9. Amarah yang Memuncak

1317 Kata
Tisha begitu takjub dengan tempat yang dipilih Garlan untuk menghabiskan waktu bersama ke dua sahabatnya, Anton dan Plato. Meskipun dulu sudah sering ke Bali, tapi ini pertama kalinya Tisha menginjakkan kaki ke Ulu Cliffhouse. Tempat ini memiliki kolam renang dengan latar pemandangan laut tanpa batas dan berhias pohon-pohon kelapa yang menambahkan keindahan. Restoran disana tidak menyediakan meja makan. Mereka menyediakan ranjang yang nyaman untuk pelanggan menikmati makanan dan minuman. Ada live music dan DJ yang memainkan musik agar pelanggan bisa menari dan semakin menikmati suasana. Tisha langsung tau kalau ini tempat yang hebat untuk menghabiskan liburan bersama dengan sahabat, keluarga, atau bahkan kekasih. "Gue sama Plato mau pesen makanan ya. Tisha mau apa?" tanya Anton dengan senyum manisnya. "Mango juice aja," jawab Tisha. "Ehm... minuman ciri khas anak SMA," komentar Anton sambil mengedipkan matanya. "Lo gak bisa diem apa yak kalo liat gadis ABG," ujar Plato sambil berdecak heran. "Lo duduk sama Garlan aja ya di sana. Kita mau pesen makanan dan minuman dulu. Bye adik cantik," pungkas Anton sambil melambaikan tangannya. "Kalian jangan lama-lama," teriak Garlan. Tisha dan Garlan terdiam selama beberapa detik. Mereka kini ditinggalkan berdua. Suasana terasa menjadi canggung dan tidak nyaman. Garlan lalu berjalan lebih dulu menuju ranjang yang ditunjuk Anton, tanpa mengajak Tisha. Pria itu terus berjalan tanpa sekalipun menoleh ke arah Tisha. Seolah sikap acuh memang adalah ciri khas seorang Garlan. Tisha berjalan mengikuti langkah kaki Garlan. Ia memang sama sekali tidak mengharapkan Garlan akan menoleh dan bersikap ramah padanya. Lebih baik pria itu diam membisu seperti ini, daripada ia membuka mulut dan melontarkan kalimat yang hanya menyakiti hatinya. Tisha tampak enggan untuk duduk satu ranjang atau berdekatan dengan Garlan. Ia lebih memilih berdiri sambil menatap laut yang ada di hadapannya. Beberapa menit kemudian, seorang pelayan datang menghantarkan pesanan mereka. Tisha mengambil mango juice-nya sambil bertanya pada pelayan, "dua pria yang memesan ini kemana, Mbak?" "Oh... mereka lagi di sana. Dance sama pelanggan yang lain," jawab pelayan itu, lalu berlalu pergi. Tisha melirik ke arah yang ditunjuk pelayan itu. Anton dan Plato tampak sedang asik menari dengan beberapa gadis bule yang mungkin baru mereka kenal. Tisha menghela nafas berat ketika membayangkan akan berdua dengan Garlan lebih lama lagi, karena ketiadaan Anton dan Plato di sini. Tisha melirik sekilas ke arah Garlan. Pria itu tampak sedang berbaring sambil menyantap sepotong pizza dengan lahap. Tisha lalu berbalik dan memilih menikmati kembali pemandangan sambil menyeruput mango juice miliknya. Tisha merasa situasi yang sedang di hadapinya saat ini terasa sangat konyol. Ia pergi ke Bali untuk liburan bersama sahabat-sahabatnya. Namun ia justru tersesat dan berakhir bersama tiga pria asing, salah satunya ternyata adalah Garlan. Entah apa dosanya pada cowok itu, hingga selalu diperlakukan ketus dan kasar. Padahal Tisha sebenarnya penasaran dengan sosok Garlan yang begitu misterius. Namun perilaku dan perkataan Garlan tadi begitu menyebalkan, hingga ia enggan untuk menatap wajahnya. Tisha menyeruput mango juice-nya hingga tetesan terakhir. Kemudian ia membalikkan badan hendak menaruh gelas kosong itu ke sebelah ranjang. Namun, matanya justru menangkap pemandangan tak biasa. Garlan sedang menatapnya dengan lekat, lalu secara refleks memalingkan muka ketika mata mereka bertemu. "Kenapa lo ngeliatin gue? Ngerasa bersalah?" tanya Tisha dengan ketus. Namun, Garlan tetap memalingkan wajahnya dan enggan menjawab pertanyaan Tisha. Ia masih diam seribu bahasa dan berpura-pura acuh pada Tisha. "Lo gengsi buat ngomong kata maaf? Kenapa? Karna gue cewek?" tanya Tisha lagi. "Gak usah sok tau," jawab Garlan singkat tanpa menatap mata Tisha. "Gue pernah liat lo di resto Bakeyu sama Anton dan Plato, di situ gue pikir lo orang yang ramah. Eh, di sini lo malah kasar banget sama gue. Apa lo kayak gitu sama semua cewek?" tanya Tisha sambil menaikkan sebelah alisnya. Garlan kembali diam membisu dan tampak enggan menjawab pertanyaan Tisha. "Terus gue liat lo lagi di kafe Lemonia. Lo duduk di sana selama tiga jam buat nunggu seseorang dan cuma natap makanan yang lo pesan. Gue tanya temen gue yang udah lama kerja di kafe itu dan dia bilang kalo lo udah ngelakuin rutinitas itu selama tiga tahun. Apa lo nungguin Clara? Cewek yang lo sebut tadi malam pas mabuk?" Tisha seperti sedang mengeluarkan semua isi kepala dan hatinya. Mengungkap semua penilaian dan rasa penasarannya akan sosok Garlan. Tisha tersenyum kecil ketika Garlan mulai menatap matanya dengan tajam. Ia dapat melihat Garlan mulai terusik ketika nama Clara keluar dari bibirnya. "Apa lo gak ngerti bahasa Indonesia? Jangan sok tau!" tegas Garlan. "Gue pikir lo itu cowok sabar dan lembut, karna bisa sabar dan setia nunggu cewek itu selama tiga tahun. Tapi ternyata gue salah, lo cuma kayak gitu sama Clara. Lo kasar, gak punya hati, dan arogan sama cewek lain. Kenapa lo boleh berprasangka sama gue, tapi gue gak boleh berprasangka sama lo?" seru Tisha penuh emosi. Garlan menatap tajam Tisha. Ia seolah menjawab perkataan Tisha melalu tatapan matanya. Suasana seketika menjadi mencekam tatkala Garlan masih membisu dan menatap Tisha dengan tajam. "Woy! Kalian ngapain tatap-tatapan?" Tiba-tiba Anton hadir dan menepuk bahu Garlan dari belakang. "Mungkin mereka lagi main tatap mata kali, Nton. Siapa yang kedip dia yang kalah hahaha," canda Plato. Namun Garlan maupun Tisha tidak bergeming dan tetap membisu. Anton dan Plato langsung menyadari telah terjadi sesuatu antara Garlan dengan Tisha, tanpa sepengetahuan mereka. Seketika mereka jadi bingung dan hanya bisa garuk-garuk kepala ditengah situasi yan tidak menyenangkan tersebut. "Gue antar cewek ini balik ke hotel," ucap Garlan singkat sambil mengambil tasnya. "Lho katanya kita di sini bakal sampe malam? Kok udah balik aja sih," protes Plato. "Gue gak mau! Gue masih mau seneng-seneng di sini," tolak Anton dengan tegas. "Yaudah. Gue cabut duluan bareng nih cewek," kata Garlan dengan tatapan sinis ke Tisha. Ketika Garlan hendak berjalan pergi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang. "Lo mau pulang ke hotel gak sih?! Ayo buruan jalan! Gue males ngeliat muka lo lama-lama. Jadi biar gue balikin sekalian ke hotel!" teriak Garlan penuh emosi. Emosi Tisha benar-benar telah mencapai puncak. Ia sudah tidak tahan lagi membendung rasa amarahnya. Ia berjalan mendekati Garlan dan melampiaskan semua emosinya. "GAK USAH! LEBIH BAIK GUE JALAN KAKI DARIPADA HARUS SATU MOBIL SAMA COWOK SAKIT JIWA KAYAK LO!" Tisha langsung berjalan pergi meninggalkan Garlan, Anton, dan Plato. Ia sudah muak berurusan dengan cowok aneh dan menyebalkan itu. Lebih baik ia luntang lantung di jalan, daripada harus menerima bantuan pria jahat itu. Tisha mempercepat langkahnya. Rasanya ia ingin segera pergi dan menghilang dari pandangan Garlan. *** Tisha berjalan sendirian di bawah sinar rembulan. Entah telah berapa kilo ia telah berjalan, ia sama sekali tidak menghitungnya. Namun yang jelas kakinya sudah mulai lelah melangkah. Angin malam yang menusuk kulitnya semakin menambah berat langkah kakinya. Tenaganya benar-benar telah habis. Ia baru menyadari hanya meminum segelas mango juice. Ia belum mengisi perutnya dengan makanan berat. Kepalanya mulai terasa pusing. Matanya mulai berkunang-kunang. Kakinya kini terasa lemas tak bertenaga. Tisha menyenderkan tubuhnya di tiang listrik yang ada di dekatnya, sambil memegang keningnya. Beberapa pria tampak mendekatinya dan menyentuh bahunya. "Neng kenapa? Perlu Abang bawa ke rumah sakit?" "Kita bawa ke rumah aja. Mungkin dia cuma butuh berbaring," ucap seorang pria lainnya. Tisha mencoba untuk melihat wajah pria-pria yang ada di depannya. Mereka menatapnya dengan senyum seringai. Seolah ia adalah mangsa empuk untuk di santap. Seketika ia merasa takut. Dengan sisa tenaga, Tisha mencoba untuk berjalan dan menolak bantuan pria-pria itu. "Gak usah. Saya bisa sendiri," tolak Tisha dengan nada lemah. "Neng nanti kenapa-kenapa. Mending saya anterin aja. Neng mau kemana?" tanya pria itu. "Gak usah, Mas." Tisha mencoba menolak tegas dengan sisa tenaganya. Namun tiba-tiba kepalanya semakin pusing dan matanya semakin berkunang-kunang. Tisha perlahan mulai jatuh lemas dan hendak mendarat diatas aspal jalan yang kasar. Namun tiba-tiba ada sepasang tangan yang menopang tubuhnya dan menahannya untuk tidak jatuh. "Dia teman saya. Biar saya yang antar dia pulang." Tisha mencoba sedikit membuka matanya dan melihat wajah orang yang menahan tubuhnya. "Garlan..." gumam Tisha dalam hati sebelum ia benar-benar menutup mata dan tak sadarkan diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN