Tisha sedikit gugup ketika tiga pasang mata menatapnya begitu serius. Terlebih mata Garlan yang begitu meneliti dirinya dari atas kepala sampai ujung kaki. Seketika ia langsung menyesali tindakan refleksnya yang memanggil nama Garlan.
"Jadi anda siapa? Tau dari mana nama saya?" tanya Garlan dengan tatapan tajam.
"Santai Gar. Nanti cewek cantik ini ketakutan," ucap pria di sebelah Garlan.
"Ehm... kenalin gue Tisha. Kita pernah ketemu sebelumnya di Kafe Lemonia. Mungkin lo lupa," jawab Tisha.
"Kafe Lemonia?" Garlan mengerutkan keningnya.
"Iya. Gue jadi pelayan di sana, terus sering anterin pesanan makanan lo," jawab Tisha jujur.
"Lo tau nama gue dari mana?" tanya Garlan lagi, seolah sedang menginterogasi.
"Yah gue denger temen-temen lo manggil dengan nama Garlan. Jadi gue tau nama lo," jawab Tisha lagi.
"Kenapa nama gue bisa lo inget? Kan pelanggan yang lo layani itu banyak. Bukan cuma gue," tanya Garlan dengan sebelah alis terangkat.
Tisha mendengus kesal. "Please deh! Nanya-nanya terus. Udah kayak polisi aja. Gue cuma mau minta tolong doang kok," gerutu Tisha.
"Udah, Gar. Dengerin aja dulu dia mau minta tolong apa," ucap seorang pria di sebelah Garlan.
"Yaudah. Lo mau apa?" tanya Garlan dengan nada ketus.
"Buset deh! Galak banget nih cowok! Kalo bukan karena kepepet, ogah gue ngajak dia ngomong," ucap Tisha dalam hati.
"Gue kehilangan jejak temen-temen gue. Terus dompet dan handphone gue ketinggalan di kamar hotel. Nah Intinya gue gak bisa balik ke hotel. Jadi gue bisa nebeng kalian gak buat pulang?" pinta Tisha dengan tatapan memohon.
"Nebeng kita? Emang kita satu hotel?" tanya Garlan dengan kening yang semakin berkerut.
Tisha menganggukan kepalanya. "Iya. Kita satu hotel. Kemarin gue ngeliat lo juga pas night party di hotel," tutur Tisha.
Garlan semakin menatap curiga Tisha. "Kok aneh ya. Pelayan kafe bisa satu hotel sama gue. Itu bukan hotel murah lho. Gaji pelayan gak akan sanggup nyewa kamar di sana. Lo siapa sih sebenernya?!"
"Kalo lo gak mau nolongin gue, ya udah bilang aja! Gak perlu ngehina gue kayak gini! Dasar cowok aneh!" teriak Tisha penuh emosi. Kalimat yang diucapkan Garlan begitu melukai hati dan harga dirinya. Ini kali pertama ada orang yang menyinggung pekerjaan dan keuangannya.
"Cowok aneh? Lo itu yang...."
Belum sempat Garlan menyelesaikan kalimatnya, Tisha sudah membalikkan badan dan berjalan pergi meninggalkannya. Perlahan air mata mulai jatuh membasahi pipinya dan langsung diseka oleh tangannya. Ia tidak ingin Garlan melihatnya menangis. Namun kalimat yang diucapkan oleh pria itu terus terngiang di telinganya, sehingga membuat air matanya terus berjatuhan.
Tiba-tiba dua orang pria menghadang langkah kakinya. Ke dua teman Garlan ternyata mengejar dirinya. "Sorry. Temen gue emang kayak gitu. Dia emang rada-rada. Kalo lo mau pulang bareng kita boleh kok."
"Iya. Ikut aja sama kita. Daripada lo luntang-lantung gak jelas. Omongannya Garlan gak usah lo anggep dan masukkin ke hati. Dia emang selalu dingin sama cewek."
Rasanya Tisha ingin langsung menerima ajakan ke dua pria itu. Namun di sisi lain, ia begitu kesal dengan Garlan dan enggan untuk menatap wajahnya lagi. Tisha terdiam selama beberapa saat.
"Udah ikut kita aja," ajak pria itu lagi.
"Garlan gimana?" tanya Tisha.
"Kalo dia gak mau, kita tinggal dia. Pulang aja dia sono sendiri hahaha," jawab pria yang satunya lagi.
"Yaudah deh," jawab Tisha. Ia pikir mengikuti ke dua pria itu lebih aman, daripada harus meminta tolong pada orang asing lainnya.
"Sip deh. Oh ya, kenalin nama gue Antonius Elkana. Lo bisa panggil gue Anton," ujar Anton dengan senyum ramah.
"Gue Plato Bastil. You can call me Plato," ucap Plato sambil mengedipkan mata.
Tisha tersenyum mendengar perkenalan diri ke dua pria itu yang terasa cukup ramah, sangat berbeda dengan Garlan. "Gue Tisha Baretta. Kalian panggil gue Tisha aja," ucap Tisha.
Tiba-tiba Garlan menghampiri mereka dan memukul pelan lengan Plato. "Kalian ngapain sih?" tanya Garlan ketus.
"Gue mau ajak dia buat bareng sama kita," jawab Plato sambil menunjuk Tisha.
"What?! Lo ajak orang asing ke mobil kita? Gue gak mau!" tolak Garlan tegas.
"Yaudah lo jalan dan pulang sendiri aja. Kita mau sama Tisha pokoknya!" paksa Anton.
"Dih! Itu mobil gue. Kalian yang pulang sendiri sana. Lagian kita abis ini kan rencananya mau makan malam dulu di Ulu Cliffhouse dan seneng-seneng di sana. Kita gak mungkin pulang ke hotel sekarang! Kalian udah janji mau temenin gue liburan di sini," kata Garlan.
"Garlan yang jahat dan pelit, kita gak mungkin ninggalin gadis cantik yang tersesat ini gitu aja. Lagian dia bisa ikut kita ke sana, abis itu pulang bareng. Iya kan, Tis?" tanya Plato.
"Hah? Ehmm.... iya," jawab Tisha tergagap.
"Umur lo berapa, Tis?" tanya Anton tiba-tiba.
"18 tahun. Kenapa emangnya?" tanya Tisha balik.
"Nah! Apalagi dia masih SMA, Gar! Lo tega ninggalin anak di bawah umur di sini? Kalo dia diperkosa bule gimana?" seru Anton.
Garlan tampak mendengus kesal mendengar kalimat ke dua temannya itu. Ia tampak tersudutkan dan merasa seperti tidak dapat menolak. "Oke! Dia boleh ikut kita, asal jangan minta pulang cepet-cepet! Gue gak mau liburan kita terganggu karna dia!"
"Yeay! Kita pulang bareng Tisha!" seru Anton sambil loncat-loncat bak anak-kecil.
Tisha hanya tersenyum datar melihat situasi yang di hadapinya kini. Ini sama saja ia akan menghabiskan liburannya hari ini bersama tiga orang asing yang ada dihadapannya ini. Padahal ia datang ke Bali untuk menciptakan kenangan bersama Giovanni, Marlene, dan Kayla sebelum lulus SMA. Tisha hanya bisa menghela nafas dan mengikuti langkah tiga pria itu.
Tisha berjalan hendak memasuki mobil BMW putih yang di supiri oleh Garlan. Namun, ketika ia ingin membuka pintu belakang, tangannya langsung ditahan oleh Anton. "Lo duduk di depan aja. Gue sama Plato duduk di belakang."
"Hah? Mas aja lah yang duduk di depan. Saya duduk di belakang aja," tolak Tisha.
"Gue gak bisa duduk di depan. Gue mabok AC. Lagi gak enak badan," kata Anton.
"Udah nurut aja, Tish. Biar cepet berangkat nih. Lo juga bisa cepet balik ke hotel," seru Plato.
Tisha akhirnya menyerah dan mengikuti perkataan mereka, meskipun ada perasaan janggal di hatinya. Anton dan Plato seperti sengaja menyuruhnya untuk dekat dengan Garlan. Namun, prasangka itu buru-buru ia hapus dari benaknya. Ia tidak ingin menaruh pikiran buruk pada orang-orang yang telah menolongnya. Tisha kemudian langsung membuka pintu dan segera memasuki mobil.
"Kok lo di depan?! Di belakang sana," kata Garlan dengan kasar.
Tisha menatap Garlan dengan penuh amarah. Belum pernah ia melihat pria sekasar dan seketus Garlan memperlakukan wanita.
"Gue yang nyuruh. Udah cepetan jalan. Gak usah banyak cakap kau," seru Plato dari belakang.
"Lo kasar banget sih sama cewek, Gar. Gimana gak jomblo lo. Mana ada cewek mau sama lo kalo gini," ledek Plato.
"Bacot lo!" teriak Garlan yang langsung menyalakan mobilnya.
Tisha berkali-kali hanya bisa menghela nafas. Kalau bukan karena terdesak, ia pasti sudah keluar dan membanting pintu mobilnya dengan kasar. Ia hanya bisa bersabar dan menahan amarahnya yang sejak tadi sudah memuncak.
"Tisha sekolah dimana?" tanya Anton tiba-tiba dari kursi belakang.
"SMA Pelita Abadi, Mas," jawab Tisha singkat dan jujur.
"Kok Mas sih? Panggil nama aja," ucap Anton.
"Gaya lo kayak om-om mau deketin ABG tau gak," ujar Plato sambil geleng-geleng kepala.
"SMA Pelita Abadi? Itu bukannya SMA yang mahal banget?" sela Garlan.
"Kenapa? Mau bilang gue gak akan mampu bayar uang sekolahnya?!" teriak Tisha penuh emosi. Ia bisa menebak arah pembicaraan Garlan.
"Emang. Itu sekolah mahal. Gak mungkin pelayan bisa sekolah di sana," kata Garlan dengan senyum sinis.
Tisha terdiam. Ia berusaha menahan air matanya yang sudah tergenang. "Gue emang pelayan, tapi gue emang bisa sekolah di sana kok. Sebelum orang tua gue meninggal dan perusahaan kami bangkrut, mereka udah daftarin gue asuransi pendidikan. Tiap bulannya uang sekolah gue bisa dibayar dari uang asuransi itu. Jadi gue gak bohong apalagi nyolong buat sekolah disana. Lo bukan lagi bawa cewek tukang bohong dan maling. So... lo tenang aja," ucap Tisha dengan pelan tapi menusuk.
Garlan hanya diam membisu dan terus fokus menyetir. Seketika suasana menjadi hening, ketika Tisha terlihat mulai menyeka air matanya yang tadi sempat jatuh.
"Kali ini lo bener-bener keterlaluan, Gar," bisik Anton dari kursi belakang.