6. Bali

1913 Kata
Tisha mengambil koper kecil yang ia simpan di samping lemari pakaiannya yang terbuat dari plastik. Ia membuka koper itu, lalu menatap isi lemari pakaiannya. Tidak banyak baju branded yang masih tersisa di sana. Sebagian besar sudah ia jual di toko yang memang menerima pakaian branded bekas dan layak pakai. Tisha mengambil semua pakaian branded itu dan memasukkannya ke dalam koper. Tisha juga memasukkan sunblock sachet dan tongsis untuk berfoto. Ia memilih membeli sunblock sachet karena lebih praktis dan murah. Toh ia hanya ke Bali selama tiga hari dan tidak ada rencana liburan lagi setelah itu. Liburan ini ia anggap sebagai hadiah sebelum menghadapi kembali masa-masa sulitnya. Tisha merasa cukup beruntung diberikan ijin absen dari restoran dan kafe tempatnya bekerja selama tiga hari. Ini benar-benar hadiah dan masa istirahat untuknya. Mungkin ia harus berterima kasih pada Giovanni yang membiayai perjalanan liburannya kali ini. Tisha tidak tau kapan lagi akan merasakan suasana liburan seperti ini. Setelah selesai packing, Tisha bergegas untuk mandi dan mempersiapkan diri untuk berangkat menuju rumah Kayla. Ia memang telah berjanji untuk berangkat bersama ke bandara dari rumah Kayla. Tisha segera merapikan rambut dan pakaiannya, lalu mengambil ponselnya untuk memesan taksi online. Sangat tidak mungkin untuk naik angkutan umum ke rumah sahabatnya itu. Jika ketauan, ia akan sulit menemukan alasan apabila mereka bertanya kenapa menggunakan transportasi umum dan bukan mobil pribadi. Tisha menarik kopernya dan berjalan menuju supermarket yang menjadi titik temu dirinya dengan taksi online yang ia pesan. Setelah menemukan mobil yang memiliki plat nomor yang sama dengan yang tertera di dalam aplikasi, Tisha langsung masuk dan meminta supirnya untuk melaju dengan cepat ke tempat tujuan. Hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai ke rumah Kayla. Tisha segera menarik kopernya dan berjalan memasuki pintu gerbang rumah Kayla. Sudah enam bulan lebih ia tidak menginjakkan kaki ke dalam rumah ini. Tisha tersenyum kecil ketika berjalan diantara tanaman bunga mawar yang tumbuh cantik di sepanjang jalan yang ia lewati. Rumah Kayla memang dirancang sangat cantik. Bahkan taman dan halamannya bagai sebuah karya seni. Orang tua Kayla memang mengundang designer taman dari luar negeri. Tisha segera menekan bel ketia langkah kakinya telah sampai didepan pintu rumah. Setelah beberapa menit tampak Bi Minah membuka pintu dan menyambut kedatangannya. "Hai Bi. Kayla ada?" tanya Tisha sopan. "Hai Non. Ada kok. Nona Marlene dan Tuan Giovanni juga udah ada. Mereka nungguin Non Tisha dari tadi," jawab Bi Minah. "Oke deh. Aku ke atas kalo gitu ya, Bi," ujar Tisha. "Sini kopernya saya yang bawa, Non." "Gak usah, Bi. Aku bisa sendiri kok. Bibi istirahat aja." Tisha tersenyum ramah pada pembantu yang telah bekerja di rumah itu sejak Kayla masih bayi. Dahulu Tisha membiarkan Bi Minah mengantarkan tasnya ke kamar Kayla. Namun sekarang ia sudah terbiasa hidup mandiri. Sekarang rasanya sangat aneh membiarkan orang lain melakukan hal kecil yang sebenarnya bisa dikerjakan sendiri olehnya. Tisha lalu menarik kopernya dan menaruhnya di belakang tangga. Kemudian dengan cepat ia menaiki tangga dan berjalan menuju kamar Kayla yang terletak di lantai dua itu. Tisha langsung membuka pintu tanpa mengetuknya. Kamar itu memang sudah terasa seperti miliknya sendiri. Jadi ia tidak sungkan untuk langsung menerobos masuk. "Finally lo muncul. Tadinya kita pengen grebek ke rumah lo dan angkut paksa," seru Kayla. "Maling kali ah digrebek." Tisha geleng-geleng kepala. "Koper lo mana?" tanya Marlene. "Ada di deket tangga. Jadi kapan kita berangkat?" tanya Tisha balik. "Sekarang!" seru Giovanni. "Yaudah ayo cabut. Ngapain kalian masih duduk cantik di situ?" Tisha heran melihat tingkah ke dua sahabatnya yang tampak masih santai itu. "Yaudah ayo. Pangeran... tolong dampingi incess jalan." Kayla mengulurkan tangannya ke arah Giovani dan bertingkah bak ratu Inggris. "Baik, Neng. Sini Abang gandeng. Abang tau kalo Neng itu buta, jadi jalannya perlu dituntun," ledek Giovanni. Kayla langsung mendengus kesal dan menatap tajam Giovanni yang sedang tertawa cekikikan. Sementara Tisha dan Marlene hanya tertawa geli melihat lakon antara Giovanni dengan Kayla. Mereka menuruni tangga sambil tetap bercanda dan saling meledek. Tentu saja Kayla yang sering menjadi bahan lelucon Giovanni. "Ya ampun Tisha! Bawaan lo cuma ini doang?" seru Kayla melihat koper kecil Tisha. "Kalian berdua itu harusnya ngikutin si Tisha, bawa koper kecil. Kalian bawa dua koper besar. Udah kayak pembantu mau pulang kampung aja," canda Giovanni. "Sembarang lo ngomong! Mana ada sih muka pembantu secantik ini!" sahut Kayla dengan penuh emosi. "Lo serius cuma bawa segini doang, Tish? Dulu pas kita liburan ke Aussie selama dua hari doang, lo bawa dua koper besar. Ini tiga hari lho, Tish." Marlene sengaja memberi penekanan pada kata 'tiga hari'. Menurutnya, Tisha tidak seperti dulu yang gemar membawa baju dan aksesoris yang banyak untuk berganti kostum ketika mereka sedang foto atau party. Tisha terdiam beberapa saat. Ia bingung memilih jawaban apa yang tepat untuk dilontarkan pada Kayla dan Marlene. "Ehm... ya gue cuma lagi males ribet. Ini aja gue packing tadi pagi. Gue lagi males bawa koper banyak-banyak," jawab Tisha dengan nada penuh kehati-hatian. "Udah-udah. Mending langsung berangkat. Ini udah jam berapa. Nanti kita ketinggalan pesawat," ucap Giovani. Kayla dan Marlene tampak mengikuti perkataan Giovanni, meski dengan kening yang masih berkerut. Mereka merasa Tisha bersikap aneh dan mengubah kebiasaan lamanya secara drastis. Namun sekeras apapun Kayla dan Marlene berusaha menebak penyebabnya, mereka tidak akan menemukannya. Tisha benar-benar menutup rapat kehidupan pribadinya sekarang. Setelah memasukkan koper ke dalam mobil, mereka segera melaju menuju bandara. Tiga perempuan di dalam satu mobil, tentu saja membuat seorang Giovanni pusing. Mobilnya kini lebih berisik daripada dentuman musik di club. Ia hanya bisa menghela nafas dan terus fokus menyetir. "Guys! Lo denger kabar Michele sama Joni gak?!" seru Kayla. "Kenapa mereka?" Tisha sudah lama tidak mengikuti trending topic sekolahnya dan membuka media sosial. Jadi kurang update tentang gosip yang ada. "Si Joni selingkuh ya?" sahut Marlene. "Iya! Sama si Kattie! Gila ya! Padahal Michele kan sahabatnya Katty. Gak nyangka dia pelakor," teriak Kayla dengan tatapan jijik. "Si Kattie dan Joni gak ikut liburan kali ini lho," kata Marlene. "Kenapa?" tanya Tisha mulai penasaran. "Mereka lebih milih liburan berdua ke Thailand," jawab Marlene dengan senyum sinis. "GILA YA TUH PASANGAN KAMPUNG!" teriak Kayla penuh emosi. "WOY KAYLA! BISA JANGAN TERIAK DI KUPING GUE GAK! PENGANG NIH KUPING!" teriak Giovanni tak kalah kencang. Tisha dan Marlene hanya tertawa ngakak melihat ekspresi kesal Giovanni. Sementara Kayla mulai cemberut dan ngambek karena ditegur keras oleh Giovanni. "Yaudah gue diem sekarang," kata Kayla sambil mengalihkan tatapannya ke jendela mobil. "Tuh ngambek, Gi. Hayolohhh," seru Marlene. "Biarin aja. Nanti juga baikan lagi kalo dikasih permen," sahut Giovanni. "Lo pikir Kayla bocah apa. Murah amat permen hahaha," kata Tisha yang masih belum sanggup menahan tawanya. "Lho emang dia udah besar?" kata Giovanni dengan muka sok polos. "Apanya?" tanya Marlene. "Itunya..." canda Giovanni. "Gi... lo mau gue lempar keluar mobil gak?" Kayla menatap tajam ke arah Giovanni, tanda emosinya benar-benar sudah di puncak. "Ampun ndoro," ucap Giovanni sambil menundukkan kepalanya. Tisha dan Marlene hanya tertawa melihat perdebatan Kayla dengan Giovanni. Ke dua orang itu memang terkadang akur dan tekadang bagai kucing dengan anjing, tak pernah akur. *** Tisha masuk ke kamar hotel bersama Kayla. Ini sebuah kebetulan karena ia bisa satu kamar dengan sahabatnya itu. Sementara Marlene terpaksa satu kamar dengan Michele. Tisha bisa membayangkan kecanggungan yang akan dirasakan Marlene Nantinya. Satu kamar dengan orang yang tidak begitu dekat. Bersama Kayla, Tisha pasti tidak akan merasa canggung. Ia pasti nyaman berbagi ranjang dengan sahabatnya itu. Karena ini bukan pertama kalinya mereka menginap bersama. Tisha kemudian menaruh koper kecilnya di samping lemari pakaian, lalu mulai melihat-lihat suasana kamar hotelnya. Kamar itu cukup besar dengan ranjang ukuran king. Kamar mandinya luas dengan bathtub yang terlihat nyaman untuk digunakan. Tisha berjalan menuju balkon kamar itu dan menatap pemandangan yang tersaji dari sana. Kolam renang biru yang cukup luas dan berhias pemandangan laut di belakangnya, sungguh merupakan pemandangan yang menyegarkan mata. Rasanya Tisha ingin selamanya menatap pemandangan ini. Pemandangan birunya air kolam renang dan laut, terasa begitu mahal baginya sekarang. Kini ia bahkan merasa bersyukur hanya dengan menatap pemandangan ini. Hal yang selalu ia luputkan dulu ketika masih kaya dan bergelimang harta. Bali bukan destinasi liburan yang wah baginya dulu, karena begitu seringnya ia pergi ke sana. Ia bahkan sudah muak melihat pantai dan tempat wisata yang ada di sana. Namun, sekarang rasanya ia ingin merekam pemandangan ini di dalam otaknya. Menyimpannya dalam kenangan dan mengeluarkannya ketika ia sedang bersedih saat menghadapi situasi sulit. Tisha menikmati pemandangan itu dalam waktu yang lama, sambil merasakan terpaan angin laut pada wajahnya. Senyum terus mengembang di bibirnya tatkala menikmati suasana sore hari dari balkon kamar hotelnya. "Lo lagi ngapain sih?" Kayla tampak tak mengerti dengan apa yang sedang Tisha lakukan. Berdiri di balkon, melamun, dan tersenyum sendirian. Tisha tampak aneh di matanya. "Gue lagi menikmati pemandangan. Birunya air kolam dan langit. Terpaan angin yang sejuk. Pemandangan sunset yang indah. Lo gak mau ikutan ke sini, Kay?" ajak Tisha. Kayla melongo mendengar ucapan sahabatnya yang terasa tak biasa itu. "Lo lagi nulis puisi?" "Kaga. Kenapa?" "Yah lo kenapa tiba-tiba jadi puitis dan sintimentil gitu? Bukannya lo udah sering ke Bali? Kayaknya biasa aja gitu pemandangannya," ucap Kayla dengan alis terangkat sebelah. "Gue cuma lagi belajar bersyukur dengan apa yang bisa gue nikmati sekarang," ujar Tisha sambil kembali menatap laut. Kayla hanya geleng-geleng kepala dan menatap heran tingkah sahabatnya yang terasa aneh itu. "Ucapan lo kayak orang mau mati tau gak, Tish!" seru Kayla. "Siapa yang tau panjang hidup orang, Kay," jawab Tisha dengan tatapan sendu. Kayla langsung bangkit berdiri dari kasur, menghampiri Tisha, dan menarik lengannya. Kemudian menatapnya dengan tajam. "Lo kenapa sih? Lo sakit? Atau ada masalah yang gue gak tau? Lo bener-bener aneh, Tish. Gue khawatir tau gak!" "Gue gak kenapa-kenapa. Emang salah ya kalo gue natap pemandangan? Emang salah kalau gue bersyukur?" tanya Tisha balik. "Lo gak kayak biasanya, Tish." "Menurut lo, apa gue masih bisa jadi Tisha yang sama setelah apa yang gue alami? Setelah orang tua gue meninggal secara mendadak dan masalah lainnya yang gak pernah gue ceritain ke kalian. Gue pasti berubah, Kay. Entah berubah jadi lebih baik atau lebih buruk. Gue gak mungkin sama dengan Tisha yang dulu," ucap Tisha sambil menatap Kayla dengan lekat. Kayla terdiam beberapa saat. "Tish... maafin gue. Mungkin selama ini gue bukan sahabat yang peduli sama lo. Gue tersadar kalau gak pernah nanya gimana perasaan dan keadaan lo. Gue cuma cukup terkejut ngeliat perubahan sikap lo yang gak biasanya," kata Kayla dengan kepala tertunduk. "Gue gak kenapa-kenapA kok, Kay. Gue cuma lelah ditanya 'kenapa begini' dan 'kenapa begitu'. Gue lelah harus memberikan alasan akan setiap perubahan kebiasaan gue. Padahal gak ada alasan spesifik juga. Maafin gue juga ya, tadi sempet emosi." Tisha mencoba mencairkan suasana. Ia menyadari telah meluapkan emosinya tanpa sengaja ke Kayla. "Iya, gue maafin asal lo ikut party malam ini," ucap Kayla sambil mengedipkan mata. "Party?" "Iya Party. Hotel ini ngadain night party malam ini, Tish. Ada DJ Marco yang bakalan perform. Anak-anak pada antusias buat ikut. Lo siapin baju gih buat nanti malam." "Gue gak ikut ya. Gue gak bawa baju. Gue juga pengen jalan-jalan di pantai aja sambil dengerin suara ombak." "Please deh, Tish. Lo ngapain jalan sendirian dan dengerin ombak. Kayak orang frustasi tau gak. Lo pake dress gue! Gue bawa banyak di koper. Lo pilih salah satu aja. Gue gak mau tau lo harus ikut!" paksa Kayla. Tisha hanya bisa menghela nafas ketika kebocahan Kayla muncul. Ia tidak akan bisa lolos dari rengekkan Kayla. Setiap detik anak itu pasti akan merorong dirinya untuk ikut. "Baiklah gue ikut," ucap Tisha dengan berat hati. "Yeaaayyy!" sorak Kayla.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN