagian siku. Airin menatap Arkan yang begitu terampil mengobati lukanya. Sampai-sampai dia tidak sadar kalau ternyata Arkan itu ganteng. Bener-bener ganteng, meskipun tidak bisa mengalahkan ketampanan Sehun sang bias. "Gue tau gue ganteng." Ucap Arkan membuat Airin tersentak sendiri. "Bacot!" ucap Airin kemudian pergi meninggalkan Arkan dan Alden di sana. "Besok habis mandi pas mau ke sekolah perbannya ganti. Gue pamit." Ucap Arkan sambil menyimpan sisa perban tadi di atas meja. "Iya." "Udah gitu aja? Lo gak mau bilang makasih atau Arkan ganteng gitu?" Airin harus tahan emosi. Tahan Airin tahan! "Lo mau pulang sendiri atau gue usir?" "Hehe, gue pulang yah. Besok gue jemput lo." "Kenapa mesti di jemput? Si Alden adek gue harus bermanfaat sedikit." "Gue gak nerima penolakan dengan alasan apapun." Oke, Airin harus menahan diri. Airin, ingat dia orang yang disukai sahabatmu. *** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN