Bolos?

2072 Kata
Airin merapihkan penampilannya sekali lagi dan memperlihatkan deretan giginya di depan cermin. Airin tidak mau ada cabe yang nempel di giginya setelah makan dan seragamnya kusut. Airin tidak suka hal itu. Beberapa detik setelah ia mengambil tas miliknya di atas meja sebuah klakson terdengar dari arah luar. Airin sedikit mengintip dari balik jendela. Terlihat helm Arkan yang berwarna hitam itu menyembul dari balik gerbang rumanya yang tidak terlalu tinggi. Airin segera keluar dari dalam rumah dan tidak lupa berpamitan kepada kedua orang tuanya. "Kak, kok gue dilewat?" tanya Alden yang merasa diacuhkan Airin. "Harus banget? Nanti tangan gue yang suci jadi kotor. Udah gue nanti telat lagi." "Kakak sinting." Airin tidak begitu menghiraukan perkataan adiknya, dia memilih untuk bergegas dari pada meladeninya. Airin menatap Arkan yang tiba-tiba berpenampilan rapih dan wangi, padahal sebelumnya dia tidak pernah menggunakan parfum. "Wangi parfum lo udah kayak wangi janda puber." Tutur Airin diakhiri tawanya. Arkan langsung menciumi wangi tubuhnya. "Sembarangan, parfum mahal ini! Oh ya, kaki lo?" tanya Arkan sambil melihat luka di kaki Airin. Arkan langsung melotot melihat keadaan perbannya yang basah. Sementara Airin melempar pandang ke arah langit untuk menghindari omelan Arkan. "Langitnya cerah banget. Mataharinya bikin anget." Arkan memutar bola matanya. "Mana perbannya?" tanya Arkan. "Nanti aja deh di kelas, keburu telat." Ajak Airin. "Gue gak peduli tuh." "Lo gak peduli tapi gue peduli sama absen gue Arkan! Kalo mau b**o tuh jangan ajak-ajak." Protes Airin, sementara Arkan hanya bisa terkekeh. Arkan kemudian menyuruh Airin untuk segera naik ke atas motornya. Mereka mulai melaju meninggalkan area depan rumah Airin menuju sekolah. Tapi sepertinya mereka memang sedang terkena nasib sial. Baru setengah jalan, ban motor Arkan kempes. "Gimana dong? Telat kita nih." Airin panik, tapi Arkan masih bisa bersikap tenang. "Tambal dulu yah?" pinta Arkan. "Kalo gak keburu gimana?" "Mudah-mudahan keburu." "Ya harus keburu dong!" Arkan mulai mendorong motornya untuk mencari tukang tambal ban motor yang buka di pagi hari. Beruntung, mereka menemukannya tidak jauh dari tempat ssat Arkan memulai mendorong motornya. Airin duduk di salah satu kursi yang tersedia. "Kan, serius nih beres sekarang juga?" tanya Airin dengan perasaan gelisah. Dia paling anti datang terlambat apalagi bolos. Arkan yang baru saja duduk di sampingnya hanya bisa mengedikkan bahu. "Gak tau. Gue bukan tuhan, gak bisa prediksi juga." Balasnya santai. Airin memukul pelan lengan bagian atas Arkan. "Gue lagi panik Arkan!" Tukang tambal ban tersebut masih bekerja seiring bergulirnya waktu. Airin tidak henti-hentinya melihat jarum yang ada di dalam jam tangannya. Sial, sudah sepuluh menit berlalu dan ini belum selesai juga. Jam masuk sekolah juga akan berbunyi lima belas menit lagi. "Aduh A, ini mah tidak bisa beres sekarang atuh. Ada kerusakan lain, kayaknya mah harus dibawa ke bengkel gede." Ucap si tukang tambal ban tersebut. "Aduh gimana yah, saya juga harus sekolah." Arkan bingung, Airin? Panik luar biasa. Keringat mulai berjatuhan di pelipisnya. "Beneran ini mah A, saya teh tidak bisa beresin soalnya bukan ahlinya. Di depan ada bengkel, biasanya suka buka kalo jam segini mah. Dicoba aja atuh A." Saran si tukang tambal ban tadi. Arkan menoleh, menatap Airin