7. Tersesat!

1337 Kata
Tisha mengikuti langkah kaki Kayla, Marlene, dan Giovanni yang berjalan dengan penuh semangat menuju area kolam renang hotel, tempat party sedang berlangsung. Kayla langsung menggoyangkan tubuhnya ketika dentuman musik mulai terdengar. Sementara Marlene tampak memesan minuman dengan didampingi oleh Giovanni. "Gue mau lemon squash ya!" teriak Kayla ditengah kebisingan musik. "Lo mau apa, Tish?" tanya Giovanni. "Ice Lemonade aja," jawab Tisha sambil mulai duduk di kursi. Setelah memesan, Giovanni dan Marlene mengajak Tisha untuk duduk di tempat yang memiliki view laut. Mereka membiarkan Kayla yang sedang asik menari dengan teman-teman sekolah lainnya. Tisha menikmati minuman dingin dan menyegarkan sambil melihat orang-orang yang tampak asik berpesta. "Tish, ke sana yuk. Ikutan dance bareng mereka," ajak Marlene. "Yuk Tish," ajak Giovanni. Tisha menggelengkan kepalanya, tanda tidak mau. "Gue mau di sini aja. Pengen duduk menikmati udara laut malam dan dengerin musik." "Lo ke party atau mau ngadem, Tish? Aneh-aneh aja deh lo," ucap Marlene heran. "Yaudah kalau lo mau di sana. Asal jangan kemana-mana. Waspada kalo ada pria asing yang mabuk," pesan Giovanni. "Lo kayak Bapaknya dia aja, Gi." "Yaudah ayo dance. Noh liat si Kayla. Udah goyang dumang dia di sana hahaha," kata Giovanni sambil menunjuk Kayla. Tisha, Marlene, dan Giovanni tertawa keras melihat tingkah alay sahabat mereka. Giovanni tampak enggan menghampiri Kayla dan memilih mengajak Marlene ke sisi sebelah kiri, dimana banyak teman-teman mereka yang sedang menari di sana. Sementara itu, Tisha menyeruput ice lemonade miliknya sambil bersender di kursi kolam renang. Ia memejamkan matanya, meskipun suara dentuman musik terdengar begitu keras. Ia hanya ingin merasakan angin laut yang menerpa wajahnya dengan sejuk. "Mas... ini gelas terakhir ya. Mas udah terlalu mabuk. Saya gak mau ladenin pesenan Mas lagi." Tisha membuka mata mendengar suara keributan yang mengganggu kenyamanannya. Ia menoleh ke sumber suara itu dan melihat seorang bartender sedang memberikan segelas beer ke seorang pemuda yang sedang tergolek mabuk di atas meja. Tisha mengerutkan keningnya. Ia seperti mengenali wajah pria itu. Ia melongo ketika berhasil menggali memorinya. Pria itu ternyata Garlan! Tisha benar-benar takjub akan kebetulan yang di hadapinya. Bagaimana mungkin ia bisa bertemu Garlan berkali-kali secara kebetulan. Tisha menatap Garlan dari tempat duduknya. Ia tidak mungkin menghampiri dan menyapanya. Karena Garlan pasti tidak akan mengenali dirinya. Ia hanya mengamati gerak-gerik pria itu dalam diam. Garlan terlihat mulai kembali meminum beer , lalu memegang keningnya. Tisha merasa khawatir ketika tiba-tiba Garlan terisak menangis seperti orang frustasi dan penuh kesedihan. Garlan juga tampak memukul pelan meja dan menyebut terus menerus sebuah nama. "Clara... kamu dimana? Clara..." raung Garlan yang masih terus menangis. Tisha terdiam menatap Garlan yang terus meneriakan nama seorang wanita. Melihat pria itu menangis, entah mengapa ia juga ikut merasa sedih. Ini kali pertama ia melihat seorang pria begitu bersedih karena seorang wanita, hingga menjatuhkan air mata. Tisha dapat melihat betapa Garlan begitu mencintai dan sangat merasa kehilangan seorang perempuan bernama Clara. Ia menebak Clara adalah wanita yang ditunggu Garlan selama tiga tahun. Wanita yang membuat Garlan terus mendatangi Kafe Lemonia dan duduk di sana selama tiga jam untuk menanti kehadirannya. "Ya ampun Garlan! Lo minum gak tau batasan ya!" "Dia kayak gini pasti karena inget Clara deh. Kita bawa ke kamar aja. Daripada dia bikin keributan di sini." Tisha mengerutkan kening ketika melihat ada dua orang pria yang menghampiri Garlan. Namun ia menghela nafas lega ketika mulai mengenali wajah mereka. Ia ternyata pernah melihat ke dua pria itu makan bersama Garlan di Restoran Bakeyu, tempatnya bekerja. Ke dua pria itu mulai memapah Garlan untuk masuk kembali ke kamar hotel. Garlan memang tampak tidak mungkin lagi terus mengikuti party ini dengan kondisi yang telah mabuk dan menangis terisak. Tisha kembali menyeruput ice lemonade-nya dan mulai termenung beberapa saat. Entah mengapa ia begitu mengkhawatirkan kondisi Garlan, pria yang bahkan tidak pernah dikenalnya secara pribadi. Namun, ia berharap semoga Garlan berhenti bersedih dan menunggu Clara, wanita yang ia yakini tidak akan pernah kembali lagi. *** "Tisha ayo cepetan! Nanti kita ditinggal sama anak-anak," teriak Kayla dari pintu kamar. "Iya tunggu! Gue sisiran dulu," sahut Tisha. Tisha langsung menyisir rambutnya secepat kilat, lalu mengambil tasnya, dan segera berlari mengejar Kayla yang sudah berjalan lebih dulu bersama Marlene dan Giovanni. Dengan nafas terengah-engah, ia menepuk pundak Kayla. "Lo tega banget sih ninggalin gue," gerutu Tisha. "Yah lo lama banget. Udah kaya puteri keraton aje," keluh Kayla. "Lo yang mandinya lama! Gue jadi telat gara-gara lo," seru Tisha. "Udah gak usah berantem anak-anak. Kita kan mau berselancar bareng-bareng. Jadi harus akur," ucap Giovanni menengahi. "Kenapa sih harus milih selancar. Kan gue gak bisa," keluh Marlene. "Yah ketua angkatan kita milihnya kegiatan itu. Gue juga gak tau. Cuma disana ada jasa ngajarin kok. Paling bayar beberapa ratus ribu," ujar Giovanni. "Gue nanti keliling pantai aja ya. Gue gak suka selancar dan takut," sahut Tisha. "Lho kok gitu sih, Tis. Gak seru dong," ucap Kayla. "Lo lupa gue gak bisa berenang?" sela Tisha. "Iya bener juga. Yaudah nanti lo keliling pantai aja. Nanti saling hubungi aja kalo udah kelar," ujar Marlene. "Gue mending temenin Tisha deh. Gue males selancar," kata Kayla. "Gak ada! Lo temenin gue! Enak aja cuma gue dan Gio yang selancar," tegar Marlene. "Ini liburan atau hukuman sih! Huh!" balas Kayla. "Makanya jangan jadi anak manja. Gitu aja ngeluh," ledek Giovanni. "GIOOOO! Awas kau ya!" Kayla mencoba mendekati Giovanni untuk memukulnya. Namun Giovanni langsung berlari menghindari Kayla sambil memeletkan lidahnya. Tisha diam-diam menghela nafas lega. Untuk kali pertama, ia mensyukuri ketidak mampuannya berenang. Ia tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar jasa pelatih selancar. Lebih baik ia berkeliling pantai dan menikmati pemandangan. Setelah sampai di Pantai kuta, Tisha hanya tersenyum melihat teman-temannya yang begitu antusias berlari diatas pasir pantai. Ia menemani Giovanni, Kayla dan Marlene untu berganti pakaian, lalu memilih alat selancar untuk di sewa. Ia memperhatikan para sahabatnya yang sedang diberikan pengarahan cara berselancar dari instruktur. Kemudian menyemangati mereka yang kini sudah siap untuk berselancar dan menerjang ombak. "Tis, nanti ketemuan di sini ya. Kalo lo udah selesai keliling, tunggu di sini aja. Hubungi kita aja," pesan Giovanni. "Iya. Selamat bersenang-senang, guys." Tisha melambaikan tangannya dan menatap sahabat-sahabatnya yang mulai menjauh masuk ke dalam aliran ombak. Tisha mulai berjalan menyusuri pantai dan menikmati alam yang tersaji indah di depannya. Ia tersenyum melihat banyak turis yang berbaring di atas pasir untuk menikmati sinar matahari. Ia menikmati pemandangan laut biru indah dan para peselancar yang sedang menaklukkan ombak laut itu. Ia menyusuri pantai kuta hingga sampai ujung, sambil sesekali mengambil foto. Rasanya sudah sangat lama ia bisa begitu sesantai ini. Tisha memejamkan matanya sesaat dan menikmati suara deburan ombak yang begitu menenangkan. Ia benar-benar menyukai percikan air laut yang mengenai kakinya. Sesekali ia memainkan air laut dengan kakinya. Kemudian berjalan ditepi pantai dengan santai. Setelah puas menikmati pemandangan laut, Tisha segera berjalan kembali menuju titik temu yang disepakati dengan Giovanni. Ia duduk diatas pasir dan mencoba mencari keberadaan sahabat-sahabatnya atau mungkin teman sekolahnya. Namun sekeras apapun ia mencari, matanya tetap tidak menangkap sosok mereka. Tisha bangkit berdiri setelah menunggu selama dua puluh menit. Ia berjalan ke arah bibir pantai dan berusaha menemukan mereka diantara para peselancar yang sedang asik diatas ombak. Namun, Tisha masih belum bisa menemukan keberadaan mereka. Ia kemudian membuka tasnya untuk mengambil ponsel dan menghubungi Giovanni. Namun Tisha tidak dapat menemukan handphonenya meskipun ia telah mengacak-acak seluruh tasnya. Tisha terdiam beberapa saat. Ia sangat terkejut mengetahui kecerobohannya yang meninggalkan ponsel dan dompet di kamar hotel. Tisha menggigit bibirnya dan menghentakan kaki penuh emosi. Ia mulai bingung dan panik akan apa yang harus dilakukan. Ia tidak dapat menghubungi sahabat dan teman-teman sekolahnya. Ia juga tidak dapat pulang sendiri menggunakan transportasi umum, karena dompetnya tertinggal. Tisha mulai menjambak rambutnya dan merasa frustasi. Namun tiba-tiba matanya menangkap sesosok pria yang dikenalnya. Tisha berlari ke arah pria itu dan menarik lengannya. "Garlan?" seru Tisha. Garlan memicingkan matanya dan menatap gadis asing yang menyentuh lengannya itu dengan penuh keheranan. "Kamu siapa?" tanya Garlan dingin. Belum sempat Tisha menjawab, dua orang pria tampak menghampiri mereka. "Dia siapa, Gar?" "Cewek baru lo?" Tisha hanya bisa menggigit bibirnya akan situasi yang sedang dihadapinya kini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN