"Abang, Tita bikin sop buah sama cake nanas. Ini mau Tita anterin kantor atau Abang yang pulang?” Tala menyandarkan tubuh di bangkunya. ”Aku enggak bisa pulang, Cetita. Lagi kerja.” ”Oke.” Perempuan itu mematikan telepon. Tala kembali tenggelam dengan pekerjaannya. Sampai dirasakannya ada yang menyenggol bahunya. ”Kenapa, Her?” Tala bertanya dengan mata tetap ke monitor. ”Istri cantik dibiarin nunggu, dosa loh. Di sini laki-laki semua. Dapat lihat yang bening, kamu rugi sendiri.” Tala melilau mata ke sekeliling ruangan. Semuanya melirik-lirik ke arah pintu masuk divisi iklan di mana ada sofa dan seorang Cetita duduk di sana. ”Sejak kapan kamu duduk di sana, Cetita?” tanyanya dari bangku. ”Abang Tala sudah selesai?” ”Aku tanya sudah berapa lama kamu di sana?” ulangnya. ”Dari tadi.