yang terlihat seperti habis lari maraton. "Gimana? Lo mau lanjut pake angkutan umum aja?" tanya Arkan. Airin sebenarnya sangat ingin, tapi dia juga tidak bisa meninggalkan temannya yang sedang kesusahan ini. "Bawa dulu motor lo ke bengkel deh." Jawab Airin. Arkan langsung membawa motornya ke bengkel terdekat, jaraknya tidak terlalu jauh jadi tidak menyulitkan Arkan dan Airin yang sudah kena apes pagi-pagi begini. "Rin, lo bisa telat." Peringat Arkan. Tapi Airin juga tidak bisa meninggalkan Arkan sendirian begitu saja. "Gak apa-apa, gue udah chat Gia kalo ban motor lo kempes." Balas Airin. Arkan sedikit melotot. "Lo bilang sama Gia kalo gue jemput lo?" Arkan terkejutkah? Ada sesuatu antara keduanya selain status mantan kekasih? "Emangnya salah? Gia juga temen gue kali, kalo minta tolong sama si Dipta jam segini dia molor di UKS, si Lano? Dia kan anti banget buat pegang hp." Airin benar. Tidak ada yang bisa diandalkan selain Gia. Dipta yang selalu bergadang jadinya selalu berangkat awal dan menyambung tidur nyenyaknya di UKS sampai bel masuk membangunkannya. Sementara Lano, laki-laki itu akan sibuk dengan lemaran pelajaran tanpa gangguan ponsel di pagi hari. "Rin, lima menit lagi." Ucap Arkan. Laki-laki itu tidak ingin membuat temannya kesusahan dan reputasinya memburuk. "Tanggung juga. Beresin aja motor lo. Jadi anak rajin gak asik. Bolos sehari gak bikin nilai lo anjlok." Jawab Airin membuat Arkan terkekeh sendiri. Jam sudah menunjukkan waktu lima menit dari waktu masuk sekolah. Itu artinya Airin dan Arkan sudah terlambat lima menit. Sekarang Arkan malah bingung harus kemana. Pulang ke rumah pun rasanya tidak akan mungkin. Yang ada dia hanya akan mendapat ceramah dari ibunya. "Lo lagi ada tempat yang mau di kunjungin gak?" tanya Arkan begitu Airin sudah siap di jok belakang. Airin mencoba mengingat keinginannya. "Ada." "Apa?" "Ada cafe yang pengen banget gue kunjungin. Tapi gak yakin juga sih kalo jam segini udah buka." Iya sih, cafe pagi hari mana mungkin buka. Kalo tukang bubur pasti. "Cobain kuy." Ajak Arkan. Arkan segera melajukan motornya menuju cafe yang dimaksud oleh Airin. Rupanya sudah buka, dan ada beberpaa orang yang makan disana. Airin baru ingat, kalau cafe itu juga menyediakan menu sarapan. Jadi wajar kalau sudah buka pagi-pagi begini. "Eh Rin tunggu." Arkan menahan lengan Airin yang baru saja hendak masuk ke dalam. Arkan kemudian membuka hoodie yang dia kenakan dan memakaikannya pada Airin. Airin hanya diam saja seperti boneka yang sedang dipakaikan baju. "Kalo orang tau lo anak sekolah bisa dimarahin bolos kayak gini." Ucapnya sambil memakaikan hoodie. "Lah, lo sendiri?" Airin bingung kan jadinya. Arkan langsung melepaskan kancing seragamnya dan membuka seragamnya. Arkan memang selalu memakai kaos sebagai dalaman sebelum ia memakai seragam. "Udah gitu doang?" tanya Airin. "Kenapa? Gue gak bawa jeans." "Sabuk osisnya dilepas dulu dong." Arkan lupa soal itu ia langsung melepaskan sabuk berlambang osis. "Kalo g****k tuh tolong dikendalikan ya wahai Arkan Wijaya yang terhormat." Dan si Arkan cuman bisa cengengesan. "Gelar gobloknya terlalu bagus, suka lupa diri gue." Setelah selesai melepas sabuk osis, Arkan dan Airin segera memasuki cafe tersebut. Airin langsung memesan kue cake oreo dan minumannya. Beberapa pengunjung disana rata-rata terlihat seperti orang kantoran dan memesan menu sarapan. Lain halnya dengan Arkan dan Airin, karena mereka sudah sarpan. "Wah, cantik banget!" Airin menatap pesanannya dengan mata berbinar. Cake oreo itu begitu memanjakan mata dan membuat air liur Airin hendak melesak keluar. Airin tidak melewatkan hal sebagus ini, jadi dia segera memotretnya sementara Arkan hanya bisa terkekeh karena tingkah Airin. "Dimakan, bukan di foto doang. Sayang tuh belinya pake uang." Titah Arkan saat Airin tidak kunjung selesai dengan kamera ponselnya. Airin meletakkan ponselnya dan langsung melahap cake oreo itu. Sekarang Arkan malah mengabadikan moment Airin yang tengah makan cake itu. Selesai makan, Airin mmeilih belajar di cafe itu. Mumpung ada wifi gratis juga, jadi harus dimanfaatkan. Tidak belajar di kelas di cafe pun jadi. Sedangkan Arkan lebih memilih tidur. Hampir tiga jam mereka berada di sana. Arkan mulai merasa bosan tapi Airin masih dalam posisi belajarnya. Gadis itu nampak cantik saat fokus seperti ini. Ponsel Arkan bergetar dan Arkan mendapat pesan singkat yang dikirim Dipta. Dipta gelo | Sekolah dibubarin anjir! | Lo dimana? Mabar kuy Me | Kenapa? | Gurunya udah bosen ngajar? Dipta gelo | Sekarang tanggal 10 | Bego Senyum Arkan merekah begitu ia membaca pesan dari Dipta. Ia juga baru sadar kalau hari ini tanggal sepuluh dan sekolah pasti akan dibubarkan. Karena apa? Karena sekolah mereka adalah sekolah swasta yang berdiri sendiri jadi setiap tanggal sepuluh guru atau staf yang mengajar akan diberikan uang gajihan bulanan dan sekolah akan dibubarkan. "Rin, tanggal berapa sekarang?" Airin yang tengah fokus itu langsung melihat ke arah layar ponselnya. "Tanggal sepuluh." Airin kemudian kembali mengerjakan beberapa soal yang ada di bukunya. Sampai akhirnya ia tersadar kalau ada sesuatu yang ganjal. Airin langsung melotot kaget menatap Arkan yang sudah ketawa sendiri. "Gila, kenapa bisa lupa? Anjir lah absen gue aman!" tutur Airin kegirangan. Itu tandanya dia tidak perlu repot-repot untuk meminta tugas tambahan atau meminjam buku catatan milik orang lain. "Gimana? Mau pulang?" tanya Arkan. Tapi cake oreo milik Airin dan Strawberry smothies baru saja habis setengah dan Airin masih betah di cafe ini. "Gue disini dulu deh. Lo kalo mau balik duluan aja." Balasnya. "Gue mau ke rumah Dipta. Mau mabar. Beneran lo gapapa ditinggal?" tanya Arkan. Airin mengangguk. "Udah sana. Eh tapi gue pinjem dulu hoodie lo yah." "Gue duluan deh. Nanti lo pas nyampe rumah jangan lupa ganti perban." Ucap Arkan. Airin langsung membentuk hormat dengan tangannya sebelum Arkan beranjak. Arkan bernjak dari tempat itu dan langsung tancap gas menuju rumah Dipta. Tapi saat di perjalanan, ponselnya terus saja bergetar sampai-sampai Arkan harus berhenti di sisi jalan dan mengecek siapa tau ada hal darurat. Arkan mengernyit membaca nama si penelpon. Gia. "Halo, kenapa?" "Kan, lo dimana?" "Di jalan, mau ke rumah Dipta. Kenapa?" "Anterin gue yuk, plis-plis." "Lo kan ketemu Dipta sama Lano di sana. Kenapa gak minta anter ke mereka aja?" "Ya udah deh gak usah. Lo kayak gak tau si Dipta sama Lano gimana." "Oke gue kesana." Arkan mematikan sambungan teleponnya. Ia juga tidak enak kalau menolak permintaan Gia, lagi pula Dipta tidak akan keberatan kalo Arkan datang terlambat. Arkan menghentikan motornya tepat di halte bus yang ada di samping sekolah. Terlihat Gia sedang duduk sambil memainkan jemari dan mengayunkan kakinya. "Gia." Merasa ada yang memanggil namanya, Gia langsung mendongak dan tersenyum begitu melihat Arkan datang. Tapi Gia tidak melihat kalau cowok itu memakai hoodie yang biasanya dia pakai kemana-mana. "Hoodie lo kemana, Kan?" tanya Gia sambil menghampiri cowok itu. "Dipinjem si Airin." "Lo bolos kemana tadi?" "Cafe. Ayo buruan keburu hujan juga." Ajak cowok itu setelah melihat langit yang mulai mendung. Arkan melajukan motornya setelah Gia naik ke jok bagian belakang. Diam-diam Gia tak kuasa menahan senyum dan rasa aneh dalam dadanya. Sudah lama sekali mereka tidak seperti ini. Motor Arkan berhenti di depan sebuah bangunan yang cukup ramai di datangi oleh pelajar. Perpustakaan daerah. "Gue masuk yah. Makasih udah mau nganterin." Ucap Gia, Arkan cuman berdeham. Gia kemudian masuk ke dalam perpustakaan itu dan mulai mencari buku yang akan dia pinjam. Setelah selesai meminjam, Gia keluar dari tempat itu dan terkejut. Melihat Arkan yang tengah duduk di kursi tunggu yang ada di depan gedung perpustakaan daerah itu sambil memainkan ponselnya. "Gue kira lo pulang." Arkan memasukan ponselnya. "Pulang yuk, hujan nih pasti bentar lagi." Ajak Arkan kemudian cowok itu berjalan menuju motornya. Bagaimana hati Gia tidak akan meronta-ronta diperlakukan seperti ini. Padahal Gia tidak pernah meminta agar cowok itu menunggu dan mengantarnya sampai ke rumah. Hujan rintik-rintik mulai turun saat mereka masih setengah perjalanan. Dan turun dengan lebat secara tiba-tiba. Gia mati-matian menutupi tas agar buku miliknya tidak basah. "Neduh bentar yah." Gia tidak terlalu mendengar ucapan Arkan karena suara hujan. Setelah cowok itu menepikan motornya, Arkan segera membuka jok motornya dan memasukkan buku-buku milik Gia dan miliknya. Karena kepalang basah, Arkan kembali melajukan motornya menerobos derasnya hujan. "Gue mampir ke rumah lo bentaran yah." "Hah? Apa?" "Gue mampir ke rumah lo, baju gue basah banget." "Apa? Minta baju?" Arkan tidak melanjutkan lagi ucapannya. Hujan yang deras membuatnya tidak akan selesai berteriak, Gia tidak akan mendengarnya. Gia dan Arkan akhirnya sampai di depan rumah Gia. Gadis itu langsung membukakan gerbang rumah agar cowok itu bisa memarkirkan motornya di halaman rumah Gia. "Gue minjem baju Kakak lo yah?" pinta Arkan. Gia mengangguk kemudian langsung masuk ke dalam rumah diekori oleh Arkan dari belakang. Mamanya Gia langsung menyambut hangat kedatangan cowok itu. "Nak Arkan, kok baru kesini sih?" "Iya nih, baru sempet kesini. Tante, boleh pinjem baju Kak Hasan?" pinta Arkan. "Boleh dong, nanti tante suruh Gia bawa baju sama handuk yah." Setelah Arkan dan Gia berganti pakaian, Gia mengajak Arkan untuk duduk di teras halaman belakang rumah. Persis seperti apa yang selalu mereka lakukan dahulu saat masih bersama. Sambil menunggu hujan reda, Arkan memainkan ponselnya untuk mengabari Dipta kalau dia tidak bisa datang untur mabar. "Arkan." Merasa dipanggil, Arkan menoleh. "Lo beneran naksir sama Dhea?" tanya Gia ragu. Sebenarnya hal ini begitu mengganggu pikiran Gia. "Siapa yang bilang?" "Airin." Jawabnya ragu. "Enggak tuh." Gia hanya ber'oh'ria. Setidaknya masih ada kesempatan untuknya kembali dekat atau bahkan menjalin hubungan lebih jauh lagi. "Tapi gue lagi suka sama orang lain." Hancur sudah harapan Gia yang baru saja ia bangun beberapa detik yang lalu. Ternyata Arkan menyukai orang lain. *** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN